Ulama

K.H. Mohammad Ilyas Ruhiyat : Ajengan yang Santun

Munas dan Konbes Lampung hampir saja gagal mencari figur Rais Aam. Konflik perkubuan sisa-sisa Situbondo-Cipete masih menguat. Beruntung pada menit-menit akhir muncul nama Ajengan Ilyas Ruhiyat Tidak ada yang keberatan dengan nama itu. Tidak pula ada alasan kuat untuk menolaknya. Ajengan Ilyas menjadi jalan tengah yang diterima oleh semua pihak.

Lahir pada hari Ahad 31 Januari 1934 M/12 Rabiul Awal 1353 H.

Pendidikan: HIS Banjar (1940 – 1943), Madrasah Diniyah Cipasung (1943 – 1946), SPI Cipasung (1950 – 1953), Madrasah

Aliyah Persamaan (1968). Pernah kuliah di Universitas Madjapahit Jakarta, Universitas Islam Syeikh Yusuf Jakarta, dan Institut Islam Siliwangi Bandung. Namun semuanya tidak sampai tamat. Juga pemah mengikuti kursus kader mubaligh Pesantren Cipasung tahun 1954.

Pengabdian: Perjalanan Kiai Ilyas di NU dimulai dengan menjadi Ketua Cabang IPNU Tasikmalaya (1954 – 1958), lalu naik menjadi Wakil Ketua PW IPNU Jawa Barat (1956), Wakil Rais Syuriah PCNU Tasikmalaya (1960), Wakil Rais Syuriah III PWNU Jawa Barat (1968 – 1970), Wakil Rais Syuriah II PWNU Jawa Barat (1974 – 1977), Mustasyar PWNU Jawa Barat (1980), Rais Syuriah PWNU Jawa Barat (1985 – 1989), Awan Syuriah PBNU (1984 – 1989), Rais Syuriah PBNU (1989 – 1992), Pjs Rais Aam (1992 – 1994).

Sejak Muktamar ke-29 di Cipasung pada 1994, Kiai Ilyas menempati posisi Rais Aam PBNU. Posisi sebagai orang pertama di PBNU itu dipegangnya hingga tahun 1999, dan dalam Muktamar ke-30 di Lu-boyo, Kediri (1999), Kiai Ilyas menempati posisi sebagai salah seorang Mustasyar PBNU sampai tahun 2004.

Selain itu juga aktif di MUI. Dimulai dari Seksi Hukum MUI Tasikmalaya (1967), anggota pimpinan MUI Tasikmalaya (1970), Ketua Bidang Pendidikan MUI Jawa Barat (1979 – 1989), Ketua Dewan Pertimbangan MUI Jawa Barat, anggota Dewan Pertimbangan MUI Tasikmalaya, anggota Dewan Pertimbangan MUI Pusat, Ketua Bidang Ukhuwah MUI Pusat (1995 – 2000). Di Departemen Agama pemah dua kali sebagai Naib Amirul Haj, 1992 dan 1994.

Sejak muda Kiai Ilyas dikenal sebagai kiai yang santun, banyak mengalah dan lebih senang menghindari konfrontasi. Begitu pula ketika memangku jabatan Rais Aam PBNU. Ia lebih banyak mengalah dari Ketua Umum Tanfidziyah PBNU K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Karena itulah ketika Gus Dur banyak melontarkan gagasan yang banyak dinilai keluar dari budaya NU, nyaris tidak mendapatkan tantangan dari Syuriah.

Di usia senjanya Ajengan Ilyas lebih banyak mencurahkan perhatiannya pada dunia pendidikan. Lebih khusus pendidikan di dalam Pesantren Cipasung, Singaparna, Tasikmalaya yang diasuhnya.

Kiai Ilyas wafat pada Selasa sore, 18 Desember 2007 dalam usia 73 tahun.

Sumber : Buku Antologi NU I

Ikutilah Pengajian di Masjid PWNU Jabar, Jalan Terusan Galunggung No. 9 Bandung
Pengajian Tasawuf Syarah Kitab Al-Hikam
Bersama Dr. KH. M. Luqman Hakim, MA (Jakarta Sufi Center) setiap bulan, Minggu kedua mulai pukul 10.00 WIB (Live Facebook)
Pengajian Syarah Kitab Sirrul Asror
Bersama KH. Ahmad Dasuki setiap Rabu mulai pukul 12.15 (Live Facebook)
Pengajian Syarah Kitab al Waroqot
Bersama Ajengan Dr. Ramdan Danz Fawzi, SH.I, M.Ag setiap Kamis mulai pukul 12.15 (Live Facebook)

 

Dapatkan Buletin Jum’at Risalah NU terbaru yang terbit tiap Rabu, download edisi digital (PDF) di www.nahdlatululama.id/buletin Bagi yang ingin memesan dan berlangganan edisi cetak yang siap edar, silahkan menghubungi sdr. Aan di 085648333577 (Telp/WA) untuk keterangan lebih lanjut.
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close