Berita

Ini Penyebab Beragama di Nusantara Banyak Kenduri

Jakarta, NU Online
Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU KH Agus Sunyoto mengatakan di dalam bahasa lokal Nusantara hampir tidak ditemukan kata searti dengan miskin.

“Kalau kita belajar ilmu bahasa, kita akan menemukan fakta bahasa-bahasa lokal kuno, Jawa kuno, Sunda kuno, Bali, tidak kita temukan kosa kata yang sama artinya dengan miskin. Tidak ada,” katanya di gedung PBNU, Jumat 28 Juli lalu.

Menurut dia, miskin berasal dari bahasa Arab, kata yang belakangan masuk karena pengaruh Islam. Kata fakir, juga bahasa Arab. Begitu juga kata melarat, yang berubah dari asal kata mudharat yang berasal dari bahasa yang sama.

“Tidak dikenal istilah miskin,” katanya pada Silaturahim Kebudayaan bertema “Meneguhkan Kebudayaan, Memperkuat Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia” yang digelar Lesbumi PBNU.

Hal itu, lanjutnya, berkaitan dengan pemilikan makanan orang Nusantara. Pada zaman kuno, di tiap desa, pedukuhan, rumah, orang Nusantara mempunyai lumbung makanan persediaan.

“Nah, orang yang berlimpah makanan punya kebiasaan cara berpikir untuk membagi makanan.”

Jadi, kata dia, orang Jawa itu mulai lahir sudah mengucapkan syukur dengan membagi makanan. Namanya berokohan. Pada kegiatan itu tetangga diundang untuk mencicipi. Kemudian berdoa bersama, pulang membawa berkat.

Pada usia tujuh hari setelah kelahiran, ada upacara lepas tali pusar. Slametan lagi. Makan lagi. Pulang bawa makanan lagi.

“Nanti selapanan, 35 hari, makan lagi. Upacara lagi. Turun tanah, khitan, kawin, lamaran, dengan kenduri selamaten, sampai mati pun makan karena kita lumbung makanan,” jelasnya.

Kemudian, penulis buku populer “Atlas Wali Songo; Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo sebagai Fakta Sejarah” ini belakangan bermunculan cara pandang Timur Tengah yang melihat membagi makanan secara aneh. Bagi mereka mubazir dan bid’ah.

“Mereka memandang dengan cara etik, pandangan orang asing.sementara pandangan kita wajar, wong kita berlimpah makanan. Kalau tidak membagi makanan, salah kita. Kenapa Islam kita berbeda? Karena melimpah makanan,” katanya. (Abdullah Alawi)

Sumber : NU Online

Ikutilah Pengajian di Masjid PWNU Jabar, Jalan Terusan Galunggung No. 9 Bandung
Pengajian Tasawuf Syarah Kitab Al-Hikam
Bersama Dr. KH. M. Luqman Hakim, MA (Jakarta Sufi Center) setiap bulan, Minggu kedua mulai pukul 10.00 WIB (Live Facebook)
Pengajian Syarah Kitab Sirrul Asror
Bersama KH. Ahmad Dasuki setiap Rabu mulai pukul 12.15 (Live Facebook)
Pengajian Syarah Kitab al Waroqot
Bersama Ajengan Dr. Ramdan Danz Fawzi, SH.I, M.Ag setiap Kamis mulai pukul 12.15 (Live Facebook)

 

Dapatkan Buletin Jum’at Risalah NU terbaru yang terbit tiap Rabu, download edisi digital (PDF) di www.nahdlatululama.id/buletin Bagi yang ingin memesan dan berlangganan edisi cetak yang siap edar, silahkan menghubungi sdr. Aan di 085648333577 (Telp/WA) untuk keterangan lebih lanjut.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close