Islam KitaWarganet

Memahami Persfektif NU Dari Ilmu Nahwu

Oleh Asep Kadarusman - PCNU Tasikmalaya

WhatsApp Image 2018-01-24 at 8.27.26 PM.jpeg

Secara kuantitas, Nahdlotul Ulama (selanjutnya disebut NU) merupakan Ormas terbesar di Indonesia, bahkan dunia. Disamping besar dari sisi jumlah, NU juga memiliki segudang pelbagai ilmu sebagai prasyarat menjadi Muslim yang ingin lebih jauh mendalami agama Islam. Diantaranya ilmu Nahwu.

Penulis ingin sedikit menjelaskan tentang ilmu Nahwu dari persfektif yg berbeda. Penulis awali dari Syakal (baris)

1). Syakal ditinjau dari bentuk bibir saat diucapkan
Seperti kita ketahui, syakal itu ada 4. Disamping itu juga ada Harokat & ada Sukun.
a). Fathah ( َ ) itu “terbuka”. Maka ketika diucapkan, bentuk bibir terbuka. Contoh huruf ف diberi fathah. فَ Terbuka.
b). Kasroh ( ِ ) itu “pecah”. Maka ketika diucapkan, bentuk bibirnya pecah. Contoh huruf ف diberi kasroh فِ pecah.
c). Dhommah ( ٌ ) ” penggabungan”. Maka ketika diucapkan, bentuk bibir saling bergagung. Contoh huruf ف Diberi dhommah فٌ bergabung.
d). Sukun ( .) “tidak bergerak”. Maka ketika diucapkan, bentuk bibirnya tidak bergerak. Contoh huruf ف diberi sukun ف tidak bergerak.

Mengambil makna filosofis diatas, bahwa apabila suatu organisasi mau maju, maka harus seperti fathah & dhommah. Ia terbuka & menggabungkan. Kita tahu, NU itu bermanhadz Tawassuth (moderat). Dimana NU selalu bersikap terbuka. Pola dakwahnya pun al-ma’ruf, pola yang merangkul bukan memukul. Sehingga NU bisa menjadi wadah untuk merangkul. Baik ras, golongan, suku, adat & budaya. Makanya bagi NU, Nusantara ini adalah sajadah panjang yang terbentang dari Sabang hingga Merauke.

NU jangan seperti kasroh & sukun. Yang terpecah & diam.

Pada dasarnya, sebuah organisasi itu pasti mengalami pase naik- turun (fluktuasi). apabila ingin mengalami Perubahan yang terus meningkat tanpa henti Kalau dalam ilmu Nahwu dikenal dengan ” I’rob Rofa”. Nah bagaimana supaya perubahan itu terus meningkat ? Maka simak qoidah i’rob rofa’ “faammadh dhomaatu fatakuunu a’lamatal i’rob”. Jadi pada intinya, kebersamaan & soliditas antar lembaga & banom itu, tanda tegaknya sebuah organisasi. jadi harus ada sinergitas antara pusat hingga ke ummat.

Sekarang mencoba mengaplikasikan ke dalam contoh yang kita kenal dalam ilmu Nahwu. Terutama di kitab Jurumiyah kita mengenal sosok ikonik seperti Zaed, Amar dan Dawud.

1.) Zaed ( زيد ) itu bermakna tingkatan. umpamakan saja ia seorang pejabat.
2). Amar ( عمر ) itu bermakna kemakmuran. atau umpamakan saja orang yang terkenal.
3). Dawud ( دود ) itu umpamakan saja orang kaya. karna ia memiliki 2 wawu.
Suatu ketika, ki Amar mencuri wau nya ki Dawud. lalu ki Dawud ini mengadukan kepada ki Zaed yang seorang pejabat/ hakim bahwa wau nya telah dicuri ki Amar. maka dipanggillah ki Amar oleh ki Zaed. disitu lah terjadi peristiwa fenomenal ki Zaed memukul ki Amar.

Dari tokoh- tokoh ikonik dalam ilmu Nahwu (terutama dari ki Zaed & ki Amar) ini, kita mengambil makna, apabila NU ingin terus meningkat, maka harus seperti ki Zaed. setelah meningkat seperti ki Zaed, maka akan lahirlah ki Amar yang penuh dengan kemakmuran.

والله اعلام با الصٶاب

Penulis
Asep Kadarusman - PCNU Tasikmalaya
Ikutilah Pengajian di Masjid PWNU Jabar, Jalan Terusan Galunggung No. 9 Bandung
Pengajian Tasawuf Syarah Kitab Al-Hikam
Bersama Dr. KH. M. Luqman Hakim, MA (Jakarta Sufi Center) setiap bulan, Minggu kedua mulai pukul 10.00 WIB (Live Facebook)
Pengajian Syarah Kitab Sirrul Asror
Bersama KH. Ahmad Dasuki setiap Rabu mulai pukul 12.15 (Live Facebook)
Pengajian Syarah Kitab al Waroqot
Bersama Ajengan Dr. Ramdan Danz Fawzi, SH.I, M.Ag setiap Kamis mulai pukul 12.15 (Live Facebook)

 

Dapatkan Buletin Jum’at Risalah NU terbaru yang terbit tiap Rabu, download edisi digital (PDF) di www.nahdlatululama.id/buletin Bagi yang ingin memesan dan berlangganan edisi cetak yang siap edar, silahkan menghubungi sdr. Aan di 085648333577 (Telp/WA) untuk keterangan lebih lanjut.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close