Berita

Selengkapnya : Acara “Gema Sholawat, Muhasabah dan Santunan Anak Yatim Bersama Gus Mus”

This section contains some shortcodes that requries the Jannah Extinsions Plugin. Install it from the Theme Menu > Install Plugins.

Liputan Acara Selengkapnya

Acara “Gema Sholawat, Muhasabah dan Santunan Anak Yatim Bersama Gus Mus” yang digelar pada hari Senin, 13 Maret 2017 oleh Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama ( LDNU ) Jawa Barat usai sudah. Kemeriahan, antusiasme warga kota Bandung khususnya dan warga Jawa Barat pada umumnya, yang menerima informasi acara tersebut melalui berbagai media, mewarnai perjalanan acara dari siang sampai sekitar pukul 22.30 malam. Selain dihadiri oleh utusan PCNU se-Jawa Barat, lembaga-lembaga yang bernaung di PWNU, Banser, Ansor, Pagar Nusa, IPNU, IPPNU, Fatayat NU, Muslimat NU, ormas kepemudaan, terlihat dari atribut yang digunakan juga hadir dari majelis-majelis sholawat dan ta’lim seperti Ad-Dahlaniyah, Majelis Rasulullah,  majelis dzikir tareqat seperti TQN, At-Tijani dan banyak lagi lainnya. Perkiraan, tak kurang dari seribuan manusia berkumpul memenuhi Masjid Raya Bandung untuk mengikuti acara tersebut.

Antusiame sudah mulai terasa saat para hadirin menyambut KH. Musthofa Bisri yang didaulat sebagai pengisi acara utama menjelang sholat Ísya. Jamaah berdiri berjejer rapi membentuk barisan yang memberi jalan bagi Gus Mus untuk lewat menuju shaf terdepan, sementara di kanan-kirinya berjajar rapi anggota Banser mengawal Gus Mus. Terlihat bersama Gus Mus walikota Bandung Ridwan Kamil, KH. Sofyan Yahya, KH. Hasan Nuri Hidayatullah selaku ketua PWNU Jabar serta beberapa tokoh lainnya. Namun kondisi berbeda saat selesai Sholat Isya. Jamaah yang ingin mendekati Gus Mus untuk bersilaturami, bersalaman, cukup merepotkan Banser yang berusaha mengawal Gus Mus ke podium. Kilatan-kilatan lampu blitz mulai menerangi sekitar kerumunan Gus Mus yang kesulitan untuk melangkah ke podium, tak kurang repot juga bagi walikota Ridwan Kamil yang terlihat berusaha juga ikut mengawal Gus Mus ke podium yang ditempatkan tak jauh dari pintu masuk masjid Raya Bandung.

Setiba di podium, acara segera dimulai. Dibuka dengan sambutan MC dilanjutkan dengan pembacaan Maulid oleh Habib Umar yang disahuti bergantian oleh jamaah yang berkumpul, lantunan sholawat semakin menggema dan bersemangat saat mahalul qiyam, meskipun demikian tidak mengurangi kekhidmatan pembacaan maulid. Tak sedikit jamaah yang meneteskan air mata saat melantunkannya. Acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran.

Sesi sambutan dibuka oleh Ketua Panitia, KH. Ki Agus Zaenal Mubarok yang menyampaikan bahwa acara tersebut adalah upaya dari PWNU Jabar untuk merangkul dengan percaya diri seluruh komponen bangsa dan masyarakat. Selanjutnya, Kapolda Jabar, Irjen Pol Anton Charliyan yang intinya menaruh harapan pada NU yang merupakan organisasi militan dan organisasi pejuang yang telah membumi dan menyatu dengan tradisi Indonesia untuk terus mempertahankan NKRI.

KH. Hasan Nuri Hidayatullah (Gus Hasan) membuka sesi sambutan berikutnya dengan yel-yel yang ditimpali hadirin ;

“Siapa kita ?” “NU !”

