Hikmah

Santri Menyesalkan Kecerobohan Ulama Salafi tentang Kitab Kuning

Ditulis oleh Endi Suhendi pengurus RMI Jabar

Al-Ustadz Syafiq Riza Baslamah dalam salah satu ceramahnya, menilai bahwa kitab kuning yang berjudul Manba’ Ushul Al-Hikmah yang dibeli di kota Jember, dan dia (Riza Basalamah) menyimpulkan bahwa kitab tersebut berisi sihir (link youtube). Tentu hal itu merupakan hak dia untuk memberikan penilaian, namun agar tidak melanggar QS 33 : 58, alangkah baiknya bila kita sama-sama mengkaji ulang kitab tersebut dengan lebih cermat dan teliti, kebetulan yang ada ditangan saya kitab kuning tersebut, terbitan Bairut Libanon (Tanpa Tahun).

  1. Pada mukadimah beliau menjelaskan bahwa ilmu yang tertulis di dalam kitab kuning tersebut adalah Ilmu Hikmah, kemudian beliau mendefinisikan nya sebagai berikut : Ilmu Hikmah bertujuan untuk menyucikan jiwa dari kotoran tabi’at yang kelam, jiwa yang telah mengerti hikmah akan rindu kepada alam arwah dan cenderung lari dari syahwat jasmani yang mati menuju jiwa yang hidup, rahasia rohani yang tersembunyi dan tinggi tidak akan tercapai kecuali dengan ilmu ini, Ulama ahli Hikmah telah sepakat bahwa Asma’ul Husna mengandung rahasia yang tersembunyi, padahal hamba-hamba-Nya diperintah oleh-Nya harus berdo’a dengan Asma-Nya, oleh karena itu ilmu ini merupakan titik tolak menuju perubahan Kehendak Khalik bagi makhluknya.
  2. Tafsir Al-Maroghi mengartikan Hikmah dengan rahasia-rahasia syariat dan tujuannya.
  3. Tafsir Mafatihul Ghoib mengartikannya :”Hikmah adalah yang terkandung dalam Syariat dengan macam-macam kemaslahatan dan kemanfaatannya, kita semua ma’lum bahwa membaca do’a dengan Asma’ul Husna adalah sebagian dari syariat yang diperintahkan oleh-Nya.
  4. Adapun Arti sihir, didefinisikan oleh Tafsir Mafatihul Ghoib dengan : segala sesuatu yang tidak jelas sebabnya, lalu dibikin bayangan oleh penyihir menjadi seperti yang benar-benar terjadi, padahal sebenarnya tidak, oleh karena itu sihir adalah sejenis kebohongan dan penipuan.
  5. Pendapat ini mengambil dalil dari QS 7:116 dan QS 20:66. Jadi penyihir Fir’aun tidak benar-benar merubah tali menjadi ular, namun hanya mengelabui yang melihat, seperti benar tali itu menjadi ular.
  6. Tafsir Al-Maroghi juga sama, bahwa sihir adalah tipuan dan menciptakan bayangan (khayalan) bagi mata orang yang melihat, sehingga sesuatu yang tidak ada, terlihat seperti ada dengan sbenarnya.
  7. Berbeda dengan QS 27:40, bahwa seseorang yang oleh Alloh diberi/mempunyai Ilmu Kitab, dapat memindahkan singgasana Ratu Balqis dari Yaman ke Palestina dengan sekejap mata, hal tersebut benar-benar terjadi bukan khayalan. Menurut mayoritas ahli tafsir bahwa nama seseorang tersebut adalah Ashif bin Barkhoya dan ilmu yang dikuasainya yaitu berdo’a dengan Al-Ismul A’dhom (Asma’ul Husna).

Dengan penjelasan ini semoga kita jadi ma’lum apa perbedaan Ilmu Hikmah dan sihir.

Pada halaman 34/35 Manba’ Ushul Al-Hikmah (selanjutnya disingkat KKM), dijelaskan bahwa yang pertama mengajarkan ilmu ini adalah Nabi Hirmis AS, diterangkan oleh beliau bahwa Nabi Hirmis itu adalah Nabi Idris AS, dan diperkuat oleh Al-Milal Wan Nihal hal. 299. Nabi Hirmis itu benar adalah Nabi Idris AS. Begitu juga Al-Bidayah Wan Nihayah Jilid I hal 133, sama menyebutkan bahwa Nabi Hirmis AS, adalah Nabi Idris AS.

Selanjutnya diriwayatkan dari shahabat Muawiyah bin Hakam RA, beliau bertanya tentang tulisan (yang berbentuk) garis-garis hitam dengan kalam, Rosululloh SAW menjawab “Nabi Idris AS adalah nabi yang mengajarkan tulisan dengan kalam itu HR. Ahmad.

Kitab Umat Islam dibolehkan menamankan amalan Nabi-nabi terdahulu selama diperbolehkan/diperintahkan oleh Alloh SWT dan Rosululloh SAW, QS 2 : 285.

