Keber-agama-an dan Kebe-ragaman Indonesia

17
- hdrweb discover diversity week - Keber-agama-an dan Kebe-ragaman Indonesia

Oleh: Toufik Imtikhani al Kalimasi SIP

UNTUK mendeskripsikan sifat keber-agama-an dan kebe-ragaman Bangsa indonesia, QS. Surat Al Hujurat (surat ke-49) ayat 13 dapat kita jadikan rujukan. Meskipun kita mengetahui bahwa tidak ada kekhususan Bangsa indonesia atas bangsa lain, dan tidak pula surat Al-Hujurat 13 dikhususkan untuk bangsa Indonesia. Tetapi secara kebetulan ataukah terencana dalam kehendak Tuhan, untuk menjadikan dapat dihubungkan antara surat Al Hujurat 13 dengan keadaan Bangsa indonesia. Artinya, maksud dan kehendak yang tersurat dan tersirat dalam ayat ini, seolah-olah ditujukan atau setidaknya dapat ditujukan dan terefleksikan dalam keadaan Bangsa Indonesia. Dalam ayat 13 surat Al Hujurat Allah berfirman kepada manusia tentang penciptaan manusia yang beragam, baik dari perspektif gender, suku, maupun bangsa. Tentu saja secara faktual, penyebaran dan warna kulit termasuk di dalamnya. Dalam surat dan ayat lain bahkan masalah keimanan juga diciptakan berbeda-beda (lihat QS. 3 : 48, QS. 6 :35).

Tetapi ayat 12 surat al-Hujurat haruslah dilihat sebagai satu paket dengan ayat 13, mengingat bahwa kebe-ragaman sifatnya sangat sensitif dan mudah terpecah belah dan diadu domba, kohesifitas yang lemah, dan daya tolak yang tinggi, maka sikap dan sifat yang dideskripsikan oleh ayat 12 surat al-Hujurat harus dihindari, agar setiap berbedaan dapat dipersatukan. Sikap dan sifat itu adalah, berburuk sangka, mencari kesalahan orang dan atau kelompok lain, dan saling bergunjing.

Keadaan yang  pluralis sungguh ada dan terjadi di negara kita. Sulit keberagamaan dan keberagaman seperti itu ditemukan di belahan bumi yang lain, kecuali Indonesia. Mungkin dalam skala dan intensitas kecil kita dapati di negara atau bangsa lain, tetapi tetap Indonesia seperti bayangan dari firman Allah dalam ayat 13 Surat Al Hujurat. Keadaan Indonesia adalah manifestasi yang sempurna dari firman Allah tersebut. Tentu ini merupakan anugrah dan kehormatan untuk negara kita. Dan kehormatan tersebut datangnya dari Tuhan yang Maha Menciptakan. Subhanallah.

Keadaan itu,  sekarang oleh beberapa kelompok muslim hendak di-agregasikan dalam satu wadah persepsi, keimanan, dan kepentingan yang tunggal. Mereka melupakan, terlena, karena ambisi atau karena pemahaman serta wawasan keagamaannya yang sempit,sehingga hakekat dari maksud ayat ini diabaikan. Mereka tidak peduli bahwa keberagaman dalam berbagai hal, termasuk keyakinan, bagi semua manusia, khususnya Bangsa Indonesia adalah takdir yang harus diterima dengan penuh kelapangan dada.

Mengapa demikian? Sebab masih ada saja orang atau kelompok yang dadanya sesak, ketika dia lahir dan hidup, mendapati kedaan masyarakat Indonesia yang beragam. Kedaan ini tidak dalam kalkulasi pemikiran dan ide-idenya yang dipengaruhi oleh doktrin keimanan yang mereka pahami. Mereka berpikiran bahwa jalan keselamatan bersifat tunggal, yaitu Islam yang dipahaminya. Termasuk di dalamnya adalah urusan negara dan politik. Doktrin Islam ya’lu wa laa yu’la ‘alaih, Islam sholih lii kulli zaman wa makan, Islam ad-diin wa daulah, telah meng-katrasi seluruh ide-idenya tentang jalan keselamatan yang bersifat tunggal. Artinya, segala sesuatu yang mempunyai atribusi di luar Islam, adalah jalan kekafiran dan kesesatan.

