20.5 C
Bandung
Thursday, May 26, 2022

Sebuah perkumpulan yang tak memiliki media, sama dengan perkumpulan buta tuli - KH Abdul Wahab Chasbullah

Must read

Ayik Heriansyah
Penulis artikel produktif yang sering dijadikan rujukan di berbagai media massa, pemerhati pergerakkan Islam transnasional, khususnya HTI yang sempat bergabung dengannya sebelum kembali ke harakah Nahdlatul Ulama. Kini aktif sebagai anggota LTN di PCNU Kota Bandung dan LDNU PWNU Jawa Barat.

ABAIKAN ADAB DAN AKHLAK, HTI PLINTIR MAKNA KHILAFAH MENJADI KHILAFAH TAHRIRIYAH

Oleh Ayik Heriansyah
Pengurus LD PWNU Jabar

Tujuan asatidz Hizbut Tahrir di Indonesia (HTI) mengutip isi kitab para ulama yang populer di kalangan pesantren dengan sebutan kitab kuning, semata-mata untuk “membenarkan” kekeliruan pemikiran yang kadung mereka adopsi terkait Khilafah Tahririyah. Mereka ingin meyakinkan dirinya dan orang lain bahwa Khilafah Tahririyah yang mereka perjuangkan, itu benar karena pernah disinggung oleh para ulama non-Hizbut Tahrir. Sehingga para ulama, kiai, ustadz dan santri harus bersama mereka memperjuangkan Khilafah Tahririyah.

Memang benar, para ulama membahas tentang khilafah/imamah di dalam kitab-kitab mereka. Tetapi mereka bukan sedang membicarakan Khilafah Tahririyah seperti yang sedang diperjuangkan HTI. Mereka menulis kitab jauh sebelum Hizbut Tahrir berdiri (1953). Mereka tidak mengenal Hizbut Tahrir. Jadi, tidak masuk akal kalau setiap pembahasan tentang khilafah/imamah di dalam kitab kuning maksudnya Khilafah Tahririyah yang sedang diperjuangkan HTI.

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest article