The news is by your side.

MEMAHAMI HADIS DENGAN MELIHAT SETTING HISTORIS MENURUT PEMIKIRAN HADIS KONTEMPORER YUSUF AL QARDHAWI

MEMAHAMI HADIS DENGAN MELIHAT SETTING HISTORIS MENURUT PEMIKIRAN HADIS KONTEMPORER YUSUF AL QARDHAWI | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa Barat

Oleh : Sri Rahayu

Abstrak

Yusuf al Qardhawi adalah seorang ulama yang memberikan metode mememahami hadis Nabi. Salah satu diantaranya ialah metode pendekatan settting historis. Metode ini sangat dibutuhkan dalam melihat sebab atau latar belakang munculnya yang spesifk, memahami hadis dengan memperhatkan tujuan atau hikmah yang dilakukan oleh Nabi, memahami hadis Nabi dengan memperhatikan suatu kebiasaan temporer pada masa Nabi. Proses kontekstualisasi hadis ini memang sangat diperlukan, dikarenakan hadis harus sesuai dengan ajaran islam bahwa islam “sesuai untuk setiap waktu dan tempat”. Oleh karena itu pemikiran hadis menurut Yusuf al Qardhawi ini sangat dibutuhkan di zaman sekarang.

Pendahuluan

Memahami sebuah hadis merupakan persoalan yang sangat penting untuk dibahas, dikarenakan hadis merupakan sumber kedua ajaran islam setelah al quran. Pemikiran mengenai hadis sendiri tidak semarak pemikiran terhadap al quran. Pembahasan yang sering menjadi problem adalah mengenai otensitas hadis itu sendiri. Menghadapi problematika itu, khususnya mengenai konteks kekinian, maka kritik hadis (kritik matan) sangat lah penting. Kritik matan yang dimaksudkan adalah dalam arti mengungkap pemahaman, interpretasi dan penafsiran mengenai isi kandungan matan hadis. Saat ini telah muncul para intelektual muslim seperti Ṣalāḥ al-Din al-Adabi, Mushṭafā al-Siba`i, Muhammad `Ajjaj al-Khāṭib, Muhammad al-Ghazāli, Yusuf al-Qaradhawi, M.M. A’zhami, Fatma Mernissi, M. Syuhudi Ismail dan sebagainya. Pembahasan kali ini akan terfokus pada memahami kandungan matan hadis menurut pandangan Yusuf Al Qardhawi, melalui setting historis.

Biografi Yusuf Al Qardhawi

Yusuf al Qardhawi lahir pada tanggal 9 September 1928 di desa shafat Thurab, Mesir bagian Barat.Yusuf al Qardhawi berasal dari keluarga yang taat agama. Di usia 2 tahun, ayahnya meninggal dunia. Ia pun di asuh oleh pamannya. Ia besar dalam keluarga yang taat pada agama, sehingga ia terdidik dan terbekali oleh ilmu agama dan syariat islam. Di usia 5 tahun, ia mulai menghafal al quran. Ketika usia 10 tahun ia dapat menghafal 30 juz al quran.

Pendidikan pertama dan pendidikan atas Yusuf al Qardhawi secara formal ia selesaikan di Tanta. Saat masih berada di pendidikan tingkat menengah, ia sudah gemar membaca buku-buku karya ulama al Azhar. Setelah lulus dari pendidikan menengah atas ia melanjutkan pendidikannya di Universitas al Azhar, Kairo. Ia mengambil fakultas Ushuluddin sebagai tempat untuk menimba ilmu. Yusuf al Qardhawi dikenal sebagai ahli fiqh. Dalam membahas persoalan-persoalan fqih, ia membebaskan diri dari keterikatan suatu mazhab, tradisi atau pendapat ulama tertentu, meskipun secara formal ia mempelajari mazhab Hanafi. Ia juga sangat terpengaruh dengan cara dan metode pembahasan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Ikhwan al-Muslimin. Setelah menyelesaikan pendidikan program doktornya di al Azhar pada tahun 1973, Yusuf al Qardhawi aktif dalam kegiatan dakwah dan pendidikan.

