Opini

Dita Siska Millenia, Ekstremis Produk Media Sosial

Oleh Fathoni Ahmad

Apakah Anda pernah membayangkan menembak atau membunuh orang lain? “Iya, tapi belum pernah, kok. Ya, ingin melakukannya saja.”

Potongan wawancara tersebut dilakukan oleh Majalah Tempo kepada salah seorang pelaku teroris perempuan bernama Dita Siska Millenia (18) yang ditangkap bersama Siska Nur Azizah (21) pada Sabtu (12/5/2018) di sekitar Mako Brimob Kelapa Dua Depok yang terindikasi akan melakukan penusukan dengan gunting yang dibawanya.

Dita Siska Millenia hanya salah satu fenomena mesin pembunuh yang digerakkan oleh sel-sel teroris memanfaatkan gerakan terselubungnya di media sosial seperti WhatsApp dan Telegram. Beberapa platform media sosial tersebut termasuk instagram diakui sendiri oleh gadis kelahiran Temanggung, 25 Januari 2000 itu untuk melancarkan aksi terornya.

Bahkan, berawal dari interaksinya di media sosial tersebut, Dita mendapatkan banyak konten-konten jihad ekstrem yang dilakukan oleh Islamic State in Iraq and Sham (ISIS). Dari situlah ia mulai terpapar aksi-aksi terorisme yang diperkuat dengan narasi-narasi radikalisme dan ekstremisme agama.

Dalam grup telegram yang diikutinya, secara jelas dia mengatakan mengonsumsi artikel-artikel tentang Daulah Islamiyah dengan intensitas masif. Di grup tersebut dia mendapat banyak narasi tentang Islamic State dan video-video eksekusi, pemenggalan yang dilakukan oleh ISIS.

Konsolidasi jihad ekstrem melalui grup-grup WhatApp atau Telegram hanya tindak lanjut terpaparnya Dita masuk ke dalam sel gerakan terorisme. Pintu masuknya tetap media sosial di mana pertama kali kenal dengan seorang ikhwan bernama Khalid yang diakuinya sebagai mahasiswa asal Indonesia di Mesir dari instagram yang membawa Dita masuk ke grup Mujaihidin Indonesia, salah satu organisasi yang terindikasi melakukan gerakan-gerakan teror di Indonesia. Sebegitu mudahnya seorang Dita langsung terpapar pemahaman jihad menyimpang dari seseorang yang bahkan tidak pernah dikenalnya.

Menelan Informasi Tanpa Filter

Dita Siska Millenia hanya salah satu dari banyak generasi milenial yang terpapar gerakan-gerakan ekstremis yang muaranya melakukan kejahatan terorisme melalui pintu masuk media sosial. Arus deras informasi di dunia maya juga akan mengalir deras ke kepala pembacanya jika tanpa saringan memadai. Artinya, selain harus membanjiri dunia maya dengan konten-konten positif dan edukatif, seseorang juga harus melakukan filter terhadap setiap informasi yang didapatkannya.

Betapa narasi-narasi ekstrem yang didapatkan Dita di media sosial langsung mengubah pola pikir, tindakan, dan pandangannya terhadap sebuah paham keagamaan. Arus deras ekstremisme seketika membanjiri otaknya. Mengubah dirinya menjadi mesin pembunuh yang siap kapan saja membunuh siapa pun yang dianggapnya memerangi Islam dan menghalangi tujuan tegaknya Daulah Islamiyah seperti yang dicita-citakan ISIS.

Betapa jaringan para jihadis ekstrem ini mampu hanya digerakkan oleh sebuah jaringan media sosial dengan narasi-narasi ekstremnya. Tanpa komando dan tatap muka secara langsung. Seperti mesin, mereka secara otomatis paham apa yang harus dilakukan untuk melancarkan aksi terornya. Inilah yang disebut sistem sel. Otomatis, saling terkait dan tergerak ketika salah satu jaringan melakukan aksi, lalu ada reaksi otomatis tanpa harus dikomando secara langsung.

