Berita

Konsep Dakwah Memukau Habib Ali Al Habsyi Kwitang Menurut Kyai Raden Salamun

Depok, 31 Maret 2018 – LDNU & LTMNU Kota Depok bersinergi mengadakan Training Da’i Aswaja angkatan kedua di Tahun 2018. Para tokoh Nahdliyin Kota Depok nampak hadir dalam acara pembukaan, memberikan support dan keberkahan bagi para peserta. Training yang dihadiri oleh peserta utusan dari setiap MWC se Kota Depok ini diselenggarakan di komplek masjid Syeikh Muhammad Yusuf, Kota Depok.

Para tokoh yang hadir menjadi pemateri adalah, KH. Syihabuddin Ahmad ( Mustasyar PCNU Depok), Kyai RadenSalamun ( Ketua PCNU Kota Depok ),H. Fathurrozi, Lc, M.A ( Dosen Tehnik Informatika di Universitas Empu Tantular), H. Asep Zaenal Musthafa Kamal, Lc (Akademisi).

Kyai Raden Salamun, ketua PCNU Kota Depok menyampaikan materi terkait retorika dakwah. Beliau memulai penjelasannya dengan mendefinisikan kata retorika, beliau menyatakan retorika itu seni kemampuan bicara di hadapan Orang banyak dan ada usaha untuk mempengaruhi orang lain dengan pesan yang akan disampaikannya. dalam retorika itu ada unsur mengajak dan ada unsur entertainm yang dapat menghibur pendengarnya. Jangan heran ketika kita bertanya kepada hadirin tentang tema ceramah yang dihadirinya di berbagai acara muharaman, maulidan, halal bi halal, rajaban, dll. Mereka akan menjawab, “ Tema ceramahnya bagus dan lucu loch.” Jadi jika ada ceramah yang mengandung humor itu suatu hal yang wajar.

Jika kita mengkaji Sejarah Islam Betawi, maka kita akan menemui salah satu tokoh yang bernama Habib Ali Al Habsyi Kwitang. Majlisnya selalu dihadiri oleh ribuan Jamaah, para Dai yang ceramah diberi kesempatan untuk menyampaikan tausiyah dan dari setiap dai, yang paling ditunggu jelas ceramah Habib Ali Al Habsyi yang durasinya begitu singkat, yaitu 10 menit. Makanya ceramah Dai lain, walaupun disampaikan dengan berapi-api terkadang tidak didengar oleh mustami’. Maka ada teori Masmu’ud dakwah ghairu masmu’i dakwah, ada dakwah yang didengar ada dakwah yang tidak didengar. Contoh ketika saya memaparkan kajian ini, bapak semua terdiam penuh konsentrasi tapi perlu kita akui sebagian hadirin justru tak mendengarkan apa yang saya sampaikan.

Habib Ali Kwitang Dakwah Dengan Singkat padat dan Berakhlak, juga telah mengamalkan yang akan disampaikan terlebih dahulu.

Jadi retorika dakwah adalah kepandaian menyampaikan ajaran islam bertujuan untuk meraih kebahagiaan secara lambat maupun cepat baik itu di dunia atau di akhirat. Jika kita berdakwah sejak awal tidak memiliki tujuan untuk meraih kebahagiaan maka dakwah kita walaupun berdurasi sejam pun tidak akan dikategorikan sebagai dakwah.

Allah swt berfirman,

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Serulah ( manusia) kepada jalan Tuhan -mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…(QS. Annahl[16]:125).

Ayat tersebut menjelaskan terkait Dasar pijakan dakwah bagi para Dai Aswaja, diantaranya kita harus mengajak manusia. Manusia menjadi objek dakwah walaupun dalam teks ayat tak ada tulisan linnas. Kemudian kita dapat memahami bahwa kita diharuskan menyampaikan dakwah dengan hikmah, yang artinya bijaksana dalam arti menyampaikan dakwah agar orang tertarik dengan ajakan kita dan tidak tersinggung. Contoh mendakwahkan tapi disertai hal yang membuat mustami tersinggung, tumben kamu shalat! Biasanya diajak shalat nggak mau ke masjid!. Harusnya kita mensupport ini malah menjatuhkannya.

Dakwah itu mengajak bukan dengan mengejek dan mencaci-maki, sebagaimana yang terjadi saat ini, ada sebagian orang berusaha berdakwah tapi mudah sekali mengatakan tahlil dan ziarah itu syirik, maulidan itu nggak boleh karena Nabi tidak pernah menyuruh dan semua itu adalah bid’ah. Dakwah kemudian harus dengan pengajaran yang baik, ini perintah Allah swt. Jadi tidak ada anjuran dakwah yang mendorong kita untuk mencaci-maki orang lain. Lalu wajadilhum billati hiya ahsan, kalo terpaksa harus berdebat dengan cara yang baik, tapi harus dengan cara terbaik dan argumentatif sehingga kalo kita tidak mampu berbuat seperti itu maka jangan karena bisa menjatuhkan pribadi kita. Jangan heran saya mengarahkan kepada nahdliyin agar dapat menyampaikan dakwah secara argumentatif, logis menggunakan dalil aqli dan naqli ketika harus berhadapan dengan para pembenci NU dan NKRI.

Ikutilah Pengajian di Masjid PWNU Jabar, Jalan Terusan Galunggung No. 9 Bandung
Pengajian Tasawuf Syarah Kitab Al-Hikam
Pengajian Syarah Kitab Sirrul Asror
Pengajian Syarah Kitab al Waroqot

 

Dapatkan Buletin Jum’at Risalah NU terbaru yang terbit tiap Rabu, download edisi digital (PDF) di www.nahdlatululama.id/buletin Bagi yang ingin memesan dan berlangganan edisi cetak yang siap edar, silahkan menghubungi sdr. Aan di 085648333577 (Telp/WA) untuk keterangan lebih lanjut.

Kyai Raden Salamun menyimpulkan bahwa dakwah kaum nahdliyin harus mengikuti arahan Al Quran, arahan yang telah direalisasikan oleh Rasul saw, oleh Para sahabat, Thabiin dan para Ulama Nusantara. Semua mengedepankan dakwah damai, dakwah ramah dan argumentatif hingga dapat mencerdaskan umat dan menjauhi sikap permusuhan. Dengan memahami retorika dakwah aswaja annahdliyah insyallah para Da’i kita akan menebarkan dakwah yang membuat NKRI damai dan jaya, dakwah kita tidak hanya merangkul sesama muslim tapi juga membuat non muslim aman di Negeri Nusantara hingga selalu dicontoh Muslimin Dunia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close