Saat Beduk Jadi Simbol Anti-radikalisme

1
- 20190212 134518 1549968846 720x350 - Saat Beduk Jadi Simbol Anti-radikalisme
Arifin Panigoro dan Wakil Ketua Dewan Kemakmuran Masjid Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Amin Baejuri memukul beduk sebagai simbol penyerahan beduk di Masjid Pusdai, Bandung, Selasa (12/2/2019).

BANDUNG, KOMPAS — Pengusaha nasional Arifin Panigoro dan Nahdlatul Ulama Jawa Barat menyerahkan satu beduk kepada Pusat Dakwah Islam di Bandung, Jawa Barat, Selasa (12/2/2019). Pembagian beduk menjadi langkah simbolis menghilangkan paham radikalisme yang berpotensi memecah belah bangsa.

Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat Kiagus Zaenal Mubarok mengatakan, beduk dianggap sebagai simbol pemersatu umat dalam kebudayaan Nusantara. Alat yang berfungsi sebagai penanda waktu shalat ini tidak ditemui di negara lain sehingga dianggap cocok sebagai simbol pertemuan Islam dengan budaya Nusantara.

Kiagus menuturkan, pada zaman dahulu, beduk menjadi alat untuk menentukan waktu shalat. Berbentuk tabung dengan masing-masing sisinya ditutupi kulit sapi atau kambing, beduk dipukul saat pergantian waktu shalat sebelum kumandang azan.

Kiagus menyatakan, Indonesia terbuka bagi berbagai agama, tetapi tidak mengesampingkan budaya. Bagi para pendahulu, budaya menjadi pelengkap dakwah. Islam yang disebar oleh para pendahulu kental dengan budaya sehingga tidak bisa lepas dalam perkembangan Islam di Indonesia.

”Beduk merupakan simbol bersatunya agama dan budaya. Tidak mungkin menyatukan umat dengan dakwah tanpa masuk melalui budaya, seperti beduk yang menjadi warisan Wali Songo dalam berdakwah,” ujarnya.

Beduk merupakan simbol bersatunya agama dan budaya. Tidak mungkin menyatukan umat dengan dakwah tanpa masuk melalui budaya, seperti beduk yang menjadi warisan Wali Songo dalam berdakwah.

Kiagus berujar, radikalisme mengikis sikap toleransi umat beragama yang telah dibangun dengan pendekatan kebudayaan Nusantara. Ia khawatir umat masjid-masjid di Indonesia terpapar radikalisme dan merebut tradisi-tradisi yang sudah lama bersatu dengan dakwah.

”Sekarang kami sadar penyebaran paham radikal dan mengandung unsur-unsur pemecah belah tidak sesuai dengan ciri khas penyebaran Islam Wali Songo yang kental dengan budaya. Beduk ini menjadi simbol kembalinya dakwah kultural,” ungkap Kiagus.

Dakwah toleransi

Arifin menuturkan, dirinya bersama PWNU Jawa Barat telah menyerahkan 12  beduk di beberapa masjid se-Jabar. Beduk sepanjang 1,5 meter dengan diameter 1 meter ini diserahkan kepada pengurus masjid dengan tujuan agar agama kembali di tengah-tengah budaya.

Penyerahan itu disaksikan Pengurus Masjid Pusat Dakwah Islam (Pusdai) dan PWNU Jabar. Arifin berharap penyerahan beduk bisa membangkitkan semangat dakwah penuh toleransi dan jauh dari paham radikalisme.

Kearifan lokal dan budaya menjadi satu kesatuan dakwah Islami. Dakwah dengan santun dan diarahkan dengan moderat perlu dilestarikan karena menjadi bagian dari kearifan lokal.

”Saya menyerahkan beduk untuk Masjid Pusdai karena masjid ini yang berhasil menyatukan agama di tengah-tengah budaya di Kota Bandung. Bersama dengan NU, saya yakin organisasi ini mampu menyatukan antara agama dan kearifan lokal,” ujarnya.

Wakil Ketua Dewan Kemakmuran Masjid Pusdai Amin Baejuri menyatakan berterima kasih dengan pemberian beduk tersebut. Ia berujar, konsep dakwah dengan menyatukan tradisi dan kearifan lokal dapat mengulang kembali Islam yang toleran seperti masa lalu.

”Kearifan lokal dan budaya menjadi satu kesatuan dakwah Islami. Dakwah dengan santun dan diarahkan dengan moderat perlu dilestarikan karena menjadi bagian dari kearifan lokal,” ujarnya.

Sumber : Kompas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here