The news is by your side.

Dewasa dalam Pergaulan

Dewasa dalam Pergaulan | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa BaratKedewasaan dalam bertindak di lingkungan sosial pergaulan, dan bermasyarakat, memerlukan yang namanya kontrol diri.

Kontrol diri adalah salah satu bentuk kecerdasan kepribadian, dimana satu orang dengan lainnya, cenderung berbeda, sehingga menimbulkan ke khasannya secara pribadi.

Dan itulah yang menjadikan ciri khusus baginya.
Yang menjadi ciri unik, yang identik dari seseorang itu.

Dimana ciri khusus, unik inilah yang akan melahirkan karakter dirinya, julukannya, dan sebutan, atau istilah pada panggilan dari orang tersebut, di masyarakat dilingkungan pergaulannya.

Seperti halnya Nabi kita Muhammad SAW, ia memiliki integritas yang terpercaya dari kecil, dalam lingkungan pergaulan sosial di masyarakat Mekkah.

Di mana ia merupakan fenomena kota Mekkah saat itu, sampai akhirnya, semua orang mengenali ke khasan kepribadiannya, yang merupakan capaian dari kwalitas diri yang terjaga.

Hingga semua orang baik yang menyukainya, maupun yang tidak, mereka sepakat, mereka satu kata, sampai menjuluki Nabi kita dengan sebutan Al Amin, “terpercaya.”

Lalu mengapa Nabi kita bisa di sebut, dan di juluki seperti itu ?

Itulah bentuk dari kecerdasan diri, bentuk dari memahami bagaimana diri ini di cetak oleh kitanya sendiri, sehingga kitapun
bisa menampilkan sosok diri yang paling utama, yang bisa dikenali oleh manusia di sekelilingnya, dan kecerdasan seperti ini lah yang melahirkan jenis pribadi unggul.

Dan keunggulan dari sosok Nabi kita itu, ada pada karakter dan pembawaan dirinya, yang Jujur, dan amanah…Sehingga julukan pada Nabi ini, merupakan ciri khusus, hal yang melekat padanya, dan menjadi ke Khasan pribadinya.
Subhanallah!

Nah lalu bagaimana dengan kita ?

Karakter diri itu menjadi bagian yang terlahir, dan menjadi sebutan seseorang !

Ini bisa di akibatkan dari kesadaran manusia tersebut, karena bekal ilmu dan pemahamannya, hingga ia bisa berpikir mendalam, dewasa, untuk membangun citra reputasi dirinya yang utama…

Bagaimana dengan mereka yang tak berilmu, tak mau berpikir, dan tak bisa mengambil pelajaran, atau tidak bisa membangun citra dirinya sebagai manusia yang harusnya baik ?

Untuk orang semacam ini, ia akan mendapatkan julukannya pula, sebutan yang bisa jadi berbeda, sangat tendensius, yang kebalikannya dari julukan yang baik seperti yang Nabi dapatkan.

“Si celaka !”
Atau ” Si Abu Jahal !”
Yang berarti bapak kebodohan, itu bisa jadi julukan yang di arahkan buat kita ! Pada pribadi kita !

Sungguh miris andai manusia sudah menjuluki kita seperti itu.
Atau julukan apapun, yang istilahnya memojokan kita.
Ini betapa sangat memukul mental kita !

Hadirnya julukan itu pada diri kita, pun di sebabkan tak lain, karena kitanya sendiri !

Perbuatan blunder, dan bodohnya kita yang nampak jelas terbaca oleh yang lainnya, hasil dari perilaku kita yang teramati beda, dan sangat menonjol kenegatifannya…itulah sebab kita terjuluki negatif di mata manusia lainnya.

Kebodohan diri kita, kebebalan pemahaman kita, hingga kita tak tahu diri, tak tahu malu, dan memalukan banyak orang, karena kita tak faham cara berprilaku, dan tak bisa membaca situasi dalam pergaulan sosial kita, ini merupakan kesalahan yang sangat fatal dari manusia yang bodoh.

Sehingga orang lain, merasa risih dengan keberadaannya, dan tak mau dekat dengannya.

Semua keadaan baik dan buruknya sisi kepribadian kita ini, tak lepas dari kapasitas kitanya juga.

Itu di sebabkan, bisa jadi, karena masalah keilmuan.

Karena keilmuan yang sudah kita dapat, yang juga sudah kita fahami, akan membuat kita jadi tahu diri, alim, dan memberi bekal pada kehidupan kita.

Atau karena tak berilmu, hingga kita lepas kontrol, dan tak tahu diri.

Dengan ilmu, dengan pemahaman yang berarti, dan dengan kedewasaan diri berkat pengalaman hidup kita, kita bisa memiliki integritas diri, sebagai manusia yang tahu diri.

Sehingga orang memandang kita sebagai manusia bermanfaat, manusia yang membawa keberkahan, manusia berintegritas.

Kepercayaan seperti ini, harus kita jaga dengan kuat, dan ini sangat membutuhkan kwalitas kepekaan kita, yang bisa membaca suasana kebatinan dalam lingkungan itu sendiri.

Membaca diri kita, apakah memiliki kapasitas sebagai manusia yang tahu diri, akan bisa terlihat dari kontribusi positif kita, dalam sebuah lingkungan di mana kita bergaul penuh disana.

Orang lain akan bisa membaca kepribadian, karakter, dan sikap kita, dari cara…
Bagaimana kita berkecimpung, berinteraksi, dan memberi isi, makna, atau memanfaatkan sesuatu yang ada di dalamnya !

Yang sangat berkaitan dengan pergaulan bersama, dengan semua elemen, di lingkungan sosial, di mana semua saling pengaruh mempengaruhi.

Potensi diri kita merupakan anugrah Allah.
Kredibilitas kita, merupakan harta berharga yang mesti di jaga.

Maka miliki keikhlasan budi, kebaikan sosial, dan ketidaksombongan, saat kita bergaul dalam semua lingkungan yang kita masuki.

Diri kita adalah pencerah, diri kita adalah teladan, diri kita merupakan pembawa keberkahan bagi banyak kalangan.

Maka Syukuri nikmat ilmu yang kita telah dapat, dengan mengaplikasikannya untuk semua tingkatan kehidupan, hingga kita mampu menjadi mata air yang di butuhkan banyak manusia. Dan menjadi teladan kehidupan, aamiin.

Semoga bermanfaat
Bambang Melga Suprayogi M.Sn.

Leave A Reply

Your email address will not be published.