Dita hanyalah salah satu generasi muda yang membiarkan otaknya dibanjiri oleh narasi-narasi radikal tanpa mau berusaha berpikir jernih untuk mencari kebenaran dengan melakukan kroscek dan mengimbanginya dengan informasi-informasi positif tentang paham keagamaan, konsep kebangsaan dan kenegaraan, bahkan yang paling ringan dipikirkan dan dilakukan yakni nurani-nurani kemanusiaan.

Labil dalam Beragama

Dari wawancara yang dilakukan Majalah Tempo edisi Mei-Juni 2018 tersebut, terlihat Dita tidak hanya labil secara psikis, tetapi juga sangat tidak matang dalam memahami agama dari berbagai sudut pandang. Ini memang salah satu karakter generasi milenial yang mudah terpengaruh terhadap informasi yang datang kepadanya.

Padahal, karakter tersebut jauh dari fitrah manusia yang memiliki sifat tidak berhenti berpikir dan mencari kebenaran. Setidaknya itu terlihat ketika Nabi Ibrahim yang digelari bapaknya para Nabi tidak begitu saja percaya terhadap berhala-berhala yang disembah masyarakatnya kala itu sehingga ia terus-menerus mencari kebenaran dan keberadaan Tuhan.

Terpaparnya Dita menjadi mesin pembunuh yang digerakkan oleh ISIS dan sel-sel jaringan teroris di Indonesia terlihat jelas ketika tegas menjawab bahwa sistem demokrasi adalah haram. Alasannya karena itu merupakan hukum buatan manusia. Dalam pandangan mereka, demokrasi menjadi ancaman bagi Islam sebab itu harus diperangi. Padahal, demokrasi di Indonesia justru memperkuat eksistensi agama Islam sebagai mayoritas yang diteguhkan oleh Ketuhanan Yang Maha Esa, sila pertama dalam Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa.

Mengapa mereka menolak sistem selain khilafah Islamiyah atau Daulah Islamiyah? Dalam Majalah Dabiq, media yang dikembangkan oleh ISIS untuk melakukan propaganda yang diungkap oleh M. Najih Arromadloni dalam bukunya Bid’ah Ideologi ISIS (2017) merilis beberapa indikator yang merusak keimanan seseorang dan membuatnya keluar dari agama Islam.

Salah satunya ialah meyakini, mengamalkan dan mengikuti hal-hal yang berkaitan dengan sistem dan ajaran nasionalisme, seperti konsep negara-bangsa dan demokrasi, serta sekularisme secara umum dan semua pemerintahan di luar khilafah, termasuk menolak berbaiat kepada khalifah Abu Bakar Al-Baghdadi, pimpinan ISIS. Selain itu, menurut ISIS, seseorang juga dianggap keluar dari Islam ketika mengingkari doktrin al-hakimiah, bahwa hanya Allah yang mempunyai hak membuat hukum.

Mempoisisikan bahwa Allah-lah yang berhak membuat hukum berarti telah menyejajarkan Allah dengan ciptaannya yaitu manusia. Padahal, Al-Qur’an dan Hadits merupakan panduan pokok yang masih bersifat global. Sebab itulah ada ilmu ulumul qur’an, ulumul hadits, tafsir, tata bahasa Arab, fiqih, ushul fiqih, dan lain-lain untuk memahami wahyu Allah secara keseluruhan sesuai konteksnya. Kontekstualisasi hukum Islam menunjukkan bahwa Al-Qur’an dan Hadits bersifat universal sesuai perkembangan zaman untuk mewujudkan kemaslahatan umat karena Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).

