Ngobrol Pintar (Ngopi) Jama’ah Nahdliyin UIN Bandung Bersama Gus Nadir: Pemetaan Politik NU Pasca Pilpres

59
- WhatsApp Image 2019 04 28 at 10 - Ngobrol Pintar (Ngopi) Jama’ah Nahdliyin UIN Bandung Bersama Gus Nadir: Pemetaan Politik NU Pasca Pilpres

Oleh: Wahyu Iryana

Jama’ah Nahdiyin UIN Bandung ngariung mungpulung Ngopi bareng bersama Gus Nadir bertempat di Wilayah Cinunuk, Cileunyi daerah Bandung Timur, (Minggu, 28 April 2019).

Acara yang digagas forum Jama’ah NU UIN Bandung menyikapi arah politik NU pasca kemenangan Presiden Jokowi-Ma’ruf Amin menghadirkan KH. Prof. Nadirsyah Hosen atau lebih dikenal Gus Nadir kader NU sebagai akedemisi dari Negeri Kanguru, Australia. Sebagai pembanding dalam diskusi hadir KH. Dr. Asep Salahudin, Ketua Lakpesdam PWNU Jabar.

Acara didesain sedikit eksklusif khusus Jama’ah Nahdiyin. Hadir para penggerak NU di UIN Bandung sekaligus tim inti suksesnya acara seperti Prof. Ulfiah, Dr. Dudang Ghozali, Dr, Husnul Qodim, Dr. Dadan Rusmana, H. Usep D. Rostandi, KH. Dr. Ajid Thohir, KH. Dr. Mujiyo, KH. Dr. Nurohman, Dr. Abdullah Syafii, Dr. Wahyudin Dharmalaksana, Dr. Ali Nurdin, dan para penggerak NU dari kaum muda seperti Wahyu Iryana, Busro, Ali Khosim, Nasrul dan masih banyak yang tidak bisa disebutkan. Kurang lebih hadirin yang hadir sesuai absensi sebanyak 59 jamaah. Beberapa tokoh UIN Bandung yang juga tercatat sebagai Pengurus PWNU Jabar seperti Prof. Ali Ramdhani, Prof. Rosihon Anwar, Prof. Muhtar Solihin, Prof. Asep Muhyidin, meski izin tidak bisa hadir namun telah membantu suksesnya acara Ngopi ini.

Mengawali Ngobrol pintar, Gus Nadir memotret Gerakan NU pasca Kongres Jombang sampai kesuksesan KH. Ma’ruf Amin yang didaulat mendampingi Jokowi sebagai pasangan Presiden dan Wakil Presiden terpilih. Gus Nadir juga mengatakan bahwa NU juga bukan hanya sekarang ini saja berkuasa, namun sejak awal berdirinya negara Indonesia NU sudah memberi saham terbesar lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Apalagi ketika Gusdur menjadi presiden uforia kemenangan NU bukan hanya masuk gedung parlemen dan istana negara saja, namun uforia kemenangan NU akan berdampak meluas ketika kongres NU mendatang.

Lanjut Gus Nadir, lalu apa yang harus dilakukan untuk mendiasporakan kemenangan politik NU untuk kehidupan berbangsa?. Pertanyaan ini menjadi penting agar NU tidak kehilangan ruh gerak ber-aswaja secara kaffah. Maka, kader NU tentunya bukan hanya ditugasi mengisi khotbah jum’at di masjid-masjid kementerian, kantor-kantor dinas, tapi juga NU harus menyiapkan kadernya yang punya basis data dan blue print yang jelas minimal 5 tahun ke depan. Kader NU harus mengerti IT, mengikuti revolusi 4.0 sesuai perkembangan jiwa jaman, struktur dan kultur NU harus sinergis, bersenyawa, satu barisan dan satu jiwa.

Kader NU yang mempunyai soft skill dan nilai orientasi keagamaan yang mumpuni, kader berdaya saing yang dimiliki NU harus dikedepankan untuk diberi ruang tampil ke muka memberi garis resultan yang idhar.

