[SALAH] Pemasukan TikTok Digunakan untuk Mendirikan Kamp Konsentrasi Muslim Uighur China

158

[SALAH] Pemasukan TikTok Digunakan untuk Mendirikan Kamp Konsentrasi Muslim Uighur China

Hasil periksa fakta anggota FAFHH (Anissa Antania Hanjani)

Berita CNN yang digunakan tidak memiliki kaitan dengan konten yang dibuat. Nama wartawan Fira Aziz yang dicantumkan di dalam narasi tidak ditemukan dalam database platform pencari jurnalis. Ketika dicari, kata kunci Fira Aziz mengarah kepada Feroza Aziz, seorang remaja asal Amerika Serikat yang sempat viral karena postingan mengkritik perlakuan China terhadap muslim Uighur di TikTok.

Iklan Layanan Masyarakat

=====

Kategori:
Misleading Content/Konten yang Menyesatkan

====

Sumber:
Facebook

Archive:

https://web.archive.org/web/20200106082303/https://www.facebook.com/anisa.fzyhh/posts/1202929956567852

====

Narasi:

Suka
TikTok ???

Aplikasi
yg tengah membanjiri kawula muda saat ini adalah TIK TOK apa kamu juga memasang
aplikasi ini di hpmu ???

Kamu
tau ga aplikasi ini berasal dari mana ???

Ga
tau ???

Masa
iya ga tau ???

Aplikasi
ini berasal dari NEGERI TIRAI BAMBU CINA

Yups
negeri para komunis terbesar kedua di dunia setelah Rusia

Oh
iya kamu tau ga setiap kali ada orang yg menginstal aplikasi TIK TOK ni maka
pemasukan bagi negeri china juga bertambah loooh.

Keren
kaaaan

Eh
eh eh tapi kamu tau ga pemasukannya buat apa ???

Seorang
jurnalis muda asal amerika yang bernama Fira Aziz pernah melakukan sesi
wawancara ke negeri tirai bambu untuk mencari kantor pencetus aplikasi TIK TOK
ini loh.

Dan
kagetnya dia ketika dia mengetahui bahwa raupan uang yg dihasilkan dari
aplikasi tersebut digunakan untuk mendirikan Camp Konsentrasi bagi muslim
uighur.

Memangnya
kenapa dengan camp konsentrasi tersebut???

Fira
Aziz mengatakan bahwa di camp tersebut anak-anak kecil uighur di cuci otaknya
hingga mereka tidak lagi mengenali ibu bapaknya.

Suami
dipisah dari istrinya.

Para
suami dan pemuda yg tidak mau melepas iman islamnya akan di sengat arus listrik
hingga mati.

Para
istri dan gadis yg tidak mau melepas iman islamnya akan di perkosa bergilir
oleh 13 laki-laki hingga dia wafat.

Jadi
buat kamu yg main TIK TOK kamu sadar ga sih kalo kamu lagi ngebantu kafir cina
buat nyiksa saudara seimanmu sendiri ???

Masih
mau jadi bodoh gara-gara aplikasi bodoh ???

Stop
main TIK TOK

_______

https://m.cnnindonesia.com/…/media-asing-china-suap-ormas-i…

AYO
PARA MUSLIM/MUSLIMAH VIRALKAN

Kalau
1 org mengirim ke 5 org lain. (Blm termasuk posting ke group). Hari ini ada 50
postingan membela Islam.

Ini
salah satu moment dimana kita bisa berjihad. Malaikat pencatat menunggu
keseriusan kita dlm membela agama Allah

Jangan
tunggu pemerintah berbuat. Mumpung msh ada hayat dikandung badan. Sekalipun
fisik kita mungkin tdk bisa turun ke jalan, tp jari2 kita msh bisa berjihad.

Jadilah
muslim yg tidak cuma NATO, No Action Talk Only. Besok mungkin kita sdh
dipanggil Allah. Kita akan menyesal….

====

Penjelasan:

Beredar
konten yang menjelaskan penggunaan pemasukan TikTok untuk pembangunan kamp
konsentrasi muslim Uighur di China. Konten tersebut juga memasukkan link berita
dari CNN Indonesia untuk mengaitkan dengan isi yang dibahas.

