Mengapa Ulama Berbeda Pendapat ?

56

Di antara sekian banyak “asbab al-ikhtilaf” para ulama, saya kutipkan sebagiannya:

  1. Perbedaan dalam memahami al-Qur’an

Al-Qur’an adalah pegangan pertama semua Imam Mazhab dan ulama. Hanya saja mereka seringkali berbeda dalam memahaminya, disebabkan:

a. Ada sebagian lafaz al-Qur’an yang mengandung lebih dari satu arti (musytarak). Contoh lafaz “quru” dalam QS 2: 228. Sebagian mengartikan dengan “suci”; dan sebagian lagi mengartikan dengan “haid”. Akibat perbedaan lafaz “quru” ini, sebagian sahabat (Ibnu Mas’ud dan Umar) memandang bahwa manakala perempuan itu sudah mandi dari haidnya yg ketiga, maka baru selesai iddahnya. Zaid bin Tsabit, sahabat nabi yg lain, memandang bahwa dengan datangnya masa haid yang ketiga perempuan itu selesai haidnya (meskipun belum mandi). Lihatlah, bahkan para sahabat Nabi pun berbeda pendapat dalam hal ini. Ada ulama yang berpendapat bahwa tampaknya Allah sengaja memilih kata “quru’” sehingga kita bisa menggunakan akal kita untuk memahaminya. Soalnya, kalau Allah mau menghilangkan perbedaan pendapat tentu saja Allah dapat memilih kata yang pasti saja, apakah suci atau haid. Ternyata Allah memilih kata “quru” yang mngandung dua arti secara bahasa Arab.

b. Susunan ayat Al-Qur’an membuka peluang terjadinya perbedaan pendapat Huruf “fa”, “waw”, “aw”, “illa”, “hatta” dan lainnya mengandung banyak fungsi tergantung konteksnya. Sebagai contoh, huruf “FA” dalam QS 2:226-227 mengandung dua fungsi. Sebagian memandang huruf “FA” itu berfungsi “li tartib dzikri” (susunan dalam tutur kata). Sebagian lagi berpendapat bahwa huruf “FA” dalam ayat di atas berfungsi “li tartib haqiqi” (susunan menurut kenyataan). Walhasil kelompok pertama berpendapat bahwa suami setelah ‘ila (melakukan sumpah untuk tidak campur dengan isteri), harus campur dengan isteri sebelum empat bulan, kalau sudah lewat empat bulan maka jatuh talak. Kelompok kedua berpendapat bahwa tuntutan supaya campur dengan isteri (untuk menghindari jatuhnya talaq) itu setelah lewat empat bulan.

c. Perbedaan memandang lafaz ‘am – khas, mujmal-mubayyan, mutlak-muqayyad, dan nasikh-mansukh. Lafaz al-Qur’an adakalanya mengandung makna umum (‘am) sehingga membutuhkan ayat atau hadis untuk mengkhususkan maknanya. Kadang kala tak ditemui qarinah (atau petunjuk) untuk mengkhususkannya, bahkan ditemui (misalnya setelah melacak asbabun nuzulnya) bahwa lafaz itu memang am tapi ternyata yang dimaksud adalah khusus (lafzh ‘am yuradu bihi al-khushush). Boleh jadi sebaliknya, lafaznya umum tapi yang dimaksud adalah khusus (lafzh khas yuradu bihi al-‘umum). Contoh yang pertama, Qs at-Taubah ayat 103 terdapat kata “amwal” (harta) akan tetapi tidak semua harta terkena kewajiban zakat (makna umum harta telah dikhususkan kedalam beberapa jenis harta saja). Contoh yang kedua, dalam QS al-Isra: 23 disebutkan larangan untuk mengucapkan “ah” pada kedua orangtua. Kekhususan untuk mengucapkan “ah” itu diumumkan bahwa perbuatan lain yang juga menyakiti orang tua termasuk ke dalam larangan ini (misalnya memukul, dan sebagainya).

Nah, persoalannya, dalam kasus lain para ulama berbeda memandang satu ayat sbb:

  • lafaz umum dan memang maksudnya untuk umum, atau
  • lafaz umum tetapi maksudnya untuk khusus; dan
  • lafaz khusus dan memang maksudnya khusus; atau
  • lafaz khusus tetapi maksudnya umum.

Begitu juga perbedaan soal mujmal-mubayyan, mutlak-muqayyad, nasikh-mansukh, para ulama memiliki kaidah yang mereka ambil dalam rangka untuk memahaminya (saya khawatir pembahasan ini malah menjadi sangat tekhnis, karena itu untuk jelasnya silahkan merujuk ke buku-buku ushul al-fiqh).

d. Perbedaan dalam memahami lafaz perintah dan larangan. Ketika ada suatu lafaz berbentuk “amr” (perintah) para ulama mengambil tiga kemungkinan:

  • al-aslu fil amri lil wujub (dasar “perintah” itu adalah wajib untuk dilakukan)
  • al-aslu fil amri li an-nadab (dasar “perintah” itu adalah sunnah untuk dilakukan)
  • al-aslu fil amri lil ibahah (dasar “perintah” itu adalah mubah untuk dilakukan)

    Contohnya lafaz “kulluu wasyrabuu” (makan dan minumlah) menggunakan bentuk perintah, tetapi yang dimaksud adalah mubah. Lafaz “fankihuu maa thaba lakum minn nisa‘” (nikahilah wanita-wanita yg kamu sukai) juga menggunakan bentuk perintah. Nah, para ulama ada yg memandang bahwa itu adalah wajib (mazhab Zhahiri), dan ada yg memandang sunnah (jumhur ulama).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here