Tahu dari mana Beliau Saya Berkhidmat kepada Habib Hamid ?

234

Tahu dari mana Beliau Saya Berkhidmat kepada Habib Hamid ?Senin (2/7) Santri Citayam melakukan blusukan. Hari ini seakan hari yang cukup melelahkan dan bisa dikatakan sebagai hari yang istimewa. Lelah dikarenakan blusukan seharian dan bekerja bakti bersama santri Citayam memantau keindahan alam di sekitar kaki gunung Salak, Bogor Jawa Barat.

Perjalanan dilakukan ba’da shalat subuh, destinasi pertama bergerak ke komplek Pesantren Al Hamidiyah Depok. Saya bersama rombongan santri Citayam yang berjumlah 6 orang meluncur ke pesantren untuk meminjam kendaraan sedan Starlet antik, tahun 91 an. Kendaraan itu milik seorang pengajar di Pesantren, beliau memang orangnya baik jadi selalu memberikan kendaraannya bagi yang ingin blusukan.

Sesampai di Pesantren Bang Ama langsung memanaskan mobil Starlet Kang Mun’im. Bang Ama yang merupakan mantan supir pribadi Almarhum Habib Hamid bin Alwi bin Hud Alatas rela meluangkan waktunya demi blusukan bersama Santri Citayam. Starlet tua nan gagah mulai dipacu meninggalkan komplek Pesantren yang didirikan oleh Almarhum KH Achmad Sjaichu menuju ke Kaki Gunung Salak via Ciseeng dan Rumpin, Kabupaten Bogor.

Iklan Layanan Masyarakat

Sepanjang jalan Santri Citayam ditemani oleh Ustad Muhammad, S.Pd.I dan WaSek Lembaga Ta’mir Masjid LTM PCNU Kab. Bogor H Abdul Hadi Hasan, Lc. Kang Hadi dalam kendaraan menceritakan banyak hal terkait NU dan santri yang selalu ditekankan mendalami sholawatan dan pentingnya berkhidmat kepada para Kiai. “ Jadilah NU seutuhnya, berkhidmat lah pada para Kiai dan cintai Sholawatan.” Ucap Kang Hadi. Tak heran sepanjang jalan akhirnya diisi dengan sholawatan.

Perjalanan berliku, melewati indahnya persawahan dan hutan di kabupaten Bogor dan beragam pesantren membuat Santri Citayam semangat bertafakur dan giat menelusuri perkembangan santri dan pesantren di pelosok Bogor. “ Kita blusukan selain untuk berkhidmat pada umat dan ulama juga demi mengenang perjalanan dakwah blusukan yang pernah dilakukan oleh Guru para Guru, Almarhum Habib Hamid bin Alwi bin Hud Alatas.” Tegas Bang Ama.

Ngobrol membuat kita lupa segalanya, pada akhirnya perjalanan jauh pun tidak terasa. Mobil yang digas telah berada di puncak sebuah gunung. Pemandangan cukup indah, udara yang segar, kemerduan suara dedaunan bambu dan Pinus yang diterpa angin seakan kompak menyambut kedatangan rombongan Santri Citayam yang rajin bersholawat.

Ternyata santri Citayam dibawa ke sebuah tempat yang memiliki villa tapi nampak tidak terawat. “ Lihat tempat ini indah kan! Tapi tidak terurus. Kalo bisa kita berkhidmat dan membersihkannya .” Ucap Kang Muh sambil menunjukan sebuah kolam ikan yang dipenuhi tanaman air. Kitapun bersama rombongan mulai berusaha membersihkan tanaman liar di sisi kolam dan tanaman airnya.

Berkhidmat membersihkan sebuah kolam di villa yang insyallah kedepannya bisa dijadikan markas sholawatan santri Citayam. Di sana pun selain menyingkirkan tumbuhan liar juga menata kembali beberapa pohon buah dan hal itu ternyata cukup melelahkan, sesekali santri Citayam beristirahat dan menikmati kue lebaran khas Sunda yang dibawa oleh Kang Muh, istirahat semakin nikmat ketika diiringi bunyinya Darbuka dan sholawatan, lagu Banser dan Yalal Wathon.

Matahari tak terasa semakin tergelincir dari tengah ubun-ubun kepala. Pada akhirnya semua membersihkan diri dan beranjak meninggalkan lokasi villa menuju sebuah masjid yang terletak di Parabakti lalu melakukan shalat berjamaah dipimpin Kang Hadi. Pasca shalat lanjut menuju ke perbatasan Depok dan Bogor.

Sepanjang jalan hingga tiba di Citayam, bang Ama tak berhenti menceritakan pengalamannya mengantar Almarhum Habib Hamid Alatas Cililitan hingga pengalamannya bersua dengan Almarhum Presiden Gusdur.

Cerita paling seru yang disampaikan oleh Bang Ama adalah diutusnya bang Ama oleh Habib Hamid bin Alwi bin Hud Alatas ke acara tahlilan wafatnya Almarhum Baharudin Lopa. Ternyata disana ada Almarhum Gusdur yang juga turut hadir demi mendoakan Almarhum Baharudin Lopa. Diakhir acara, semua hadirin ternyata di beri kesempatan mencium tangannya. Siapa yang tidak bahagia mencium tangan Kiai keturunan Hadrotussyeikh KH Hasyim Asy’ari yang saat itu masih menjabat sebagai Presiden RI.

Menurut Bang Ama, dirinya menghampiri Gusdur dan meminta doa kepadanya, seraya mengucapkan, “ Gus doakan saya yah!” Gusdur menjawab, “ Minta doa sama habib mu saja!” Bang Ama kembali bertanya ( sambil berpikir darimana Gusdur tau kalau saya utusan Habib!) “ Gus, Habib mana? Saya butuh doa dari Antum!” Gusdur Membalas,” Loch Kamu kan Ikut Habib Cililitan.” ( Maksudnya Habib Hamid bin Alwi bin Hud Alatas, Sahabat Gusdur dan Guru Para Habaib dan Kiai). Bang Ama sontak diam dan meninggalkan Gusdur karena antrian hadirin yang mau Bermusafahah kepada Gusdur masih panjang.

“ Tau dari mana beliau saya suka berkhidmat kepada Habib Hamid, Gusdur memang Wali!” tegas Bang Ama. Sungguh cerita pengalaman seperti ini memang selalu ditunggu para pecinta Ulama Nusantara, selain penuh keberkahan pada akhirnya kita semua terobati secara jasmani dan rohani hingga lelah, dan dapat melangkah menyusuri kehidupan yang tersisa ini dengan penuh semangat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here