Kajian

Membincang Zakat Produktif

Oleh Hafid Ismail (Wakil Ketua PP Lazisnu/Wakil Sekretaris PWNU Jabar)

Oleh Hafid Ismail*

Sebagaimana dikemukakan oleh banyak ahli, pensyariatan zakat dilandasi oleh semangat menjaga Maqashid Asy-Syari’ah Al-Hamsah (lima pokok tujuan syariah). Zakat diwajibkan agar terjadi pemerataan pendapatan dan terwujudnya keadilan distribusi di lingkungan umat, artinya zakat diwajibkan agar kepemilikan suatu harta tidak berhenti di suatu tempat atau satu orang saja. Zakat juga menjadi sarana pembersih bagi harta benda yang telah dimiliki dengan satu promosi bahwa harta zakat yang dizakati bukan makin berkurang, tapi sebaliknya makin bertambah jumlah dan berkah. Setidaknya, menunaikan zakat sama saja menginvestasikan pada delapan ashnaf yang returnnya akan kita unduh kelak diakhirat.

Ada sebuah pesan Allah SWT, dimana Dia tidak akan merubah suatu kaum sehingga kaum itu sendiri berupaya untuk merubahnya. Artinya Allah SWT telah memastikan kesuksesan seorang hamba jika hamba tersebut mau untuk berusaha dan berikhtiar menjalankan usaha hingga ia memperoleh kesuksesan. Konsep berusaha di dalam Al Qur’an sangat beragam, bisa dengan bertani, berkebun dan berdagang. Demikian pula Rasulullah saw mencontohkan secara langsung tentang kesuksesan hidup itu tidak diraih hanya dengan berdiam diri semata, melainkan harus diusahakan secara ulet, teguh, istiqamah dan penuh kesungguhan.

Tidak semua orang memiliki modal untuk berusaha, dan tidak semua orang juga memiliki keahlian dalam berusaha, padahal sejatinya semangatnya sangat besar untuk memiliki usaha atau pekerjaan. Model orang seperti ini tentu banyak kita jumpai di sekitar kita dan diantara mereka terdapat di dalam kelompok delapan ashnaf terutama dari kategori utama, fakir dan miskin.

Selama ini, mayoritas kelompok ini mendapatkan bantuan dari lembaga-lembaga amil zakat dalam bentuk zakat konsumtif, yakni zakat yang diberikan dengan melihat kebutuhan pokok yang sedang melilit mustahiq. Sifat zakat konsumtif memang sudah semestinya diberikan, namun ia tidak memiliki efek jangka panjang yang dapat dirasakan mustahiq ke depan, karena zakat yang diperoleh pasti akan dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan tersebut secara singkat.

Oleh karena itu, sudah saatnya lembaga-lembaga zakat memprioritaskan pembangunan umat melalui zakat produktif. Zakat produktif pada dasarnya merupakan metode pemberian zakat yang dialokasikan untuk usaha-usaha produktif supaya lebih berdayaguna. Model pengalokasian zakat produktif tidak harus diberikan secara langsung kepada mustahiq yang memiliki usaha, namun bisa juga dengan pembentukan usaha atau penyediaan tempat berusaha bagi para mustahiq seperti penyediaan lapangan kerja, tempat pendidikan dan latihan kerja, dan sejenisnya.

Arti zakat produktif secara definitif-terminologik masih debatable di antara para ahli dan para praktisi zakat. Ada yang mengartikan sebagai bantuan yang diberikan kepada mustahiq berupa pinjaman tanpa bunga dalam jangka waktu tertentu untuk dikembalikan, lalu dipinjamkan lagi kepada yang lain sampai penerima zakat pertama bisa mandiri. Pengembangan zakat model ini mirip dengan pinjaman modal berputar (PMB) yang dipraktikkan beberapa lembaga keuangan untuk membantu modal para pengusaha kecil dengan mewajibkan pengembalian pinjaman pokoknya saja tanpa disertai bunga.

Arti yang lain yaitu bentuk pengelolaan dan penyaluran dana zakat yang bersifat produktif, yang mempunyai efek jangka panjang bagi penerima zakat (mustahiq) yakni mengentaskan kemiskinan umat secara jangka panjang dan berkesinambungan. Zakat produktif juga bisa diartikan bantuan tambahan modal bagi para mustahiq yang telah memiliki usaha kecil-kecilan tanpa perlu mengembalikannya kembali.

Perbedaan pengertian zakat produktif sangat dimaklumi karena perbedaan pola dan cara pengembangan zakat di wilayah atau lembaga masing-masing. Namun pada dasarnya memiliki tujuan sama yakni menciptakan efek sistemik terhadap peningkatan usaha para mustahiq zakat produktif yang pada gilirannya mampu mengentaskan status mereka dari penerima zakat (mustahiq) menjadi pemberi zakat (muzakki).