Berdasarkan
hasil penelusuran, diketahui bahwa klaim tersebut tidak benar. Nama Fira Aziz,
wartawan Amerika Serikat yang disebut melakukan kunjungan ke kantor TikTok di
China, tidak ditemukan dalam platform database jurnalis PressHunt
(presshunt.co) dan PressFarm (press.farm).

Fakta
tersebut diketahui setelah dilakukan pencarian di dua platform tersebut.
Sementara lewat penelusuran dengan mesin pencari, kata kunci Fira Aziz merujuk
kepada Feroza Aziz, seorang remaja Amerika Serikat yang sempat viral karena
mengkritik perlakuan terhadap muslim Uighur di
China.

Berikut
berita yang memuat penjelasan terkait kasus Feroza Aziz dengan TikTok:

[…] TikTok
apologises and reinstates banned US teen

Chinese-owned
social network TikTok has apologised to a US teenager who was blocked from the
service after she posted a viral clip criticising China’s treatment of the
Uighur Muslims.

The
firm said it had now lifted the ban, maintaining it was due to 17-year-old
Feroza Aziz’s prior conduct on the app – and unrelated to Chinese politics.

Additionally,
the firm said “human moderation error” was to blame for the video
being taken down on Thursday for almost an hour.

TIkTok,
owned by Beijing-based ByteDance, has insisted it does not apply Chinese
moderation principles to its product outside of mainland China.

Ms
Aziz posted on Twitter that she did not accept the firm’s explanation.

“Do
I believe they took it away because of a unrelated satirical video that was
deleted on a previous deleted account of mine? Right after I finished posting a
three-part video about the Uighurs? No.”

In
an interview with BBC News reporter Vivienne Nunis, Ms Aziz said: “I will
continue to talk about it, and I will talk about it on Twitter, on Instagram,
on any platform I have, even TikTok.

“I’m
not scared of TikTok, even after the suspension. I won’t be scared of TikTok.” […]

Terjemahan:

[…] Media sosial milik perusahaan China, TikTok, telah meminta maaf kepada
seorang remaja di Amerika Serikat yang diblokir dari pelayanan aplikasi
tersebut setelah dia memposting sebuah video viral yang mengkritik perlakuan
China terhadap muslim Uighur.

Perusahaan
tersebut telah mencabut larangannya dan menyebutkan bahwa hal tersebut
dilakukan karena penyalahgunaan penggunaan oleh remaja 17 tahun tersebut, serta
tidak ada hubungannya sama sekali dengan politik China.

Selain
itu, perusahaan tersebut menyatakan bahwa “human moderation error” merupakan
penyebab video tersebut sempat dihapus pada hari Kamis lalu selama hampir satu
jam.

TikTok,
yang dimiliki oleh perusahaan ByteDance yang berbasis di Beijing, menyatakan
tidak pernah menerapkan kebijakan pemerintah China terhadap produk-produknya di
luar negeri.

Ms.
Aziz memposting di akun Twitter-nya menyatakan bahwa dia tidak terima dengan
penjelasan perusahaan tersebut.

 “Apakah aku akan percaya bahwa mereka
menghapusnya karena sebuah video satire yang tidak berkaitan yang sudah dihapus
oleh akun lamaku yang telah dihapus? Setelah aku memposting tiga part video mengenai
Uighurs? Tidak.”

Dalam
wawancara dengan reporter BBC News Vivienne Nunis, Ms. Aziz mengatakan, “Aku
akan terus membahasnya, dan aku akan terus membahasnya di Twitter, di
Instagram, atau di platform lain yang aku punya, bahkan TikTok.”

“Aku
tidak takut dengan TikTok, bahkan setelah disuspensi. Aku tidak akan takut
dengan TikTok.”

[…]

Selain
itu, link berita CNN Indonesia yang dikutip tidak memiliki kaitan dengan isi
yang dibahas dalam konten tersebut. Link berita tersebut membahas laporan dari
Wall Street Journal (WSJ) yang menyebut China membujuk ormas Islam agar tidak
lagi mengkritik dugaan persekusi terhadap muslim Uighur lewat sejumlah bantuan
dan menjawab kritik yang dilayangkan lewat Kedutaan Besar China di Jakarta.
Sehingga, link berita yang dicantumkan tidak mendukung klaim dari konten
tersebut.

Berikut
kutipan berita yang dimaksud:

[…] Jakarta,
CNN Indonesia — China disebut berupaya membujuk sejumlah organisasi Islam
seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, media Indonesia, hingga akademisi agar
tak lagi mengkritik dugaan persekusi yang diterima etnis minoritas Muslim
Uighur di Xinjiang.

