Kajian

Motif Puasa Umat Yahudi, Kristen, dan Islam

Oleh A Muchlishon Rochmat

Puasa (Indonesia), upawasa (Sansekerta), shaum atau shiyam (Arab), fasting (Inggris), dan onthauding (Belanda) memiliki makna –dalam arti luas- menahan atau mencegah diri dari sesuatu seperti makan, minum, berhubungan badan, bekerja, berburu, keluar rumah, berbicara, dan lainnya yang dilakukan dalam waktu tertentu dan dengan tujuan tertentu pula.

Puasa bukan hanya semata-mata menjadi ibadahnya umat Islam. Semua agama memiliki ibadah sejenis puasa, terutama agama samawi seperti Yahudi dan Kristen. Mungkin yang berbeda hanya lah tata cara dan waktunya, akan tetapi esensi puasanya sama, yakni menahan dari sesuatu.

Islam menjadi agama samawi terakhir yang umatnya diwajibkan berpuasa, terutama setelah diturunkannya Surat Al-Baqarah ayat 183. Puasa Ramadhan menjadi ibadah tahunan (annual worship) bagi umat Islam. Selain itu, umat Islam juga mengenal puasa sunah (puasa Senin dan Kamis), puasa makruh (puasa Jumat), dan puasa haram (puasa pada hari Idul Fitri, Adha, dan Tasyrik).

Di sisi lain, umat agama Yahudi, Kristen, dan agama lainnya juga ‘tidak mau kalah.’ Sebagian dari mereka juga masih tetap berpuasa hingga hari ini. Bahkan, puasa mereka ada yang lebih berat daripada umat Islam. Jika umat Islam hanya berpuasa selama rata-rata 13-14 jam, maka ada umat agama lain (Yahudi) yang puasanya sampai sehari penuh (24 jam).

Lalu yang menjadi pertanyaan adalah apa motif atau alasan yang menjadikan non-Muslim –terutama umat Yahudi dan Kristen- berpuasa?

Yahudi

Sampai sekarang umat Yahudi masih melaksanakan puasa pada hari-hari tertentu, seperti tanggal 10 Tishri (Muharram), hari Sabat, upacara pernikahan (nuptial), Yom Kippur, dan lainnya. Seperti yang disebutkan di atas. Puasanya umat Yahudi lebih ekstrem daripada umat Islam. Mereka bisa berpuasa –tidak makan, tidak minum, dan tidak tidur- selama satu hari penuh (24 jam).

Seperti disebutkan dalam buku Puasa pada Umat-umat Dulu dan Sekarang, ada banyak alasan dan motif yang menyebabkan umat Yahudi sampai melaksanakan puasa yang seperti itu. Diantaranya adalah merenungkan hal-hal suci yang ukhrawi, sedih atas dosa, rasa harap akan Allah disebabkan penderitaan dan dukacita.

Selain itu, alasan mereka berpuasa adalah meredakan kemarahan Tuhan, mengharap datangnya ilham, menghadapi bahaya yang mengancam seperti wabah penyakit.

Umat Yahudi menandai dan memperingati peristiwa bersejarah masa lalu dengan berpuasa. Setidaknya ada empat puasa penting, yaitu pada saat Yerusalem dikepung (10 Tebeth), saat tembok Yerusalem didirikan (17 Tammuz), ketika kuil Yahudi runtuh (9 Ab), dan ketika Gubernur Yudea Gedalilah dinobatkan (3 Tishri).

Kristen

Di dalam Injil Barnaba, puasa merupakan ibadah yang wajib bagi umat Kristen. Namun sayang, pada 496 M Paus Galasius mengeluarkan sebuah dekrit yang isinya salah satunya adalah melarang umat Kristen membaca Injil Barnaba. Akibatnya, ajaran puasa dalam Kristen menjadi dihapus karena dianggap memberatkan pengikutnya.

Puasa tidak lagi menjadi sebuah kewajiban, melainkan hanya anjuran. Namun demikian, umat Kristen terdahulu melaksanakan puasa pada waktu Lent selama 36 hari untuk meminta ampunan dan mengenang penderitaan Yesus. Di samping itu, puasa umat Kristen yang terkenal adalah puasa menjelang Paskah.

Umat Kristen memaknai puasa sebagai sebuah ungkapan duka cita, kesedihan, dosa atau cara untuk merenungkan hal-hal suci. Hingga akhirnya puasa hanya dianggap sebagai sebuah anjuran saja. Para pemuka Kristen juga tidak mewajibkan pengikutnya untuk menjalankannya.

Setidaknya, ada beberapa alasan atau motif umat Kristen berpuasa. Pertama, memperoleh pengawasan bagi jasmani dan kesadaran yang tinggi. Kedua, mengingat Tuhan dan beribadah kepada-Nya. Ketiga, memperoleh kepuasan jiwa atas nikmat yang diperoleh. Bagi para biarawan, puasa merupakan sarana untuk mengontrol nafsu agar tidak terjerumus ke dalam hubungan seksual atau perzinaan.

Islam

Makna puasa bagi umat Islam adalah menahan diri dari makan, minum, berhubungan seksual, dan hal-hal yang membatalkan lainnya dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Puasa Ramadhan merupakan puasa tahunan yang wajib dilaksanakan seluruh umat Islam.

Ada banyak motif atau alasan yang mendasari umat Islam teguh menjalankan ibadah puasa. Pertama, memperoleh ketakwaan. Sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 183, tujuan berpuasa adalah agar bertakwa. Bagi umat Islam, puasa menjadi sarana untuk melatih kedisiplinan jiwa dan moral, serta mendidik agar seseorang menjadi orang yang bertakwa –menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Kedua, pelindung dari neraka. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa puasa merupakan tameng yang memagari seseorang agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang menjadikannya terperosok ke dalam neraka.

Ketiga, mendapatkan ampunan Tuhan. Umat Islam menjalankan puasa agar dosa-dosanya –baik yang telah lalu atau yang akan datang- diampuni Allah sebagaimana disebutkan hadist Nabi Muhammad.

Keempat, puasa agar sehat. Berpuasa bisa menjadikan seseorang sehat jasmani di samping sehat rohani. Hal ini didasarkan pada hadis Nabi Muhammad: berpuasalah kamu agar kamu sehat.

Kelima, memperkuat tiang agama. Islam memiliki lima tiang agama yaitu syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji. Maka jika seorang Muslim melaksanakan puasa, maka dia telah memperkuat pilar agamanya.

Sumber : NU Online

Ikutilah Pengajian di Masjid PWNU Jabar, Jalan Terusan Galunggung No. 9 Bandung
Pengajian Tasawuf Syarah Kitab Al-Hikam
Pengajian Syarah Kitab Sirrul Asror
Pengajian Syarah Kitab al Waroqot

 

Dapatkan Buletin Jum’at Risalah NU terbaru yang terbit tiap Rabu, download edisi digital (PDF) di www.nahdlatululama.id/buletin Bagi yang ingin memesan dan berlangganan edisi cetak yang siap edar, silahkan menghubungi sdr. Aan di 085648333577 (Telp/WA) untuk keterangan lebih lanjut.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close