Opini

Meracik Sejarah, Merajut Kebhinekaan dalam Meriahnya Kemerdekaan Indonesia

Sejarah dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia itu mengalami pasang surutnya spirit pergerakan nasionalisme. Tidak bisa kita pungkiri bahwa pergerakan nasionalisme itu merupakan bagian dari sejarah kemerdekaan Indonesia dimana ini disuarakan oleh lahirnya Budi Utomo sebagai organisasi nasional yang lahir pada tahun 1908 hingga terbentuknya sebuah nama “Bangsa Indonesia “ yang ditandai dengan lahirnya proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Dan ini pun pernah disampaikan Oleh kiayi Nusantara ketika deklarasi di Aceh pada tahun 1873 yang menyebutkan bahwa ditanah nusantara inilah akan lahir kemerdekan Bangsa dengan nama “Baladiyah Al-Indunisiyah” pada hakikatnya ini semua tidak terlepas dari semangat nasionalisme bersama-sama dalam menyuarakan kemerdekaan.

Ada dua faktor yang menumbuhkan terintegrasinya semangat nasionalisme Indonesia yaitu pertama faktor internal dimana mereka menunjukan persamaan perasaaan karena tekanan kolonial sehingga itu yang menumbuhkan satu rasa, satu jiwa dan satu suara.

Adapun yang kedua adalah faktor eksternal yang menumbuhkan faham-faham nasionalisme yang melahirkan pergerakan nasionalisme itu sendiri. Karena persamaan sebuah pemikiran itu akan melahirkan sebuah tindakan yang nyata dan pergerakan nasionalismelah merupakan tindakan yang nyata dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Dengan semangat pergerakan Nasionalisme, ini mendorong bangsa ini untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia yang diprakasai oleh bung Karno, bung Pomo, Bung Hatta dan tentunya semua peran Kiayi termasuk K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Wahab Hasbullah, K.H. Wahid Hasim, K.H. Asnawi, K.H. Ahmad dahlan begitu juga tokoh Agama yang tidak bisa disebutkan dalam pengawalan proses proklamasi kemerdekaan Indonesia ini juga merupakan bagian terpenting karena seblumnya semua kiayi nusantara khususnya Jawa menyuarakan semangat Resolusi Jihad pada tanggal 21-22 Oktober jauh sebelum diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia dan inilah yang menjadi salah satu lahirnya hari Santri di Indonesia yang di legalkan oleh Presiden Joko Widodo.

Pergerakan semangat kebersamaan nasionalisme inilah yang mendorong untuk terus menyuarakan kemerdekaan dengan membentuk Panitia Perseiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau ini disebut dengan istilah Dokuritsu jumbi Inkai dimana nama ini diberikan oleh pemerintahan Jepang untuk kemerdekaan Indonesia yang semestinya diproklamirkan pada tanggal 24 Agustus 1945 namun banyak desakan dari kaum muda semangat nasionalisme Bung Tomo 1928 yang mendorong Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta dengan menculiknya ke rRengkasdengklok itu semata dilakukan untuk segera memproklamirkan kemerdekaan jauh sebelumnya karena dikhawatirkan itu hanya siasat Jepang saja dalam mengulur-ulur waktu untuk penguasaan kembali Tanah Air ini.

Dengan kebijakan Soekarno dan beberapa peran tokoh Agama akhirnya kaum mudapun mengalah dan proklamasi kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Tentunya proklamasi kemerdekaan ini lahir itu berkat pergerakan nasionalisme karena atas dasar satu rasa, satu jiwa dan satu bangsa dalam menyuarakan kemerdekaan Indonesia yang dibingkai dalam Bhineka Tunggal Ika.

Tentunya makna dari Bhineka Tunggal Ika ini merupakan sebuah identitas bangsa Indonesia. Kalimat ini pada hakikatnya mengadopsi dari Filsafat Nusantara sebagai motto pemersatu Nusantara atas keberagaman pada zaman Kerajaan Majapahit. Inilah yang menumbuhkan kebhinekaan bangsa. Sehingga ini yang melahirkan kesepakatan trilogy kebangsaan yaitu: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa dan inilah yang menapikan semua perbedaan baik dari segi Agama, suku, budaya, daerah ras, dan bahasa mengendap kedalam kesadaran kolektipitas kebangsaan.

