Harlah NU ke 93 dan Harlah Muslimat ke 73 Memberikan Nuansa Baru dalam Penguatan NKRI

27
- IMG 20190210 WA0004 600x450 - Harlah NU ke 93 dan Harlah Muslimat ke 73 Memberikan Nuansa Baru dalam Penguatan NKRI

Dalam Harlah NU dan Muslimat yang dilaksanakan di Lapangan Kerkhof Kabupaten Garut pada Sabtu, 09 Februari 2019, ini memberikan nuansa baru dalam penguatan Ruhul Islamiyah, Wathoniyah dan Basyariah, penguatan Ruhul Islamiyah itu sdh dibuktikan dengan hadirnya Jam’iah dam Jama’ah NU se-Kabupaten Garut yang membanjiri Lapangan Kerkhof, Garut, sehingga tidak menampung kapasitas jama’ah. Jama’ah yang hadir diperkirakan melebihi dari 35 ribu jama’ah.

Jumlah tersebut memberikan nuansa baru pada kader NU dalam penguatan Ahlussunnah Waljama’ah Annahdliyah yang siap ditempatkan disemua aspek. Ada yang hal menggemakan ditengah-tengah penuhnya Lapangan Kerkhof Jama’ah yang telah mewarnai keramaian Harlah NU & Muslimat tersebut yaitu dengan Lantunan Sholawat yang merupakan identitas NU dalam penguatan Aswaja annahdliyah yang menumbuhkan pemahaman dan sikap dalam aksi yang merupakan modal penting untuk bersikap kritis dalam menghadapi dinamika sosial keagamaan dan politik yang begitu kompleks. Ditengah arus radikalisasi isu2 dalam menghadapi pilpres 2019 nanti, berbagai cara golongan radikalis menggoreng isu SARA untuk melemahkan eksistensi keberadaan NU termasuk Kiayi NU.

Sehingga NU di isukan dengan berbagai isu yang tidak sedap bahkan melemahkan kehadiran NU di Tanah Air ini Padahal kalau dilihat dari aspek sejarah NU sangat berperan penting dalam perumusan lahirnya Pancasila yang menjadi falsafah kita dalam bernegara termasuk dalam perjuangan kemerdekaan bangsa ini seperti halnya barisan militer yang di bentuk dan didik oleh Hadratus Syekh K.H. Hasyim Asy’ari dengan membentuk barisan Hizbullah yang dipimpin oleh K.H. Zaenal arifin & barisan Sabilillah yang dipimpin oleh K.H. Masykur sehingga ini yang melahirkan fatwa Resolusi Jihad pd bulan September 1945 yang dihukumi “fardu ain” bagi kaum muslimin untuk mempertahankan Tanah Air sehingga melahirkan gerakan tersistematis pada tanggal 21 & 22 oktober 1945 yang menjadi landasan lahirnya gerakan militerisasi pada tanggal 10 november 1945 dibawah presiden Soekarno yg disebut dengan hari Pahlawan Nasional.

Perjuangan NU dalam mengawal tanah air dan kemerdekaan ini sudah jelas maka seyogyanya kita harus mendoakan dan mendukung guru kita K.H. Ma’ruf Amin untuk mendorong beliau ikut mewujudkan bangsa ini melalui jalur eksekutif dalam lingkaran pemerintahan sehingga bisa menentukan kebijakan untuk mewujudkan kesejahteraan yang mendukung tujuan Agama dan bangsa ini.

Kegiatan Harlah NU ke 93 dan Muslimat ke 73 di Kerkhof, Kab. Garut yang dihadiri oleh Alim Ulama se-Kabupaten Garut dan Habaib ini semata bukan hanya untuk menguatkan nilai ruhul Islamiyah saja melainkan untuk menumbuhkan kembali penyadaran ruhul wathoniyah sehingga ini menjadi landasan bagi semua dalam menjaga keutuhan bangsa ini dan NKRI yang menjadi pijakan warga Indonesia dalam bernegara. Kegiatan Harlah tersebut itu telah memberikan makna yang tersirat bahwa untuk saat ini dan kontek ini NU bukan ada dimana-mana dan dimana saja tapi NU harus ada dalam satu poros untuk menentukan sikap politiknya sehingga stabilitas keamanan dan ancaman yang merongrong NKRI dapat dibumi hanguskan dengan tersistematis.

Harlah NU di Garut yang dihiasi dengan zikir dan sholawat yang menjadi karakter NU termasuk Nyanyian Yalal Wathon yang disuarakan oleh 42 kecamatan dari semua MWC NU se-Kabupaten Garut telah menggetarkan lapangan kerkhof dan Aras Semesta ini. Nyayian Yalal Wathon (Hubbul Wathon) tersebut dicetuskan oleh K.H. Wahab Hasbullah yang selalu kita suarakan itu semata untuk menumbuhkan semangat Nasionalisme kita terhadap Tanah Air ini yang kita pijak.

- IMG 20190210 WA0005 600x337 - Harlah NU ke 93 dan Harlah Muslimat ke 73 Memberikan Nuansa Baru dalam Penguatan NKRI

Maka pesan Harlah tersebut melalui dzikir, sholawat dan nyanyian Hubhul Wathon apabila penulis simpulkan itu semata untuk menumbuhkan ruhul Islamiyah, Wathoniyah dan ruhul basariyah dengan mendorong guru kita K.H. Ma’ruf Amin untuk menyampaikan pesan hasanah Aswaja Annahdliyah untuk kesejahteraan Agama dan Bangsa ini melalui jalur eksekutif dalam pesta demokrasi nanti.

Ditulis oleh:
Hapid Ali ( beliau Merupakan Ketua Tanfidz MWC NU Cibiuk, Garut dan aktif di PW Lakpesdam NU Jawa Barat dibidang penguatan Intelektual dan SDM).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here