Kajian

Cara Memahami Hadits Akhir Zaman

Hadits akhir zaman termasuk tema yang cukup sering dibahas belakang ini. Ada beberapa media online dan ustadz kerap kali mengangkat topik hadits yang berkaitan dengan tanda kiamat atau akhir zaman.

Sebagian
kelompok radikal menjadikan hadits-hadits itu untuk menguatkan dan
menunjukkan kepada khalayak bahwa apa yang mereka lakukan itu
dilegitimasi oleh hadits Nabi.

Perlu diketahui, tidak semua
hadits akhir zaman itu benar atau shahih. Sebagian dari hadits tersebut
ada juga yang lemah dan tidak bisa dijadikan pedoman. Kemudian, hadits
akhir zaman sebagian besar hanya berupa informasi (khabar), bukan
perintah yang harus diikuti ataupun larangan yang harus ditinggalkan.

Karena itu, Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim mengatakan:

ليس
كلُّ ما أخبر صلى الله عليه وآله وسلم بكونه من علامات الساعة يكون محرمًا
أو مذمومًا؛ فإن تطاولَ الرعاء في البنيان وفُشُوَّ المال وكونَ خمسين
امرأة لهنَّ قَيِّمٌ واحد: ليس بحرام بلا شك، وإنما هذه علاماتٌ، والعلامة
لا يُشتَرَطُ فيها شيءٌ من ذلك، بل تكون بالخير والشر، والمباح والمحرم،
والواجب وغيره

Artinya, “Setiap informasi dari Nabi
tentang tanda-tanda kiamat tidak mesti itu haram dan tercela. Misalnya,
meninggikan bangunan, banyak harta, dan situasi di mana perempuan lebih
banyak dari laki-laki (50 perempuan dan laki-laki hanya satu), tidak
diragukan lagi bahwa itu bukanlah keharaman. Ini hanya sebatas tanda.
Tanda tidak mensyaratkan (berimplikasi pada) apa pun. Tanda bisa jadi
baik dan bisa juga buruk, bisa boleh dan bisa juga haram, bahkan wajib.”

Tanda-tanda
kiamat dalam pandangan Imam Nawawi hanya sebatas tanda dan tidak
berimplikasi pada larangan. Karena belum tentu setiap tanda kiamat itu
buruk atau haram. Misalnya, meninggikan bangunan, banyak harta, atau
situasi di mana perempuan lebih banyak dari laki-laki, pada dasarnya
boleh dan tidak haram.

Menghiasi masjid atau membuat masjid lebih
bagus misalnya, sebagian orang melarang karena merujuk pada hadits
akhir zaman. Salah satu hadits yang dirujuk adalah:

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ

Artinya, “Kiamat tidak akan terjadi hingga manusia bermegah-megahan dalam membangun masjid,” (HR Abu Dawud).

Dikarenakan
membuat masjid megah atau bagus itu termasuk tanda kiamat, sebagian
orang melarang dan mengharamkannya. Padahal sejak dulu, selain tempat
ibadah, masjid juga menjadi simbol kemajuan peradaban Islam. Semakin
bagus masjid menunjukkan semakin tingginya sebuah peradaban.

Karena
itu, yang dikritik sebetulnya bukanlah membangun masjid megah, tapi
substansi dari pembangunan masjid itu sendiri. Membuat masjid
bagus-bagus, tapi jemaahnya kosong. Percuma masjid bagus, kalau tidak
ada yang shalat di dalamnya. Inilah sebetulnya yang dikritik dalam
hadits di atas, bukan semata-mata karena membangun masjid megah. Sebab
dalam hadits lain disebutkan:

يَأْتِي عَلَى أُمَّتِي زَمَانٌ يَتَبَاهَوْنَ بِالْمَسَاجِدِ وَلاَ يَعْمُرُونَهَا إِلَّا قَلِيلًا

Artinya,
“Akan datang suatu masa di mana banyak orang yang membangun masjid
megah dan orang yang memakmurkannya sangat sedikit,” (HR Ibnu
Khuzaimah).

Sebab itu, menurut sebagian ulama, menghiasi masjid
atau membangun masjid megah dibolehkan dalam Islam. Bahkan, itu bagian
dari memakmurkan masjid dengan catatan tidak hanya fokus pada bentuk
formal masjid, tapi juga memerhatikan substansinya.

Al-Munawi dalam Faidhul Qadir menjelaskan:

وما كل علامة على قرب الساعة تكون مذمومة، بل ذكر لها أمورًا ذمَّها كارتفاع الأمانة، وأمورًا حمدها كزخرفة المساجد، وأمورًا لا تُحْمَدُ ولا تُذَمُّ كنزول عيسى

Artinya, “Tidak semua tanda kiamat
tercela. Ada tanda yang tercela semisal hilangnya amanah dan ada juga
tanda yang bagus atau terpuji seperti menghiasi masjid. Ada pula tanda
yang tidak dipuji dan tidak pula dicela semisal turunnya Nabi Isa.”

Dengan
demikian, kalau menemukan hadits akhir zaman telitilah terlebih dahulu
kualitas haditsnya. Andaikan hadits tersebut memang shahih, perhatikan
makna dan penjelasan ulama terhadap hadits tersebut. Jangan sampai semua
tanda kiamat dalam hadits Nabi itu dipukul rata haram, karena tidak
semua tanda kiamat berimplikasi pada keharaman. Wallahu a‘lam. (Hengki Ferdiansyah)

Sumber : NU Online

Tentang Dindin Nugraha

Blogger kambuhan, menulis status facebook, twitter ataupun web kalau sempat. Turut aktif sebagai kontributor web sekaligus bagian dari keluarga besar Lembaga Ta'lif Wan Nasyr Nahdlatul Ulama Jawa Barat

View All Posts
Ikutilah Pengajian di Masjid PWNU Jabar, Jalan Terusan Galunggung No. 9 Bandung
Pengajian Tasawuf Syarah Kitab Al-Hikam
Bersama Dr. KH. M. Luqman Hakim, MA (Jakarta Sufi Center) setiap bulan, Minggu kedua mulai pukul 10.00 WIB (Live Facebook)
Pengajian Syarah Kitab Sirrul Asror
Bersama KH. Ahmad Dasuki setiap Rabu mulai pukul 12.15 (Live Facebook)
Pengajian Syarah Kitab al Waroqot
Bersama Ajengan Dr. Ramdan Danz Fawzi, SH.I, M.Ag setiap Kamis mulai pukul 12.15 (Live Facebook)

 

Dapatkan Buletin Jum’at Risalah NU terbaru yang terbit tiap Rabu, download edisi digital (PDF) di www.nahdlatululama.id/buletin Bagi yang ingin memesan dan berlangganan edisi cetak yang siap edar, silahkan menghubungi sdr. Aan di 085648333577 (Telp/WA) untuk keterangan lebih lanjut.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close