Opini

Dendam atas Kekalahan Perang (Pemilu)

Dunia politik sangat berbeda hasilnya dengan dunia olah raga, meski judulnya sama, yaitu pemilihan yg menang. Setiap kompetisi tentu mencari yg menang dan yg kalah harus rela mengakui lahir batin keunggulan kompetitornya. Bahkan dia merelakan tidak lagi berkompetisi pada pertandingan mendatang, karena ada orang yg antri menggantikannya. Jika mereka yg kalah diikutsertakan kompetisi tahun depan, maka mereka (baik yg tidak diikutkan maupun yg diikutkan kembali) tidak mengganggu dan menghujat kompetitor yg menang dengan hujatan antara lain: “Kamu menang, karena curang dan kamu menang beda tipis perolehan angkanya.”

Dalih dua hal itu, mereka merasa berhak ikut kompetisi tahun berikutnya. Kurun waktu penantian kompetisi berikutnya, pemain yg kalah bukannya berlatih dan terus berlatih (buktikan programnya yg membantu rakyat riil, bukan mengganggu keasyikan yg menang atau hanya mengadvokasi, bahkan memprovokasi kerja pemenang) menghadapi kompetisi yang akan datang.

Sekali lagi, olah raga butuh sportivitas, artinya sportif berlaga dan sportif berkalah ria. Perlukah paradigma olah raga itu diadopsi dalam kompetisi Pilpres, Pilkada, dan Pilkades? Bisa! Bisa dan bisa! Jika basic iman sudah melekat pada seseorang. Seperti Jenderal Kholid bin al-Walid, panglima perang yg tidak pernah kalah, rela digeser sebagai panglima oleh Umar al-Khoththob menjadi prajurit biasa.

Boleh jadi kebiasaan “dendam kesumat” atas kekalahan seseorang atau kelompok adalah meniru dari prilaku kaum jahiliah.

Itulah sebabnya, sejarah menorehkan berita yg tertuang dalam Ali lmron 121.

وَإِذْ غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ تُبَوِّئُ الْمُؤْمِنِينَ مَقاعِدَ لِلْقِتالِ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“…dan (ingatlah) ketika kamu berangkat pada pagi hari dan (rumah) keluargamu akan menempatkan para Mukmin pada beberapa tempat untuk berperang. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengelahui.”

Peperangan yang disebutkan di dalam ayat ini menurut pendapat jumhur ulama adalah Perang Uhud.
Perang Uhud terjadi pada Sabtu, Syawwal, ketiga Hijriah. Menurut Qatadah, pada sebelas Syawwal.

Menurut ibnu Katsir, penyebab utama meletus Perang Uhud ialah setelah banyak orang terhormat kaum musyrik yang terbunuh dalam Perang Badar, sedangkan kafilah perniagaan mereka yang dipimpin oleh Abu Sufyan selamat dengan membawa keuntungan yang banyak. Anak-anak dari orang-orang yang gugur dalam Perang Badar dan pemimpin-pemimpin lainnya yang masih hidup berkata kepada Abu Sufyan, “Aku menunggu-nunggu hasil perniagaan ini untuk memerangi Muhammad, maka belanjakanlah oleh kalian untuk tujuan tersebut!”
Kemudian mereka menghimpun semua golongan dan orang-orang Habsyah, lalu mereka berangkat dengan pasukan yang terdiri atas tiga ribu personel, hingga mereka turun istirahat di suatu tempat dekat Bukit Uhud yang menghadap ke arah kota Medinah.

Setelah selesai sholat Jumat, rosul menyolati seorang lelaki dari Bani Najjar yang dikenal dengan nama Malik ibnu Amr (yakni menyolati jenazahnya). Lalu Rasulullah melakukan musyawarah dengan orang-orang untuk mengambil keputusan, apakah beliau berangkat menghadapi mereka ataukah tetap tinggal di Medinah menunggu penyerangan mereka.

Lalu Rosulullah memakai baju besinya, ke luar menemui mereka.

«مَا يَنْبَغِي لِنَبِيٍّ إِذَا لَبِسَ لَأْمَتَهُ أَنْ يَرْجِعَ حَتَّى يَحْكُمَ الله له»

“Tidak layak bagi seorang nabi, bila telah memakai baju besinya mundur kembali, sebelum Allah memberikan keputusan baginya.”

Rosulullah berangkat bersama seribu orang sahabatnya. Rasulullah melanjutkan perjalanannya hingga turun istirahat di lereng Bukit Uhud, yaitu pada lembahnya. Sementara itu, pasukan Quraisy yang terdiri atas tiga ribu personel.

Orang yg dendam akibat kekalahan di masa lalu atau dendam akibat orang tua terkena hukuman, adalah tidak dicontohkan oleh rosulullah. Bisakah bangsa dan rakyat lndonesia menyadarinya?

Yg kalah dalam pildes, kalah pilkada, dan kalah dalam pilpres, betapa super kecewa jika mereka kalah lagi. Ya kalau menang? Giliran akan datang badai “dendem dan gangguan dari yg kalah” lebih dahsyat. Semoga Allah memberikan tawfiq bagi yg kalah dan hidayah-Nya bagi yg menang. A_mi_n!

Ikutilah Pengajian di Masjid PWNU Jabar, Jalan Terusan Galunggung No. 9 Bandung
Pengajian Tasawuf Syarah Kitab Al-Hikam
Pengajian Syarah Kitab Sirrul Asror
Pengajian Syarah Kitab al Waroqot

 

Dapatkan Buletin Jum’at Risalah NU terbaru yang terbit tiap Rabu, download edisi digital (PDF) di www.nahdlatululama.id/buletin Bagi yang ingin memesan dan berlangganan edisi cetak yang siap edar, silahkan menghubungi sdr. Aan di 085648333577 (Telp/WA) untuk keterangan lebih lanjut.

By: M. Mangkoesorga

Tentang Ahmad Mushofi Hasan

Mushoffi Mangkoesorga adalah mantan wartawan era 90-an. Kini aktif sebagai choach dan motivator. Tinggal di Subang, Jawa Barat. Hobi "dengerin ceramah" dan i'tikaf di mesjid-mesjid. Kegiatannya juga Khutbah Jumat dan mengisi pengajian. Jika ada yg order (ingin dibuatkan) naskah khusus, hub WA 0895397876364

View All Posts

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close