“NKRI ?” “Harga Mati”

“Pancasila ?” “Jaya”

“Ulama ?” Hadirin terdiam kebingungan menjawab. Gus Hasan melanjutkan, “Kalau ditanya ulama, jawabnya barokah” Yel-yel “Ulama” pun diulang, kali ini lengkap dengan “Barokah !” Oleh hadirin. Gus Hasan, begitu sapaan akrabnya mengingatkan agar NU, khususnya bagi kader NU di Jawa Barat untuk bersiap menghadapi tantangan yang makin tidak ringan di masa yang akan datang serta menegaskan kesiapan NU dalam membela NKRI

Walikota Bandung, Ridwan Kamil giliran didaulat untuk memberikan sambutan. Beliau membukanya dengan yel-yel NU plus. Plus tambahan diujung, “Bandung !” yang kemudian ditimpali hadirin dengan teriakan, “Juara !” Dalam sambutannya Kang Emil menceritakan sebuah fakta nasab dirinya yang langka diperdengarkan. Ternyata Beliau adalah salah satu cucu dari Mama Pagelaran atau KH. Muhyidin pendiri Pesantren Pagelaran Sumedang, Purwakarta dan Subang. Mama Pagelaran atau KH. Muhyidin adalah salah satu Panglima Perang Laskar Hizbullah yang memimpin perlawan terhadap penjajah di daerah Purwakarta, Subang hingga Bandung. “Itulah hubbul wathon minal iman yang mengalir dalam diri saya.” Ujar Kang Emil. Dalam kesempatan itu juga Kang Emil menegaskan bahwa dirinya adalah bagian dari warga NU Jawa Barat. Meskipun demikian, Sang Kakek, Mama Pagelaran mengamanatkan kepada dirinya agar tidak berbangga diri dengan nasab namun harus mewujudkan sabda Rasulullah SAW “Khairunnas anfa’uhum linnas” “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yg paling banyak mamfaat bagi orang lain.”. Seberapa bermanfaat bagi masyarakat, sebarapa besar perubahan (ke arah kebaikkan) yang dibawa ilmu yang dimiliki dan seberapa besar kebahagiaan yang diberikan kepada masyarakat.

Kang Emil juga menaruh harapan agar NU selalu menjadi paling depan dalam membela NKRI karena dalam NU diajarkan ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah insaniyah. Jika dengan orang lain diri kita tidak se-ukhuwah islam, berarti kita bersaudara dalam kebangsaan, jika pun tidak satu bangsa maka kita bersaudara dalam kemanusiaan. Sedikit menyinggung mengenai hoax, Kang Emil mengingatkan agar selalu mengedepankan tabayun, kroscek berita. Terakhir Kang Emil mengajak NU bersama-sama walikota untuk terus menjaga NKRI dan Pancasila dengan cara-cara Islam, Islam yang rahmatan lil  ‘alamin, Islam yang ramah bukan Islam marah dan terus berupaya melawan setiap upaya yang berusaha mengkoyak-koyak bangsa Indonesia sebagaimana yang terjadi di negara-negara Timur Tengah seperti Irak, Syiria, Yaman dan lainnya.

Sambutan-sambutan ditutup dengan pemberian santunan kepada anak-anak yatim oleh walikota Bandung, Ridwan Kamil, secara simbolis yang diwakili oleh 10 orang anak yatim yang dihadirkan pada acara tersebut.

Selanjutnya pembicara utama Gus Mus mengawali ceramahnya dengan mengatakan bahwa sebagaimana tema acara, yakni “Muhassabah”, Gus Mus menyampaikan pesan-pesan sebagai bahan introspeksi.

