Tuesday, July 23, 2019
Home Blog

Memusnahkan Bendera HTI, Kualat ?

Memusnahkan Bendera HTI, Kualat ? - tutuphti 600x338 - Memusnahkan Bendera HTI, Kualat ?

Ayik Heriansyah

Aparat dan warga masyarakat gamang ketika melihat bendera HTI berkibar. Satu sisi mereka tahu bahwa itu bendera kaum pemberontak (bughat) tetapi di sisi lain ada kalimat syahadat, lafadz Allah Swt dan Muhammad di bendera tersebut. Budaya kita menghormati tulisan-tulisan Arab apalagi lafadz Allah dan Rasul-Nya. HTI memahami hal ini. Mereka memanfaatkan budaya luhur masyarakat kita untuk membenturkan aparat dan kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lain yang mengibarkan bendera HTI karena ketidaktahuannya.

Bendera hitam putih yang kerap dibawa aktivis HTI merupakan simbol gerakan pemberontakan (bughat) terhadap daulah Islamiyah (NKRI). Itulah bendera Khilafah ala HTI yang terinspirasi oleh hadits-hadits Nabi Saw tentang liwa rayah. Liwa rayah merupakan bendera simbol kenegaraan kaum muslimin pada hubungan internasional saat itu. Di Indonesia umat Islam sepakat menggunakan bendera Merah Putih sebagai simbol kenegaraan mereka. Itulah liwa rayah kaum muslimin di Indonesia. Bendera pemersatu umat dari Sabang sampai Merauke.

Sebagai muslim/muslimah yang memiliki KTP, SIM dan Buku Nikah NKRI, makan minum, menggunakan mata uang Indonesia fasilitas jalan, bandara, pelabuhan, sekolah, rumah sakit, dsb udah seharusnya aktivis HTI mengusung bendera Merah Putih. Toh Nabi Saw sendiri tidak memerintahkan umatnya menggunakan liwa rayah hitam putih yang bertuliskan dua kalimat syahadat. Tegasnya menggunakan bendera HTI bukan perkara yang di-masyru’-kan. Bukankah semua hadits tentang liwa rayah hanya bersifat khabariyah informatif tanpa ada qarinah (indikasi) wajib menggunakannya. Sesungguhnya Nabi Saw sudah tau, perihal bendera negara diserahkan kepada sepenuhnya kesepakatan umatnya.

Aksi pamer bendera HTI di wilayah NKRI menimbulkan kegaduhan, fitnah dan memecah belah umat Islam. Bukan hanya NU, Ansor dan Banser, ormas Islam lainnya pembentuk NKRI risih dengan bendera HTI. Sudah pasti tujuan HTI mendirikan Khilafah Tahririyah termasuk bughat. Setiap kegiatan dan atribut yang mengarah kepada bughat dihukumi haram. Sesuai kaidah ushul fiqih yang juga diadopsi HTI yang berbunyi: al-washilatu ila harami muharramah aw haramun.

Langkah-langkah aparat dan Banser menindak peragaan bendera HTI tidak lain dan tidak bukan demi menjaga persatuan dan kesatuan umat, bangsa dan negara. Yang demikian itu sesuai dengan maqashidusy syariah yakni hifdzul umat, mujtama wa daulah. Inilah esensi dari penerapan syariah.

Menghancurkan Masjid
Jangankan selembar kain bendera, satu masjid pun jika terindikasi menjadi sarana untuk memecah belah umat, harus dimusnahkan. Masjid Dhirar didirikan untuk menimbulkan kerusakan, kekufuran dan memecah belah kaum mukmin. Di dalam al-Qur’an Allah Swt berfirman:
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِّمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِن قَبْلُ ۚ وَلَيَحْلِفُنَّ
إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ ۖ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemadharatan (pada orang-orang Mukmin), untuk kekafiran dan memecah belah antara orang-orang Mukmin serta menunggu kedatangan orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah,”kami tidak menghendaki selain kebaikan.”Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).[at-Taubah/9:107]

Ibnu Mardawaih rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu Ishâq rahimahullah yang berkata, “Ibnu Syihâb az-Zuhri menyebutkan dari Ibnu Akîmah al-Laitsi dari anak saudara Abi Rahmi al-Ghifâri Radhiyallahu ‘anhu. Dia mendengar Abi Rahmi al-Ghifâri Radhiyallahu ‘anhu – dia termasuk yang ikut baiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Hudaibiyah – berkata, “Telah datang orang-orang yang membangun masjid dhirâr kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,pada saat beliau bersiap-siap akan berangkat ke Tabuk. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami telah membangun masjid buat orang-orang yang sakit maupun yang mempunyai keperluan pada malam yang sangat dingin dan hujan. Kami senang jika engkau mendatangi kami dan shalat di masjid tersebut.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,” Aku sekarang mau berangkat bepergian, insya Allah Azza wa Jalla setelah kembali nanti aku akan mengunjungi kalian dan shalat di masjid kalian.”

Kemudian dalam perjalanan pulang dari Tabuk, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam beristirahat di Dzu Awan (jaraknya ke Madinah sekitar setengah hari perjalanan). Pada waktu itulah Allah Azza wa Jalla memberi kabar kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masjid tersebut (dan larangan shalat di dalamnya) dengan menurunkan ayat ini. (Aisarut-Tafâsir, Abu Bakr Jâbir al-Jazâiri, Maktabah Ulum Walhikam, Madinah. Cetakan kelima th.1424 H/2003M).

Rasulullah Saw awalnya tidak tahu kalau masjid itu masjid Dhirar. Ia Saw husnudzan. Berdasarkan fakta yang diketahuinya tidak ada masalah dengan masjid tersebut. Ia Saw menerima undangan untuk shalat di masjid tersebut. Insya Allah setelah pulang dari perang Tabuk. Allah Swt mengetahui motif sebenarnya dari pendirian masjid Dhirar yang tidak diketahui oleh Nabi Saw. Allah Swt yang menetapkan dan menghukumi masjid itu, masjid Dhirar dan memerintahkan Nabi Saw membatalkan janjinya untuk shalat di situ. Kemudian Beliau Saw memerintahkan para sahabat agar menghancurkan masjid tersebut.