Pemberian pinjaman terhadap orang-orang yang membutuhkan dengan mengembalikan pokoknya saja tanpa ada tambahan (riba) merupakan nafas dari konsep qardul hasan (hutang yang baik) dengan tujuan membantu sesama dan mendapatkan pahala dari Allah SWT., serta agar terjadi produktivitas ekonomi di kalangan masyarakat tidak mampu. Model ini banyak digunakan oleh lembaga keuangan Islam macam perbankan Islam dan Baitul Maal wat Tamwil serta sebagian instituti pengelola zakat. Semangat  Qardl hasan juga dilatarbelakangi oleh Allah SWT. dalam surat Al Baqarah ayat 245.

Rasyid bin Ali Ridla dalam Tafsir Al Manar, menjelaskan ayat ini berisi anjuran kuat terhadap kaum muslimin yang berjuang membela agama Allah SWT. tidak hanya dengan mengangkat senjata ansich, tapi bisa juga dilakukan oleh orang-orang yang kaya dengan cara memberikan bantuan kebaikan berupa infaq cuma-cuma (qardl hasan) kepada orang-orang yang menanggung beban kehidupan.

Semangat pemodelan zakat produktif juga dilandasi dengan satu hadits  riwayat Muslim yang mengindikasikan dianjurkannya zakat produktif.

 حَدَّثَنِي أَبُو الطّاهِرِ، أَخْبَرَنا ابنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي عَمْرٌو بنُ الحَارِثِ عَن شِهَابٍ، عَن سَالِمٍ بنِ عبدِ اللهِ عَن أَبِيهِ أنّ رَسُو لَ الله صلى الله عليه وسلم كاَنَ يُعْطِي عُمَرَ بن الخَطَّاب رضي الله عنه العَطَاءَ، فَيَقُول لَهُ عُمَرُ: “يَا رَسُولَ الله…آفْقَرُ إِلَيهِ مِنِّي،  فَقَال لَه رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: خُذْهُ فَتَمَوَّلْهُ أَو تَصَدَّقْ بِه، وَمَاجَآءَكَ مِن هذا الماَلِ وَأَنْتَ غَيرُ مُشْرِفٍ وَلاَ سَآئِل، فَخُذْهُ وَمَا لاَ، فَلاَتَتَّبِعْهُ نَفْسَكَ”

Abu Thahit telah bercerita kepadaku, Ibnu wahb menghabarkan kepadaku, amr bin Harits menghabarkan kepadaku dari Syihab dari salim bin Abdullah dari ayahnya bahwa rasulullah saw. memberi umar bin khattab al ‘atha’ (pemberian), umar bin khattab berkata kepada rasul saw.: “apakah tidak ada yang lebih membutuhkan dibanding saya?. Rasulullah saw. menjawabnya: Ambillah lalu kamu kelolalah dan s{adaqah kan lagi, bagian yang ada padamu dari harta ini asalkan kamu tidak berlebihan dan meminta ambillah, jika tidak jangan ambil, jangan engkau turuti nafsumu.

Setidaknya, hadits ini mengajarkan dua hal. Pertama, dalam setiap pengelolaan zakat terdapat bagian harta yang berhak dimiliki oleh para mustahiq. Pelajaran yang kedua adalah kebolehan untuk pengelolaan harta zakat bertujuan utama merubah kondisi mustahiq menjadi muzakki.

Pengembangan pemberian zakat dalam bentuk zakat produktif menjadi hal yang tidak bisa dihindari pada saat sekarang dan merupakan implementasi makna zakat itu sendiri, yakni membangun budaya usaha para mustahiq yang mandiri dan tidak bergantung pada pemberian orang mampu saja. Penggunaan zakat konsumtif idealnya hanya untuk hal yang bersifat darurat saja. Artinya, ketika ada mustahiq yang tidak mungkin dibimbing untuk mempunyai usaha mandiri atau memang kepentingan mustahiq sudah sangat mendesak. Oleh karenanya, sumber-sumber dana umat, seperti zakat, infak dan shadaqah dan wakaf akan lebih cepat digunakan untuk mengentaskan kemiskinan umat jika penggunaannya sejak awal dikelola untuk mengadakan pelatihan kerja atau dalam bentuk pemberian modal usaha langsung kepada mustahiq.