  • Kyai NU, NU itu menggunakan logika sederhana dalam mencintai Indonesia. Indonesia adalah tempat diri kita dilahirkan, tempat kita sujud, tempat kita kelak akan dikebumikan. Indonesia adalah rumah kita yang harus dijaga
  • Mengajak NU untuk introspeksi mengapa pada saat ini NU yang sudah mapan dan sanad kelimuan sampai pada Rasulullah SAW tidak terdengar suaranya
  • Beliau cerita pengalamannya saat ngobrol dengan Gusdur sambil tiduran di lantai. Beliau bilang, kalau NU itu dari dulu ndak naik2 pangkatnya, jadi Satpam terus. Kalau ada sesuatu bahaya, maka NU maju ke depan (seperti sewaktu resolusi jihad, sewaktu DI/TII, PKI, dll). Tapi begitu bahayanya hilang, NU kembali duduk di pojokan sambil rokokan. “Begitu terus, ini gimana nih Gus ?” Jawaban Gusdur seperti biasa langsung membuat diskusi berhenti. Allah yarham Gusdur menjawab: “Apa masih kurang mulia kalau kita bisa jadi Satpam nya bangsa ini?” Dan Gus Mus pun terdiam tidak bisa melanjutkan omongannya.
  • Beliau berpesan untuk berhati-hati terhadap yang disebutnya “Ulama”. Kita harus pandai-pandai dalam memilih dan memilah ulama. Harus mau meneliti track record ulama tersebut. Umat ini dibingungkan dengan ulama yang ngeluarkan fatwa sembarangan tanpa ilmu dan tanpa mempertimbangkan dampaknya pada masyarakat luas.
  • Untuk selalu berhati-hati dalam melontarkan tuduhan munafik. Beliau membedakan bahwa umat Islam itu terbagi dua, yang mukmin dan munafik. Mukmin itu yang imannya tampak di luar dan dalam. Sedangkan munafik imannya nampak diluar namun tidak di dalam. Karena itu harus berhati-hati dalam melontarkan tuduhan munafik karena kita tidak tahu isi hati orang lain. Lalu Beliau  mengisahkan kemarahan Nabi SAW terhadap salah seorang sahabat yang membunuh seseorang (dalam perang) yg mengucapkan La ilaha illa Llah saat dirinya akan dibunuh dan menganggapnya munafik.
  • Mengingatkan bahwa dalam berpolitik hendaknya paham betul politik jangan berpolitik namun tidak paham politik kemudian membawa-bawa agama untuk digunakan dalam ambisi berpolitik, apalagi agama pun tidak paham.
  • Politik itu terbagi 3 : Politik Kebangsaan, tujuannya membela Negara Kesatuan Republik Indonesia; Politik Kerakyatan, tujuannya membela rakyat ; Politik Kekuasaan, tujuannya mencari kekuasaan. NU diharapkan banyak berkiprah di politik kebangsaan dan kerakyatan.
  • Gus Mus berpesan kepada jamaah untuk tidak mengungkapkan sesuatu, menulis sesuatu, atau menshare sesuatu yang dapat dipersepsikan mendukung kelompok-kelompok pemecah belah. Kalau tidak mampu berhujjah melawan, lebih baik DIAM. Kalau mau tulis, ungkapkan yang baik-baik, hal-hal yang positif, tulis sendiri saja, tidak cuman share-share tulisan orang lain.
  • Gus Mus menyampaikan bahwa apa yang terjadi sekarang ini adalah hanya pengulangan sejarah yang lampau. Sambil mencontohkan kejadian sewaktu zaman khalifah Utsman bin Affan. Dimana fitnah bertebaran, informasi2 “hoax” disampaikan dari mulut ke mulut. Sehingga akhirnya memuncak dengan adanya pemberontakan (makar) terhadap khalifah Utsman dan menyebabkan terbunuhnya Beliau. Bahkan jenazahnya  dilarang oleh umat waktu itu untuk dishalatkan di Masjid Nabawi, sehingga akhirnya dishalatkan di rumah beliau sendiri. Karena itu pelajarilah sejarah, karena seringkali sejarah itu berulang.
  • Gus Mus juga berpesan bahwa pada setiap shalawatan, sebaiknya didahului dengan kisah Syama’il ar-Rasul saw, dijelaskan tentang kepribadian beliau SAW. Jadi umat itu tahu bagaimana akhlaq Nabi saw. Sehingga bisa jadi dasar untuk menilai apakah yang mengaku2 ulama itu memang pantas disebut para pewaris nabi atau tidak. Allah SWT dalam al-Quran dari awal sampai akhir tidak pernah memuji fisik Rasulullah (walaupun fisiknya dan ketampanannya sempurna), tidak pernah memuji ilmu Rasul saw (walaupun ilmunya tak ada yang menandingi),  Allah memuji keluhuran Akhlaq beliau SAW (wa innaka la ‘alaa khuluqin adziem). Oleh karena itu jadikan akhlaq sebagai dasar utama penilaian. Karena itulah tujuan diutusnya Nabi kita saw kepada kita semua.

