Islam KitaKajian

Peta Ulama Jarh wa ta`dîl (Kritikus/al-Nâqidl)

Yang dimaksud ulama jarh wa al ta`dîl adalah ulama yang memiliki kompetensi dalam bidang memuji atau mencela para perawi hadis, mereka disebut pula sebagai kritikus hadis (al nâqidl).[1] Banyak sekali ulama yang membuat pernyataan tentang jarh wa al ta`dîl, namun tidak semuanya layak untuk dijadikan referensi dalam menilai seorang rawi, terutama ketika penilaiannya bertentangan satu sama lain. Hanya beberapa ulama saja yang memiliki kredibilitas tinggi yang patut untuk diperhatikan pernyataannya.

Oleh karena itu, demi menjaga kecermatan dan ketepatan di dalam mengamati kualitas dari sebuah hadis, maka para peneliti dituntut harus mengetahui dan memahami peta ulama jarh wa al ta`dîl yang lumayan pelik. Ini untuk menghindarkan sang peneliti dari kesalahan ketika menyimpulkan penilaian seorang rawi yang terlanjur disematkan oleh kritikus yang tidak berkompeten.

Di samping itu, kerumitan semakin bertambah ketika pada kenyataannya, setiap seseorang dari mereka, kritikus yang berkompeten, ternyata memiliki kekhasan masing-masing dalam memberikan penilaian terhadap rawi. Sehingga kata-kata penilaiannya tidak dapat diartikan secara umum. Untuk itu, dalam bab ini penulis akan memberikan gambaran ringkas dari peta ulama jarh wa al ta`dîl tersebut.

Secara garis besar, mereka terbagi ke dalam tiga kelompok, yaitu:

  • Kelompok yang memberikan penilaian terhadap hampir semua periwayat hadis. seperti Ibn Ma`în, Abû Hâtim, dan al Dzahabiy.
  • Kelompok yang memberikan penilaian terhadap sebagian besar periwayat hadis. Seperti Imâm Mâlik dan al Syu`bah.
  • Kelompok yang hanya memberikan penilaian terhadap beberapa periwayat hadis saja. Seperti Imâm al Syâfi`iy dan Ibn `Uyaynah.

Dari semua kritikus tersebut, berdasarkan kecenderungan dalam memberikan penilaiannya, mereka terbagi lagi ke dalam tiga kategori:

  • Sangat keras dan cenderung kaku dalam mencela (muta`annit fiy al jarh), serta sangat ketat dalam memuji (mutatsabbit fiy al ta`dîl). Dalam pandangan kritikus kategori ini, seorang rawi dapat dicela hanya karena ia melakukan kesalahan ringan dengan dua atau tiga kesalahan, dan secara serta merta hadisnya pun dianggap lemah. Seperti Ibn Ma`în, Abû Hâtim, dan al Jûzajâniy.
  • Terlalu longgar dalam memuji rawi (mutasâhilûn). Seperti Imâm al Turmudziy, Imâm al Hâkim, dan Imâm al Bayhaqiy.
  • Ekuilibrat antara keras dan longgar (mu`tadilûn). Seperti Imâm al Bukhâriy, Ahmad bin Hanbal, Abû Zur`ah, al Dâruquthniy, Ibn `Adiyy dan Ibn Hajar al `Asqalâniy.

Ketentuan khusus berkaitan dengan akseptabilitas terhadap penilaian kepada rawi yang dikeluarkan oleh kritikus kategori pertama adalah apabila mereka menilai tsiqah maka pegang teguhlah pernyataannya, karena penilaian tsiqah dari mereka tidak keluar dengan mudah, melainkan lahir setelah melalui penelisikan yang sangat ketat. Namun apabila mereka mendaifkan rawi, maka tangguhkanlah dahulu penilaiannya, apabila ada kritikus lain dari kalangan mu`tadilûn yang juga turut mendaifkan dan tidak ada seorang kritikus pun yang menilai tsiqah, maka terimalah penilaiannya. Sedangkan apabila ternyata ada seorang saja kritikus lain yang menilai tsiqah, maka pendaifan tersebut jangan diterima, kecuali disertai penjelasan detail atas penyebab daifnya rawi dimaksud. Wal hasil, hadis yang diriwayatkan rawi tersebut tidak dapat serta merta divonis daif, atau juga divonis sahih, melainkan lebih pantas untuk dinilai hasan.[2]

