Tragedi Umat: Ikut Nabi atau al-Mu’tashim ?

23
- tragedi - Tragedi Umat: Ikut Nabi atau al-Mu’tashim ?

Ayik Heriansyah

Untuk kesekian kalinya umat Islam mengalami tragedi kemanusiaan yang merenyuh hati. Penembakan jamaah shalat jum’at (15/3/2019) di dua masjid di Selandia Baru menambah catatan pembantaian terhadap umat Islam oleh orang kafir. Sebelumnya muslim di Uighur, Rohingya, Patani dan Palestina tanpa tanpa ada titik terang kapan semua akan berakhir. Semuanya dilatarbelakangi oleh agama dan politik. Baru tragedi di Selandia Baru ini dunia Barat menyebut aksi pembunuhan terhadap umat Islam dengan sebutan terorisme. Mungkin karena aksi pembantaian ini dilakukan seorang individu bukan oleh negara.

Kaum muslimin di seluruh dunia mengutuk semua aksi terorisme. Apatah lagi teror yang dilakukan terhadap umat Islam. Umat Islam di berbagai negara menunjukkan rasa solidaritasnya. mereka membuat status, gambar, komentar dukungan di media sosial, membaca qunut nazilah, mengadakan aksi-aksi solidaritas dari unjuk rasa, tabligh akbar, penggalangan dana, pengiriman bantuan sampai upaya diplomasi antar negara. Pemerintah Indonesia tidak pernah absen menunjukkan rasa solidernya terhadap umat Islam di luar negeri.

Sangat disayangkan ada segelintir kaum muslimin yang tidak proporsional menyikapi setiap tragedi yang menimpa umat Islam. Mereka menganggap aksi-aksi solidaritas dunia Islam yang umumnya dilakukan tidak memadai. Malah mereka seakan-akan menyalahkan umat Islam menjadi korban tragedi (blame the victim) karena tidak punya khilafah dan tidak berjihad. Mereka juga mencela cara-cara umat Islam menunjukkan sikap simpatinya yang “tanggung” karena tidak bisa menyelesaikan masalah umat secara tuntas. Percuma! Tidak ada gunanya.

Mereka inilah kelompok radikal selalu memanfaatkan tragedi umat Islam untuk menarik simpati bagi proyek jihad dan khilafah. Kelompok radikal ingin menggiring opini umat bahwa semua bencana, tragedi, pembantaian yang dilakukan orang kafir terhadap umat Islam karena umat Islam tidak memiliki pemimpin yang berfungsi sebagai junnah (pelindung). “Dimana Imamul Ummah?!” Umat Islam juga telah meninggalkan kewajiban jihad (qital). Umat Islam menjadi kehilangan harga diri dan kehormatan di dunia internasional.

Keradikalan dalam merespon tragedi umat Islam disebabkan oleh ketidaktahuan mereka tentang teladan Rasulullah Muhammad saw dalam menyikapi tragedi yang dialami umat Islam. Tragedi pembantaian terhadap umat Islam telah terjadi sejak Rasulullah saw memulai dakwahnya secara terbuka di Mekkah. Dalam posisi lemah, umat Islam berjuang sekuat tenaga sendiri-sendiri untuk menyelamatkan diri. Ada yang mati syahid seperti Yassir dan istrinya, ada budak yang dibebaskan dengan tebusan seperti Bilal, ada juga yang hijrah ke Habasyah. Umat Islam yang punya posisi kuat dan jaminan perlindungan dari marga sukunya yang bisa selamat. Tapi akhirnya mereka juga termasuk Muhammad saw menjadi sasaran pembantaian dari kaum kafir Quraisy.

Tragedi-tragedi yang menimpa umat Islam di Mekkah tidak relevan jika dikaitkan dengan pembantaian umat Islam sekarang karena di Mekkah umat Islam berbentuk komunitas keagamaan, belum berwujud satu institusi politik yang utuh. Yang paling revelan adalah tragedi pembantaian terhadap umat Islam ketika negara Madinah yang dipimpin oleh Rasulullah Muhammad saw sudah menjadi satu entitas politik. Bagaimana Muhammad saw menyikapinya? Hal ini penting untuk diketahui agar umat Islam bisa merespon setiap tragedi dengan syar’i, berdasarkan ilmu bukan nafsu amarah.