Laporan
the Wall Street Journal (WSJ) yang ditulis Rabu (11/12), memaparkan China mulai
menggelontorkan sejumlah bantuan dan donasi terhadap ormas-ormas Islam tersebut
setelah isu Uighur kembali mencuat ke publik pada 2018 lalu.

Saat
itu, isu Uighur mencuat usai sejumlah organisasi HAM internasional merilis
laporan yang menuding China menahan satu juta Uighur di kamp penahanan layaknya
kamp konsentrasi di Xinjiang.

Beijing
bahkan disebut membiayai puluhan tokoh seperti petinggi NU dan Muhammadiyah,
Majelis Ulama Indonesia (MUI), akademisi, dan sejumlah wartawan Indonesia untuk
berkunjung ke Xinjiang.

Hal
itu, papar WSJ, terlihat dari perbedaan pendapat para tokoh senior NU dan
Muhammadiyah soal dugaan persekusi Uighur sebelum dan setelah kunjungan ke
Xinjiang.

Dalam
laporan WSJ, para pemimpin Muhammadiyah sempat mengeluarkan surat terbuka pada
Desember 2018 lalu yang menyuarakan dugaan kekerasan terhadap komunitas Uighur.
Muhammadiyah bahkan menuntut penjelasan China dan memanggil duta besarnya di
Jakarta.

Sejumlah
kelompok Islam bahkan berunjuk rasa di depan kedubes China di Jakarta sebagai
bentuk protes terhadap dugaan penahanan itu.

Tak
lama dari itu, China berupaya meyakinkan ormas-ormas Islam bahwa tak ada kamp
konsentrasi dan penahanan.

Beijing
berdalih kamp-kamp itu merupakan kamp pelatihan vokasi untuk memberdayakan dan
menjauhkan etnis Uighur dari paham ekstremisme.

China
lalu mengundang puluhan pemuka agama Islam, wartawan, hingga akademisi
Indonesia untuk mengunjungi kamp-kamp tersebut di Xinjiang.

Sejumlah
pejabat China juga memberikan presentasi terkait serangan terorisme yang
dilakukan oknum etnis Uighur.

Sejak
rangkaian tur Xinjiang itu berlangsung, pandangan para pemuka agama Islam
tersebut berubah. Seorang tokoh senior Muhammadiyah yang ikut kunjungan ke
Xinjiang mengatakan bahwa kamp-kamp yang ia kunjungi sangat bagus dan nyaman,
serta jauh dari kesan penjara.

Kata
WSJ, hal itu diutarakan dalam catatan perjalanannya yang dirilis di majalah
Muhammadiyah.

WSJ
juga mengatakan hal serupa soal sikap NU. Pemimpin NU, Said Aqil Siroj, disebut
meminta warga terutama umat Muslim Indonesia tak percaya pada laporan media dan
televisi internasional untuk memahami situasi di Xinjiang. WSJ mengatakan
pernyataan itu disampaikan Said melalui buku yang diterbitkan NU cabang China.

Politikus
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang juga mantan pengurus NU, Masduki Baidlowi,
juga disebut WSJ mengamini pernyataan China selama ini bahwa kamp-kamp itu
adalah kamp pelatihan vokasi untuk memberdayakan masyarakat Uighur dan
menjauhkan mereka dari ekstremisme.

“Ada
masalah dengan ekstremisme di Xinjiang dan mereka [China] sedang menanganinya.
Mereka memberikan solusi: pelatihan vokasi dan skill,” kata Masduki
seperti dikutip WSJ.

Selain
tur gratis ke Xinjiang, China juga disebut menyalurkan sejumlah donasi dan
bantuan finansial lainnya yang dibungkus dengan program beasiswa. Sejumlah
siswa ormas-ormas Islam termasuk NU turut menerima beasiswa itu.

Merespons
laporan itu, Muhammadiyah membantah bahwa organisasinya bungkam soal Uighur
karena sejumlah bantuan dari China.

Sekretaris
Jenderal PP Muhammadiyah, Abdul Muhti, menegaskan bahwa organisasinya
independen dan tidak bisa didikte oleh pihak manapun apalagi asing.

“Muhammadiyah
tidak akan menyampaikan suatu pandangan karena sumbangan. Apalagi selama ini
tidak ada sumbangan untuk Muhammadiyah,” kata Abdul saat dikonfirmasi
CNNIndonesia.com, Kamis (12/12).