Karya-karya Yusuf al Qardhawi :

  •  Fatawa Mu’ashirah
  • Al-Khashaish al-Ammah li Al-Islam
  • Fii Fiqhil-Auliyyaat Diraasah Jadiidah Fii Dhau’il-Qur’ani was-Sunnati
  • Al-Fatawa Bainal Indhibath wat Tassyayub.
  • Ghairul Muslimin Fil Mujtama’ Al- Islam.
  • Al-Ijtihad fi Syari’ah al-Islamiyyah.
  • Fiqh al-Zakah dikatakan dari zakat pedagang kaki lima sampai kepada zakat bermodal raksasa dirinci cukup jelas dan diperkuat dengan dalil-dalil.
  • Ash Shahwah Al-Islamiah, Bainal Ikhtilafil Masyru’ wat Tafarruqil Madzmum (Fiqhul Ikhtilaf).
  • Asas al-Fikr al- Hukm al-Islam
  • Al-halal wa al-Haram fi al-Islam (Halal dan Haram dalam Islam)
  • Al-‘Aqlu wal-‘Ilmu fil –Qur’anil-Karim
  • Al-Iman wa al-Hayah (Iman dan Kehidupan).
  • Kaifa Nata’amalu Ma’a As-sunnah An-Nabawiyyah (Bagaimana Memahami Hadits Nabi saw). Buku ini menjelaskan bagaimana berinteraksi dengan hadits Nabi saw. Dan tentang berbagai karekteristik serta ketentuan umum yang sangat esensial guna memahami As-sunnah secara proporsional.
  • As-sunnah Mashdaran li Al-Ma’rifah wa al-Hadharah.
  • Min Ajli Shahwatin Raasyidah Tujaddiduddiin wa Tanhadhu bid- Dunya.(Membangun Masyarakat Baru).
  • Syariat Islam di Tantang Zaman.
  • Al Islam Baina Subhati Adallafin wa Akazibil al Muftarin.
  • Madrasah Imam Hassan al-Banna.
  • Islam Ekstrim.
  • Ash-Shahwah al-Islamiyyah bain al-Amal wa al Mahadir.
  • Ainal Khalal (Di mana Kerusakan Umat Islam).
  • Al- Imam al-Ghazaly baina Madihihi wa Naqidihi
  • Daurul Qiyam wal Akhlaq fil Iqtishadil Islami ( Norma dan Etika ekonomi Islam).

Memahami Hadis Dengan Melihat Setting Historis

Menurut Yusuf al Qardhawi diantara cara cara yang baik untuk memahami hadis Nabi adalah dengan memperhatikan sebab sebab khusus yang melatarbelakangi diucapkannya suatu hadis. Hal ini dapat dicontohkan dengan hadis nabi dibawah ini :
• Hadis larangan menggambar

إنَّ الَّذينَ يصنَعونَ هذِه الصُّوَرَ يعذَّبونَ يومَ القيامةِ ، يقالُ لَهم : أحيوا ما خلقتُمْ

“Orang yang menggambar gambar-gambar ini (gambar makhluk bernyawa), akan diadzab di hari kiamat, dan akan dikatakan kepada mereka: ‘hidupkanlah apa yang kalian buat ini’” (HR. Bukhari dan Muslim).

كلُّ مُصوِّرٍ في النَّارِ ، يُجْعَلُ له بكلِّ صورةٍ صوَّرها نفسٌ فتُعذِّبُه في جهنَّمَ
“Semua tukang gambar (makhluk bernyawa) di neraka, setiap gambar yang ia buat akan diberikan jiwa dan akan mengadzabnya di neraka Jahannam” (HR. Bukhari dan Muslim).

