Jati Diri SundaOpini

Nuansa Islam dalam Kesenian Sunda

Oleh GANJAR KURNIA

MENURUT Ayatrohaedi (1986), masuknya Islam ke tanah Sunda diperkirakan berlangsung pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi. Besar kemungkinan bahwa tokoh Prabu Siliwangi tersebut adalah Prabu Niskala Wastukancana anak Prabu Maharaja (memerintah 1350-1370) yang berkuasa cukup lama yaitu dari tahun 1371-1475.

Selanjutnya, kata Ayatrohaedi (1995), sejak saat itu, terlebih-lebih sejak Sunan Gunung Djati menguasai Banten (1525) dan Kalapa (1527), boleh dikatakan bahwa masyarakat di daerah pusat kekuasaan sudah bercirikan keislaman. Sedangkan masyarakat pedalaman yang jauh dari pusat kekuasaan masih tetap mempertahankan tradisi dan kepercayaan mereka yang lama.

Karena pusat-pusat kekuasaan sudah sepenuhnya bercorak Islam, sementara khazanah-khazanah lama tersimpan di kabuyutan-kabuyutan terpencil, sejak abad ke-19 jika orang berbicara mengenai masyarakat Sunda, maka salah satu ciri khasnya adalah Islam (Ayatrohaedi, 1988).

Di dalam pandangan Saini KM (1995), bisa diterimanya Islam dengan baik di tatar Sunda karena di antara keduanya, yaitu Islam dan Sunda mempunyai persamaan paradigmatik yang bercirikan Platonik. Islam memandang dan memahami dunia sebagai ungkapan azas-azas mutlak dan terekam dalam wahyu Allah. Sedangkan kebudayaan Sunda lama meletakkan nilai-nilai mutlak yang kemudian diwujudkan dalam adat beserta berbagai upacaranya.

Melihat rentang waktu yang lama (sampai saat ini kurang lebih sudah 630 tahun), dan di antara keduanya banyak persamaan, sungguh wajar apabila Islam sudah berurat-berakar di dalam masyarakat Sunda termasuk memengaruhi kegiatan berkeseniannya. Kesadaran “manunggalnya” Islam dengan Sunda pernah mencuat pada Musyawarah Masyarakat II di Bandung pada tahun 1967. Endang Saefudin Anshari, yang bukan orang Sunda pituin, menyatakan tesisnya tentang Sunda-Islam dan Islam-Sunda. Terlepas dari perdebatan yang terjadi (bahkan sampai sekarang), kenyataan menunjukkan bahwa sampai saat ini, sebagian besar orang Sunda memeluk agama Islam, sehingga sedikit banyak Islam telah menjadi salah satu ciri jati dirinya.

Kesenian Sunda

AKULTURASI Islam dengan Sunda dapat terlihat dari beberapa jenis kesenian yang ada di tatar Sunda. Selain sebagai hasil dari interaksi, akulturasi ini terjadi karena pada awalnya dan bahkan hingga saat ini, kesenian seringkali digunakan sebagai sarana penyebaran syiar Islam. Strategi seperti ini terutama dilakukan oleh para wali pada awal-awal penyebaran Islam di Pulau Jawa. Pengaruh Islam terhadap kesenian Sunda ini di antaranya dapat dilihat dari aspek tulis-menulis, cerita, seni arsitektur, seni musik, seni pertunjukan, sastra, seni suara, dsb.

Dari aspek tulis-menulis, di luar aksara Sunda (kaganga), huruf Jawa (hanacaraka), huruf latin, di tatar Sunda ditemukan pula tulisan beraksara pegon (huruf Arab gundul). Tulisan-tulisan yang beraksara Pegon ini di antaranya dapat terlihat pada wawacan, surat-menyurat, tafsir, silsilah, dsb. Berkaitan dengan kegiatan tulis-menulis ini (termasuk gambar), ditemukan pula beberapa mushaf Alquran yang mempunyai corak khas Sunda, bahkan sekarang ini lebih dikembangkan lagi menjadi Alquran Mushaf Sundawi. Selain daripada itu ada pula seni menulis indah yang biasa disebut “khot” atau kaligrafi yang di antaranya dapat terlihat di masjid-masjid atau lukisan kaca.