Namun dalam kontek saat ini Indonesia menghadapi problem kemajemukan dan keragaman itu. Ada banyak Agama, ada banyak ideologi, ada banyak cita-cita, ada banyak kelompok dan ada banyak tindakan.

Dan masalahnya adalah bagaimana memecahkan problem realitas kehidupan antara kompleksitas dan kemajemukan disatu pihak dengan persatuan dipihak lain. Inilah realita yang terjadi saat ini walaupun pada kenyataannya kemerdekaan dari penjajahan sudah selesai namun kesejahteraan dari kompleksitas perbedaan dan tentunya kesejahteraan dalam membangun perekonomian dan moral Bangsa ini masih belum terasa karena semangat kebersamaan dalam membangun kebhinekaan ini dijadikan kepentingan semata oleh kelompk-kelompok tertentu sehingga harus mengorbankan kepentingan Bangsa dan Negara.

Dan inilah yang menjadi PR bagi kita untuk terus menyuarakan kebhinekaan dalam kompleksitas perbedaan.
Tentunya semangat kebersamaan dalam kebhinekaan itu selalu diperjuangkan oleh para pahlawan kita dalam mengusir setiap bentuk penjajahan dan begitu juga jajaran Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif yang selalu menggemakan kebersamaan dalam kebhinekaan semata untuk membangun Bangsa ini dari keterpurukan baik dari aspek Ekonomi, tekhnologi, Politik, Pendidikan, dan tentunya moralitas yang menjadi ruh dalam semua aspek.

Dalam ketersedian sarana dan prasarana infrastruktur yang di prioritaskan oleh Presiden kita Pak Jokowi kini terasa telah memberikan kesejahteraan warga Indonesia namun masih banyak PR bagi pemerintahan tentunya bagi kita sebagai warga negara Indonesia dalam membangun spiritualisme dan moralitas sebagai mental bangsa. Karena seperti kita sadari penguatan spiritualisme dan moralitas itu yang mendorong untuk terus menumbuhkan kesadaran dan bersamaan dalam kebhinekaan begitu juga untuk menjaga dan membangun bangsa ini menjadi bangsa yang bermartabat didunia Internasional sehingga harus menjadi kiblat bagi bangsa lain di dunia.

Penguatan spiritualisme dan moralitas yang disinergiskan dengan nilai kebangsaan ini akan menumbuhkan pada kita semua sebagi warga negara indonesia untuk terus membangun kesejahteraan bangsa dan meminimalisir faham radikalisme dan terorisme yang merongrong kebhinekaan dan NKRI ini. Inilah hakikat kemerdekaan yang harus diperjuangkan oleh kita sebagai warga negara Indonesia dalam membangun kesejahteraan Bangsa dalam kompleksitas dan kemajemukan.

Marilah kita jaga dan rawat kemerdekaan ini dengan kebersamaan dalam Kebhinekaan Bangsa.

Semangat Dirgahayu Republik Indonesia Ke 73.
Merdeka, Merdeka, Merdeka ….

Ditulis oleh Hapid Ali (Aktif di PWNU Lakpesdam Jabar Fokus pada Aspek Pengembangan Intelektual dan Sumber Daya Manusia)

Ikutilah Pengajian di Masjid PWNU Jabar, Jalan Terusan Galunggung No. 9 Bandung
Pengajian Tasawuf Syarah Kitab Al-Hikam
Bersama Dr. KH. M. Luqman Hakim, MA (Jakarta Sufi Center) setiap bulan, Minggu kedua mulai pukul 10.00 WIB (Live Facebook)
Pengajian Syarah Kitab Sirrul Asror
Bersama KH. Ahmad Dasuki setiap Rabu mulai pukul 12.15 (Live Facebook)
Pengajian Syarah Kitab al Waroqot
Bersama Ajengan Dr. Ramdan Danz Fawzi, SH.I, M.Ag setiap Kamis mulai pukul 12.15 (Live Facebook)

 

Dapatkan Buletin Jum’at Risalah NU terbaru yang terbit tiap Rabu, download edisi digital (PDF) di www.nahdlatululama.id/buletin Bagi yang ingin memesan dan berlangganan edisi cetak yang siap edar, silahkan menghubungi sdr. Aan di 085648333577 (Telp/WA) untuk keterangan lebih lanjut.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close