The news is by your side.

Najwa Shihab: Perempuan Inspiratif

M. Ihsan Khoironi – Najwa Shihab lahir pada tanggal 16 September 1977 di Makassar. Najwa Shihab merupakan putri kedua dari cendekiawan muslim, ulama terkemuka sekaligus mantan Menteri Agama Republik Indonesia pada masa Pemerintahan Soeharto yaitu Quraisy Shihab. Menurut sang ayah, nama Najwa Shihab ini bisa diartikan sebagai seseorang yang pandai bercakap, mudah memahami, dan cerdas saat berinteraksi dengan orang lain.

Keluarga Najwa Shihab merupakan keturunan Arab Quraisy-Bugis yang merupakan keturunan Rasulullah dari marga Shihab. Adapun marga Arab yang merupakan keturunan dari Rasulullah tercatat ada 100 marga, termasuk keluarga Najwa Shihab. Najwa shihab menikah dengan Ibrahim Sjarief Assegaf pada tahun 1997 yang mana Ibrahim Sjarief Assegaf ini juga merupakan keturunan Rasulullah. Dari pernikahan tersebut pasangan ini kemudian dikarunia dua orang anak, yakni satu anak laki-laki dan satu anak perempuan.

Najwa kecil menempuh pendidikan Sekolah Dasar di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Hidayah pada tahun 1984 sampai 1990, dan melanjutkannya ke SMP Al-Ikhlas Jeruk Purut Jakarta Selatan yang kemudian lulus pada tahun 1993. Najwa kemudian memilih melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri 6 Jakarta dan berhasil mendapat kesempatan untuk belajar di luar negeri melalui program American Field Service (AFS) berkat kecerdasan yang dimilikinya.

Program AFS merupakan program pertukaran pelajar ke Amerika Serikat yang diselenggarakan langsung oleh Yayasan Bina Antarbudaya. Hidup dikeluarga yang menomorsatukan pendidikan membuat Najwa berani menerima kesempatan tersebut bahkan saat usianya masih 16 tahun.

Setelah lulus SMA, Najwa kembali ke tanah air dan mengikuti jalur seleksi Penelusuran Minat dan Bakat (PMDK) dan berhasil diterima di Universitas Indonesia. Dengan begitu Najwa resmi menjadi mahasiswa jurusan Hukum Universitas Indonesia angkatan 1996 yang kemudian menyelesaikan studinya pada tahun 2000. Najwa shihab menjadi salah satu dari 10 orang lulusan terbaik kampusnya.

Setelah lulus dari Universitas Indonesia, Najwa memulai kariernya sebagai seorang jurnalis yang pada akhirnya membuat dirinya jatuh hati pada dunia jurnalistik dan menjadi jurnalis kondang tanah air. Saat masih menjadi mahasiswa S1, najwa sempat magang di DIVISI berita stasiun tv RCTI, baginya ini adalah pengalaman baru karena ia sendiri berasal dari jurusan Hukum. Pada 2008, Najwa mendapatkan tawaran beasiswa Magister dari pemerintah Australia yang membuatnya memutuskan untuk melanjutkan studinya S2 di Melbourne Law School dan mengambil jurusan Hukum Media.

Setelah lulus kuliah, Najwa kembali menjadi reporter lapangan yang melakukan peliputan langsung dan memberikan informasi kepada masyarakat terkait dengan berita-berita terkini di Metro TV. Setelah beberapa tahun menjadi reporter lapangan, Najwa kemudian diangkat menjadi pembawa acara prime time. Takjub dengan pembawaan dan dedikasinya, pihak Metro TV kemudian menawarkan Najwa membawakan sebuah acara berjudul “ Mata Najwa “. Mata Najwa berhasil mendapat atensi publik dan mendapat banyak simpati dari masyarakat Indonesia. Salah satu kunci suksesnya acara ini berasal dari riset yang mendalam yang dilakukan Najwa bersama timnya dalam mengorek informasi terkait suatu isu. Juga karena ciri khas yang dimiliki seorang Najwa Shihab. Najwa juga mengaku bahwa acara Mata Najwa berhasil membawanya bertemu dengan banyak tokoh inspiratif dari berbagai kalangan mulai dari politik, musisi, pelawak, olahragawan hingga masyarakat sipil.

Najwa Shihab juga kerap kali membawa isu-isu sosial di media sosialnya, salah satu isu yang cukup ramai dan menjadi sorotan adalah isu tentang perempuan. Menurutnya seorang perempuan seharusnya mengetahui potensi diri dan berani menunjukkannya, ia juga berpendapat bahwa sebagai sesama perempuan harus saling mendukung satu sama lain atau membentuk jaringan yang solid antar sesama perempuan. Najwa juga kerap kali membicarakan tentang kesetaraan gender dalam beberapa acara yang dibintanginya.

Najwa menyadari adanya tantangan yang berbeda dalam mengupayakan kesetaraan gender, “Sekali lagi, kerap menimpa banyak perempuan, prestasi kerja tidak dilihat, tapi kehidupan pribadi diteliti, discrutinize habis-habisan” begitu ungkapnya. Najwa bahkan pernah melakukan studi kasus dan menemukan banyak perempuan yang takut akan kesuksesan mereka, mereka bahkan merasa harus meminta maaf karena kesuksesan mereka bisa dilihat sebagai ancaman, mereka bahkan beranggapan tidak boleh punya ambisi karena melanggar tradisi.

Dengan begitu Najwa mengajak perempuan untuk bekerja, ia juga ingin membuktikan bahwa perempuan juga bisa menjadi pemimpin. Najwa ingin menunjukkan kepada publik akan idealisme dan nilai kesetaraan bagi perempuan. Najwa menyadari bahwa menjadi perempuan tidak mudah dan menantang sebab sering dituntut memilih peran mana yang harus dilakoni meski nyatanya mereka mampu menjalankan semuanya. Begitu banyak ekspektasi dari masyarakat terhadap perempuan, sementara perempuan hidup didunia yang terkadang mendiskriminasi mereka.

Penulis
M. Ihsan Khoironi
Leave A Reply

Your email address will not be published.