Membakar Mushaf al-Qur’an
Pada saat terjadi perang Irminiyah dan perang Adzrabiijaan, Hudzaifah Ibnul Yaman yang saat itu ikut dalam dua perang tersebut melihat perbedaan yang sangat banyak pada wajah qiraah beberapa sahabat. Sebagiannya bercampur dengan bacaan yanag salah. Melihat kondisi para sahabat yang beselisih, maka ia melaporkannya kedapa Utsman radhiyallahu ‘anhu. Mendengar kondisi yang seperti itu, Utsman radhiyalahu ‘anhu lalu mengumpulkan manusia untuk membaca dengan qiraah yang tsabit dalam satu huruf (yang sesuai dengan kodifikasi Utsman). (lihat mabaahits fi ‘ulumil Qur’an karya Manna’ al Qaththan: 128-129. Cetakan masnyuratul ashr al hadits).

Setelah Utsman radhiyallahu ‘anhu memerintahkan kepada sahabat untuk menulis ulang al Qur’an, beliau kemudian mengirimkan al Qur’an tersebut ke seluruh penjuru negri dan memerintahkan kepada manusia untuk membakar al Qur’an yang tidak sesuai dengan kodifikasi beliau. (lihat Shahih Bukhari, kitab Fadhailul Qur’an bab jam’ul Qur’an, al Maktabah Syamilah)

Perbuatan Utsman disepakati oleh Ali Ibnu Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Beliau dengan tegas berkata:

لو لم يصنعه عثمان لصنعته

“Jika seandainya Utsman tidak melakukan hal itu maka akulah yang akan melakukannya.” (lihat al Mashahif, Bab Ittifaaqun Naas ma’a Utsman ‘ala Jam’il Mushaf, hal. 177).

Mush’ab Ibnu Sa’ad berkata, “aku mendapati banyak manusia ketika Utsman membakar al Qur’an dan aku terheran dengan mereka. Dia berkata, Tidak ada seorang pun yang mengingkari/menyalahkan perbuatan Utsman. (lihat al Mashahif: 178)

Ibnul ‘Arabi berkata tentang jam’ul Qur’an dan pembakarannya, “itu adalah kebaikan terbesar pada Utsman dan akhlaknya yang paling mulia, karena ia menghilangkan perselisihan lalu Allah menjaga al Qur’an melalui tangannya. (lihat hiqbatun min at tarikh : 57 dan lihat al ‘Awashim minal Qawashim: 80) Demi menjaga persatuan dan kesatuan umat dalam hal qiraat (langgam) al-Qur’an saja, para Sahabat mujma’ akan kebolehan membakar mushaf yang tidak standar.

Oleh karena itu memusnahkan bendera HTI yang tidak perlu diragukan lagi merupakan simbol pemberontakan (bughat) dan berpotensi memecah belah umat adalah perkara yang diwajibkan; Baik oleh aparat maupun anggota masyarakat. Bendera HTI bukan jimat. Membakarnya tidak akan kualat. Musnahkan saja! Bakar!

Bandung, 22 Juli 2019

Pengurus LD PWNU Jabar. Ketua LTN NU Kota Bandung

Ketua PWNU Jawa Barat dan Ketua PCNU Sumedang Resmikan Kantor MWCNU Cimanggung

Ketua PWNU Jawa Barat dan Ketua PCNU Sumedang Resmikan Kantor MWCNU Cimanggung - WhatsApp Image 2019 07 23 at 2 - Ketua PWNU Jawa Barat dan Ketua PCNU Sumedang Resmikan Kantor MWCNU Cimanggung

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Provinsi (PWNU) Jawa Barat, KH. Hasan Nuri Hidayatulloh dan Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumedang, KH. Sa’dulloh, meresmikan Kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Cimanggung, Sabtu (20/7). Kantor MWCNU yang berjumlah dua lantai ini berlokasi di Perum Griya Sampurna Kecamatan Cimanggung Kabupaten Sumedang Jawa Barat.

Acara peresmian tersebut dihadiri juga oleh Kabag Kesra Kabupaten Sumedang, Ketua JQH PWNU Jabar, Jajaran Pengurus PCNU Kab Sumedang, Banom, Lembaga, Forkopimka Cimanggung, Para Pengurus MWCNU se-Kabupaten Sumedang, para Kepala Desa se-Kecamatan Cimanggung, Para Ketua Ranting NU Desa, dan jamaah pengajian.

Ketua PCNU Kabupaten Sumedang, KH. Sa’dulloh, dalam sambutannya menyatakan sangat mengapresiasi perjuangan para pengurus MWCNU Kecamatan Cimanggung yang gigih dalam mendirikan kantor sekretariatnya.

Beliau juga mengucapkan terima kasih kepada Direktur Utama PT. Kresna Eka Karya Nugraha yaitu Bapak H Cahya M Nuh Zaekasye yang sudah menghibahkan tanah dan bangunan untuk pembangunan Kantor MWCNU Cimanggung ini.

Bapak Cahya ini membantu NU tidak hanya di Sumedang saja, tapi beliau nuga membantu membesarkan NU di Jawa Barat, lanjut H Sa’dulloh. Bahkan beberapa bulan kemarin beliau sudah memberikan kendaraan mobil operasional kepala para pengurus Pimpinan Cabang Jam’iyyatul Qurra wal Hufafz Nahdlatul Ulama Kabupaten Sumedang. Ini sungguh luar biasa.

Terkait dengan peresmian gedung MWCNU, Gedung MWCNU Cimanggung ini merupakan gedung permanen kedua yang dimiliki oleh MWCNU di Kabupaten Sumedang. Yang pertama di Tanjungkerta, kedua Cimanggung, dan yang ketiga rencana di Tanjungsari. Semoga kedepannya MWCNU-MWCNU di Kabupaten Sumedang bisa segera memiliki kantor sekretariat yang permanen, kata H Sa’dulloh.