Untuk bidang sastra, beberapa wawacan di antaranya bercerita tentang hal-hal yang berkaitan dengan Islam. Sebagai contoh, Wawacan Carios Para Nabi, Wawacan Sajarah Ambiya, Wawacan Kean Santang, Wawacan Syeh Abdul Kodir Jaelani, dsb. Bentuk-bentuk karya sastra lain yang terkait dengan “Islam” dapat dilihat pula pada hasil karya Haji Hasan Mustofa. Untuk yang lebih mutakhir di antaranya, “Pahlawan ti Pasantren” (Ki Umbara dan SA Hikmat), “Jiad Ajengan” (Usep Romli HM), “Dongeng Enteng ti Pasantren” (RAF), dsb.

Selain itu, sudah sejak awal ada upaya-upaya untuk membuat tafsir atau terjemahan Alquran ke dalam bahasa Sunda. Upaya yang paling mutakhir adalah apa yang dilakukan oleh Drs. Hidayat Suryalaga dengan membuat terjemahan Alquran dalam bentuk dangding yang disebut Nur Hidayahan. Sekarang ini, terjemahan Nur Hidayahan sudah biasa “dihaleuangkeun” di dalam tembang Cianjuran.

Apabila di dalam Islam dikenal seni membaca Alquran (qiro’ah) di tatar Sunda ada beberapa lagu-lagu Islami yang dikumandangkan dengan mengandalkan keindahan suara pula. Contohnya dapat terlihat pada beluk, seni terbang, dan juga Cigawiran/Pagerageungan.

Seni lain yang mengaitkan sastra dan lagu di antaranya adalah lagu-lagu “pupujian” atau biasa juga disebut “nadhom”. Salah satu “nadhom” yang cukup terkenal adalah “Anak Adam”. Cuplikannya, “Anak Adam urang di dunya ngumbara//Umur urang di dunya teh moal lila//Anak Adam umur urang teh ngurangan//Saban poe saban peuting di kurangan.”

Untuk seni musik selama ini ada kesan bahwa musik yang “islami” itu hanyalah yang menggunakan “genjring” dengan menyanyikan lagu-lagu berbahasa arab (tagoni) atau lagu-lagu bernapaskan Islam. Di luar itu sebenarnya banyak seni musik lain yang juga bernuansa Islam, dengan salah satu cirinya adalah mengiringi lagu-lagu yang menggunakan bahasa Arab sebagai pujian (salawat) kepada Nabi Muhammad saw. Beberapa jenis kesenian yang menggunakan lagu-lagu salawat Nabi adalah badeng di Ciamis, benjang yang menggunakan lagu-lagu dari rudat, seperti asrokol, badatmala, serta rudat sendiri (seni bela diri di mana setiap gerakannya diiringi dengan lagu-lagu salawat).

Untuk seni pertunjukan yang berbentuk helaran, di antaranya adalah seni burokan di Cirebon. Kesenian bentuk badawang ini, konon diilhami oleh burok yang di gunakan Nabi Muhammad ketika Mikraj ke Sidratul Muntaha.

Beberapa pertunjukan kesenian yang bernuansa islami tersebut di antaranya dipergelarkan pada saat kejadian vital, terutama pada saat kelahiran. Empat puluh hari setelah seorang anak lahir, selain dilakukan marhaba dengan membaca (baca: melagukan) barzanzi, ada pula yang nanggap beluk dengan lakon wawacan Nabi Paras. Pembacaan wawacan dengan cara dilagukan ini, di beberapa tempat dilakukan pula pada saat acara muludan.

