Opini

Pergunu Jawa Barat Siap Mewujudkan Masyarakat Nusantara yang Baldatun Thoyibatun wa Robbun Ghofur

Kajian tentang Islam Nusantara selalu menjadi isu dan perdebatan yang hangat bahkan cenderung menjurus keras serta anarkis baik itu di media massa, media cetak maupun media sosial online. Namun jika menilik lebih dalam tentang Dimensi Islam Nusantara yang sangat luas, isu dan perdebatan-perdebatan tersebut harusnya tidaklah perlu muncul.

Dengan mengambil referensi dari dialog interaktif KH. Agus Sunyoto, Dimensi Islam Nusantara ala NU tidak hanya ditujukan untuk menekankan posisi Islam yang tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan Bangsa dan Negara Indonesia, namun juga aspek-aspek yang lebih luas mengikuti pola Dakwah Wali Songo yang sudah dilakukan berabad-abad di Indonesia salah satunya adalah Dimensi Ekonomi.

Dimensi Ekonomi Implementasi Islam Nusantara merupakan salah satu Dimensi yang sangatlah penting, mengingat orientasi Nusantara pada masa lampau ialah sebagai Idealita Ekonomi yang telah berhasil diwujudkan oleh Nenek moyang dan Para Pendahulu. Jika ditelusuri lebih dalam lagi pernyataan dari KH. Agus Sunyoto, Suku-suku Bangsa yang hidup di Nusantara tidak mengenal kosa kata ‘Fakir dan Miskin’. Kosa kata Fakir dan Miskin merupakan serapan yang diambil dari kata dalam Bahasa Arab yang sampai saat ini masih dipergunakan dan menjadi problematika yang sulit untuk diantisipasi dan dihilangkan.

Berdasarkan Idealita tersebut, Islam Nusantara secara tidak langsung sebenarnya sedang menantang NU dan Jam’iyahnya untuk menjadi Pionir atau aktor yang berperan dalam pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan yang selama ini menjadi masalah besar yang ada dimasyarakat Nusantara. Oleh karena itu, dimensi ekonomi Islam Nusantara harus terus didorong menjadi Diskursus Publik, dengan tujuan perdebatan-perdebatan yang muncul akan menjadi lebih produktif dan solutif sebagai sarana untuk mempertajam aspek-aspek operasional dan upaya pengimplementasian Islam Nusantara dalam mewujudkan Masyarakat ‘Baldatun Thoyibatun wa Robbun Ghofur’ tanpa Kefakiran dan tanpa Kemiskinan.

Sebagai sebuah tantangan internal, NU pada prinsipnya sudah memiliki modal cukup besar untuk mewujudkan platform Masyarakat Nusantara tanpa Kemiskinan. Berikut beberapa modal NU yang telah diwariskan Para Masyaikh Alim Ulama Pendiri NU :

  1. NU Memiliki Jam’iyah yang sangat banyak dan tersebar (Sosial Capital)
  2. NU memiliki Pesantren dan Sekolah sebagai pencetak kader bermutu dan berkualitas (Institusi)
  3. Soliditas dan Solidaritas Jam’iyah dapat terwujud dalam tradisi-tradisi keagamaan

Namun fakta yang terjadi saat ini, Idealita dan Dimensi Ekonomi terkesan terabaikan dan tidak lagi menjadi “fokus” serta “kurang penting” di NU. Bahkan isu yang berkembang hampir saja pembahasan tentang Perekonomian merupakan salah satu materi yang akan dihilangkan dalam MKNU (Mudah-mudahan Hoax).

Jika benar demikian, merupakan “PR” besar selanjutnya bagi Pergunu Jawa Barat sebagai bagian dari Jam’iyah NU dan sebagai Suri Tauladan dari generasi kegenerasi untuk terdepan dan menjadi Pionir dalam mewujudkan Masyarakat Nusantara yang ‘Baldatun Thoyibatun wa Robbun Ghofur’ tanpa Kefakiran dan Kemiskinan disaat peran ini sedang diabaikan.

Dengan bermodalkan SDM yang berkualitas dari mulai jajaran Pengurus PW, PC dan MWC serta seluruh Anggotanya yang sudah dapat membuktikan teori dan rumusnya mampu membawa Pergunu menjadi “Pemenang yang sesungguhnya” disaat yang lain masih gontok-gontokan dan berdebat sengit dalam Perhelatan Pemilihan Kepala Daerah, tidak akan sulit rasanya bagi Pergunu Jawa Barat untuk dapa mewujudkan Masyarakat Nusantara yang ‘Baldatun Thoyibatun wa Robbun Ghofur’ tanpa Kefakiran dan Kemiskinan

Ahirnya semua kembali kepada seluruh jajaran Pengurus dari PW, PC, MWC dan seluruh Anggota, apakah mau menjadi Aktor/Pionir pendorong yang mampu mewujudkan masyarakat Nusantara _ Baldatun Thoyibatun wa Robbun Ghofur’_ tanpa Kefakiran dan Kemiskinan ataukah ikut berperan dalam menenggelamkan Idealita Ekonomi dan membiarkan Masyarakat termasuk Anggota Pergunu didalamnya tetap berada dalam Permasalahan besar yaitu Masyarat Nusantara yang Fakir dan Miskin serta selalu menjadi objek Politik orang-orang berduit yang haus akan kekuasaan.
CMIIW🙏🙏

#2018Pergunujabarfokusekonomi
#Pergunusebagaisuritauladan
#Pergunusiapmewujudkannusantaratanpakemiskinan

Best regards,
Ali Abdurrahman

Ikutilah Pengajian di Masjid PWNU Jabar, Jalan Terusan Galunggung No. 9 Bandung
Pengajian Tasawuf Syarah Kitab Al-Hikam
Bersama Dr. KH. M. Luqman Hakim, MA (Jakarta Sufi Center) setiap bulan, Minggu kedua mulai pukul 10.00 WIB (Live Facebook)
Pengajian Syarah Kitab Sirrul Asror
Bersama KH. Ahmad Dasuki setiap Rabu mulai pukul 12.15 (Live Facebook)
Pengajian Syarah Kitab al Waroqot
Bersama Ajengan Dr. Ramdan Danz Fawzi, SH.I, M.Ag setiap Kamis mulai pukul 12.15 (Live Facebook)

 

Dapatkan Buletin Jum’at Risalah NU terbaru yang terbit tiap Rabu, download edisi digital (PDF) di www.nahdlatululama.id/buletin Bagi yang ingin memesan dan berlangganan edisi cetak yang siap edar, silahkan menghubungi sdr. Aan di 085648333577 (Telp/WA) untuk keterangan lebih lanjut.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close