[SALAH] Vietnam Tidak Ada Korban Meninggal Covid-19 Karena Teh dan Lemon

26

[SALAH] Vietnam Tidak Ada Korban Meninggal Covid-19 Karena Teh dan Lemon

Teh
dan lemon tidak terbukti dapat menyembuhkan penderita virus Corona atau
Covid-19. Vietnam bisa berhasil mengatasi wabah Covid-19 dengan tidak ada
korban meninggal lantaran strategi kebijakan pemerintahannya, bukan karena teh dan
lemon.

=====

Iklan Layanan Masyarakat

Kategori:
Misleading Content/Konten yang Menyesatkan

=====

Sumber: Whatsapp

[SALAH] Vietnam Tidak Ada Korban Meninggal Covid-19 Karena Teh dan Lemon

=====

Narasi:

“Kabar
gembira dan istimewa.. Vietnam korban covid 19 tidak ada yng mati…Berita
super.. obat virus covid 19  sudah
tercapai informasi dari negara Vietnam.. virus covid 19 tidak menyebabkan
kematian.. ternyata resepnya sangat sederhana tapi sangat ampuh.. hanya 1
teh..2 lemon..minumlah teh panas setelah di campur perasan lemon..dapat segera
membunuh virus covid 19..dan dapat sepenuhnya menghilangkan virus covid 19 dari
tubuh…2 bahan ini membuat sistem kekebalan tubuh menjadi bersifat basa..
karena ketika malam tiba sistem tubuh menjadi asam.. kemampuan detensif juga
akan berkurang.. itulah sebabnya orang Vietnam santai saja dengan menyebarnya
virus covid 19… Di Vietnam rata2 semua orang minum segelas air panas dengan
sedikit lemon di malam hari… Karena telah terbukti membunuh virus covid 19
secara total… Bagikan resep sakti ini kepada siapapun untuk memburu pahala…
Resep sederhana ini sangat efektif karena tidak akan terinfeksi virus covid
19.. Atas izin Tuhan YME…Selamat mencoba…”

=====

Penjelasan:

Beredar
pesan berantai melalui Whatsapp yang menyatakan bahwa di Vietnam korban virus
Corona atau Covid-19 tidak ada yang mati lantaran kebiasaan meminum teh panas dicampur
perasan lemon. Disebutkan pula komposisi pembuatan campuran minuman teh dan
lemon dalam narasi yang beredar.

Berdasarkan
hasil penelusuran, diketahui bahwa klaim narasi itu tidak benar. Sebab, klaim
campuran teh dan lemon untuk mengobati Covid-19 sudah diperiksa faktanya dalam
artikel “[SALAH] Obat Virus Corona Ditemukan Hanya Berbahan Lemon dan Teh
Hangat” bahwa hingga kini belum ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa campuran
teh dan lemon dapat digunakan untuk mengobati Covid-19.

Ketua
Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr Daeng M Faqih sudah pernah memberikan
pernyataan terkait isu teh dan lemon sebagai obat Covid-19. Ia menyatakan bahwa
hal tersebut belum terbukti benar dan belum ada penelitian ilmiahnya.

“Belum
ada bukti yang membenarkan hal tersebut,” kata Faqih.

Selain
itu, Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisonal dan Jamu
Indonesia (PDPOTJI), DR dr Inggrid Tania MSi, untuk memastikan kebenaran narasi
tersebut. Inggrid pun langsung menyebutkan bahwa informasi tersebut adalah
informasi palsu atau hoaks. “Ini (narasi yang beredar) hoaks,” kata
Inggrid melalui pesan singkat, Senin (20/4/2020).

Lebih
lanjut Inggrid menjelaskan, lemon dan teh masing-masing memang bersifat
antioksidan. Jika dicampur, maka sifat antioksidan dalam campuran tersebut akan
lebih tinggi lagi. “Bahan alam yang bersifat antioksidan, biasanya
bersifat meregulasi sistem imun dengan menangkal radikal bebas pada proses
peradangan,” ujar dia.

Adapun,
perihal strategi Vietnam untuk mengatasi Covid-19 sehingga tidak ada korban
meninggal tidak terkait dengan penggunaan campuran teh dan lemon, melainkan
kebijakan cepat tanggapnya. Berikut kutipan berita yang membahas kebijakan
Vietnam dalam mengatasi Covid-19:

[…] Resep Vietnam Perangi Corona hingga Nol Korban Jiwa

Jakarta
– Vietnam mulai bisa bernapas lega karena pertarungannya melawan Corona
sepertinya akan segera berakhir. Hingga kini tak ada laporan kasus kematian
akibat Corona di sana dan penerbangan akan segera dibuka.

Penanganan
COVID-19 di negara itu memang patut diacungi jempol. Vietnam yang berbatasan
dengan China yang sempat menjadi pusat penyebaran COVID-19 mampu dianggap mampu
menekan laju penyebaran virus tersebut.

Sejak
pandemi COVID-19 mulai menyebar, Pemerintah Vietnam telah menyatakan ‘perang’
melawan COVID-19. Kebijakan-kebijakan untuk mencegah penyebaran pun dilakukan
di Vietnam.

“Memerangi
epidemi ini, berarti memerangi musuh,” kata PM Vietnam Nguyen Xuan Phuc
dalam pertemuan Partai Komunis sebelum pandemi itu menyerang Vietnam, dilansir
DW pada Minggu (12/4/2020).

Lantas,
bagaimana Vietnam bisa melakukan itu semua?

