Tips Hemat Keuangan di Bulan Ramadhan Ala Muslimat NU

8
tips hemat keuangan di bulan ramadhan ala muslimat nu ramadhan - uang - Tips Hemat Keuangan di Bulan Ramadhan Ala Muslimat NU

Riau, NU Online

Bulan Ramadhan menjadi momentum tersendiri bagi kalangan Ibu Rumah Tangga (IRT), banyak  ibu-ibu yang menyebut pengeluaran di Bulan Ramadhan bisa membengkak dua kali lipat bahkan lebih. Untuk itu harus ada pengelolaan keuangan yang terukur agar pengeluarannya tetap terkontrol dengan baik.

Tahukan Anda, ternyata bulan yang penuh barokah ini menjadi hikmah tersendiri bagi kalangan emak-emak tersebut. Konon, bulan puasa bisa menyadarkan ibu-ibu betapa pentingnya mengelola keuangan dengan cara-cara yang efisien. Ibu ibu itu harus punya inisiatif menyodorkan makanan yang lezat agar puasanya lebih semangat tetapi tidak boleh mengeluarkan anggaran yang boros.

Pemikiran itu pasti sudah terbayang dalam benak para ibu rumah tangga yang biasa mengurus anak-anak dan suaminya. Di sisi lain mereka harus mengikuti saran suaminya untuk tidak boros dan membeli kebutuhan keluarga yang belum diperlukan.

Kembali ke masalah awal, apakah hidangan lezat yang harus dihidangkan ibu rumah tangga membutuhkan biaya yang mahal?, jawabannya tidak, sudah banyak ibu rumah tangga yang telah membuktikan bahwa Ramadhan tidak berdampak terhadap keuangan rumah tangga, justru Ramadhan bisa menambah keuangan semakin bertambah jika anggota keluarga kreatif untuk melakukan hal yang bernilai ekonomi.

Ketua Muslimat Nahdlatul Ulama Provinsi Riau, Danati, misalnya, perempuan yang tinggal di Pekanbaru, Riau ini punya tips tersendiri untuk ibu-ibu yang merasa kesulitan mengatur keuangan rumah tangga di Bulan Ramadhan. Menurut dia, berbuka dan sahur dengan menu yang mewah sangat bisa dilakukan meski keuangan sangat minimalis.

Itu bisa diupayakan para ibu rumah tangga dengan membeli bahan bukaan dan menu sahur yang harganya murah tetapi berfavariasi. Ia menilai, yang membuat santapan lezat bukan karena harganya yang tinggi melainkan variasi dan cara memasak hidangan tersebut.

Selain itu ia menyarankan, takaran masakan di Bulan Ramadhan jangan disamakan dengan hari hari biasa bahkan harus bisa dikurangi, sebab, biasanya di Bulan Ramadhan anggota keluarga lebih sedikit santap makanan pokok, Ramadhan lebih cocok menyantap makanan ringan seperti kue dan munuman segar.

“Karena makan ketika  berbuka lebih sedikit ketimbang di hari biasa hanya perlu ditambah menu kue dan kolak serta minuman,” katanya kepada NU Online, Jumat (10/5).

Bulan Ramadhan menjadi tantangan tersendiri bagi seorang ibu rumah tangga, karena mereka harus menahan godaan-godaan yang kira-kira berpotensi mengurangi keuangan keluarga. Untuk itu harus ada pengendalian yang kuat dari seorang ibu rumah tangga seperti saat belanja, harus membedakan mana kebutuhan dan mana kemauan.

Menurut Danati, beda antara kemauan dan kebutuhan, kemauan itu adalah keinginan yang jika tidak dipenuhi mempengaruhi kehidupan keluarga. Sementara kebutuhan jika tidak dipenuhi akan sangat berdampak untuk keluarga.

Atas dasar itu maka kunci pertama yang mesti diperhatikan adalah ibu rumah tangga membuat perencanaan keuangan yang matang. Ada berapa keuangan rumah tangga, berapa anggaran untuk setiap berbuka, makan malam, dan makan sahur.

“Semua bisa dilakukan, hanya memang harus benar benar sangat dikendalikan dengan baik, se efisien mungkin. Seperti saat memilih menu berbuka, semua harus sesuai dengan anggaran yang sudah direncanakan sebelumnya, tidak boleh lebih,” ujarnya.

Ia yakin dengan perencanaan yang matang maka satu bulan penuh buka puasa, kebutuhan sehari hari dan kebutuhan makan sahur Ramadhan tidak akan berdampak membengkaknya keuangan keluarga.

“Misalnya, untuk membuat kolak, rinciannya Ubi Rp3.000, gula Rp3.000, santan Rp2.000, nah itu modal Rp8.000 sampai Rp10.000 sudah bisa dimakan satu keluarga,” tuturnya.

Begitupun dalam menghadapi Lebaran nanti, semua harus diperhitungkan jangan sampai keuangan keluarga tidak terkendali. Harus direncanakan sejak dini, dengan merinci kebutuhan untuk baju keluarga, untuk jajan, untuk mudik, untuk kebutuhan selama pulang kampung, untuk angpau keluarga, dan untuk tamu.

Dengan begitu tentu semua akan bisa disiasati, karena ada perencanaan yang matang dan memprioritaskan kebutuhan bukan kemauan. Tidak lupa kata dia, anggota keluarga harus lebih giat dalam mencari keuangan keluarga karena untuk meperkuat ekonomi keluarga selama Ramadhan dan usai Ramadhan.

“Untuk berbelanja keperluan lebaran tentu kita punya anggaran THR dan juga pemasukan lain-lainnya yang tentunya juga bisa diperkirakan mana yang menjadi kebutuhan utama dan tambahan. Jika diatur dengan baik Insyaallah akan terkendali dengan baik pula,” pungkasnya. (Abdul Rahman Ahdori/Muiz)

Sumber : NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here