Secara eksplisit, hadis yang terdapat dalam kitab induk memberi pengertian akan larangan melukis makhluk hidup yang bernyawa. Para imam madzhab mengaharamkan seseorang untuk melukis makhluq hidup bernyawa karena kekuatan status yang dimiiliki hadis-hadis ini.Inilah yang menjadi perdebatan hingga saat ini oleh kaum tekstualis dengan kaum kontekstualis. Kaum tekstualis jelas memahami hadis ini secara tekstual dan apa adanya. Mereka sangat menjaga kemurnian teks hadis sehingga interpretasi mereka tidak jaun dari bunyi teks. Berbeda dengan kaum kontekstualis yang kerap kali dalam memahami sebuah hadis memunculkan hukum baru yang berbeda jauh dengan hukum asal bunyi teks. Dalam memahami teks hadis, orang-orang kontekstualis banyak mempertimbangkan ilmu lain seperti asbabul wurud dengan pendekatan ilmu sosiologi, antropologi, bahkan psikologi.

Menurut Yusuf al-Qaradhawi, hadis ini tidak bisa dipahami dari `ibārat an-naṣ (lafazh yang menunjukkan makna (hukum) secara jelas (baik dalam bentuk zhahir, nash, mufassar, dan muhkam atau makna (hukum) nya lansung ditunjuk oleh lafazh itu sendiri), tetapi harus dipahami dari latar belakang atau sebab khusus munculnya hadis. Dalam hadis telah dituliskan bahwa menggambar makhluk hidup itu dilarang oleh agama dengan dasar utama adalah hadis, tetapi kenyataannya dimana-mana terdapat pendidikan seni lukis atau menggambar baik dari kalangan anak-anak atau dewasa, bukan masalah pekerjaan menggambarnya tetapi mereka menggambar makhluk bernyawa seperti hewan dan manusia, padahal semua permasalahan itu untuk mengantisipasi umat agar tidak menyembah kepada gambar dan lukisan.

Melihat setting historis pada zaman Nabi, dahulu kala orang-orang jahiliyah begitu mengagung-agungkan dan menyembah gambar dan patung yang dianggap bisa membawa kemaslahatan bagi mereka, maka pada saat itu Nabi melarang pembuatan dan pemajangan lukisan makhluk bernyawa (yakni manusia dan hewan). Maka tidak mengherankan bila pemahaman secara tekstual cukup banyak pendukungnya, khususnya pada zaman klasik. Dengan demikian dapat dipahami latar belakang yang menjadikan para pelukis zaman klasik mengarahkan karya-karya lukis mereka ke dalam bentuk kaligrafi dan obyek tumbuh-tumbuhan.

Kesimpulan

Yusuf al Qardhawi merupakan seorang ulama yang memahami hadis dengan melihat setting historis sebuah matan hadis. Dengan menggunakan metode pendekatan historis dapat menjadikan pelaksanaan aturan agama lebih fleksibel, namun hal ini juga harus dilakukan dengan hati-hati. Pendekatan historis sendiri dapat diliat dari latar belakang adanya hadis tersebut, tujuan atau hikmah dan melihat kebiasaan temporer pada masa Nabi.

Daftar Pustaka

Alisriani, W. “Biografi Yusuf Al-Qardhawi.” Makalah UIN-Suska, 2016, 38.
Hamzah, Ghufron. “Reinterpretasi Hadis Larangan Melukis Dan Larangan Perempuan Bepergian Tanpa Mahram.” Jurnal Iqtisad: Reconstruction of Justice and Welfare for Indonesia 6, no. 1 (2019): 73–92.
Suryadi, Suryadi. “Pentingnya Memahami Hadis Dengan Mempertimbangkan Setting Historis Perspektif Yūsuf Al-Qaraḍawī.” Jurnal Living Hadis 1, no. 1 (2016): 29. https://doi.org/10.14421/livinghadis.2016.1067.
Ul-Haq, Muhammad zia. “Perancangan Komik Serba-Serbi Hukum Menggambar Dalam Islam,” 2017. http://dx.doi.org/10.1016/j.chb.2016.05.008.

Penulis
Sri Rahayu
Leave A Reply

Your email address will not be published.