Acara pun diakhiri menjelang pukul 22.15 dengan doá yang dipimpin oleh KH. Sofyan Yahya.

[divider]

Link Video dan Download Video

Berikut ini link Live Streaming Acara “Gema Sholawat, Muhasabah dan Santunan Anak Yatim Bersama Gus Mus”

Sumber : Laporan pandangan mata, forum dosen ASWAJA dan FB Santrionline

[divider]

Gus Mus: Berani Sekali Allah “Disuruh” Ngurusi Pilkada

Bandung, NU Online
Mustasyar PBNU KH A Mustofa Bisri merasa perihatin saat ini banyak orang yang meneriakkan Allahu Akbar tidak hanya di dalam shalat, tetapi juga dibawa di jalan-jalan, bahkan sampai dibawa-bawa dalam urusan Pilkada. Lantas kiai yang akrab disapa Gus Mus itu mempertanyakan sebenarnya mereka mengetahui atau tidak maksud dari Allahu Akbar.

“Masak urusan Pilkada Gusti Allah diajak? Saya tanya, apa arti sampean mengucapkan Allahu Akbar? Apa, kok enggak ada yang jawab? Allah Maha Besar, sebesar apa Allah kok sampean mengatakan terbesar? Wong pengajian akbar, masjid akbar, dan imam besar juga ada, apa Tuhan sebesar itu?” tutur Gus Mus disambut tawa hadirin saat mengisi pengajian yang digelar oleh LDNU Jawa Barat di Masjid Raya Bandung, Senin (13/3) malam.

Gus Mus menceritakan bahwa dirinya pernah menggambar planet-planet, akhirnya ia menyimpulkan bumi itu sebesar biji kacang hijau. Suatu kita Gus Mus bertemu dengan ilmuan yang mengerti bidang tersebut mengatakan terlalu besar kalau digambarkan dengan kacang hijau, bahkan sebutir debu saja terlalu besar.

“Lha kalau sebesar debu, saya menerangkan kawan-kawan bagaimana. Makanya saya besarkan (gambar bumi) sekacang hijau. Sekarang pertanyaanya di manakah kita?” tutur pengasuh Pesantren Raudhatut Thalibin Rembang itu pada acara yang dihadiri Wali Kota Bandung dan Kapolda Jabar.

“Ketika Allahu Akbar, di kepala sampean ada siapa? Kalau mengucapkan Allahu Akbar, tapi di dalam kepada terpikir Haji Sulam Jualan Bubur. Jangan sembarangan Allahu Akbar dulu, bahwa banyak ulama pingsan karena tahu betapa kecil kita ini. Bersamaan dengan 7,5 miliar penghuni di kacang hijau yang sudah saya besar tadi,” sambung Gus Mus.

Gus Mus tertawa kalau ada orang yang sombong dalam kacang hijau. Ada yang merasa seperti Gusti Allah. Kalau dia marah dipikir Allah juga marah, kalau dia geram, dia pikir Allah juga geram. “Bandung saja tidak kelihatan, apalagi TPS-TPS. Allahu sebesar itu, tapi disuruh “ngurusi” Pilkada, berani sekali orang-orang Indonesia ini. Jangan mengatakan Allahu Akbar, tapi merasa dirinya lebih besar dengan yang lain,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut Gus Mus mengutip pendapat kakaknya yakni Kiai Cholil Bisri, “Kalau tidak bisa mengetahui bagaimana besarnya Allah, sudahlah maknai Allahu Akbar, aku sangat kecil sekali.”

Gus Mus mengakui bahwa memang sukar apabila mengecilkan diri sendiri, apalagi bagi yang mempunyai jabatan. “Jadi kita itu bagaimana, mengecilkan diri sendiri tidak bisa, membesar Tuhan tidak mampu,” jelasnya disambut hening oleh hadirin yang juga memenuhi alun-alun kota Bandung. (M. Zidni Nafi’/Abdullah Alawi)

Sumber : NU Online

[divider]

Ini Tiga Bentuk Berpolitik Menurut Gus Mus

Bandung, NU Online
Mustasyar PBNU KH A Mustofa Bisri menilai, kemelut masalah keagamaan yang bersumber dari imbas suhu politik pada musim pilkada baru-baru ini merupakan bentuk penggunaan agama yang dipakai berpolitik oleh orang-orang yang tidak ahli berpolitik.