Dari penjelasan ini dapat dimengerti bahwa untuk menciptakan pelaku kebaikan tentunya mendorong fakir miskin dengan budaya usaha produktif  supaya mendapatkan penghasilan, baik secara kuantitatif dalam arti memberikan modal usaha dan atau menciptakan lapangan kerja, atau bersifat kualitatif dalam arti menciptakan skill kerja dan jiwa enterpreneurship  melalui pelatihan dan pendidikan. Dengan demikian fungsi sosial zakat lebih terlihat dan berdampak panjang dibandingkan jika diberikan secara konsumtif. Dana yang diperlukan untuk mewujudkannya dapat diambilkan dari zakat dengan nama zakat produktif atau pembiayaan modal berputar disesuaikan dengan kebijakan manajemen masing-masing pengelola zakat.

Pandangan ulama tentang kebolehan memproduktifkan zakat, yaitu;
Menurut Ulama Syafi’iyyah, zakat produktif sah dilakukan bila zakat diserahkan dan dikelola oleh pemerintah atau amil yang sah. Pemerintah atau amil dianggap sebagai wakil dari mustahiq yang memiliki otoritas penuh mengelola zakat untuk didistribusikan secara konsumtif sesuai dengan kebutuhan mustahiq atau diproduktifkan untuk kepentingan mustahiq itu sendiri. Al-Halabi dan Al-Adzra’i mensyaratkan adanya kesepakatan terlebih dahulu dari mustahiq. Dengan kata lain, bila zakat diserahkan langsung oleh muzakki harus diserahkan sesuai dengan ketentuan yang ada. Hal ini dikarenakan pemberian zakat dalam sifat yang produktif meniscayakan proses ibdal (penggantian harta zakat) yang menjadi hak mustahiq.

Sedangkan bila mengikuti pendapat Hanafiyyah, pemberian zakat produktif diperbolehkan, mengingat Hanafiyyah memperbolehkan penggantian zakat dalam bentuk qimah atau nilai suatu benda. Qimah yang dimaksud boleh diubah sesuai dengan kebutuhan mustahiq. Jika diwujudkan dalam bentuk benda produktif, al Kasani menyaratkan benda-benda tersebut adalah yang diperbolehkan untuk bersadaqah.

Qimah adalah pertukaran benda zakat yang sudah ditentukan dalam hadits Nabi saw. dengan benda lain atau dengan uang tunai yang seharga dengan benda zakat tersebut. Sebuah hadits riwayat Bukhari menjelaskan motivasi penggantian zakat sebagai berikut:

وَقَالَ طَاوُسٌ قَالَ مُعَاذٌ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، لأَهْلِ الْيَمَنِ ائْتُونِي بِعَرْضٍ ثِيَابٍ خَمِيصٍ ، أَوْ لَبِيسٍ فِي الصَّدَقَةِ مَكَانَ الشَّعِيرِ وَالذُّرَةِ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ وَخَيْرٌ لأَصْحَابِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِالْمَدِينَةِ.

Thawus berkata, Muadz bin Jabal ra. berkata kepada penduduk Yaman, “berikanlah kepadaku barang-barang yaitu baju gamis atau pakaian-pakaian lain, sebagai ganti dari zakat sya’ir dan jagung, yang lebih memudahkan bagimu, dan lebih baik bagi para sahabat Nabi saw. di Madinah.

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ كِلاَهُمَا عَنْ حَمَّادِ بْنِ زَيْدٍ قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ هَارُونَ بْنِ رِيَابٍ حَدَّثَنِى كِنَانَةُ بْنُ نُعَيْمٍ الْعَدَوِىُّ عَنْ قَبِيصَةَ بْنِ مُخَارِقٍ الْهِلاَلِىِّ قَالَ تَحَمَّلْتُ حَمَالَةً فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَسْأَلُهُ فِيهَا فَقَالَ: “أَقِمْ حَتَّى تَأْتِيَنَا الصَّدَقَةُ فَنَأْمُرَ لَكَ بِهَا”. قَالَ ثُمَّ قَالَ “يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لاَ تَحِلُّ إِلاَّ لأَحَدِ ثَلاَثَةٍ رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُومَ ثَلاَثَةٌ مِنْ ذَوِى الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ لَقَدْ أَصَابَتْ فُلاَنًا فَاقَةٌ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ -فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا. رواه مسلم).

Dari Qubaidah bin Mukharif al Hilali ia berkata, Aku menanggung beban yang berat, maka Aku menghadap Rasul saw. menanyakan hal tersebut, Rasul saw. bersabda: Bersabarlah, hingga Aku diberi sadaqah, lalu aku akan perintahkan sebagian untukmu. Qubaidah berkata, Rasulullah melanjutkan sabdanya: Wahai Qubaidah, sesungguhnya meminta itu tidak halal kecuali tiga orang. Yakni; seorang laki-laki yang menanggung beban berat, ia halal untuk meminta hingga mampu mengurangi bebannya. Kedua, laki-laki yang tertimpa musibah yang mehabiskan hartanya, ia berhak meminta sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Ketiga, laki-laki yang ditimpa kefakiran hingga ia menanggung tiga orang berakal dari kaumnya, ia berhak untuk memintanya sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Selain ketiganya, adalah keharaman yang dimakan oleh pemiliknya. (HR. Muslim, hadits}  ke 2451