Abdul
juga mengatakan organisasinya menentang keras segala bentuk pelanggaran HAM
oleh siapapun. “Tidak terkecuali oleh China, Arab Saudi, Israel, dan
sebagainya. Tetapi Muhammadiyah tidak akan bersikap tanpa bukti-bukti yang
kuat. Dan tidak hendak mencampuri urusan dalam negeri negara lain,”
tambahnya.

Sementara
itu, MUI membantah laporan WSJ tersebut. Menurut Kepala Hubungan Internasional
MUI, Muhyiddin Junaiddi, tidak semua petinggi agama yang ikut tur ke Xinjiang
mendukung sikap China terkait kebijakannya di wilayah itu.

Muhyiddin
mengatakan kunjungannya ke Xinjiang pada Februari lalu sangat dipantau ketat
oleh pihak berwenang China. Ia juga mengklaim orang-orang Uighur yang ia temui
di sana terlihat ketakutan.

Muhyiddin
mengatakan upaya China mengundang tokoh-tokoh Islam berpengaruh di Indonesia ke
Xinjiang didesain untuk “mencuci otak opini publik. Ia bahkan mengatakan
bahwa sejumlah tokoh Muslim Indonesia yang pernah mengkritik China soal Uighur
malah jadi membela China.

Masduki
Baidlowi sendiri membantah laporan tersebut. Dia mengatakan sampai saat ini
prinsipnya terkait Uighur tidak pernah berubah.

Staf
Khusus Wapres itu mengakui etnis Uighur di sana masih memprihatinkan terutama
soal hak dasar beribadah. “Kalau kehidupan ekonomi memang cukup, tapi kan
hidup tidak hanya masalah ekonomi. Jadi menurut kami ini persoalan kebebasan
beribadah,” kata Masduki saat dihubungi Kamis malam. 

Dia
menduga tuduhan itu dilontarkan karena sikap Indonesia berbeda dengan Amerika
Serikat atau negara Barat yang selalu mengecam tindakan China terhadap Uighur.
“Jangan karena kita tidak senada dengan Barat seolah dibeli oleh China.
Itu pernyataan kasar dan tidak sopan,” ujarnya.

Hingga
saat ini, China membantah keras tudingan pelanggaran HAM terhadap suku Uighur
itu. Beijing berdalih mereka hanya menampung warga Uighur dalam sebuah program
pelatihan vokasi, bukan kamp penahanan.

Hal
itu, papar China, dilakukan demi membantu memberdayakan masyarakat Uighur dan
menghindari mereka terpapar paham radikalisme dan ekstremisme.

Kepala
Humas Kedutaan Besar China untuk Indonesia, Huang Hui belum dapat memberikan
komentar terkait laporan tersebut.

Catatan
Redaksi: Judul berita ini diubah pada Jumat (13/12) pukul 08.41. Sebelumnya
berjudul ‘Media Asing: China Suap Ormas Islam RI Agar Diam soal Uighur’.
(rds/dea) […]

Berdasarkan penjelasan dan kutipan pemberitaan itu,
maka dapat dikatakan bahwa konten yang tertera pada sumber keliru. Dengan demikian,
konten tersebut masuk ke dalam kategori Misleading Content atau Konten
yang Menyesatkan.

=====

Referensi:

https://www.facebook.com/groups/fafhh/permalink/1080191102313424/

https://www.cnnindonesia.com/internasional/20191212202601-106-456537/media-asing-china-rayu-ormas-islam-ri-agar-diam-soal-uighur

https://presshunt.co /

https://press.farm/

https://www.bbc.com/news/technology-50582101

[SALAH] Pemasukan TikTok Digunakan untuk Mendirikan Kamp Konsentrasi Muslim Uighur China
[SALAH] Pemasukan TikTok Digunakan untuk Mendirikan Kamp Konsentrasi Muslim Uighur China
[SALAH] Pemasukan TikTok Digunakan untuk Mendirikan Kamp Konsentrasi Muslim Uighur China
[SALAH] Pemasukan TikTok Digunakan untuk Mendirikan Kamp Konsentrasi Muslim Uighur China
[SALAH] Pemasukan TikTok Digunakan untuk Mendirikan Kamp Konsentrasi Muslim Uighur China




Source link

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here