Antara H. Juhadi H. Wahidi dan H.Yance

140

ANTARA H. JUHADI H. WAHIDI DAN H. YANCE

Oleh : Yahya Ansori

Wakil Sekretaris PCNU Indramayu

Iklan Layanan Masyarakat

Tulisan ini bukan sebuah analisa tentang pilkada dan ketokohan tapi soal psikologi. Seringkali setiap proses politik baik lewat pilkada, pemilu legislatif sampai pemilihan kuwu menyisakan sebuah luka, dendam dan kebencian. Di satu sisi mereka yang dilevel bawah yaitu pemilih, pelaksana terdapat gesekan yang keras, di sisi lain mereka yang di atas bisa tertawa bersama sudah terjadi rekonsiliasi dan bisa bekerja bersama. Harus ada ikhtiar menjelaskan bahwa segera setelah pilkada kita bisa saling memaafkan, melakukan rekonsiliasi dan kembali bekerja seperti biasa. Kita harus beranjak menjadi negara modern dengan kemampuan memaafkan yang lebih baru di kondisi normal baru. Untuk apa kita memelihara kebencian, seperti statemen kawan saya H. Juhadi itu temannya H. Wahidi dan H. Wahidi itu kawannya H. Yance. Tentu ini sulit tapi berikut tips fase memaafkan (forgiveness) menurut Robert Enright biasa disebut Enright Theory dari bukunya Forgiveness is a Choise.

Memaafkan itu pilihan, mau memaafkan atau tidak memaafkan itu terserah kita. Kalau kita memaafkan hidup kita akan ringan, dan kalau kita tidak memaafkan ya silahkan nikmati beratnya menanggung kemarahan dan kebencian. Mari kita mulai fase pertama memaafkan yaitu uncovering phase (fase membuka), di fase pertama ini ungkap, pahami, luka dan sakitmu. Seringkali kita yang di bawah tak mengerti kenapa kita harus membenci. Luka itu terus dipupuk oleh politisi kadang kita tak paham kenapa kita harus menyalahkan seseorang. Jika ada pertanyaan kenapa anda membenci Yance ya karena beliau musuhnya Wahidi, kita tidak pernah membedah apa betul Yance dan Wahidi bermusuhan? Bukankah di masa awal Yance dan Wahidi berpasangan. Kenali rasa marahmu dan kebencianmu, jangan sampai ketidaksukaan dan kebencian kita karena sesuatu yang tidak jelas. Hubungannya apa dengan kita sehingga kita ikut-ikutan tak suka dan marah. Mari kita bongkar atas alasan apa kita tidak suka.

Setelah kita jelas atas alasan-alasan tadi baru kita lanjut ke fase berikutnya yaitu decision phase yaitu fase berfikir. Kira-kira layak tidak dimaafkan, kalau kita maafkan positifnya apa negatifnya apa. Buat apa kita memikirkan sesuatu yang orangnya juga sudah tak memikirkan kita, pilkada sudah usai ngapain kita terus berkutat pada kebencian, Apa untungnya buat kita? Yang diatas sudah akur kerja dengan ruangnya masing masing kenapa kita masih terus bermusuhan? Di fase ini kita menimbang dan memikirkan atau decision phase.

Fase selanjutnya adalah work phase, fase kerja memaafkan. Ya sudahlah namanya juga proses pemilihan ada yang menang ada yang kalah, ada petahana dan penantang. Masing masing punya tugas, petahana bertahan dengan capaian-capaian prestasinya, penantang mengkiritisi kekurangan lawannya. Kita harus melihat sisi positifnya, Jika kita kalah jangan anggap sebagai pihak yang menyakiti kita tapi bahwa dia adalah pemenang yang layak mendapatkannya. Kita lihat dia sebagai manusia yang tentu punya perspektif positifnya sendiri, dan kita berusaha memahami jalan berfikirnya sampai kita memahami, sekarang kita jalan sendiri-sendiri dengan perspektif kita.

Setelah kita mampu memaafkan kita naik level spiritual pada fase keempat yaitu deepening phase, yaitu pemahaman yang mendalam, o ternyata seperti itu. Manusia memang bisa salah dan keliru dan kita maafkan, mungkin bisa kita yang butuh dimaafkan, ini fase pendalaman. Mari kita renungi agar kita move on. Buat apa kita memendam kebencian, kebencian itu kita meminum racun dan ingin agar orang lain yang mati. Diantara yang membuat kita sibuk berfikir adalah yang kita cintai dan yang kita benci, padahal yang kita cintai dan kita benci itu tak memikirkan kita, jadi maafkanlah karena maaf itu menyembuhkan. Memaafkan melepas kebencian membuat kita lebih realistis, membuktikan bahwa kita masih manusia. Hari ini kita kejam sekali pada orang yang keliru, salah dan keceplosan, jangan-jangan besok kita yang salah kita yang keliru dan kita yang keceplosan. Pemaafan itu di atas level adil dia dilevel ihsan. Sebagai penutup kalau anda di kubu H. Juhadi H. Wahidi atau H. Yance biasa saja menghadapi even pilkada mendatang. Karena H. Juhadi itu temannya H. Wahidi dan H. Wahidi temannya H. Yance. Semoga rakyat yang menang dan masyarakat senang.yahya1.jpg

Penulis
Yahya Ansori

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here