[SALAH] Klaim Hadi Pranoto Soal COVID-19

22

Hasil
Periksa Fakta Aisyah Adilah (Anggota Komisariat MAFINDO IISIP Jakarta).

Wakil Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter
Indonesia (IDI) Adib Khumaidi menilai, klaim Hadi Pranoto telah menemukan obat
herbal antibodi Covid-19 meragukan. Dia mempertanyakan institusi yang menjadi
tempat penelitian obat itu. Kemudian dia juga ragu bahwa obat tersebut sudah
melewati uji klinis.

= = = = =

KATEGORI: KONTEN YANG MENYESATKAN

= = = = =

SUMBER: FACEBOOK

https://archive.fo/spJRz

= = = = =

NARASI:

“Berlokasi di Pulau Tegal Mas, Lampung, saya ngobrol dengan Profesor Hadi Pranoto.
.
Nama Prof. Hadi Pranoto sulit sekali di cari di internet. Ada tapi sedikit sekali. Padahal sejak bulan Mei beliau sudah menemukan Antibodi Covid 19 ini. Dan sekarang Antibodi Covid 19 ini sudah terbukti menyembuhkan banyak orang. Wisma Atlet pun mendapat pasokan obat ini dan pasien terbukti sembuh.
.
Kenapa berita tentang Prof. Hadi Pranoto tidak dibesarkan ?
.
Bagian kedua dari video ini akan lebih seru.”

= = = = =

PENJELASAN:

Pada tanggal 31 Juli lalu, akun youtube
@duniamanji mengunggah sebuah video Anji mewawancarai seseorang bernama Hadi
Pranoto yang mengaku sebagai Profesor dan Ahli mikrobiologi. Meski telah
dihapus oleh pihak Youtube, namun videonya telah tersebar ke berbagai media, salah satunya Facebook milik Anji
(Anji Manji). Dalam wawancara tersebut, Hadi mengklaim
beberapa hal:

1. Mengaku bergelar Profesor dan Ketua Tim
Riset Formula Antibodi Covid-19.

Berdasarkan penelusuran Kompas.com di website
Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) ada nama Hadi Pranoto dengan gelar
akademik doktor (Dr) lulusan S3 Institut Pertanian Bogor (IPB). Namun foto Hadi
Pranoto di website Dikti tersebut berbeda dengan Hadi Pranoto yang tampil di
YouTube musisi Anji.

Saat dikonfirmasi mengenai latar belakang
pendidikan S-3 dari IPB atas nama Hadi Pranoto di data Dikti, Hadi Pranoto
membenarkannya. “Iya,” kata dia saat dikonfirmasi Kompas.com via
WhatsApp mengenai pendidikan terakhirnya tersebut, Senin (3/8/2020).

Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi IPB
University Yatri Indah Kusumastuti melalui rilis ke Kompas.com membantah jika
Hadi Pranoto lulusan S3 IPB. “Menurut penelusuran di internal institusi
kami, sosok Hadi Pranoto yang dimaksud Kompas.com adalah orang yang berbeda
dengan Hadi Pranoto yang merupakan alumnus IPB (saat ini dosen Universitas
Mulawarman). Nama sama, tetapi beda orang,” tulis Yatri dalam rilis, Senin
(3/8/2020).

2. Dosen di Universitas Mulawarman

Hadi Pranoto yang merupakan dosen di
Universitas Mulawarman menegaskan jika ia bukanlah Hadi Pranoto yang tampil di
YouTube musisi Anji. “Dari fotonya juga bukan saya, terus bidang
keahliannya juga bukan saya, dia (Hadi yang viral di YouTube musisi Anji) itu
kan ngomongnya profesor dan bidang keahliannya Mikrobiologi, sedangkan saya
bidangnya Agroforestri dan dosen Fakultas Pertanian dan saya alumni IPB S3, S1
UMM Malang, S2 Mulawarman Samarinda,” bebernya.

3. Bahwa dia telah menemukan cairan antibodi
Covid-19.

Jubir Satgas COVID-19, Prof Wiku Adisasmito
menegaskan obat herbal yang diatur di Indonesia terdiri dari jamu, obat herbal
berstandar, dan fitofarmaka. Dia meminta masyarakat jeli dan memeriksa apakah
obat itu sudah terdaftar di Badan Pengawasan Obat dan Makanan atau Kementerian
Kesehatan. “Apabila ramuan herbal tersebut masih dalam tahap penelitian
dan belum ada bukti ilmiah tentang keamanan dan efektivitasnya, maka tidak
boleh dikonsumsi oleh masyarakat,” ucap Wiku.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pencegahan
dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan yang pernah menjadi Juru
Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menganggap klaim
tersebut sebagai pembodohan. Menurut Yuri, ada sejumlah hal yang tidak
dijelaskan dalam klaim obat Covid-19 yang disampaikan Hadi Pranoto. Ia meminta
Hadi Pranoto untuk datang kepada pemerintah jika memang benar-benar telah
menemukan obat untuk Covid-19. “Kalau memang dia menemukan, suruh datang
ke pemerintah dan suruh menunjukkan buktinya,” papar Yuri.

