Opini

Puasa, Konsumerisme dan Kelestarian Lingkungan

Oleh Muhammad Ishom

Puasa adalah ibadah mahdhah satu-satunya yang secara langsung memiliki dampak terhadap lingkungan. Lebih-lebih puasa Ramadhan yang berlangsung sebulan penuh. Puasa wajib ini tentu memiliki dampak positif terhadap lingkungan sebab umat Islam harus menahan keinginan-keinginan duniawi khususnya makan dan minum. Ini memang dimaksudkan agar umat Islam benar-benar dapat menjaga kelestarian lingkungan dengan mengurangi tingkat konsumsi.

Al-Qur’an menyatakan kerusakan-kerusakan di bumi disebabkan ulah manusia sendiri sebagaimana termaktub dalam Surat Ar-Ruum, ayat 41 berikut ini:

ظهر الفساد في البر و البحر بما كسبت ايدي الناس ليذيقهم بعض الذي عملوا لعلهم يرجعون

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan-tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Secara teori, dengan jumlah penduduk dunia yang sekarang ini telah mencapai lebih dari 7 miliar manusia, di mana jumlah umat Islam diperkirakan mencapai 23,4% atau kira-kira 1.6 miliar, maka dengan berpuasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan umat Islam bisa menurunkan tingkat konsumsi makanan dan minuman secara signifikan.

Tingkat penurunan tersebut cukup berarti karena dari terbit fajar hingga terbenam matahari, atau kira-kira selama 14 jam per hari, sebagian (besar) umat Islam tidak melakukan aktivitas makan dan minum. Penurunan ini sangat penting artinya bagi kelesetarian lingkungan sebab itu berarti menurunnya tingkat eksploitasi terhadap alam. Menurunnya konsumsi makanan dan minuman berarti pula menurunnya volume limbah dan sampah lainnya.

Penurunan lain terjadi pada konsumsi BBM pada kendaraan-kendaraan bermotor. Ini berarti menurunnya tingkat polusi udara yang dari waktu ke waktu terus meningkat. Mobilitas penduduk Muslim juga cenderung menurun selama Ramadhan disebabkan kondisi tubuh cenderung lemah karena lapar dan dahaga. Turunnya mobilitas mereka dengan menggunakan kendaraan-kendaraan bormotor, sudah pasti berdampak pada menurunnya konsumsi bahan bakar. Artinya, selama umat Islam berpuasa terjadi penghematan BBM dan turunnya tingkat polusi udara.

Namun pertanyaannya, apakah ibadah puasa yang dijalani umat Islam selama sebulan penuh tersebut benar-benar menurunkan budaya konsumerisme? Tampaknya saya tidak yakin akan hal itu sebab bagaimana konsumerisme akan turun secara signifikan jika kenyataannya selama puasa banyak dari umat Islam yang cenderung sama konsumtifnya dengan di luar bulan Ramadhan. Ini bisa dilihat dari meningkatnya variasi makanan dan minuman, bahkan obat-obatan atau suplemen, yang mereka konsumsi di saat berbuka dan sahur.

Tidak terjadinya penurunan konsumerisme di atas secara siginifikan bisa disebabkan karena banyaknya faktor yang mempengaruhi. Pengaruh faktor internal misalnya adalah adanya perasaan “dendam” makan dan minum karena telah menahan lapar dan dahaga seharian penuh selama kira-kira 14 jam. Faktor eksternal bisa berasal dari maraknya iklan produk makanan dan minuman, baik melalui media cetak maupun elektronik, selama bulan Ramadhan terlebih mendekati Lebaran.

Tidak adanya perubahan sikap seperti itu menunjukkan bahwa kita memang baru mampu menjalankan ibadah puasa sebatas ritual saja tanpa penghayatan maknanya yang dalam. Makna terdalam dari puasa dalam kaitannya dengan alam adalah menjaga kelestarian lingkungan untuk melindungi makhluk-makhluk beserta seluruh potensinya.

Jika memang demikian halnya, maka puasa Ramadhan sesungguhnya masih perlu diteruskan dengan puasa Syawal, puasa Senin-Kamis, dan bahkan puasa Dawud. Sebagian umat Islam telah melaksanakan puasa-puasa yang disebut terakhir ini secara istiqamah. Tetapi mereka masih sangat sedikit jumlahnya dan alam selalu menunggu hadirnya orang-orang seperti itu.

Penulis adalah dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.

Sumber : NU Online

Tentang Dindin Nugraha

Blogger kambuhan, menulis status facebook, twitter ataupun web kalau sempat. Turut aktif sebagai kontributor web sekaligus bagian dari keluarga besar Lembaga Ta'lif Wan Nasyr Nahdlatul Ulama Jawa Barat

View All Posts
Ikutilah Pengajian di Masjid PWNU Jabar, Jalan Terusan Galunggung No. 9 Bandung
Pengajian Tasawuf Syarah Kitab Al-Hikam
Bersama Dr. KH. M. Luqman Hakim, MA (Jakarta Sufi Center) setiap bulan, Minggu kedua mulai pukul 10.00 WIB (Live Facebook)
Pengajian Syarah Kitab Sirrul Asror
Bersama KH. Ahmad Dasuki setiap Rabu mulai pukul 12.15 (Live Facebook)
Pengajian Syarah Kitab al Waroqot
Bersama Ajengan Dr. Ramdan Danz Fawzi, SH.I, M.Ag setiap Kamis mulai pukul 12.15 (Live Facebook)

 

Dapatkan Buletin Jum’at Risalah NU terbaru yang terbit tiap Rabu, download edisi digital (PDF) di www.nahdlatululama.id/buletin Bagi yang ingin memesan dan berlangganan edisi cetak yang siap edar, silahkan menghubungi sdr. Aan di 085648333577 (Telp/WA) untuk keterangan lebih lanjut.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close