Pendekatan legal-formal dalam beragama, sedikit banyak memberikan kontribusi bagi pemikiran yang bersifat hitam-putih, mu’min dan kafir, surga-neraka. Atribusi dimensi eksoteris sesungguhnya bukan esensi beragama. Nabi bahkan mengatakan, bahwa Allah tidak melihat lahirmu (dimensi eksoteris) tetapi Allah melihat hatimu (dimensi esoteris).Dimensi eksoteris dalam beberapa kasus justru menjadi kamuflase kemunafikan yang tersembunyi, sehingga merongrong kejayaan Islam dari dalam. Kejayaan Islam tidak ditentukan oleh sesuatu yang artifisial, yaitu dimensi eksoteris, tetapi kejayaan Islam ditentukan oleh sifat dan sikap yang menjadi refleksi dari dimensi esoteris, seperti misalnya tentang nilai-nilai keadilan.

Menurut Ibnu taimiyah, mengutip pendapat Ali Bin Abu Thalib (Nurcholis Majid, Islam Doktrin dan Peradaban, 2000) apapun bentuk negaranya, masyarakatnya, jika keadilan hidup di dalamnya, maka masyarakat dan negara tersebut akan mempperoleh kejayaan. Namun sebaliknya, meskipun suatu negara atau masyarakatnya mempunyai bentuk negara dan masyarakat muslim, tetapi nilai-nilai keadilan tidak hidup di dalamnya, maka yang akan terjadi adalah sebuah kehancuran.  Jadi, tidak penting sikap lahir (bentuk) negara dan masyarakat, yang lebih penting esensi (sikap dan sifat esoteris) dalam kehidupan negara dan masyarakat.

Dalam masyarakat kita, esensi agama sudah merupakan sikap dan sifat hidup (way of life, value sistem), bukan sekedar ajaran dan ujaran lagi. Contoh falasafah masyarakat tentang kehidupan yang digambarkan sebagai cakra manggilingan. Hal ini sesuai dengan bunyi (QS.3: 140), yang menyatakan bahwa kejayaan di antara manusia itu akan dipergilirkan. Demikian juga falsafah tentang andhap ashor (rendah hati) yang merupakan sikap dan sifat yang diperintahkan agama, sebagai lawan dari sikap dan sifat tinggi hati (sombong, kabaair) yaitu adigang adigung adiguna, yang dilarang dalam agama (QS. 25 : 21) Di daerah Minangkabau hidup sebuah postulat yang berbunyi, adat basandi syara, syara basandi kitabullaah.

Tentu banyak contoh-contoh sistem nilai masyarakat yang bersendikan nilai-nilai agama, meskipun secara formal tidak nampak sebagai ajaran agama. Lagu lir ilir tandure wong sumilir, merupakan gubahan lagu dari Sunan Kalijaga yang berisikan ajakan orang untuk mendirikan salat. Salat adalah perintah Allah yang sudah tidak diragukan otensitasnya dalam Alquran dan hadist Nabi.

Tetapi bahwa tata nilai itu tidaklah semata-mata warisan sejarah Islam. Benar. Jauh sebelum Islam datang, telah hidup agama asli nenek moyang seperti Dinamisme dan Animisme, Hindhu, Budha, dan berbagai jenis kepercayaan mistik yang bervariasi corak, warna bentuk dan nama, sesuai dengan multikulturalisme yang masyarakat Indonesia miliki.

Semuanya secara revelatif dan  evolutif mengajarkan kearifan, dan tata nilai itu kemudian mengalami berbagai  engkulturasi dan akulturasi serta menciptakan semacam konfigurasi sejarah tata nilai yang bersusun-susun. Dan susunan-susunan inilah yang menjadi way of life masyarakat Indonesia hingga sekarang.

Sebagian tata nilai itu kemudian menjadi warisan penting yang diartikulasikan oleh para pembuat undang-undang untuk memastikan kepastian hukum dalam bernegara. Keyakinan kepada Tuhan adalah warisan sejarah peradaban yang kemudian diformulasikan kedalam sila pertama Pancasila, dan termaktub dalam preambul Undang-undang Dasar tahun 1945 alinea ke-3.