“Ini yang mengacaukan kita kan orang yang kepengennya berpolitik tapi tidak mengerti politik. Lalu menggunakan agama tapi tidak tahu agama. Jadi repot semua, nggak begitu mengerti berpolitik, menggunakan agama tapi nggak mengerti agama. Kacaunya dobel-dobel atau murakkab,” ungkapnya saat mengisi pengajian yang Masjid Raya Alun-Alaun Bandung, Jawa Barat, Senin (13/3) malam.

Untuk meluruskan pemahaman, kiai yang masyhur disapa Gus Mus itu menuturkan tentang tiga bentuk politik. Pertama, ada politik kebangsaan. Politik ala NU selalu berpikir tentang bangsa Indonesia. Bermula dari pikiran sederhana bahwa Indonesia adalah rumah kita. Oleh karena itu, politik kebangsaan adalah suatu hal penting untuk menjaga NKRI yang mutlak sebagai orang NU.

“Yang dipikirkan NU itu Indonesia. Dulu ketika Gus Dur diturunkan kenapa tidak menggerakkan rakyat (Nahdliyin) yang berjumlah lebih dari 60 juta orang. Itu berapa kali lipat penduduk Arab Saudi. Kalau Gus Dur mengerahkan rakyat itu, kayak apa Indonesia? Politik kebangsaan mengalahkan politik kekuasaan,” ujarnya.

Kedua, politik kerakyatan. Politik ini, kata Gus Mus, yang sudah jarang-jarang dijalankan oleh orang-orang NU. Ia memamparkan bahwa politik kerakyatan itu politik yang membela rakyat. “Kalau menjadi anggota dewan ya betul-betul menjadi wakil rakyat betul, jangan mewakili diri sendiri. Wakil rakyat kok mewakili diri sendiri,” sindirnya disambut tawa hadiri yang memenuhi serambi masjid dan alun-alun.

Gus Mus melanjutkan bentuk ketiga adalah yang paling diminati oleh orang, yaitu politik kekuasaan atau politik praktis. Ini yang bagi Gus Mus merupakan hal yang sangat sepele, paling hanya 5 tahun.

“Urusan lima tahunan lha kok bawa-bawa Al-Qur’an yang ila yaumil qiyamah (sampai hari kiamat). Memang kepentingan duniawi itu kadang-kadang meskipun cuma lima tahunan tetapi bisa menghilangkan pikiran kita,” terang pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang ini.

Ia mengingatkan bahwa mencintai dunia secara berlebihan-lebihan adalah sumber dari segala kesalahan, sumber malapetaka. “Tidak usah berlebih-lebihan suka pangkat, suka harta, yang sedang-sedang saja. Kalau bahasa NU, tawassuth dan i’tidal. Berlebihan apa saja itu yang menyebabkan rusak,” pesan Gus Mus. (M. Zidni Nafi’/Mahbib)

Sumber : NU Online

[divider]

Ridwan Kamil: Kakek Saya Keluarga Besar NU

Jakarta, NU Online
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengaku punya ikatan sejarah dengan Nahdlatul Ulama. Sebab, kakeknya, Kiai Muhyiddin, adalah pejuang kemerdekaan, pernah dipenjara Belanda dua kali di Bandung dan Subang, pemilik empat pesantren, dan merupakan kiai NU. Tak hanya itu, uaknya sendiri juga santri NU.

Jadi, kata dia, tak heran dirinya merapatkan barisan dengan organisasi NU karena leluhurnya juga bergabung di NU. Tak heran jika dia bersilaturahim ke PBNU.

“Pertama tentunya menyambung silaturahim,” katanya ketika ditemui NU Online selepas bertemu dengan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di gedung PBNU, Jakarta, Selasa (14/3).

Menurut dia, silaturahim itu adalah upaya merapatkan barisan dengan NU karena saat ini ada upaya umat dipecah-belah, orang cenderung mengkafrkan, membenci, dan menebar kemarahan.

Upaya pecah belah umat itu, lanjutnya, terungkap juga dari muhasabah Mustasyar PBNU KH A. Mustofa Bisri di Masjid Agung Kota Bandung beberapa hari lalu.