Karantina
dan Pelacakan yang Ketat

Salah
satu kebijakan yang dilakukan untuk melakukan perlawanan terhadap COVID-19
adalah kebijakan karantina yang ketat, dan melakukan penelusuran lengkap semua
orang yang kontak dengan pasien COVID-19 tersebut. Langkah-langkah ini
dilaksanakan jauh lebih awal dari China, di mana penguncian seluruh kota
digunakan sebagai upaya terakhir untuk menjaga agar virus tidak menyebar lebih
jauh.

Sebagai
contoh, pada tanggal 12 Februari, Vietnam menempatkan seluruh kota di dekat
Hanoi di bawah karantina selama tiga minggu. Kala itu, hanya ada 10 kasus
COVID-19 yang dikonfirmasi di seluruh Vietnam. Pihak berwenang juga secara luas
dan cermat mendokumentasikan siapa saja yang berpotensi melakukan kontak dengan
virus.

Vietnam
juga melacak kontak tingkat kedua, ketiga dan keempat dengan orang yang
terinfeksi. Semua orang ini kemudian ditempatkan di bawah level pergerakan dan
pembatasan kontak yang ketat secara berurutan.

Dan
sejak awal, siapa pun yang tiba di Vietnam dari daerah berisiko tinggi akan
dikarantina selama 14 hari. Semua sekolah dan universitas juga telah ditutup
sejak awal Februari.

Pada
akhir Maret, PM Phuc juga telah memerintahkan isolasi selama 15 hari untuk
seluruh wilayah Vietnam. Warga harus tinggal di rumah dan hanya boleh keluar
untuk kebutuhan pokok seperti makanan dan obat-obatan.

Warga
juga dilarang berkumpul lebih dari dua orang. Setiap orang wajib menjaga jarak
setidaknya 2 meter.

Semua
orang di Vietnam diharuskan memakai masker di tempat umum seperti supermarket,
stasiun bus, bandara, dan kendaraan angkutan umum.

Larangan
Penerbangan

Vietnam
telah melarang penerbangan domestik sejak 30 Maret 2020 kecuali untuk rute dari
Hanoi ke Kota Ho Chi Minh, dan dari Hanoi / Kota Ho Chi Minh ke Da Nang dan Phu
Quoc. Rute-rute ini akan dipertahankan dengan frekuensi maksimum satu
perjalanan pulang pergi per hari untuk setiap maskapai.

Vietnam
juga melarang penerbangan dari luar negeri. Visa untuk para pelancong juga
dihentikan. Aturan itu mengikuti larangan penerbangan yang jauh sebelumnya
telah diterapkan, seperti larangan penerbangan dari China dan sejumlah negara.

Pengawasan
Ketat

Alih-alih
bergantung pada obat-obatan dan teknologi untuk mencegah wabah COVID-19, aparat
keamanan negara Vietnam yang sudah kuat telah menerapkan sistem pengawasan
publik yang luas. Pengawasan itu dibantu oleh militer.

Pejabat
keamanan atau mata-mata Partai Komunis dapat ditemukan di setiap jalan dan
persimpangan di setiap lingkungan dan di setiap desa. Militer juga mengerahkan
tentara dan material dalam perang melawan COVID-19.

Retorika
Perang

Vietnam
juga menerapkan semacam retorika perang dalam perangnya melawan COVID-19. PM
Phuc mengatakan “Setiap bisnis, setiap warga negara, setiap area perumahan
harus menjadi benteng untuk mencegah epidemi.”

Media
yang dikontrol pemerintah juga telah meluncurkan kampanye informasi
besar-besaran. Kementerian Kesehatan bahkan mensponsori sebuah lagu di YouTube
tentang mencuci tangan yang benar yang telah menyebar.

Mengikuti
Aturan

Meskipun
tidak ada penelitian untuk membuktikannya, suasana di media sosial dan
percakapan dengan orang Vietnam menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat setuju
dengan langkah pemerintah. Warga Vietnam pun mematuhi kebijakan-kebijakan yang
diterapkan pemerintahnya.

Ancaman
Denda dan Pidana Bagi Pelanggar

Dilansir
kantor berita pemerintah Vietnam News Agency (VNA), siapapun yang melanggar
aturan pencegahan COVID-19 akan menghadapi denda berat atau bahkan pidana.

Misalnya
saja, bagi warga yang tak mengenakan masker. Mereka didenda maksimal 300.000
dong atau Rp 200.000.

Kemudian
bagi mereka yang melanggar protokol karantina, akan didenda 10 juta dong atau
Rp 7 juta dan akan diadili secara pidana. Tempat makan yang tidak mengikuti
perintah penutupan juga didenda maksimal 20 juta dong atau Rp 14 juta. […]

Penerapan
kebijakan yang ketat tersebut menjadi kunci keberhasilan Vietnam mengatasi
Covid-19.

Berdasarkan
penjelasan tersebut, maka informasi yang beredar melalui pesan berantai
Whatsapp tidak benar. Konten tersebut masuk ke dalam kategori Misleading
Content
atau Konten yang Menyesatkan.

=====

Referensi:

https://web.facebook.com/groups/fafhh/permalink/1174900972842436/

https://www.kompas.com/sains/read/2020/04/21/130200323/viral-lemon-dan-teh-bunuh-virus-corona-ahli-tegaskan-itu-hoaks

https://news.detik.com/berita/d-4974662/resep-vietnam-perangi-corona-hingga-nol-korban-jiwa?single=1

[SALAH] Vietnam Tidak Ada Korban Meninggal Covid-19 Karena Teh dan Lemon
[SALAH] Vietnam Tidak Ada Korban Meninggal Covid-19 Karena Teh dan Lemon
[SALAH] Vietnam Tidak Ada Korban Meninggal Covid-19 Karena Teh dan Lemon
[SALAH] Vietnam Tidak Ada Korban Meninggal Covid-19 Karena Teh dan Lemon

Source link

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here