Maka secara de-facto, keber-agamaan bangsa Indonesia sudah menjadi sikap dan sifat hidup sejak lama. Keber-agamaan itu bersanding dengan fakta kebe-ragaman masyarakat kita. Tata nilai yang dibangun bukan hanya sumbang sih satu agama saja, tetapi merupakan kontribusi penting semua ajaran keyakinan yang berkonjungsi dengan semua kebudayaan. Keber-agamaan dalam kebe-ragaman itu harus kita lihat sebagai kekayaan dan rahmat yang Tuhan berikan kepada bangsa Indonesia. Nabi dengan misi profetiknya mengetahui betul subah-sunah Allah dan hikmah-hikmah yang terkandung dalam setiap perbedaan, karena Nabi diajarkan oleh Allah untuk memberikan pandangan yang afirmatif tentang keragaman yang Ia ciptakan, sebagaimana sabdanya “ ikhtilafu ummatii rahmah,” perbedaan pendapat di kalangan umatku adalah rahmat (bentuk kasih sayang Allah).

Bahkan khusus untuk perbedaan yang banyak di kalangan umat Islam, dari segi madzhab fiqh, ilmu kalam, aqidah, tasawuf, dan perbedaan-perbedaan lain, Hujjatul Islam Imam Ghazali dalam kitab Faishal at Tafriqah bain wal Islam wa az-Zanadiqah,  menggariskan dengan jelas sebuah demarkasi, selama syahadatnya masih sama, yaitu asyhadu an laa ilaaha illallaah wa asyhadu inna muhammadarrasuulullaah, maka mereka adalah saudara seiman, dan dilarang untuk dikafirkan dan dimusuhi. Penentuan musuh, jika harus mendapati musuh, tidak bolleh ditetapkan berdasarkan keimanan dan keyakinan, melainkan dengan sikap dan perilaku permusuhan itu sendiri (QS. 49 : 9, QS. 60 : 8) (Masdar F Mas’udi (pengantar) dalam Munawir Abdul Fatah, Tradisi Orang-orang NU, 2006). Dan masalah agama serta keyakinan tidak boleh dipaksakan (QS.109 : 1-6, QS. 2: 256). Bahkan Allah pun melarang Nabi-Nya, yaitu Muhammad SAW untuk menuntun pamannya Abu Thalib, yang masih kafir, ke jalan keimanan, ketika pamannya itu menghadapi sakaratul maut. Allah-lah pemilik petunjuk yang sebenarnya. Dia akan memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki, dan menyesatkan kepada siapa saja yang Ia kehendaki.

Maka semua keyakinan penting dan semua kebudayaan penting. Keragaman dan kekayaan yang Bangsa Indonesia miliki, sesungguhnya manifestasi dari keragaman yang Tuhan ciptakan di atas dunia ini. Indonesia adalah miniatur nyata dari kehidupan seluruh semesta. Setiap mereka yang hendak membunuh dan meniadakan keber-agamaan dan kebe-ragaman Bangsa Indonesia, sesungguhnya hal itu bentuk pengingkaran terhadap sunatullah. Setiap yang menentang sunatullah maka bertentangan dengan Islam. Setiap yang bertentangan dengan islam, maka itu merupakan sebuah kebatilan. Setiap kebatilan  pasti akan lenyap dan hancur. “ Dan katakanlah, telah datang kebenaran dan yang batil telah lenyap. Dan sesungguhnya kebatilan pasti akan lenyap,” (QS. 17: 81).*

*) Penulis adalah pengasuh Ponpen Daarut-Taubah wa Tarbiyah Lapas Klas IIB Cilacap

Penulis
Toufik Imtikhani al Kalimasi,SIP.
Toufik Imtikhani al Kalimasi  - img 20190406 wa0011 1 - Keber-agama-an dan Kebe-ragaman Indonesia

Tentang Toufik Imtikhani al Kalimasi

Menyebut dirinya dengan rendah hati sebagai kader pinggiran Nahdlatul Ulama. Toufik Imtikhani al Kalimasi adalah pengasuh ponpes Bumi Aswaja Daarut-Taubah wa Tarbiyah Lapas Klas IIB Cilacap.

View All Posts

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here