Dua tragedi pembantaian dan satu penganiayaan terjadi ketika negara Madinah sudah berdiri yakni tragegi Raji’, Bi’r Ma’unah dan penganiayaan terhadap Abu Jandal. Tragedi Raji terjadi pada bulan Safar tahun 4 H. Berawal dari kedatangan delegasi dari kabilah Adhal dan Qarrah menemui Rasulullah saw. Mereka meminta Rasulullah saw mengirim orang untuk mengajarkan Islam dan membaca al-Qur’an. Tanpa prasangka apa-apa, Rasulullah saw mengirim 10 orang sahabat (menurut riwayat Bukhari). Rasulullah saw menunjuk Martsad bin Abu Marstad al-Ghanawi sebagai pemimpin.

Rombongan berangkat. Sampai di Raji’ (antara Rabigh dan Jeddah) mereka diserang oleh seratus pemanah dari Bani Lihyan atas permintaan kabilah Adhal dan Qarrah. Rombongan sahabat berusaha menyelamat diri lari ke bukit-bukit terdekat. Tapi mereka terkepung. 8 orang sahabat gugur. Dua orang lagi digiring ke Mekkah untuk dijual ke kaum Quraisy. Dan akhirnya kedua orang ini juga dieksekusi mati.

Selang beberapa hari setelah tragedi Raji’, terjadi tragedi pembantaian umat Islam dengan jumlah korban yang lebih besar. Abu Barra’ Amir bin Malik mendatangi Rasulullah saw di Madinah. Rasulullah saw menawarkannya masuk Islam tapi dia menolak. Dia juga tidak menunjukkan kebenciannya kepada Islam. Dia meminta kepada Rasulullah saw agar mengirim guru agama dan membaca al-Qur’an ke Najd. Rasulullah saw sempat khawatir, seandainya penduduk Najd akan mencelakai utusannya. Abu Barra bersih keras, dia akan menjamin keselamatan mereka.

Rasulullah saw akhirnya mengirim 70 orang sahabat (menurut kitan Shahih). Beliau saw menunjuk Mundzir bin Amr sebagai pemimpin rombongan. Dia sahabat yang berkedudukan mulia sekaligus penghafal al-Qur’an. Rombongan berangkat siang hari. Setiap melewati perkampungan penduduk mereka membagi-bagikan makanan sambil membacakan al-Qur’an. Begitu seterusnya sampai mereka tiba di Bi’r Ma’unah. Lokasinya antara Bani ‘Amir dan Hurrah. Rombongan singgah di sana. Mereka mengutus Haram bin Milhan untuk menyampaikan surat Rasulullah saw kepada ‘Amir bin Thufail. Surat itu tidak dibacakan malah Haram bin Milhan ditusuk dengan tombak dari belakang. Saat itu juga Haram bin Milhan mati syahid.

‘Amir bin Thufail kemudian meminta bantuan Bani ‘Amir untuk menghabisi kaum muslimin. Namun mereka menolak karena terikat perjanjian dengan Abu Barra yang telah menjamin keselamatan para utusan Rasulullah saw. Lalu ‘Amir bin Thufail meminta bantuan Bani Sulaim. Permintaan bantuan ini dipenuhi oleh kabilah Ushayyah, Ri’il dan Dzakwan. Mereka mengepung dan membunuh rombongan sahabat. Yang selamat cuma Ka’ab bin Zaid an-Najjar. Dia pura-pura mati.

