The news is by your side.

GELOMBANG BESAR PMII JABAR

GELOMBANG BESAR PMII JABAR | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa Barat


Zaeni Shofari – Historis PMII Jawa Barat begitu panjang dan bergeliat. Bukan karena PMII berdiri sejak tahun 1960, PMII Jawa Barat juga ada, namun dua orang pendiri PMII berasal dari Bandung.

Dua orang itu Makmun Syukri dan Hilman Badruddinsyah. Mereka memulai mendirikan PMII bersama 12 orang mahasiswa NU lainnya dari berbagai daerah, di Yogyakarta. Dan dideklarasikan di Surabaya, 17 April 1960.

Pun saat pertama dikumpulkan di Kali Urang, oleh Kiai Anwar Musaddad yang saat itu sebagai anggota DPRGR Yogyakarta. Bahkan, menurut Senior Hilman Badruddinsyah saat Saya silaturahim di awal tahun 2012, yang memasak makanan mahasiswa NU itu adalah Ibu Atikah, istrinya Kiai Anwar Musaddad.


Follow Channel LTNNU Jabar di Whatsapp untuk mendapatkan update artikel terbaru. Klik Link ini >> Channel LTNNU Jabar


 

Pada perkembangannya tentu yang menarik saat Kongres PMII XII di Surabaya tahun 1997.

Kader PMII Jawa Barat, (alm.) Abdul Muis, Ketua Umum PMII Tasikmalaya mendapat “Kambing Hitam Award”, setelah dituduh sebagai aktor utama kerusuhan Tasikmalaya 26 Desember 1996. Yang membuat Tasikmalaya lumpuh dan luluh lantah.

Award itu diberikan saat Ketua Umum PB PMII dipimpin Sahabat Muhaimin Iskandar, sekaligus koreksi total terhadap tirani Soeharto. Kongres PMII XII juga melahirkan rekomendasi, agar negara mengakui Konghucu sebagai agama.

Pada perkembangannya, saat Gus Dur menjadi Presiden tahun 1999, Konghucu resmi menjadi salah satu agama yang diakui negara, berdampingan dengan agama lainnya. Dilanjutkan Presiden Megawati di tahun 2001, dengan menambah Hari Imlek sebagai hari libur nasional.

Kepimpinan Sahabat Muhaimin Iskandar saat memimpin PB PMII 1994-1997 begitu hits dengan Paradigma Masyarakat Arus Pinggiran. Perlawanan pada penguasa dan pembelaan pada kaum mustad’afin (tertindas) menjadi terdepan. Aksi sosial dan jalanan, menjadi keharusan yang menjadi menu wajib aktivis saat itu. Siapa mahasiswa yang belum pernah demo? 🤣…

Jadi teringat (alm.) Slamet Effendy Yusuf–nama yang sering disebut Ketum IKA PMII Sahabat Ahmad Muqowam saat sambutannya–dalam Buku “Zamroni Tokoh Kunci Angkatan 1966” yang memaparkan perkembangan PMII Cabang Yogyakarta di tahun 1972. Buku ini, diterbitkan oleh Pustaka Indonesia Satu, penerbit yang digagas Arief Mutdasir Mandan, juga PMII Yogyakarta.

Saat itu, sudah merintis sekretariat permanen untuk cabangnya. Hebatnya lagi, motor sebagai inventaris cabang sudah dimilikinya.

Bersyukur Saya, beberapa kali mendapat pencerahan dan diskusi dengan Mas Slamet. Termasuk menceritakan, bagaimana berdiasporanya kader-kader PMII, khususnya di Yogyakarta. Satu persatu, kader masuk Jakarta dengan ruangnya masing-masing.

Baru setelah Mas Slamet menjadi Ketum Ansor, perlahan selanjutnya “seleksi alami” itu dilanjutkan oleh yang lainnya.

Tidak heran kader-kadernya menyebar diberbagai tempat dan sektor. Terlebih di tahun 1990-an NGO banyak dikuasai kader PMII Yogyakarta. Bahkan saat PBNU periode pertama dipimpin Kang Said Aqil Siradj, mayoritas berasal dari PMII Yogyakarta yang sudah menyebar diberbagai daerah atau daerah asalnya.

Lompatan besar memasuki struktur lebih tinggi, untuk hijrah ke Jakarta menjadi kebutuhan. Maka proses seleksi alam yang natural, begitu Mas Slamet menyebutnya, terjadi.

Satu satunya yang bisa disebut adalah Kementerian Agama. Ada nama Mas Slamet Riyanto, peletak pondasi PMII di sana. PMII nya berasal dari Yogyakarta. Terakhir pensiun di di tahun 2012 setelah menjadi Dirjen Haji.

Maka bicara Kemenag saat itu, pilarnya hanya dua, Yogyakarta dan Ciputat. Ciputat dikomandoi Sahabat Mas Munzir Suparta (Parta).

Mas Parta terakhir digantikan M. Yassin sebagai Irjen Kemenag di tahun 2012. Dua orang ini adalah pilar kuat bagi Suryadharma Ali (SDA), Menteri Agama saat itu.

Pun demikian Muhaimin Iskandar, sanad saat jadi aktivis PMII wasilah tidak lepas dari para senior, termasuk Mas Slamet Effendy Yusuf. Kekuatan baru yang banyak jadi inspirasi banyak pihak. Tetap harus memiliki pilar kuat dalam menopang kekuatan menuju 2024.

So pasti, mengutip Kang Nu’man Abdul Hakim, mendukung penuh upaya Muhaimin Iskandar menatap 2024 menjadi Capres.

Terakhir, ada yang menarik diungkapkan Muhaimin Iskandar. “Sangat haru acara ini, karena langsung dibelakang saya ada Mahbub Junaidi. Karena murid langsung Mahbub adalah Kang Nu’man. Gagasan, ide dan transformasi ilmu, pengalaman dan semangat Mahbub yang harus dibumikan”.

Leave A Reply

Your email address will not be published.