Islam Rutinitas

23

Oleh Gistie Aziz

Islam RutinitasINDRAMAYU – Dalam sebuah diskusi kecil di ruas tepi jalan tol, yang semua orang menamainya rest area, terjadilah komunikasi tentang sebuah rutinitas, pada selasa (18/9) dalam diskusi tersebut budayawan muda Alif Wahyudi yang turut dalam menghantarkan kader muda Nahdlatul Ulama Kabupaten Indramayu menuju seminar kebangsaan di jakarta menuturkan bahwa saat ini banyak sekali orang yang terjebak oleh rutinitas, padahal sesungguhnya ibadah bukan hanya berbicara rutinitas, sehingga orang yang beribadah hanya berdasarkan rutinitas maka ia layak di sebut sebagai penganut islam rutinitas, dan orang yang hanya rajin melaksankan rutinitas tidak akan faham tentang kebutuhan sosial, serta tidak akan mau menyandarkan khasanah islam kepada ijma dan qias Ulama.

Alif Wahyudi menukil dari sejarah Nusantara sebelum Abad ke-10 Masehi, di katakan bahwa Sunan Bonang telah menulis kitab tasawwuf berjudul Suluk Wijil dan juga mendirikan padepokan, yang kelak di sebut pesantren, yakni tempat mendidik para santri dengan keterampilan hidup, mulai fiqih, tauhid hingga theologi, filsafat dan tasawuf. Maka menurut Wahyudi berbicara islam harus sampai akar, bukan hanya sebatas rutinitas
“Ketika seseorang mendalami dimensi batin agama, maka dia akan ‘bertemu’ dengan agama-agama lain. Karena itulah sesungguhnya islam sangat toleran terhadap perbedaan keyakinan, karena islam mengajarkan lebih melihat pada dimensi batin agama” Ucapnya .

Iklan Layanan Masyarakat

Meski dikenal dunia sebagai negara berpenduduk muslim moderat, namun belakangan Indonesia mengalami gelombang pasang intolerance dan ini membuktikan bahwa sudah banyak yang belajar islam hanya berdasarkan rutinitas (yang di butuhkan hanya ibadah-ibadah mahdoh saja) sehingga ketika orang tersebut mampu melakukan sholat, puasa dan zakat, disangkanya sorga sudah berada di sisinya, dan yang lebih ironis orang – orang yang berprilaku islam rutinitas tidak akan segan mengatakan bahkan memfonis bid’ah dholalah kepada siapapun yang berprilaku seperti santri.

GP.ANSOR SINDANG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here