4. Virus corona baru bisa mati jika terkena
panas hingga 350 derajat celsius.

Pengajar mikrobiologi Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga, Agung Dwi Wahyu Widodo mematahkan pernyataan Hadi
Pranoto bahwa virus penyebab Covid-19 baru bisa mati di suhu 350 derajat
celsius. Dari pengalaman Agung, pada suhu 120 derajat saja virus sudah inaktif.
“Selama ini kami pakai autoklaf yang 120 derajat, itu virusnya sudah inaktif,”
kata Agung saat dihubungi, Ahad, 2 Agustus 2020. Autoklaf adalah alat pemanas
tertutup yang digunakan untuk sterilisasi benda menggunakan uap panas dan
tekanan tinggi.

5. Telah mendistribusikan obat herbal itu ke
sejumlah daerah di Sumatera, Jawa, Bali, dan kalimantan. Di Jakarta, obat ini
didistribusikan ke RS Darurat Wisma Atlet.

Dokter spesialis paru-paru Dr. Arief Riadi
Arifin, SpP, MARS, FISR yang juga didaulat sebagai Koordinator Dokter Spesialis
Paru BNPB dan RSD Wisma Atlet mengatakan bahwa dirinya tak tahu menahu dengan
obat yang dimaksud Hadi.

“Saya tidak pernah pernah tau obat atau
herbal yang dimaksud Hadi tersebut. Kalau obat atau herbal yang diberikan harus
melalui komisi etik Rumah Sakit,” kata Arif kepada Suara.com, Minggu
(2/8/2020).

6. Covid-19 dibagi menjadi beberapa golongan.
Golongan A adalah yang bisa dideteksi dengan rapid test. Golongan B dan C
adalah yang tidak bisa dideteksi dengan rapid test, tapi bisa dideteksi dengan
tes swab. Sementara golongan D adalah yang tidak bisa dideteksi dengan tes
swab, tapi bisa dideteksi dengan tes DNA untuk melihat apakah virus sudah masuk
ke jaringan pembuluh darah atau masih dalam proses asimilasi untuk masuk ke
tubuh melalui oksigen.

Tidak ada penggolongan Covid-19 yang
didasarkan pada kemampuan deteksinya. Sejauh ini, tes PCR dianggap paling
akurat untuk mendeteksi Covid-19 dibandingkan rapid test antibodi. Tes PCR
Covid-19 sudah dikembangkan untuk mendeteksi SARS-CoV-2 yang diambil dari
lendir di saluran pernapasan. Dalam tes PCR ini, terdapat materi genetik
sintetik atau primer yang hanya bisa menempel pada urutan materi genetik
SARS-CoV-2. Tes PCR bisa mendeteksi keberadaan SARS-CoV-2 tanpa harus menunggu
munculnya antibodi seperti rapid test.

Sementara terkait klaim golongan D yang hanya
bisa dideteksi dengan tes DNA, keliru. Menurut ahli biologi molekuler Ahmad Rusdan
Handoyo Utomo, materi genom SARS-CoV-2 adalah RNA sehingga tidak akan bisa
dideteksi dengan tes DNA. “Jadi, sampai kiamat pun, enggak akan ketemu virusnya
kalau dites dengan tes DNA,” kata Ahmad.

Hal ini juga diungkapkan oleh pakar penyakit
dalam spesialis paru-paru Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan
Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada, Sumardi. Menurut dia, virus Corona
jenis baru penyebab Covid-19 ini merupakan virus RNA. Virus RNA yaitu strain
yang saat bertemu dengan inang dapat membuat salinan baru yang bisa terus
menginfeksi sel lain.

7. Tes digital teknologi murah seharga Rp 10
ribu.

Wakil Ketua Lembaga Biologi Molekuler Eijkman,
Herawati Sudoyo, menyatakan tidak mengetahui adanya tes Covid-19 yang bernama
digital teknologi seperti yang dikatakan Hadi Pranoto, yang hanya bertarif Rp
10-20 ribu. Dia mengatakan tenaga medis di dunia menggunakan reverse
transcriptase polymerase chain reaction (PCR). “Itu juga yang digunakan di
Indonesia,” katanya.

Senada dengan Herawati, pengajar mikrobiologi
FK Unair, Agung Dwi Widodo, tidak paham dengan maksud digital teknologi yang
disebutkan Hadi. Dia pun bercerita tentang sejumlah guru besar yang sempat
merasa jengkel dengan klaim tes Covid-19 yang dikatakan oleh Hadi tersebut.
“Kalau ada tes yang berbasis digital teknologi itu murah, maka semua sampel di
ini Surabaya mau dikirim ke Hadi Pranoto,” canda Agung.