Di antara kritikus yang tidak dapat diterima begitu saja pencelaannya/pendaifannya terhadap para rawi adalah Abû Ja`far Muhammad bin `Amr al `Uqayliy dalam kitabnya Dlu`afâ‘ al Kabîr, sebuah ensiklopedi para rawi yang dianggap daif olehnya. Di dalam kitab tersebut terdapat beberapa rawi yang dinilai daif, padahal mereka merupakan perawi sahih. Termasuk di antaranya, Ibn al Madîniy[3] pun terkena celaannya, meski Imâm al Bukhâriy begitu mengagumi kredibilitas Ibn al Madîniy, sampai-sampai menurutnya, ia merasa sangat kecil di hadapan Ibn al Madîniy. Dan yang paling keras mengkritik al `Uqayliy atas pencelaannya terhadap Ibn al Madîniy adalah Imâm al Dzahabiy, seorang kritikus yang mendapat pujian dari Imâm Ibn Hajar al `Asqalâniy sebagai ulama ahli peneliti yang sempurna dalam dunia kritik hadis,[4] ia menulis:

Apakah engkau mempunyai akal, wahai `Uqayliy? Apakah engkau tahu akan apa yang telah kau katakan? Sepertinya engkau tidak sadar bahwasanya mereka yang kau cela, justeru lebih terpercaya martabatnya dibandingkan engkau, bahkan dibandingkan orang-orang tsiqah lainnya pun.[5]

Ikutilah Pengajian di Masjid PWNU Jabar, Jalan Terusan Galunggung No. 9 Bandung
Pengajian Tasawuf Syarah Kitab Al-Hikam
Pengajian Syarah Kitab Sirrul Asror
Pengajian Syarah Kitab al Waroqot

 

Dapatkan Buletin Jum’at Risalah NU terbaru yang terbit tiap Rabu, download edisi digital (PDF) di www.nahdlatululama.id/buletin Bagi yang ingin memesan dan berlangganan edisi cetak yang siap edar, silahkan menghubungi sdr. Aan di 085648333577 (Telp/WA) untuk keterangan lebih lanjut.

Lebih lengkap mengenai para kritikus yang patut diperhatikan penilaiannya, dapat dipelajari dalam risalah Dzikr Man Yu`tamad Qawluh fiy al Jarh wa al Ta`dîl, karya Imâm al Dzahabiy, atau risalah Al Mutakallimûn fiy al Rijâl, karya Imâm al Sakhâwiy yang dikumpulkan oleh Syaikh `Abd al Fattâh Abû Ghuddah bersama risalah `Qâ`idah fiy al Jarh wa al Ta`dîl dan Qâ`idah al Muarrikhîn, keduanya karya Imâm al Subkiy dalam sebuah kitab yang diberi nama Arba` Rasâ’il fiy `Ulûm al Hadîts.

Sukasari Indah, 042012

[1]Kritikus yang memberikan celaan disebut al Jârih, sedangkan yang memberikan pujian disebut al Mu`addil.

[2]Dzikr Man Yu`tamad Qawluh fiy al Jarh wa al Ta`dîl, 172.

[3]`Aliy bin `Abdillâh bin Ja`far (W 234 H), beliau adalah muridnya Yahyâ bin Sa`îd al Qathân, sekaligus guru langsungnya Imâm al Bukhâriy.

[4]Nuzhah al Nazhr fiy Tawdlîh Nukhbah al Fikr, 178.

[5]Mîzân al I`tidâl, III/140.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close