“Nah, sebagai wali kota, saya harus berupaya mencari solusi yang fundamental. Salah satunya adalah bersama dengan NU, organisasi yang dari sejarahnya sudah sangat di depan membela NKRI.”

Untuk hal itu, pria yang disapa Kang Emil akan bekerja sama dengan NU di berbagai tingkatan, mulai dari NU Kota Bandung, NU Jawa barat, PBNU dengan menyamakan konsep dan pandangan.

“Alhamdulillah tadi Pak Kiai Said Aqil menyampaikan dukungan terkait itu; NU sebagai benteng terakhir, istilah Gus Dur, kita ini, NU ini, sangat mulia, satpamnya republik,” jelasnya. (Abdullah Alawi)

Sumber : NU Online

[divider]

Ridwan Kamil: Hanya NU-lah Pembela Islam dengan Memperjuangkan NKRI

Bandung, NU Online
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengungkapkan, sekarang ini banyak berita-berita bohong (hoax) yang menggelisahkan masyarakat dan memecah belah kesatuan bangsa. Untuk itu, ia meminta kepada masyarakat agar mengedepankan tabayyun, akal sehat, check and recheck, dan jangan percaya terhadap berbagai fitnah yang beredar di media sosial.

“Saya meyakini semangat NU. NU harus selalu terdepan menjaga NKRI, siap?” teriak Ridwan Kamil dalam sambutannya dijawab siap secara serentak oleh hadirin pada acara Pengajian yang digelar oleh LDNU Jawa Barat di Masjid Raya Alun-alun kota Bandung, Senin (13/3) kemarin bersama Gus Mus.

Wali Kota yang akrab disapa Kang Emil itu mengajak untuk menjaga ukhuwah islamiyyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyyah (persaudaraan kebangsaan), dan ukhuwah insaniyyah (persaudaraan kemanusiaan).

“Saat saudara-saudara kita tak bisa bersaudara dalam keimanan, mereka masih bersaudara dengan kita dalam kebangsaan, setuju? Pada saat mereka tidak sama dalam keimanan dan kebangsaan, mereka masih bisa bersaudara dengan kita dalam kemanusiaan. Orang NU-lah orang yang selalu membela kemanusiaan,” terang Kang Emil.

Lebih lanjut ia juga mengutip ayat, “Fabiayyi aalai robbikuma tukadzdziban, wahai warga Jawa Barat nikmat apalagi yangmau kau dustakan. Kalau tidak percaya, lihatlah Timur Tengah sekarang sedang dikoyak-koyak nikmat kebangsaannya. Tidak ada negara Irak, tidak ada negara Yaman, tidak ada negara Afganistan,tidak ada negara Syiria.”

Maka dari itu, Kang Emil mengajak untuk bersyukur bisa hidup di Indonesia yang damai, karena Allah masih memberikan nikmat berbangsa dan bernegara, supaya bisa pengajian, mengantar ke pasar, main-main di taman. Bagi dia hal itu merupakan nikmat yang tidak bisa dimiliki oleh orang-orang di Yaman, Syiria, Afganistan, karena nikmat berbangsa dan bernegara sedang dicabut oleh Allah.

“Oleh karena itu jangan pernah terkoyak-koyak oleh mereka-mereka yang marah, mengutip ayat demi kebencian, kita lawan mereka.Jadikan NU benteng terdepan yang membela NKRI dengan berpedoman hubbul wathan minal iman, karena hanya NU-lah yang membela Islam dengan membela perjuangan NKRI,” tegas Ridwan Kamil.

“Saya nyaman apabila membela bersama wali kota Bandung untuk terus membela NKRI dan Pancasila dengan Islam rahmatan lil ‘alamin, Islam yang ramah, bukan Islam yang marah,” sambungnya dihadapan ribuan hadirin yang tidak hanya dari kota Bandung, tetapi juga dari daerah-daerah sekitar Bandung.

Dalam kesempatan tersebut Ridwan Kamil juga menceritakan kisah kakeknya sebagai pendiri pesantren Pagelaran di Subang. Kakeknya menjadi panglima Hizbullah pada zaman kemerdekaan di Subang yang memimpin santri-santri melawan Belanda.