Sementara Sekertaris MWCNU Kecamatan Cimanggung juga sebagai panitia peresmian, Effendi, menyampaikan mudah-mudahan dengan adanya kantor MWCNU Kecamatan Cimanggung ini menjadi wasilah kebangkitan Nahdlatul Ulama khususnya di Kabupaten Sumedang.

Ketua PWNU Jawa Barat dan Ketua PCNU Sumedang Resmikan Kantor MWCNU Cimanggung - WhatsApp Image 2019 07 23 at 2 - Ketua PWNU Jawa Barat dan Ketua PCNU Sumedang Resmikan Kantor MWCNU Cimanggung

Kami atas nama panitia sangat berterimakasih kepada para Pengurus MWCNU se-Kabupaten Sumedang, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat, dan Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul ulama (PCNU) Kabupaten Sumedang beserta para banom lembaganya atas kehadiran dalam peresmian Gedung MWCNU Cimanggung ini, karena tanpa ada dorongan dan do’a dari semua elemen yang ada, kegiatan ini tidak akan terwujud, turup Effendi. (Ayi Abdul Kohar)

Bangkitnya Fatayat NU Banjaran di Bumi Kabupaten Bandung

Bangkitnya Fatayat NU Banjaran  di Bumi Kabupaten Bandung - WhatsApp Image 2019 07 23 at 1 - Bangkitnya Fatayat NU Banjaran  di Bumi Kabupaten Bandung

Kecamatan Banjaran sebelumnya tidak pernah terdengar yang namanya Fatayat NU. Bahkan mungkin terdengar asing ditelinga masyarakat. Namun beberapa bulan ini dengan pakaian khas nya yang berwarna hijau mulai mewarnai kecamatan Banjaran.

Kiprah nya di NU Banjaran mungkin masih belia, namun semangat untuk menyebarkan paham ajaran Ahlussunnah wal jama’ah dalam wadah NU seakan tak akan mati. Kesiapannya dalam mensukseskan acara NU pun bisa dikatakan luar biasa. Ini dibuktikan seperti halnya kemarin hari minggu tanggal 21 juli 2019, dalam acara temu alumni Fatayat NU kab. Bandung di Kantor PCNU kab. Bandung yang terletak di daerah Ciparay. Fatayat NU Banjaran menerima mandat sebagai panitia acara pukul 07.00 sedangkan acara dimulai 08.00. Hal itu diterima dan acara pun alhamdulillah sukses.

Namun ada hal yang unik dari acara temu alumni Fatayat NU kemarin, yaitu adanya pembacaan kitab Safinatunnajah karangan Syekh Nawawi al-Bantani. Bagi penulis ini adalah hal unik, karena biasanya dalam acara temu alumni, yang ada adalah bercerita tentang masa lalu, tanya keadaan masing-masing orang. Namun ini, diisi dengan mengaji kitab kuning.
Kitab ini dibacakan oleh teteh Wardah Fauziyyah salah satu alumni Ponpes Lirboyo Kediri. Salah seorang kader Fatayat NU Banjaran.

Setelah melihat kesigapan para kader fatayat NU. Penulis teringat dengan peran Fatayat NU dalam menjaga keamanan dan keutuhan NKRI sekitar tahun 60 an. Peran mereka dan jasa mereka luar biasa untuk negeri ini. Fatayat NU terlibat dalam latihan-latihan militer sebagai sukarelawan pengamanan negara. Peran yang sangat tidak biasa untuk kaum wanita.

Hari ini peran mereka bukanlah latihan militer untuk menjaga keamanan negara. Namun peran mereka adalah menjaga bangsa ini dari paham-paham yang merusak persatuan dan kesatuan. Salah satu nya adalah pemberdayaan dan pengenalan kitab kuning kepada masyarakat. Karya-karya ulama-ulama terdahulu.

Hal itu untuk menangkis kedok semboyan “Kembali kepada al-Quran dan al-Hadits” karena semboyan itu hakikatnya adalah untuk menghilangkan peran ulama dan menjauhkan masyarakat dari ulama.

Sebuah tantangan yang tidak mudah mungkin, namun apabila kita cermati setiap perubahan zaman maka tantangannya pun akan berbeda. Penulis yakin Fatayat NU disetiap generasinya dicipta untuk tantangan zamannya.

Semangat yang luar biasa para kader Fatayat NU semoga menjadi pendorong bagi kader NU lainnya untuk aktif dan mengambil perannya masing-masing. Karena pensinergian setiap kader NU akan mudah menangkis paham-paham yang dapat merusak kesatuan bangsa ini.

LTM NU Bogor Aktif Dakwah Blusukan Hidupkan Dakwah Ramah Tangkal Radikalisme

LTM NU Bogor Aktif Dakwah Blusukan Hidupkan Dakwah Ramah Tangkal Radikalisme - WhatsApp Image 2019 07 22 at 9 - LTM NU Bogor Aktif Dakwah Blusukan Hidupkan Dakwah Ramah Tangkal Radikalisme

Bogor – Halal bi Halal dan pembukaan pengajian mulai menjamur kembali mewarnai jagat Nusantara, termasuk pengajian bulanan yang diadakan di sekitar Citayam, Ragajaya Kecamatan Bojonggede, Kab. Bogor.

Sabtu, (20/7) Majelis Taklim Riyadhul Jannah secara resmi membuka kembali pengajiannya. Majelis yang didirikan oleh Hj Nunung Nurhayati berlokasi tidak jauh dari desa Ragajaya Citayam.

Panitia pembukaan pengajian membuka kegiatan acara dengan pembacaan alfathihah, yasin, tahlil dan ratib Al Haddad serta pembacaan syair – syair maulid Nabi Muhammad dari Kitab Rawi.

