Hikmah

Cara Bertasawuf dari Preman hingga Presiden

Jakarta, NU Online

Pakar Tasawuf KH M. Luqman Hakim menjelaskan cara belajar tasawuf dan dunia kesufian sesuai jabatan, posisi, pekerjaan, dan kondisi masing-masing orang.

Penjelasan Direktur Sufi Center Jakarta ini ditulis melalui akun twitter pribadinya, @KHMLuqman pada 29-30 Maret 2018 lalu.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat itu memulai penjelasannya dengan mengungkapkan pertanyaan masing-masing orang dari latar belakang berbeda. Berikut penjelasan Kiai Luqman:

Petani bertanya, dari mana saya mulai belajar tasawuf? “Dari cangkul dan bajakmu. Dari sawah, tanamanmu. Cangkulmu mengolah tanah mati jadi hidup. Cangkullah hati agar hidup bersama-Nya. Bajakmu membelah kebodohan jadi pengetahuan. Lalu biji iman tumbuh pohon tauhid, berbuah akhlak.

Dokter bertanya, dari mana mulai belajar tasawuf? “Dari diagnosamu yang serasi dengan Takhalli (penyakit hati yg harus disembuhkan) Tahalli (bagaimana menjaga kesehatan jiwa) Tajalli (Manifestasi orang yang ber-qalbun salim (sehat hati) dan hidup dengan Ruh Taslim.

Preman bertanya, dari mana mulai belajar sufi? “Dari kegelapan demi kegelapanmu yang dimasuki cahaya terang. Agar tidak jadi preman agama yang menutupi kegelapannya dengan jubah kesucian.”

Seorang pemulung bertanya, mulai dari mana belajar tasawuf? “Dari tumpukan sampah dan limbah. Dari sana anda melihat dunia seisinya tak lebih dari sampah kotor dan memuakkan. Tetapi manusia harus mengarungi limbah itu sebagai cobaan. Tapi banyak manusia lebih senang bersampah-sampah busuk.”

Seorang politisi bertanya, dari mana harus belajar tasawuf? “Dari siasatmu mengalahkan lawanmu agar kamu mengalahkan nafsu dan ambisi kuasamu. Agar berhala nafsu kuadamu kau hancurkan dengan kapak Ibrahim. Selebihnya kalian tidak lagi meminum keringat rakyat.”

Seorang raja dan presiden bertanya bagaimana mungkin belajar tasawuf dengan kesibukannya, dari mana mulai? “Dari birokrasi pemerintahannya. Presiden adalah qalbu yang harus adil mengelola pikiran, akal, nafsu, indera, ruh, dan rahasia hakikat batin agar bergerak bagai barisan menjadi hamba-Nya.”

Seorang ibu yang sedang menyusui bertanya dari mana belajar sufi? “Dari kertas putih bayi serahkan kertas putih hatimu kepada Allah. Biar Dia yang melukis dan mencoret lembaran fitrahnya. Belajar dari ASI-mu yang bertasbih dan berdzikir menumbuhkan si bayi menjadi pribadi Rabbani.”

Ahli pertanian bertanya dari mana mulai belajar sufi? “Dari pohon yang bagus. Akarnya menghujam cabangnya menjulang. Biji iman yang berakar di tanah yaqin. Tumbuh pohon tauhid dan cabang rantingnya adalah maqomat menjulang ke langit ruhani. Buahnya ma’rifat fana’ dan cinta”

Ahli kehutanan bertanya, dari mana belajar tasawuf? “Dari hutan rimba belantara. Lihatlah hutan rimba dalam batinmu penuh dengan binatang buas, liar, gelap mengerikan. Sampai dirimu sunyi bersama Allah. Kelak bisa ramai di rimba kota yang ganas tapi tetap bersama Allah.” (Fathoni)

Sumber : NU Online

Ikutilah Pengajian di Masjid PWNU Jabar, Jalan Terusan Galunggung No. 9 Bandung
Pengajian Tasawuf Syarah Kitab Al-Hikam
Bersama Dr. KH. M. Luqman Hakim, MA (Jakarta Sufi Center) setiap bulan, Minggu kedua mulai pukul 10.00 WIB (Live Facebook)
Pengajian Syarah Kitab Sirrul Asror
Bersama KH. Ahmad Dasuki setiap Rabu mulai pukul 12.15 (Live Facebook)
Pengajian Syarah Kitab al Waroqot
Bersama Ajengan Dr. Ramdan Danz Fawzi, SH.I, M.Ag setiap Kamis mulai pukul 12.15 (Live Facebook)

 

Dapatkan Buletin Jum’at Risalah NU terbaru yang terbit tiap Rabu, download edisi digital (PDF) di www.nahdlatululama.id/buletin Bagi yang ingin memesan dan berlangganan edisi cetak yang siap edar, silahkan menghubungi sdr. Aan di 085648333577 (Telp/WA) untuk keterangan lebih lanjut.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close