Kisah ini jarang ia ceritakan, pada malam itu secara khusus ia menyampaikan bahwa nasabnya mengalir semangat hubbul wathan minal iman dari keluarga Nahdlatul Ulama. (M. Zidni Nafi’/Fathoni)

Sumber : NU Online

[divider]

Hadiri Acara Gema Shalawat, Ridwan Kamil Mengaku Dalam Dirinya Mengalir Darah Hubbul Wathon-nya NU

Bandung, (Ansorjabar Online)

Gema Shalawat yang diadakan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jawa Barat, Senin (13/03) di Masjid Raya Bandung, berlangsung khidmat dan meriah.

Selain dihadiri ribuan nahdliyin dari berbagai kota/kabupaten di Jawa Barat, juga dihadiri sejumlah tokoh diantaranya Mutasyar PBNU KH.Mustofa Bisri, Ketua PWNU Jawa Barat KH.Hasan Nuri Hidayatulloh, Kapolda Jabar Anton Charlian, Aster Pangdam III Siliwangi dan Walikota Bandung Ridwan Kamil.

Dalam sambutannya Ridwan Kamil menyampaikan harapannya kepada organisasi NU untuk terus berkontribusi bagi bangsa dan Negara terutama dalam menangkal zaman penuh fitnah dan hoax saat ini.

“Kita harapkan NU bisa terus menjadi yang terdepan dalam menampilkan Islam yang ramah, bukan Islam yang marah yang belakangan terlihat dimana-mana. Yaitu Islam yang Rahmatan lil ‘alamiin. Bukan Islam yang pandai kutip2 ayat untuk kepentingan kelompoknya”,kata pria yang akrab disapa Kang Emil ini disambut tepuk tangan hadirin bergemuruh.

Sambil mengutip ayat “Fa bi ayyi aalaaa’i rabbikuma tukadzibaan”, Kang Emil mengajak hadirin untuk senantiasa bersyukur atas nikmat keamanan dan ketentraman di Negara Indonesia dibandingkan dengan bangsa lain yang terus menerus diliputi peperangan.

“Nikmat Tuhan kamu yang manakah yang engkau dustakan? Kita bangsa Indonesia ini aman dan sejahtera. Coba lihat Negara-negara Timur Tengah. Lihat Iraq, Afghanistan, Yaman, Suriah, dll. Lalu lihat negara ini yang kita bisa tidur, ibadah, kerja dengan aman dan nyaman. Apakah kita rela untuk merusak nikmat ini?”, ungkapnya

Suami Atalia Praratya yang belakangan menyatakan siap maju dalam Pilgub Jabar 2018 ini juga mengatakan bahwa secara nasab dan ajaran merupakan bagian dari Nahdlatul Ulama (NU), yakni dari kakeknya KH. Muhyidin, pendiri Pesantren Pagelaran Subang. KH. Muhyidin ini merupakan Panglima Laskar Hizbulloh wilayah Subang yang turut berjuang melawan penjajahan Belanda.

“Dalam darah saya mengalir “hubbul wathan” nya NU”, ungkap Emil. (Edi).

Sumber : Ansor Online

Ikutilah Pengajian di Masjid PWNU Jabar, Jalan Terusan Galunggung No. 9 Bandung
Pengajian Tasawuf Syarah Kitab Al-Hikam
Bersama Dr. KH. M. Luqman Hakim, MA (Jakarta Sufi Center) setiap bulan, Minggu kedua mulai pukul 10.00 WIB (Live Facebook)
Pengajian Syarah Kitab Sirrul Asror
Bersama KH. Ahmad Dasuki setiap Rabu mulai pukul 12.15 (Live Facebook)
Pengajian Syarah Kitab al Waroqot
Bersama Ajengan Dr. Ramdan Danz Fawzi, SH.I, M.Ag setiap Kamis mulai pukul 12.15 (Live Facebook)

 

Dapatkan Buletin Jum’at Risalah NU terbaru yang terbit tiap Rabu, download edisi digital (PDF) di www.nahdlatululama.id/buletin Bagi yang ingin memesan dan berlangganan edisi cetak yang siap edar, silahkan menghubungi sdr. Aan di 085648333577 (Telp/WA) untuk keterangan lebih lanjut.
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close