Pendiri Majelis, Hj Nunung dalam kata sambutannya menyatakan rasa syukur kepada Allah Swt dan ucapan terima kasih kepada Asatidz dan Ustadzah serta jamaah karena selama puluhan tahun setia menghidupkan syiar Islam di Kampung Ceringin Citayam.

Acara dihadiri oleh penceramah bulanan, Hj Roqayah binti Kiai Thabroni, dirinya menjelaskan pentingnya mengikuti pengajian dan bersilaturahim.

“Ngaji harus dipentingin, ada duit nggak ada duit, ngaji harus tetap jalan. Ngaji itu selain dapat elmu juga dapat membuka nilai- nilai yang dijanjikan ketika kita melakukan silaturahim. Diantaranya rezeki dan panjang umur.” Ucapnya dengan logat Betawi yang kental.

Sementara penceramah kedua, Wakil Sekretaris Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama LTM NU Kabupaten Bogor, Ustadz. H. Abdul Hadi Hasan. Dirinya menjelaskan terkait pentingnya memahami Al Qur’an dan Hadis secara benar dan akurat, diantara melalui Para Habib dan Kiai yang memiliki nasab keilmuan dan berakhlakul Karimah.

“Ngaji memang harus diutamakan, ngaji harus dipraktikan dari buaian hingga liang lahat sebagaimana telah disabdakan oleh Rasul Saw. Ingat ngaji lah kepada Ulama Kompeten, yang berilmu, berakhlak dan ramah dalam menyampaikan dakwahnya.” Kata Ustadz yang juga aktif sebagai pengurus Aswaja Center NU Jawa Barat.

Ustadz Hadi melanjutkan kesuksesan di dunia dan akhirat tergantung oleh aktifitas pengajian dan kajian yang kita lakukan. Kita harus fahami pesan Rasul Saw, terkait mengiyakan pendidikan pada diri dan keluarga.

Rasul bersabda. ” Didiklah putra – putra kalian dengan tiga perkara, ajarkan mereka mencintaiku, mencintai keluargaku dan membaca Kitab Suci Al Qur’an.”

Dari hadis tersebut kita disini sejak lama sudah memahami bagaimana para Habaib dan Kiai menebarkan kedamaian di berbagi majelis taklim, mereka mengajarkan kita untuk mencintai Nabi, keluarganya dan akrab dengan Al Qur’an.

“Kita diajarkan untuk maulidan, dzikir, tahlilan, baca ratib, ziarah kubur, dll. Tentu agar hati kita terbuka, dengan metode tersebut kita dapat mengenal Rasul, keluarganya dan para Sahabat ra dengan penuh kecintaan dan dipraktikan pula amalannya dalam kehidupan nyata.” Tegas Ustadz yang bisa dakwah blusukan ke berbagai daerah.

Dirinya mengakhiri ceramahnya dengan menyebut ucapan Hadrotusyeikh KH Hasyim Asy’ari yang menekankan umat untuk mengerti mahabbah kepada Rasul dan harus mewujudkan tanda cinta itu dalam diri setiap personal.

Acara yang dihadiri oleh jamaah majelis dan beberapa asatidz serta tokoh masyarakat Citayam itu diakhiri dengan pembacaan doa, ramah tamah juga makan siang.

Maunah dan Kesederhanaan KH. Amin Halim Pendiri Pesantren Mualimin Babakan Ciwaringin Cirebon

Maunah dan Kesederhanaan KH.  Amin Halim Pendiri Pesantren Mualimin Babakan Ciwaringin Cirebon - maxresdefault - Maunah dan Kesederhanaan KH.  Amin Halim Pendiri Pesantren Mualimin Babakan Ciwaringin Cirebon

oleh: Wahyu Iryana

Kiai Amin Halim (Ahal) adalah bapak kandung Kiai Zamzami dan Kiai Marzuki. Kiai Amin Halim adalah sosok kiai yang sederhana. Nasab keilmuan dan nasab silsilahnya sangat jelas beliau keturunan para penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Sejak kecil Kiai Amin Halim di didik nilai-nilai keagamaan (Islam) oleh keluarganya, hingga remaja beliau masih tetap ngangsu kaweruh dan berkeliling ke pesantren pesantren di wilayah Cirebon untuk mengaji di beberapa kiai hingga beliau belajar langsung ke Pesantren Tebu Ireng.

Setelah pulang kembali ke Babakan Ciwaringin Cirebon beliau dinikahkan dengan Ibu Nyai Hj. Masturoh, keinginan Kiai Amin Halim yang tinggi untuk membangun dasar dasar ilmu agama bagi generasi penerus memunculkan keinginan untuk mendirikan Pesantren Mualimin. Beliau juga ikut membantu berdirinya Madrasah Aliyah yang akan dijadikan model pendidikan oleh Kementrian Agama (duku Depag), maka berdirilah sekolah aliyah di Babakan MAN Model Babakan Ciwaringin Cirebon (MAN Cirebon), beliau juga merupakan dewan asatidz Ponpes Asalaffi.Di luar kesibukannya mengasuh Pesantren beliau juga masih sering diundang ceramah oleh masyarakat wilayah Cirebon, Indramayu, maupun daerah Jatitujuh Majalengka.

Kisah Maunah Kiai Amin Halim

Suatu ketika beliau diundang untuk berceramah ke wilayah Indramayu. Karena dahulu belum banyak mobil atau pun motor maka untuk berceramah sampai ke pelosok pelosok desa Kiai Amin Halim menggunakan sepeda ontel. Jalur yang harus dilewati beliau ternyata jalur rawan begal. Untuk perjalanan dari Cirebon-Indramayu pada waktu itu kalau menempuh jalan menggunakan sepeda pada umumnya membutuhkan waktu kurang lebih harus menempuh waktu 2 jam setengah.