Rasulullah saw sangat terpukul dengan tragedi pembantaian umat Islam di Raji’ dan Bi’r Ma’unah yang terjadi selang beberapa hari. Beliau saw berduka cita sangat dalam. Nabi saw mendo’akan kecelakaan selama 30 hari saat shalat fajar atas mereka (kabilah Lihyan, Ri’il, Dzakwan dan Ushayyah) yang membunuh para sahabat. Beliau saw bersabda: “Ushayyah telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya”.

Penganiayaan umat Islam yang disaksikan langsung oleh mata kepala Nabi saw dan para sahabat adalah pembantaian terhadap Abu Jandal bin Suhail. Peristiwa ini terjadi saat perjanjian Hudaibiyah telah disepakati akan tetapi belum selesai ditulis. Abu Jandal anak Suhail juru runding utusan kaum Quraisy di Hudaibiyah.

Abu Jandal tiba-tiba datang dengan terseok-seok dengan belenggu di tangannya. Dia menjatuhkan badan di depan Rasul saw dan para sahabat dengan maksud bergabung dan minta perlindungan. Soktak diprotes oleh Suhail. Sesuai kesepakatan Hudaibiyah yang baru saja, point 4 mengatakan: Kaum Quraisy yang menyeberang ke pihak Muhammad tanpa seizing walinya, wajib dikembalikan. Sebaliknya, pengikut Muhammad yang menyeberang ke pihak Quraisy tidak perlu dikembalikan.

Suhail sebagai wali Abu Jandal menolak memberi izin kepada Abu Jandal untuk bergabung dengan kaum muslimin. Tanpa ampun Abu Jandal ditampar oleh Suhail. Suhail menceram bajunya lalu menyeret Abu Jandal untuk dibawa kembali ke Mekkah. Abu Jandal berteriak sekeras-kerasnya, “Saudara-saudara muslimin, akankah aku dikembalikan kepada orang-orang musyrik yang hendak menyiksaku karena agamaku?”

Nabi saw menjawab, “Wahai Abu Jandal, bersabarlah dan tabahkanlah hatimu. Semoga Allah memberi engkau dan mu’minin yang tertindas bersamamu sebagai jalan keluar. Kita sudah terikat perjanjian damai dengan kaum itu. Kita harus memberikan kepada mereka, dan mereka juga harus memberikan kepada kita, dengan nama Allah. Karena itu kita tidak boleh mengkhianatinya.” Umar bin Khaththab melompat. Dia berjalan mendampingi Abu Jandal dan berkata, “sabarlah Abu Jandal. Mereka hanyalah orang-orang musyrik. Darah mereka tak ubahnya darah anjing.”

Mengapa Rasulullah saw tidak langsung memobilisasi pasukan untuk menyerang para pembantai umat Islam di Raji’, Bi’r Ma’unah dan penganiayaan terhadap Abu Jandal seperti yang dilakukan Khalifah al-Mu’tashim setelah mendengar laporan bahwa seorang budak muslimah dari Bani Hasyim dilecehkan oleh orang Romawi? Wanita itu berteriak memanggil nama Khalifah Al-Mu’tashim Billah dengan lafadz yang legendaris: “waa Mu’tashimaah!” yang juga berarti “di mana kau Mutashim…tolonglah aku!”

Menjawab laporan tersebut pada April 833 Masehi Khalifah al-Mu’tashim mengerahkan ribuan tentara menyerbu kota kota Ammuriah wilayah Turki yang saat itu masih bagian dari Romawi. Panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari gerbang istana khalifah di kota Baghdad hingga kota Ammuriah (Turki), saking besarnya pasukan.

Kota Ammuriah dikepung selama kurang lebih lima bulan, kemudian berhasil ditaklukkan anggal 13 Agustus 833 Masehi. Sebanyak 30.000 prajurit Romawi terbunuh dan 30.000 lainnya ditawan. Pembelaan kepada muslimah ini sekaligus dimaksudkan oleh khalifah sebagai pembebasan Ammuriah dari jajahan Romawi

Kaum radikal menjadikan cerita heroik al-Mu’tashim membela kehormatan seorang budak muslimah sebagai “dalil” bagi pemimpin-pemimpin Islam untuk mengerahkan pasukan menyerang siapapun yang membantai umat Islam dimanapun mereka berada. Kaum radikal terus menerus menginspirasi umat dengan narasi al-Mu’tashim, mereka ingin menyampaikan pesan halus bahwa penguasa muslim sekarang pengecut tidak bisa menjadi junnah (perisai). Dengan logika seorang budak muslimah yang dilecehkan harus dibela apalagi jika puluhan, ratusan dan ribuan umat Islam yang dibunuh! Logika penuh nafsu minus ilmu.

