Ini Lafal Niat Shalat Witir

11
ini lafal niat shalat witir - 15 - Ini Lafal Niat Shalat Witir

Jumlah maksimal rakaat shalat witir adalah sebelas rakaat. Jumlah minimalnya adalah satu rakaat. Mereka yang ingin mengerjakannya lebih dari satu rakaat dapat melakukannya dengan satu salam per dua rakaat yang ditutup dengan satu rakaat dan satu salam.

ولمن زاد على ركعة الفصل بين الركعات بالسلام بأن يحرم بالوتر ركعتين ركعتين ثم يحرم بالأخيرة وينوي بالأخيرة الوتر

Artinya, “Orang yang melakukan shalat Witir lebih dari satu rakaat harus memisahkan rakaat-rakaat tersebut dengan salam, yaitu dengan takbiratul ihram shalat witir per dua rakaat, kemudian ia melakukan takbiratul ihram untuk satu rakaat terakhir dan meniatkan satu rakaat terakhir dengan sebutan ‘witir’,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 2002 M/1422 H], halaman 100).

Adapun niatnya mesti hati-hati sekali terutama terkait niat shalat witir (secara harfiah ganjil) yang dilakukan per dua rakaat sebelum satu rakaat terakhir sebagaimana keterangan Syekh M Nawawi Banten berikut ini:

ويتخير في غيرها بين نية صلاة الليل ومقدمة الوتر وسنته وركعتين من الوتر لأنهما بعضه

Artinya, “Ia dapat memilih pada selain satu rakaat terakhir di antara shalat malam, pendahuluan witir, shalat sunnah malam, dan shalat dua rakaat bagian dari witir; karena dua rakaat tersebut hanya bagian dari witir [yang secara harfiah berarti ganjil],” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 2002 M/1422 H], halaman 100).

Shalat witir dua rakaat sebelum satu rakaat terakhir tidak dapat disebut “shalat witir” karena kata “witir” secara harfiah berarti ganjil. Shalat witir dua rakaat ini disebut “shalat malam,” “pendahuluan witir,” “shalat sunnah malam,” atau “shalat dua rakaat bagian dari witir.” Oleh karena itu, kita perlu berhati-hati dalam niat shalat witir dua rakaat.

Adapun lafal niat yang dibaca untuk shalat witir dua rakaat sebagai imam adalah sebagai berikut:

اُصَلِّى سُنَّةً مِنَ الوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إِمَامًا لِلهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatan minal Witri rak‘ataini mustaqbilal qiblati adā’an imāman lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja sembahyang sunnah bagian dari shalat Witir dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai imam karena Allah SWT.”

Adapun berikut ini adalah lafal niat shalat Witir dua rakaat sebagai makmum: 

اُصَلِّى سُنَّةَ مِنَ الوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatan minal Witri rak‘ataini mustaqbilal qiblati adā’an makmūman lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja sembahyang sunnah bagian dari shalat Witir dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai makmum karena Allah SWT.”

Sementara berikut ini adalah lafal niat shalat Witir dua rakaat sendirian: 

اُصَلِّى سُنَّةَ مِنَ الوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatan minal Witri rak‘ataini mustaqbilal qiblati adā’an lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja sembahyang sunnah bagian dari shalat Witir dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai karena Allah SWT.”

Sebagai alternatif seperti disinggung di awal, seseorang dapat mengganti kata “sunnatan minal Witri” dengan kata “sunnata shalatil layli,” “muqaddimatal Witri,” atau “sunnatal layli” pada niat dan lafal niatnya sebagaimana pandangan mazhab Syafi’i. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Sumber : NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here