MEMPERTANYAKAN WALISANGA

18
- 46243988 2194942900823672 7657945647613640520 n - MEMPERTANYAKAN WALISANGA

Oleh M. Sakdillah, santri Pesantren Tebuireng.

Kalangan umat beragama Islam di Indonesia meyakini: Walisanga bukan sekadar mitos atau tokoh bohongan hasil produksi hoax. Hal itu diperkuat jejak makam yang tak terbantahkan dan tradisi secara turun temurun yang terus berlangsung diperingati dan dipelihara oleh umat Islam, khususnya penduduk pulau Jawa. Sementara di sisi yang lain, sebagian ilmuwan masih menyangsikan keberadaan makam yang dipercaya sebagai Walisanga tersebut.

Demikian pula, sejarawan-sejarawan pro tradisi memperkuat argumen adanya Walisanga tersebut ke dalam periodeisasi. Ada Walisanga generasi pertama. Ada Walisanga generasi kedua. Ada Walisanga generasi ketiga. Dengan kata lain, imaginasi sosial yang berkembang di masyarakat: Walisanga itu nyata coba diperkuat dengan dukungan keterangan-keterangan manuskrip.

Babad Tanah Jawi

Babad Tanah Jawi dianggap sebagai “buku putih” yang dihadirkan oleh kekuasaan Mataram secara sastrawi dan oleh kalangan filolog dianggap manuskrip “babad” tertua yang ditulis oleh pujangga istana.

Yang perlu dicermati adalah Babad Tanah Jawi itu sendiri sebagai faktor pertama dan bahasa sastrawi yang diungkapkan secara simbolik.

Sebagai dokumen tertua yang ditulis pasca Majapahit, Babad Tanah Jawi banyak dikaji dan diteliti oleh ilmuan. Terutama, pengkaji-pengkaji Islam Nusantara. Dapat dibandingkan dengan Babad Lasem yang lahir belakangan pada masa Belanda yang menceritakan tentang kerajaan keruntuhan Majapahit.

Sudah lazim diceritakan di dalam babad yang tidak mengenal waktu kejadian. Begitu pula tambo-tambo di tanah Melayu. Cerita-cerita kepahlawanan disebutkan secara simbolik. Kurangnya perhatian para pengkaji Islam Nusantara terhadap sejarah manuskrip itu sendiri menyebabkan keraguan kalangan ilmuan semakin kuat. Dengan kata lain, babad-babad yang ditulis oleh para pujangga tersebut merupakan tafsir terhadap realitas (peristiwa), sebagaimana Babad Tanah Jawi merupakan “buku putih” bagi legitimasi kekuasaan Mataram. Walhasil, tafsir realitas tersebut kemudian ditafsir ulang (tafsir murakab) oleh para pengkaji Islam Nusantara.

Hal demikian patut dipertanyakan dari aspek sejarah naskah yang sangat berkaitan erat dengan filologi. Belum lagi aspek sejarah “kata” sebagaimana penggunaan kata “Abangan” yang cenderung membabi buta. Ambil contoh polarisasi masyarakat Santri dan Abangan yang dimunculkan oleh penafsiran terhadap cerita di dalam Babad Tanah Jawi itu. Padahal, menurut M.C. Ricklefs, kata Abangan justeru muncul setelah Abad ke-19. Bagaimanakah metode tafsir terhadap tafsir digunakan, terutama di dalam kasus Babad Tanah Jawi ini?

Islamisasi Nusantara

Islamisasi Nusantara menjadi tema penting di dalam kajian-kajian Islam Nusantara. Bagaimana proses Islamisasi tersebut terjadi? Pertanyaan ini diawali oleh peneliti-peneliti yang melihat: siapa yang mengislamkan Nusantara. Mereka memunculkan teori-teori. Ada teori Gujarat. Ada teori China. Ada teori Hadramaut.

Proses Islamisasi Nusantara dipandang dari sudut tekstual, ketika teks sudah menjadi berhala. Taken for granted.

Tanpa mempertimbangkan informasi-informasi sosial, ekonomi, politik, bahkan hukum tata negara yang berlaku pada masa manuskrip tersebut ditulis, maka pembacaan tafsir terhadap tafsir Islamisasi Nusantara akan sia-sia dan penuh daya apologis. Tesis coba dipertentangkan dengan anti-tesis. Teori satu dengan teori yang lain. Saling meneguhkan: tafsir pertama menyalahkan/membenarkan tafsir kedua dan seterusnya.

Cukup dibayangkan, jika negara Majapahit yang besar itu tiba-tiba tenggelam runtuh ditelan bumi kemudian digantikan oleh Demak. Sirna kertaning bhumi. Babad Tanah Jawi sudah abai terhadap realitas sosial, ekonomi, politik, dan lain sebagainya pada masa itu.

Belum lagi bila berbicara pada tatanan sosial dan kepemilikan hak tanah. Bagaimana korelasi Demak adalah besar dan negara muslim pertama di Jawa, sementara sudah ditemukan bukti-bukti sejarah di tempat lain sebelum Demak berdiri? Wallahu a’lam.

Penulis
M. Sakdillah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here