Sikap dan kebijakan politik Nabi saw terhadap para pembantai umat Islam merupakan contoh, suri tauladan dan dalil bagi kita. Karena semua perbuatan Nabi saw di bawah bimbingan langsung dari Allah swt. Sikap dan kebijakan politik Beliau saw jauh dari dorongan hawa nafsu. Beliau saw hanya menasehati Abu Jandal agar bersabar dan tabah serta mendo’akan semoga Allah swt memberi Abu Jandal jalan keluar karena Beliau komitmen terhadap akad (perjanjian) bilateral antar negara. Padahal saat perjanjian Hudaibiyah, kekuataan militer umat Islam sudah sebanding bahkan mengungguli kaum Quraisy.

Beliau saw tidak balas menyerang para pembantai umat Islam di Raji’ dan Bi’r Ma’unah karena menimbang kemashlahatan umat Islam yang lebih besar. Tragedi Raji’ dan Bi’r Ma’unah terjadi setahun pasca kekalahan kaum muslimin di perang Uhud. Negara Madinah mendapat tekanan opini negatif dari dalam negeri yang dilancarkan oleh orang-orang Munafik. Di dalam negeri Yahudi membuat skenario membunuh Nabi Muhammad saw. Merasa negara Madinah sedang lemah, Yahudi Bani Nadhir membuat konspirasi untuk menghancurkan negara. Mereka mendesak kaum Quraisy agar segera menginvansi Madinah. Rasulullah saw bersiap-siap menghadapi serang Ahzab Arab. Perang Ahzab (Khandaq) terjadi setahun setelah tragedi Raji’ dan Bi’r Ma’unah.

Tragedi Raji’ dan Bi’r Ma’unah terhimpit antara kekalahan perang Uhud dan ancaman agresi pasukan Ahzab. Mempertahankan eksistensi negara Madinah lebih mashlahat dan lebih utama ketimbang membalas para pembantai kaum muslimin di Raji’, Bi’r Ma’unah dan menyelamatkan Abu Jandal. Dari sikap politik Nabi saw di atas dapat disimpulkan bahwa pemimpin muslim wajib memegang teguh perjanjian-perjanjian bilateral, multilateral dan internasional demi mewujudkan kemashlahatan umat yang lebih besar didahulukan (quwwatul mashlahah) dan mencegah mudharat yang lebih besar.

Solidaritas dunia Islam yang dilakukan pemerintah beserta ormas Islam utamanya NU tanpa menggunakan kekerasan (jihad qital) ketika menyikapi tragedi penganiayaan dan pembantaian umat Islam di luar negeri sesuai dengan sikap dan kebijakan politik luar negeri Nabi saw. Nabi saw telah mengajarkan, tapi masih ada saja kaum radikal yang jualan cerita al-Mu’tashim.

Bandung, 18 Maret 2019

Ayik Heriansyah adalah Pengurus LD PWNU Jabar. Ketua LTNNU Kota Bandung

- kangayik - Tragedi Umat: Ikut Nabi atau al-Mu’tashim ?

Tentang Ayik Heriansyah

Penulis artikel produktif yang sering dijadikan rujukan di berbagai media massa, pemerhati pergerakkan Islam transnasional, khususnya HTI yang sempat bergabung dengannya sebelum kembali ke harakah Nahdlatul Ulama. Kini aktif sebagai anggota LTN di PCNU Kota Bandung dan LDNU PWNU Jawa Barat.

View All Posts

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here