Berita

Tantangan Nasional dan Global Menjadi Perhatian Para Kiai Khos

Jakarta, NU Online
Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi sosial kegamaan (jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah) didirikan tidak hanya bertujuan memperkuat paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), tetapi juga sebagai respon atas kondisi nasional dan internasional saat itu.
Para inisiator dan pendiri NU seperti KH Wahab Chasbullah, KH Hasyim Asy’ari, dan para kiai se-Jawa dan Madura memimpin pergerakan nasional melawan ketidakperikemanusiaan penjajah. Selain itu, mereka juga berupaya menangkal puritanisme Islam yang dibawa oleh Dinasti Saud di Arab Saudi yang berusaha meratakan makam Nabi dan para sahabat.
Tantangan-tantangan di atas hingga sekarang masih diperankan oleh para kiai NU sehingga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan menggelar pertemuan 99 Ulama khos di Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah, Kamis (16/3) bertajuk Silaturahim Nasional Alim Ulama Nusantara.
Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menerangkan, dewasa ini bangsa Indonesia menghadapi tantangan-tantangan yang sangat kritikal baik dalam skala domestik maupun internasional. Dalam skala domestik, pergerakan populisme kanan terus bekerja menggerus kultur moderat keagamaan masyarakat.
“Meskipun kita tahu bahwa gerakan-gerakan transnasional itu, secara global sebenarnya juga belum pernah berhasil menemukan bentuk idealnya. Karena itu kita tidak boleh goyah,” tegas Gus Yahya, Kamis (9/3) di Jakarta.
Pada saat yang sama, imbuh salah seorang keponakan Gus Mus ini, NU yang dinilai mampu menerjemahkan dengan baik Islam sebagai rahmat bagi alam semesta, sesungguhnya tengah diharapkan peran aktifnya oleh masyarakat dunia.
“NU benar-benar menjadi harapan bagi umat Islam untuk kembali menjadikan agama ini pilar peradaban dunia,” katanya.
Sebagai tuan rumah, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, KH Maimoen Zubair menyambut baik silaturahim dan pertemuan para ulama dari penjuru Indonesia itu.
Bahkan dalam sejumlah kesempatan, Mbah Maimoen berkali-kali mengutarakan pandangannya terkait tradisi musyawarah di antara para ulama. Hal ini mengingat kondisi sosial, kegamaan, dan lain-lain di kancah nasional maupun global kerap memunculkan konflik horisontal, bahkan berpotensi memecah belah bangsa. (Fathoni)
Sumber : NU Online

Tentang Dindin Nugraha

Blogger kambuhan, menulis status facebook, twitter ataupun web kalau sempat. Turut aktif sebagai kontributor web sekaligus bagian dari keluarga besar Lembaga Ta'lif Wan Nasyr Nahdlatul Ulama Jawa Barat

View All Posts
Ikutilah Pengajian di Masjid PWNU Jabar, Jalan Terusan Galunggung No. 9 Bandung
Pengajian Tasawuf Syarah Kitab Al-Hikam
Bersama Dr. KH. M. Luqman Hakim, MA (Jakarta Sufi Center) setiap bulan, Minggu kedua mulai pukul 10.00 WIB (Live Facebook)
Pengajian Syarah Kitab Sirrul Asror
Bersama KH. Ahmad Dasuki setiap Rabu mulai pukul 12.15 (Live Facebook)
Pengajian Syarah Kitab al Waroqot
Bersama Ajengan Dr. Ramdan Danz Fawzi, SH.I, M.Ag setiap Kamis mulai pukul 12.15 (Live Facebook)

 

Dapatkan Buletin Jum’at Risalah NU terbaru yang terbit tiap Rabu, download edisi digital (PDF) di www.nahdlatululama.id/buletin Bagi yang ingin memesan dan berlangganan edisi cetak yang siap edar, silahkan menghubungi sdr. Aan di 085648333577 (Telp/WA) untuk keterangan lebih lanjut.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close