Dalam penutup pemaparannya Gus Nadir menegaskan blue print NU secara struktur harus final bukan hanya untuk sekarang tapi juga jangka panjang arah tujuan NU harus jelas dan konkrit.

Pembahasan selanjutnya oleh KH. Asep Salahudin yang memetakan peta politik NU sejak kelahiran 1926, keluar dari Masyumi, pemilu 1955, jurus zigzag NU pada masa kepemimpinan Gusdur, fenomena politik Jawa Barat, deklarasi DI/TII Kartosuwidjo hingga kekalahan 01 di wilayah Jabar. Kiai Asep mengatakan bahwa karomah dan kesaktian NU tetap dikjaya tidak bergeming sedikitpun buktinya walau di Jabar dan Banten KH. Ma’ruf kalah namun se-Indonesia KH. Ma’ruf sebagai representasi NU menang.

Dalam sesi diskusi audiens yang hadir sangat antusias, sayangnya Dr. Dadan Rusmana yang didaulat menjadi moderator membatasi 3 penanya mengingat waktu yg semakin larut. Penanya pertama adalah Dr. Wahyudin Darmalaksana ketua Kapuslit UIN Bandung yang mengurai tentang mentor dan kiblat politik NU yang mana yang harus diikuti, Dr. Yudi juga memberi alarm agar kader NU diharapkan jangan semua berpolitik praktis, agar ada yang tetap mengurus jama’ah NU dibasis dan akar rumput.

Penanya kedua adalah Dr. Neng Hanah, salah satu ketua Fatayat NU Jabar memberi uraian tentang pemetaan dakwah perempuan NU di Jabar yang pola dan gerakannya tertinggal jauh dengan kader Fatayat di Yogya, Jateng ataupun di Jatim. Sedangkan penanya ketiga adalah Dr. Dudang Ghozali tentang nalar gerakan, harokah dan amaliyah nahdiyin di Jawa Barat.

Dalam tanggapan dan jawaban atas ketiga penanya tersebut Gus Nadir menjelaskan bahwa dakwah via medsos konteks kekinian sangat penting sekali. Perang via medsos juga harus dilakukan oleh kader-kader NU, kader NU harus masif dan bersatu, maka penguasaan IT mutlak harus dikuasai. Gus Nadir juga menyepakati kalau kader NU tidak harus semua terjun ke dunia politik praktis, cukup hitungan jari sebagai pionir yang lain tetap mengurus umat, namun tetap harus ada pendistribusian kekuatan NU di semua lini baik basis maupun untuk penguatan struktur.

Termasuk peran perempuan juga sangat penting dalam pola dakwah, ingat artis-artis di tanah air mereka haus akan siraman keagamaan, kebanyakan sudah masuk ajaran Islam kanan, yang pola dakwahnya memakai konsep modern nama lainnya adalah “hijrah”. Hari ini menjadi orientasi penting untuk mengawal dan advokasi dakwah yang rahmatan lil alamin.

Sesi kedua Kiai Asep Salahudin dalam gagasannya yang bernas mencoba menambahkan ulasan tentang pertanyaan dan tanggapan audiens jama’ah, Kiai Asep memberi alternatif bahwa NU di Jabar harus optimis dengan pemodern-an keorganisasian NU karena Indonesia dan NU ini dipagari oleh karomah para wali. Dalam hal ini barometer ukurannya adalah makom para sufi, bukan maqom para mualaf yang bangga dengan keislamannya, walaupun kasyaf mata keislaman mereka sesungguhnya terasa masih cangkangnya saja. Dalam penutup tanggapannya Kiai Asep berharap semoga semua akan NU pada pada waktunya.

Acara berjalan khidmat dan sukses, untuk keberkaan jama’ah Do’a akhir majelis dipimpin oleh KH. Dr. Mujiyo Nurkholis, kemudian acara diakhiri dengan muhasabah diantara para jama’ah yang hadir. Semua sepakat kalau halaqoh seperti ini, yang sudah berjalan hampir 2 tahun ini, agar terus berlanjut untuk saling mengisi, sharing gagasan, wawasan, informasi dan menyamakan persepsi antara para jama’ah NU di lingkungan UIN Bandung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here