Pria yang berprofesi sebagai dokter
mikrobiologi klinis itu juga berkata tes Covid-19 tergolong mahal karena
sejumlah penyebab. Beberapa di antaranya adalah petugas mesti menggunakan alat
pelindung diri (APD) saat mengambil sampel; jumlah mesin pengujian yang
terbatas; dan reagen yang masih impor.

8. Covid-19 bisa terdeteksi lewat keringat.

Pengajar mikrobiologi FK Unair, Agung Dwi
Widodo mengatakan belum ada penelitian yang menyebut bahwa deteksi Covid-19
bisa dilakukan melalui keringat. Yang terbaru, kata dia, banyak ilmuwan
menyebut bahwa tes Covid-19 bisa menggunakan air liur atau saliva. Senada dengan
Agung, Wakil Ketua IDI Adib Khumaidi mengatakan belum ada penelitian yang
menyebut bahwa tes Covid bisa menggunakan keringat. “Belum ada penelitian
secara ilmiah yang membuktikan itu,” kata Adib.

9. Vaksin Covid-19 hanya akan semakin merusak
organ.

Cara vaksin COVID-19 tak berbeda jauh pada
vaksin pada umumnya. Di dalam vaksin terdapat berbagai produk biologi, dan
bagian dari virus atau bakteri, maupun virus atau bakteri yang sudah
dilemahkan. Produk inilah yang beguna untuk merangsang munculnya antibodi atau
kekebalan tubuh.

Dengan kata lain, cara kerja vaksin virus
corona sama dengan vaksin lainnya. Vaksin COVID-19 akan merangsang sistem
imunitas untuk membuat zat kekebalan tubuh (antibodi) yang bertahan cukup lama.
Nah, zat ini nantinya akan melawan antigen dari patogen (virus corona) COVID-19
masuk ke dalam tubuh. Bila antigen penyakit COVID-19 menyerang kembali, maka
akan muncul reaksi imunitas yang kuat dari tubuh. Tujuannya untuk menghancurkan
antigen tersebut.

10. Masker tidak dapat mencegah transmisi
Covid-19.

Dari hasil penelitian para peneliti di Texas
dan California, Amerika Serikat peneliti membandingkan tren tingkat infeksi
Covid-19 di Italia dan New York AS, sebelum dan sesudah aturan penggunaan
masker wajah diwajibkan. Hasil penelitian yang diterbitkan di Prosiding
National Academy of Sciences menyebutkan, kedua lokasi mulai menunjukkan
tingkat infeksi melandai setelah kewajiban penggunaan masker wajah
diberlakukan. Memakai masker ditemukan dapat mencegah lebih dari 78.000 infeksi
di Italia selama 6 April dan 9 Mei, dan lebih dari 66.000 infeksi di New York
City selama 17 April dan 9 Mei.

Hadi Pranoto akhirnya mengakui bahwa dirinya
memang bukan dokter atau profesor. Itu hanya sebutan dari teman-temannya. Hadi
mengklaim teman-temannya selama ini kagum atas dirinya sebagai anak bangsa yang
bisa menjadi penemu.

“Saya tak pernah declare diri saya seorang
dokter atau seorang profesor. Itu kan panggilan kesayangan teman-teman saya
karena merasa bangga ada anak bangsa, orang kecil, bisa menemukan suatu herbal
yang bermanfaat untuk pengobatan Covid-19,” ujarnya.

= = = = =

REFERENSI:

https://www.liputan6.com/cek-fakta/read/4320558/cek-fakta-benarkah-klaim-hadi-pranoto-soal-obat-corona-covid-19

https://cekfakta.tempo.co/fakta/927/fakta-atau-hoaks-benarkah-klaim-klaim-hadi-pranoto-dalam-video-milik-anji-ini

https://www.kompas.com/tren/read/2020/08/03/064730565/klaim-obat-covid-19-hadi-pranoto-sebaiknya-sampaikan-jika-sudah-teruji-dan?page=all

https://www.halodoc.com/artikel/cara-kerja-vaksin-virus-corona-pada-tubuh?utm_tracker=eefa18ea-bd52-4d9f-a67b-6c397ccf1608

https://lifestyle.kompas.com/read/2020/06/14/114606220/terbukti-pakai-masker-jadi-cara-terbaik-cegah-infeksi-covid-19

https://kumparan.com/kumparannews/mempertanyakan-klaim-prof-hadi-pranoto-temukan-antibodi-covid-19-1tvQR2Yz9PL/full

https://www.suara.com/health/2020/08/03/121757/hadi-pranoto-klaim-obat-covid-19-masuk-wisma-atlet-ini-kata-dokter-di-sana?page=all

https://amp.kompas.com/regional/read/2020/08/03/12520341/hadi-pranoto-yang-klaim-obat-covid-19-mengaku-bergelar-doktor-s3-ipb

https://www.jawapos.com/nasional/03/08/2020/akui-bukan-dokter-hadi-pranoto-itu-hanya-panggilan-kesayangan/


Source link

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here