Singkat cerita Kiai Amin Halim setelah selesai shalat Isa berjamaah dengan santrinya beliau langsung menghadiri undangan ceramah di wilayah Indramayu dengan naik sepeda ontel seorang diri. Di tengah jalan beliau dicegat oleh gerombolan begal (para pemabuk), mereka berjumlah 5 orang. Para pemabuk ini meminta paksa sepeda Kiai Amin Halim. “Oh… Jadi njenengan pengen sepeda saya, mangga…mangga…ini silahkan pegang saja sepeda nya.”Sergah Kiai Amin Halim sembari memberikan sepedanya.

Sepeda ontel yang dinaiki oleh Kiai Amin Halim diserahkan kepada para begal tersebut. Namun berkat maunah Kiai Amin Halim para begal yang memegang sepeda itu berdiri tegak tidak bisa bergerak, mematung memegangi sepeda Kiai Amin Halim. Karena ditunggu panitia dan dikejar waktu akhirnya Kiai Amin Halim bergegas menuju Indramayu dengan jalan kaki dan ajaibnya beliau datang tepat waktu sesuai undangan panitia. Idealnya jarak tempuh dengan bersepeda 2 jam setengah ini malah kurang dari dua jam beliau sudah sampai di Indramayu. Setelah pulang lagi ke Cirebon beliau memilih jalan yang sama ketika beliau berangkat, hebatnya sepeda dan para begal masih mematung ditempat semula.

Kemudian beliau membangunkan para begal dengan menyentuh pundaknya. Mereka para begal akhirnya bertaubat dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi, mereka kembali menjadi petani hidup wajar pada umumnya. Itulah kisah Kiai Amin Halim yang diceritakan oleh banyak santri-santri senior dan para alumni Pesantren Mualimin Babakan Ciwaringin Cirebon.

Ada satu kisah lain yang sangat unik atas kesederhanaan Kiai Amin Halim. Suatu ketika beliau sedang mencangkul di sawah selain mengurus pesantren beliau juga bertani sebagaimana umumnya masyarakat Cirebon pada waktu itu. Karena sudah masuk bulan Jumadil Awal maka banyak orang tua yang mengantarkan anaknya untuk mondok ke Pesantren Babakan. Suatu ketika ada keluarga yang tampak bingung seolah mencari suatu alamat pesantren yang mereka tuju ternyata adalah ndalem (rumah) Kiai Amin Halim.

Pada waktu itu Kiai Halim sedang asik mengolah sawah karena akan memulai tandur padi. Keluarga tersebut tidak mengetahui kalau orang yang sedang mencangkul adalah Kiai Amin Halim yang mereka akan sowani. Singkat cerita salah satu orang dari keluarga ini bertanya kepada orang yang sedang mencangkul sawahnya itu dalam bahasa Cirebon. ” Punten mang…, kalau ndalem (tempat tinggal) Kiai Amin Halim teng pundi ya? “Oh… Bade teng griyanipun pa Kiai? Monggo saya antar. ” Kiai Amin Halim yang masih berlumur lumpur mengantar tamunya ke depan rumah kediaman beliau. “Niki griya pa Kiai nipun, monggo ditunggu saja?”jawab petani tersebut. “Matur suwun mang?” Jawab tamu yang akan mengantarkan anaknya mesanten itu. “Punten niki mang sekedar ucapan terima kasih.” Tamu tersebut nampak memberikan uang sebagai bentuk balas jasa karena sudah mengantar. “Oh…mboten… Mboten nopo nopo, ga usah” Balas petani menolak secara halus pemberian tamu.

Sambil pergi mengitari rumahnya dari belakang. Setelah bersuci membersihkan diri dan berganti baju petani yang merupakan Kiai Amin Halim ini akhirnya menemui tamunya dari dalam ndalem. Berapa kagetnya sang tamu kalau Kiai Amin Halim yang akan menjadi guru anaknya adalah petani yang mengantarkan tadi sampai ke rumah. Namun Kiai Amin menenangkan, kemudian menanyakan maksud kedatangan tamunya, Kiai Amin Halim tetap menghormati tamunya tanpa rasa sungkan.

Penggalan kisah ketawaduan Kiai Amin Halim tersebut adalah bentuk kearifan etika sosial yang lebih mengedepankan sikap dan akhlakul karimah seorang Kiai.Wallahualam.

(Diambil dari cerita santri dan alumni Pesantren Mualimin-Mualimat Babakan Ciwaringin Cirebon)

Haflatul Wada’ Penasehat Pergunu kota Depok Pergi Haji

Haflatul Wada' Penasehat Pergunu kota Depok Pergi Haji - WhatsApp Image 2019 07 21 at 11 - Haflatul Wada’ Penasehat Pergunu kota Depok Pergi Haji

Depok (21/7/19)-Haflatul Wada’ (acara pamitan) atas keberangkatan Dr. KH. Muhammad Yusuf Hidayat. MA, beliau adalah salah satu Penasehat Ikatan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Kota Depok, Dai muda di Kota Depok yang sangat produktif, puluhan buku karya beliau sudah beredar dan menjadi banyak rujukan referensi para pencari Ilmu, baik kalangan Santri maupun tingkat Mahasiswa, dan juga beliau sebagai Dosen di beberapa Universitas, sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Al Tibyan.

Beliau juga kerap mengisi pengajian-pengajian di banyak Majlis Talim di Jabodetabek, dan rutin mengisi tausyiah di Majlis Al Habib Abubakar bin Hasan Alattas Azzabidi, tahan baru Depok, yang biasa dihadiri ribuan jamaah pengajian.

Keberangkatan beliau ke tanah suci Makkah Al Mukarromah insya Allah pada tanggal 25 Juli 2019, acara yang berlangsung di kediaman beliau tepatnya di Pondok Pesantren At Tibyan Jl Cadas Pitara, Pancoran Mas kota Depok, dihadiri oleh ratusan santri dan murid beliau dari berbagai kalangan, juga para Asatidz dan tokoh kota Depok.

Diisi Tausyiah oleh Drs. KH. Ahmad Mukhtar AR, dan doa langsung dibawakan oleh Abuya KH. Abdurrahman Nawi, seorang Ulama sepuh dan tokoh Kharismatik di Jabodetabek yang juga guru Doktor Yusuf Hidayat, pendiri Pondok Pesantren Al Awwabin.