Mengutip Imam An-Nawawi, Muhammad bin Yasin bin Abdullah menjelaskan isi hadits tentang kadar zakat yang dialokasikan kepada fakir miskin yakni zakat yang bisa mengentaskan kebutuhannya kepada status kaya, yaitu harta yang bisa mencukupi selamanya. Penegasan ini juga merupakan nash dari Imam Syafi’i yang dijadikan tendesi para pengikutnya, yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. memperbolehkan pemberian zakat kepada mustahiq sehingga mencukupi kebutuhannya. Adapun tiga contoh di dalam hadits hanya sebagai penjelas saja bukan sebagai syarat. Sehingga jika mustahiq profesinya adalah bekerja, ia berhak mendapatkan alat-alat atau perkakas kerjanya atau diberi zakat untuk membeli alat-alat kerjanya baik harganya mahal maupun murah, jumlah yang dibutuhkan banyak maupun sedikit. Standarnya alat-alat tersebut mampu menghasilkan keuntungan yang dapat mencukupi kebutuhannya. Mahal dan murahnya perkakas kerja tersebut tentu berbeda satu sama lain tergantung dengan profesi, domisili, waktu dan kondisi sosial masyarakatnya. Kalau dia seorang pedagang, pembuat roti, tukar menukar uang, maka diberikan zakat sesua dengan kebutuhannya, dan jika termasuk para perajin seperti tukang jahit, tukang kayu, hendaknya diberikan zakat yang dapat digunakan untuk membeli peralatan kerja mereka.

Dengan demikian zakat produktif bisa diberikan dalam bentuk uang tunai sebagai modal usaha maupun dalam bentuk peralatan kerja disesuaikan dengan profesi kerja mustahiq. Baru jika keadaan mustahiq tidak memungkinkan untuk bekerja atau tidak memiliki kesempatan kerja, terjadi perbedaan pendapat. Menurut Al-Ashhab, diberi zakat untuk kebutuhan seumur hidupnya menurut ukuran umum. Menurut Al-Mutawally, diberikan asset tanah yang produktif dan hasil mencukupi kebutuhannya hingga batas rata-rata usia manusia. Sedangkan Al-Ghazali berpendapat cukup diberi zakat untuk menghidupi kebutuhannya selama satu tahun, tidak boleh lebih, karena setiap tahunnya zakat selalu berbeda dan berulang-ulang.

Keumuman nash Al-Qur’an yang terdapat dalam surat At-Taubah ayat 60 mengilustrasikan pengelolaan zakat yang bersifat umum dengan tidak meninggalkan tujuan hakiki pendistribusian zakat. Dalam arti kata, zakat bisa didayagunakan pada bidang-bidang yang produktif agar pemberdayaan delapan ashnaf dapat tercapai. Pemberdayaan yang dimaksud dapat dilakukan dengan berbagai macam cara tergantung dengan kebutuhan yang ada dan disesuaikan dengan perkembangan peradaban zaman yang berlaku di suatu wilayah zakat.

Walhasil, argumentasi zakat produktif pada dasarnya telah diajarkan sejak zaman Rasulullah saw. yang diikuti oleh oleh para pengikutnya, dimana relevansinya masih dan dapat terus berlaku hingga sekarang dan sepanjang zaman di segala bidang untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani masyarakat yang membutuhkan.

*Penulis adalah Wakil Ketua PP Lazisnu/Wakil Sekretaris PWNU Jabar

Ikutilah Pengajian di Masjid PWNU Jabar, Jalan Terusan Galunggung No. 9 Bandung
Pengajian Tasawuf Syarah Kitab Al-Hikam
Bersama Dr. KH. M. Luqman Hakim, MA (Jakarta Sufi Center) setiap bulan, Minggu kedua mulai pukul 10.00 WIB (Live Facebook)
Pengajian Syarah Kitab Sirrul Asror
Bersama KH. Ahmad Dasuki setiap Rabu mulai pukul 12.15 (Live Facebook)
Pengajian Syarah Kitab al Waroqot
Bersama Ajengan Dr. Ramdan Danz Fawzi, SH.I, M.Ag setiap Kamis mulai pukul 12.15 (Live Facebook)

 

Dapatkan Buletin Jum’at Risalah NU terbaru yang terbit tiap Rabu, download edisi digital (PDF) di www.nahdlatululama.id/buletin Bagi yang ingin memesan dan berlangganan edisi cetak yang siap edar, silahkan menghubungi sdr. Aan di 085648333577 (Telp/WA) untuk keterangan lebih lanjut.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close