Adaptasi budaya

ADAPTASI orang Sunda terhadap Islam di dalam kesenian ini, terlihat pula dari adanya upaya-upaya untuk memberikan nuansa Sunda kepada Islam itu sendiri. Untuk bangunan mesjid misalnya, di tatar Sunda pada awalnya banyak yang tidak mengikuti gaya arsitektur mesjid yang umum (gaya Timur Tengah) seperti dalam bentuk kubah (momolo), pintu masuk, mihrab, dsb. Di tatar Sunda sendiri banyak bentuk masjid yang khas sesuai dengan gaya arsitektur setempat. Di antaranya bentuk bangunan Masjid Agung Bandung zaman dulu -yang terkenal dengan “bale nyungcung”-nya.

Untuk bidang tarik suara, upaya untuk membumikan Islam di tatar Sunda dapat terdengar dari irama lagu surat Alikhlas pada acara tahlilan atau ketika melafazkan “wa’fu anna waghfirlana warhamna”-juga pada tahlilan. Kedua irama lagu tersebut, jelas-jelas tidak termasuk ke dalam qiroah sab’ah dan tidak ditemukan di daerah-daerah lain. Hal yang sama dapat terdengar pula pada irama lagu takbiran (walilat) atau irama azan yang bernuansa beluk.

Kebalikan dari itu, ada pula upa­ya-upaya untuk “mengislamkan” berbagai kesenian Sunda. Untuk tembang Cianjuran, di antaranya ada yang melakukan perubahan rumpaka dari “Pun ampun ka Sang Rumuhun//Ka Batara nu ngayuga//Ka Batari nu ngajagi” menjadi “Pun ampun ka nu Yang Agung//Ka Pangeran (Ka Allah) anu Ngayuga//Ka Gusti anu ngajagi (Ka Gusti Robbul Idzati).”

Pada ngarajah atau sawer, nuansa Islam terdengar di antaranya dengan diucapkannya “Astaghfirullohal ‘adzim” pada bubuka sawer dan “Amin Ya Robbal Alamin mugi Gusti nangtayungan” pada akhir lagu (rajah dan sawer).

Ngadulag juga bisa disebut sebagai proses pembumian Islam di tatar Sunda dan di Indonesia pada umumnya, karena di daerah asalnya Islam, tidak ditemukan ditemukan bedug dan kohkol.

Khotimah

APA yang dikemukakan di atas, bisa jadi hanyalah sebagian kecil saja dari berbagai kesenian Sunda yang bernuansa Islam. Sudah barang tentu masih banyak lagi, seperti misalnya “seni” main bola api yang ada di pesantren-pesantren, jangjawokan, dsb. Sebagai kekayaan budaya, jenis-jenis kesenian tersebut idealnya dapat terus dipertahankan atau minimal bisa diinventarisasi. Hanya saja, agar tidak memunculkan kesalahfahaman interpretasi yang bisa menjurus kepada stigmatisasi (misalnya bidah atau bahkan musyrik), perlu kiranya dibuat kesepakatan di dalam pemilahan, mana yang masuk ke dalam ranah kesenian dan mana yang masuk ke ranah ritual keagamaan. Wallahu’alam.***

Ikutilah Pengajian di Masjid PWNU Jabar, Jalan Terusan Galunggung No. 9 Bandung
Pengajian Tasawuf Syarah Kitab Al-Hikam
Pengajian Syarah Kitab Sirrul Asror
Pengajian Syarah Kitab al Waroqot

 

Dapatkan Buletin Jum’at Risalah NU terbaru yang terbit tiap Rabu, download edisi digital (PDF) di www.nahdlatululama.id/buletin Bagi yang ingin memesan dan berlangganan edisi cetak yang siap edar, silahkan menghubungi sdr. Aan di 085648333577 (Telp/WA) untuk keterangan lebih lanjut.

Sumber: Pikiran Rakyat, Sabtu, 23 Oktober 2004.
Sumber disalin dari halaman ini.

Tentang Dindin Nugraha

Blogger kambuhan, menulis status facebook, twitter ataupun web kalau sempat. Turut aktif sebagai kontributor web sekaligus bagian dari keluarga besar Lembaga Ta'lif Wan Nasyr Nahdlatul Ulama Jawa Barat

View All Posts
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close