Acara yang berlangsung sejak pagi hari pukul 06.00 WIB di awali dengan pembacaan Dzikir Tahlil Tawassul dan pembacaan Riwayat Maulid Nabi Muhammad SAW diiringi tabuhan Hadroh Santri-santri beliau, hingga selesai berjalan dengan lancar dan khidmat.

Haflatul Wada' Penasehat Pergunu kota Depok Pergi Haji - WhatsApp Image 2019 07 21 at 11 - Haflatul Wada’ Penasehat Pergunu kota Depok Pergi Haji

Ust Yusuf dalam sambutanya seraya memohon maaf dan terimakasih yang seluasnya atas kehadiran dan doa yang dipanjatkan bersama-sama, kepada seluruh hadirin, dan memohon doa agar ibadah hajinya dilancarkan dan mendapat haji yang Mabrur, ujar beliau yang juga sebagai pendiri Brigade Aswaja kota Depok ini.

HTI dan Guyonan Gus Dur

HTI dan Guyonan Gus Dur - gusdur2 600x403 - HTI dan Guyonan Gus Dur

Ayik Heriansyah

Tadinya saya berpikir, “Ya sudahlah. HTI tidak perlu diladeni. Kan mereka sudah menjadi ormas terlarang. Kita tinggal nunggu berita viral aparat menangkap tokoh-tokoh mereka.” Apalagi saya sudah sangat paham HTI, teori dan praktik, lahir dan batin. Saya tahu persis isi hati HTI yang paling dalam. Tentang kitab-kitab resmi (mutabanat), saya mendapatkan ijazah dari Mu’tamad/Mas’ul ‘Am (Ketua Umum HTI) untuk mengajarkannya.

Tapi ternyata, kegiatan HTI tanpa nama HTI (pakai nama samaran) membuat masyarakat sadar akan hakikat HTI yang sesungguhnya. Publik menyimak polemik dan perang opini antara kader-kader NU melawan HTI. Sementara ini publik tidak berpihak ke HTI. Belum ada ormas, ulama dan tokoh umat yang menyatakan siap pasang badan seandainya kader-kader HTI diciduk polisi. Bagi penggiat diskusi yang berminat pada isu-isu politik kontemporer dan pemikiran Islam memiliki, narasi-narasi basi HTI dijadikan bahan untuk memperluas spektrum tentang Khilafah yang akan memperkaya wawasan seputar pemikiran politik Islam.

Seperti guyonan Gus Dur, orang Indonesia itu apa yang dibicarakan berbeda dengan apa yang dikerjakan, HTI persis itu. Ulama-ulama HTI muter-muter membahas dalil-dalil tentang Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah, merujuk maqalat ulama aswaja tentang Khilafah, memperlihatkan indahnya persatuan umat di masa Khilafah, menyampaikan tingginya peradaban Islam di masa Khilafah Umayyah dan Abbasiyah, menjadikan penaklukan kota Konstantinopel sebagai bukti kehebatan Khilafah, dan sebagainya.

Semua itu hanya narasi-narasi bodong yang tidak ada hubungannya dengan Khilafah yang sedang diperjuangkan HTI karena khilafah yang diperjuangkan HTI merupakan Khilafah Tahririyah ‘ala Minhajin Nabhaniyah yakni suatu konsep negara versi Hizbut Tahrir hasil konstruksi pemikiran (ijtihad) Taqiyuddin an-Nabhani. Pilar-pilar dari Khilafah Tahririyah adalah 1). Khilafah didirikan dengan cara kudeta (thalabun nushrah) oleh dewan jenderal. 2). Amir Hizbut Tahrir adalah calon Khalifah yang menerima penyerahan kekuasaan dari dewan jenderal. 3). Undang-undang Dasar (UUD) yang disusun Amir Hizbut Tahrir menjadi konstitusi negara.

Dari tiga pilar ini, jelas sekali perbedaan antara Khilafah Tahririyah dengan Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah tepatnya pada masa Khulafaur Rasyidin: Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Pada Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah, seorang Khalifah dibai’at setelah dilakukan musyawarah (pemilihan) yang dilakukan bebas tanpa paksaan (ridla wal ikhtiar). Meskipun cara dan teknis (uslub) musyawarahnya berbeda-beda, keempat Khalifah tersebut mendapat mandat kekuasaan setelah ada pemilihan dan mendapat suara mayoritas. Artinya bai’at adalah sebab dan tanda penyerahan mandat kekuasaan dari umat kepada calon Khalifah untuk menjadi Khalifah.

Bertolak belakang dengan hal tersebut, HTI meyakini penyerahan kekuasaan dari dewan jenderal binaan HTI (setelah berhasil mengambil kekuasaan dari penguasa sebelumnya) kepada Amir Hizbut Tahrir sebagai metode baku. Metode ini telah menghilangkan proses musyawarah (pemilihan). Tidak terjadi penyerahan mandat dari umat kepada calon Khalifah secara sukarela. HTI secara sepihak menetapkan Amir mereka sebagai Khalifah kemudian meminta umat membai’atnya di bawah bayang-bayang todongan senjata dari pasukan yang dipegang masing-masing jenderal anggota dewan jenderal. Skenario HTI ini persis yang dilakukan Mu’awiyah ketika meminta bai’at kepada umat atas ke-Khalifah-an anaknya, Yazid.

Pada masa Khulafaur Rasyidin semua Khalifah tidak pernah mencalonkan diri sebelumnya. Mereka tidak membentuk tim sukses apalagi partai politik agar menjadi Khalifah. Mereka juga tidak melakukan kampanye agar dipilih menjadi Khalifah. Lain halnya dengan HTI. HTI sebagai partai politik sekaligus tim sukses agar Amir mereka menjadi Khalifah. Mereka juga melakukan serangan-serangan opini untuk mendelegitimasi pemerintah pada saat yang sama melakukan infiltrasi ke tubuh TNI-Polri dalam rangka mendapat dukungan dan perlindungan serta mencari jalan meraih kekuasaan. Apa yang dilakukan oleh HTI ini mirip dengan gerakan politik al-Saffah ketika meruntuhkan Khilafah Umayyah lalu mendirikan Khilafah Abbasiyah di atas puing-puingnya.