Contoh :

  1. Qurban adalah perintah Nabi Adam AS pada putranya yaitu Qabil dan Habil QS 5: 27, dilanjutkan perintah kepada Nabi Ibrahim AS, QS 37: 102, begitu juga ibadah Haji, Tawaf, Sai, Jumroh, dan Khitan merupakan amalan keluarga Nabi Ibrahim AS,QS 4: 125.
  2. Do’a Nabi Adam dan Siti Hawa, saat diusir dari surga QS 7: 23, ditafsiri dengan HR Ahmad.
  3. Doa Nabi Ibrahim AS menjelang dimasukan ke dalam api QS 21: 69 diamalkan pula oleh Rosululloh SAW Q.S. 3: 173 dan HR Bukhori, Ibnu Mundzir, Al-Hakim dan Baihaqi.

Umat Islam diperintah juga membaca do’a tersebut pada saat mendapat kesulitan HR Ibnu Mardawih, Ibnu Abi Dunya, dan Abu Naim, dan do’a Nabi Yunus pada saat berada dalam perut ikan Q.S. 21: 87, Umat Islam pun diperintahkan membacanya, HR Ahmad, At-Turmudzi, An-Nasai, Hakim, dan lain-lain.

Bahkan Ruqiyah Jahiliyah pun boleh dibaca selama tidak mengandung Syirik (HR Abu Dawud : Hadits Soheh).

Nabi Ibrahim telah berwasiat kepada Umat Islam melalui Rosululloh SAW waktu Isro Mi’raj harus memperbanyak membaca ” Laa hawla wa laa quwwata illa billah.” HR. At-Turmudzi wa Thabroni.

Dan masih banyak lagi amalan-amalan lainnya.

Kesimpulan, walaupun ilmu hikmah pertama kali diajarkan oleh Nabi Idris AS, Umat Islam diperbolehkan mengamalkannya, karena ilmu ini ada sanadnya sampai Rasululloh SAW.

Pada KKM halaman 37, yang mengajarkan ilmu hikmah ini pada Jaman Tabi’in adalah Hasan Basri RA, beliau menerima ilmu ini dari cucu Rasululloh SAW yaitu Sayidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib RA, ditambah lagi dari Muhammad bin Alhanafiah putra Sayidina Ali dari istri selain Siti Fatimah RA. Pada KKM halaman 43, Rasululloh SAW telah memerintahkan bahwa belajar ilmu agama itu harus diperintahkan dari siapa pengambilannya (Isnad). HR. Muslim.

Pada KKM halaman 223, pengarang telah menulis, Sanad ilmu kitab ini secara rinci yang puncaknya diterima dari Ma’rufil Kurkhi, Ma’rufil Kurkhi menerima dari Daud Ath-Thoi, Daud Ath-Thoi menerima dari Habibil ajami, Habibil ajami menerima dari dari Hasan Basri, Hasan Basri menerima dari Hasan bin Ali bin Abi Thalib RA, dan Hasan bin Ali menerima dari kakeknya yaitu Rosululloh SAW.

Dalam An Anwarul Qudsiah hal. 17, Al-Hafidz Ibnu Hajar dan Al-Hafidz Jalaludin As-Sayuti membenarkan bahwa Hasan Basri telah menerima ilmu tatacara berdzikir pada Alloh SWT dari Sayidina Ali bin Abi Thalib RA, yang Sayidina Ali menerimanya dari Rosululloh SAW, beliau berdua berkomentar bahwa isnad hadits ini shoheh, walaupun beliau menyebutkan bahwa hadits ini tidak termaktub dalam kitab Hadits Mu’tabar.

Tentang Ayik Heriansyah

Penulis artikel produktif yang sering dijadikan rujukan di berbagai media massa, pemerhati pergerakkan Islam transnasional, khususnya HTI yang sempat bergabung dengannya sebelum kembali ke harakah Nahdlatul Ulama. Kini aktif sebagai anggota LTN di PCNU Kota Bandung dan LDNU PWNU Jawa Barat.

View All Posts
Ikutilah Pengajian di Masjid PWNU Jabar, Jalan Terusan Galunggung No. 9 Bandung
Pengajian Tasawuf Syarah Kitab Al-Hikam
Bersama Dr. KH. M. Luqman Hakim, MA (Jakarta Sufi Center) setiap bulan, Minggu kedua mulai pukul 10.00 WIB (Live Facebook)
Pengajian Syarah Kitab Sirrul Asror
Bersama KH. Ahmad Dasuki setiap Rabu mulai pukul 12.15 (Live Facebook)
Pengajian Syarah Kitab al Waroqot
Bersama Ajengan Dr. Ramdan Danz Fawzi, SH.I, M.Ag setiap Kamis mulai pukul 12.15 (Live Facebook)

 

Dapatkan Buletin Jum’at Risalah NU terbaru yang terbit tiap Rabu, download edisi digital (PDF) di www.nahdlatululama.id/buletin Bagi yang ingin memesan dan berlangganan edisi cetak yang siap edar, silahkan menghubungi sdr. Aan di 085648333577 (Telp/WA) untuk keterangan lebih lanjut.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close