Memahami Nash secara ‘Letterlek’

Pemahaman nash di dalam Al-Qur’an Hadits oleh kelompok-kelompok ekstremis dipahami secara tekstual, tidak kontekstual. Mereka hanya membaca teks, kemudian dipahami tanpa panduan ilmu dalam mencari kebenaran teks tersebut. Padahal, dalam memahami Al-Qur’an dan Hadits memerlukan pengetahuan asbabun nuzul (sejarah turunnya ayat-ayat Al-Qur’an) dan asbabul wurud (sejarah turunnya sebuah Hadits) sehingga tidak memahami nash secara harfiah atau letterlek.

Seperti yang pernah dilontarkan salah seorang juru bicara ISIS Abu Muhammad al-‘Adnani, Nabi Muhammad adalah seorang yang diutus untuk mengemban pedang sebagai Rahmat bagi alam semesta. (Bid’ah Ideologi ISIS, 2017)

Ia mendasarkan pendapatnya itu pada sebuah hadits berikut: Nabi SAW bersabda, “Aku diutus dengan pedang, menjelang datangnya hari kiamat, sampai Allah disembah secara esa bayang-bayang busurku dan akan ditimpakkan kehinaan dan kerendahan atas orang yang menyalahi aturanku, dan barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia merupakan bagian dari mereka.” (HR Ahmad dalam al-Musnad dari Ibnu Umar dan dijadikan Shahid oleh al-Bukhori)

Hadits di atas bukan hanya dieksploitir untuk melegalkan aksi keji kelompok ekstremis, tetapi mereka juga tidak berupaya memahami konteks diturunkannya (asbabul wurud) hadits tersebut sehingga hanya dipahami secara tekstual saja.

Di titik ini, ISIS atau kelompok ekstrem sejenis hanya menghadirkan ayat-ayat pedang atau perang. Padahal ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits yang menyatakan bahwa Islam adalah agama kedamaian, rahmat, dan toleran tidak kalah banyaknya. Lantas, mengapa mereka hanya memilih ayat-ayat pedang (qital) yang disalapahaminya dalam memanifestasikan keagamaan mereka?

Hadits di atas hanya salah satu dari sekian banyak nash yang diselewengkan pemahamannya oleh kelompok-kelompok ekstremis. Lebih dari itu, saat ini untuk menjadi ekstremis sangatlah mudah bagi orang-orang yang hanya menelan mentah-mentah narasi-narasi keagamaan yang hadir di kepalanya dari internet dan media sosial. Produknya adalah Dita Siska Millenia dan tidak menutup kemungkinan generasi-generasi muda lainnya. Semoga tidak.

Penulis adalah Tim Taskforce Islam Nusantara dalam upaya Countering Violent Extremism (CVE) (2015)

Sumber : NU Online

Tentang Dindin Nugraha

Blogger kambuhan, menulis status facebook, twitter ataupun web kalau sempat. Turut aktif sebagai kontributor web sekaligus bagian dari keluarga besar Lembaga Ta'lif Wan Nasyr Nahdlatul Ulama Jawa Barat

View All Posts
Ikutilah Pengajian di Masjid PWNU Jabar, Jalan Terusan Galunggung No. 9 Bandung
Pengajian Tasawuf Syarah Kitab Al-Hikam
Bersama Dr. KH. M. Luqman Hakim, MA (Jakarta Sufi Center) setiap bulan, Minggu kedua mulai pukul 10.00 WIB (Live Facebook)
Pengajian Syarah Kitab Sirrul Asror
Bersama KH. Ahmad Dasuki setiap Rabu mulai pukul 12.15 (Live Facebook)
Pengajian Syarah Kitab al Waroqot
Bersama Ajengan Dr. Ramdan Danz Fawzi, SH.I, M.Ag setiap Kamis mulai pukul 12.15 (Live Facebook)

 

Dapatkan Buletin Jum’at Risalah NU terbaru yang terbit tiap Rabu, download edisi digital (PDF) di www.nahdlatululama.id/buletin Bagi yang ingin memesan dan berlangganan edisi cetak yang siap edar, silahkan menghubungi sdr. Aan di 085648333577 (Telp/WA) untuk keterangan lebih lanjut.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close