Khilafah Tahririyah juga berbeda dengan Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah dari sisi penetapan Amir Hizbut Tahrir sebagai Khalifah dan Undang-undang Dasar susunannya sebagai konstitusi negara oleh HTI. Penetapan ini memang hak HTI namun ini penetapan sepihak. Penetapan sepihak yang pernah dilakukan oleh kaum Anshor ketika mereka menetapkan figure terbaik mereka yakni Saad bin Ubadah sebagai khalifah pengganti Rasulullah Saw.

Penetapan ini dianulir oleh Umar bin Khaththab. Para sahabat dari Anshor dan Muhajirin yang berkumpul di Saqifah Bani Saidah menerima sikap Umar tersebut. Kemudian mereka memilih ulang Khalifah yang akhirnya terpilih Abu Bakar. Abu Bakar meskipun sahabat terbaik Nabi Saw tapi tidak pernah ditetapkan oleh Nabi Saw sebagai khalifah pengganti Beliau Saw. Khulafaur Rasyidin dalam mengatur urusan umat berdasarkan ijtihad politik yang mereka duga kuat benar. Mereka tidak merancang Undang-undang Dasar negera Khilafah layaknya Hizbut Tahrir.

Khilafah Tahririyah dengan Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah sangat berbeda bahkan bertolak belakang. Dari metode perjuangan HTI mirip dengan al-Saffah ketika mendirikan Khilafah Abbasiyah. Sedangkan dari aspek bai’at, HTI seperti Khilafah Umayyah. Jadi narasi-narasi yang diviralkan oleh kader-kader HTI seputar Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah hanya pepesan kosong. Guyon Gur Dur: “orang Indonesia itu apa yang dibicarakan berbeda dengan apa yang dikerjakan.” Lahul Fatihah…

Bandung, 21 Juli 2019

Pengurus LD PWNU Jabar. Ketua LTN NU Kota Bandung

Peresmian Kantor MWC NU Cimanggung Dibanjiri Ucapan Selamat

Peresmian Kantor MWC NU Cimanggung Dibanjiri Ucapan Selamat - WhatsApp Image 2019 07 21 at 3 - Peresmian Kantor MWC NU Cimanggung Dibanjiri Ucapan Selamat

Sumedang, LTN NU – Sebelum acara di mulai, seluruh peserta sudah hadir memenuhi lokasi yang bertempat di perum Griya Sampurna Cimanggung. Peserta yang hadir meliputi semua elemen banom Nahdlatul ulama.

Peresmian kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) ini, di hadiri oleh ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa barat, K.H Hasan Nuri Hidayatulloh, ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) sumedang KH. Sa’dulloh SQ. M.MP.d.

KH. Hasan Nuri Hidayatulloh meresmikan kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) kecamatan Cimanggung tepatnya di perum Griya Sampurna. Sabtu (20/7) di awali dengan pelepasan balon, gunting pita oleh kabag kesra kabupaten Sumedang, H. Agus.

Untaian kata Ucapan selamat pun langsung membanjiri Majelis wakil cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) kecamatan cimanggung. Dengan penuh kegembiraan dan tepuk tangan yang sangat meriah.

Kantor Majelis wakil cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Cimanngung ini di bangun dua tingakat, dengan desain era zaman sekarang. Di lantai atas kita bisa melihat pemandangan yang sangat indah. Karena, kantor berletak di dataran tinggi.

“Majelis wakil cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) di kabupatan Sumedang hanya baru dua kecamatan yang sudah memiliki kantor, yaitu Majelis wakil cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) kecamatan Tanjungkerta dan yang saat ini baru saja di resmikan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) kecamatan cimanggung. Untuk Pembangunan kantor MWCNU selanjutnya yaitu insya Allah kecamatan Tanjungsari, karena pada waktu itu saya berbincang sama manajer persib Bandung, H. Umuh mukhtar.” Ujar KH. Sa’dulloh.

Sekertaris Majelis wakil cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) kecamatan cimanggung ‘Effendi berharap ” Mudah-mudahan dengan adanya kantor (MWCNU) kecanatan cimanggung menjadi wasilah kebangkitan Nahdlatul Ulama, bagi struktural maupun kultural ada ikatan jalinan benang Nahdlatul Ulama untuk Hubbul wathon minal iman (menjaga NKRI).”

“Atas nama panitia sangat berterimakasih kepada para pengurus wakil cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) se kabupaten sumedang, sekaligus ketua Pengurus wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) jawa barat dan ketua pengurus cabang Nahdlatul ulama (PCNU) beserta para banom banom yang ada di (PCNU) terimakasih atas kehadiran nya, dan terimakasih atas dorong do’anya, karna tanpa ada dorongan dan do’a dari semua elemen yang ada tidak akan terwujud” Ujar effendi. (Helmi)

Bersama ISBI, Pergunu Jabar Tangkal Radikalisme Melalui Seni Musik

Bersama ISBI, Pergunu Jabar  Tangkal Radikalisme Melalui Seni Musik - WhatsApp Image 2019 07 20 at 9 - Bersama ISBI, Pergunu Jabar  Tangkal Radikalisme Melalui Seni Musik

Bandung, Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Barat kerjasama dengan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) menyelenggarakan workshop dan pelatihan Seni musik islami bagi guru dan siswa se-Jawa Barat di Kantor PWNU Jawa Barat Jl. Terusan Galungung No. 9 Bandung. (20/07/2019).

Turut hadir pada kesempatan tersebut Ketua Pergunu Jawa Barat H Saepuloh, dan Wakil Rosi PWNU Jawa Barat H Imron Rosyadi.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Pergunu Jawa Barat H Saepuloh menjelaskan bahwa virus intoleransi dan radikalisme sudah masuk ke lembaga pendidikan, khususnya di Jawa Barat.

“Masifnya penyebaran paham radikal melalui lembaga pendidikan tentu sangat berbahaya bagi masa depan bangsa ini karena anak-anak saat ini yang akan meneruskan estafet kepemimpinan di masa depan” tutur Saepuloh

Lebih lanjut, Saepuloh ini menjelaskan dengan kegiatan workshop dan pelatihan seni musik islami ini bisa berkontribusi untuk menangkal radikalisme di lembaga pendidikan, khusunya anak-anak sekolah melalui Seni musik.

“Inti dari kegiatan ini adalah memberikan pemahaman dan keterampilan seni musik islami kepada guru-guru SMP/MTs Se-Bandung Raya dengan harapan mereka bisa merealisasikanya kepada siswa-siswi di sekolah, sehingga seluruh siswa menyadari, memahami dan mengaplikasikan seni musik islami di sekolahnya masing-masing, dengan harapan tercapai pola hidup yang damai dan indah” tutur Saepuloh

Sementar itu, Rais PWNU Jawa Barat H Imron Rosyadi menjelaskan bahwa radikalisme agama ini “disebabkan agama hanya dimaknai secara tekstual tampa melihat dan menghayati secara kontekstual, sehingga yang muncul adalah panatisme brutal” tutur H Imron yang merupakan Bupati Cirebon

Lebih lanjut, H Imron berharap agar dengan pelatihan ini, guru-guru diharapkan dapat memahami agama secara kontekstual dengan menggunakan musik dan instrumennya sehingga melahirkan pemahaman keagamaan yang konfrahensif integral dan universal.

“Musik haruslah menjadi pelembut hati penyegar rohani yang bisa mengembangkan islam keseantero alam minimal di nusantara” tutur Ketua DPC PDIP Kab Cirebon

Narasumber pada kegiatan tersebut adalah Dr. Moh. Yusuf Wiradireja, S. Karena., M.Hum., dan Neneng Yanti Hozanatulahpan. Ph.D. yang merupakan dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI).

KH. Abbas: Waspada Neo Wahabi

KH. Abbas: Waspada Neo Wahabi - IMG 20190721 WA0024 - KH. Abbas: Waspada Neo Wahabi

Pengasuh Pondok Pesantren Buntet  Cirebon KH. Muhammad Abbas Billy Yachsyi Fuad Hasyim memperingatkan kita agar waspada terhadap Neo Wahabi yang berkedok Ahlussunnah Waljama’ah, hal tersebut disampaikan dalam acara haul KH. A. Muhammad Ishaq bin Syaikh KH. A. Muhammad Umar Bashri ke 70 dan KH. A. Muhammad bin Syaikh KH. A. Muhammad Umar Bashri ke 13 di Pondok Pesantren Fauzan Sukaresmi-Garut. (21/7)

Dalam tausyiahnya, KH. Abbas menjelaskan bahwa “Wahabi membiaskan dirinya dengan membuat nama pesantren, madrasah, sekolah dan lain-lain dengan nama yang lazim digunakan oleh warga Nahdliyyin pada umumnya. Hanya saja, kurikulum dan muatan yang mereka sampaikan berfaham Wahabi.” Tandasnya

“Jika dikaitkan dengan nilai-nilai dasar agama islam, sejarah manusia pertama sekaligus nenek moyang manusia, yakni Nabi Adam AS, mendapatkan perintah mengamalkan tiga syariat islam, pertama yaitu menikah, kedua dilarang merusak alam, dan ketiga meneteskan darah.” Pungkasnya

Wahabi mengajarkan untuk saling membunuh jika tidak sepaham dengan mereka, karena yang tidak sepaham dengan mereka dianggap toghut, bahkan tidak tanggung-tanggung dianggap kafir yang halal darahnya. Jadi sangat aneh jika agama kita mendidik kita seperti karena tidak sesuai nilai-nilai luhur agama islam itu sendiri.

KH. Abbas pun menjelaskan makna dari tanah Haram di Arab Saudi, menurut beliau “tanah haram merupakan tanah yang tidak boleh meneteskan darah. Jangankan darah manusia, darah hewan pun tidak boleh. Sehingga bagi muslim yang sedang ihram dilarang untuk membunuh nyamuk sekalipun, juga dilarang merusak alam walaupun itu adalah rerumputan.” Tuturnya.

Hal tersebut sejalan dengas tugas Nabi Adam AS, jadi jika ada yang memiliki faham menghalalkan darah atas nama agama maupun atas nama apapun, hal tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai agama islam yang kita anut. Hal tersebut ditegaskan oleh Gus Abbas sebagai pengkhianat.

Beliau juga berpesan agar “masyarakat harus masuk kedalam NU atau kembali ke NU, dan memahami NU secara holistik (menyeluruh), karena tidak sedikit kyai, santri, masyarakat yang mengaku NU, walaupun secara keseharian mengamalkan dzikir, shalawat, qunut, dan lainnya. Namun harakah (gerakan) dan fikrahnya (pemikiran) bertentangan dengan NU. Sehingga Allah akan mencabut keberkahannya dan disatukan dengan pengkhianat.” Tutupnya

Terlihat dalam acara tersebut Kabag Yansos Pemprov. Jawa Barat Sufri, Camat Kecamatan Sukaresmi Drs. Heri Hermawan, Camat Bayongbong Santari, S.Sos., M.Si., Kapolsek Kec. Cisurupan Iptu Tito Bintoro, Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatul Faizin sekaligus mustasyar PWNU Jawa Barat KH. Aceng Mimar Hidayat, wakil ketua PWNU Jawa Barat KH. A. Abdul Mujib, MAg., Pengurus PCNU Kab. Garut, Ratusan Ajengan, Pimpinan Pesantren dan ribuan masyarakat yang dengan khidmat mengikuti acara haul sampai akhir.