The news is by your side.

NUZULUL QUR’AN

NUZULUL QUR'AN | NU Online LTN Nahdlatul Ulama Jawa BaratAl Qur’an, mu’jizat yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW turun lewat proses yang tidak sebentar.

Mula-mula, oleh Allah Al Qur’an ini dijadikan salah satu catatan yang disimpan di Lauhul Mahfudz dengan julukan ALFADZ ASY’SYARIFAH.

Kemudian Allah turunkan ke Baitul Izzah, satu tempat di langit dunia secara keseluruhan pada malam Lailatul Qadar. Dimana pada malam Lailatul Qadar tersebut, langit tampak bersih dan hangat tanpa ditutupi secuil awan pun.

Setelah sempurna menempati Sama’uddunya, Al Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW, yang mana pertama kali nya terjadi pada malam 17 Ramadhan saat Rasul sedang ber khalwat di Goa Hira.

Saat Al Qur’an mengalami kodifikasi terakhir di zaman Khalifah Utsman, bentuknya masih sederhana, tanpa syakl, harakat, tanpa adanya ilmu tajwid dan ilmu-ilmu lain yang menunjang pembumian Al Qur’an.

Imam Abu Aswad Ad-Duali lah yang menciptakan tanda baca (syakal/harakat) berupa titik-titik, untuk membedakan huruf yang satu dibaca fathah, kasrah, atau dhammah.

Selanjutnya Al Alim Nasr bin Ashim dan Yahya bin Ya’mar berijtihad menciptakan garis-garis pendek untuk membedakan ejaan huruf yang sama, seperti ba, ta, tsa, ha, kha, ha, sin, syin, dan lain-lain.

Lalu, Al Alim Khalil bin Ahmad , guru dari Imam Syibawaih menukar fungsi tanda-tanda baca tersebut. Titik-titik yang tadinya merupakan tanda harakat diubah menjadi tanda pembeda ejaan antara huruf-huruf yang bentuknya sama. Serta menciptakan tanda tanwin, tasydid dan sukun.

Setelah itu, lahirlah ilmu tajwid yang
dihimpun oleh para ulama, di antaranya adalah Abu Muzahim Al Khaqani, Al-Adzhim Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam, Hafsh bin Umar Ad-Duriy, Al-Hafizh Abu Bakar bin Mujahid Al-Baghdadi, dan lain-lain.

Al Qur’an turun berangsur kepada Nabi dengan proses yang cukup lama. Ini mengidentifikasi bahwa kita mempelajari Al Qur’an dari mulai huruf-huruf nya hingga makna-makna nya butuh proses yang tidak sebentar.

Al Qur’an datang dengan “cara baca” yang berbeda-beda, sebagai penyentil bagi siapa saja yang selalu memaksa segalanya harus sama.

Di dalamnya ada Qira’at imam Nafi’, Ahlul Qur’an yang jika sedang berbicara, dari mulut nya keluar bau harum minyak misk. Yang mana ciri khas bacaannya ialah mementingkan waqaf dan ibtida pada ayat-ayat Taam.

Ada imam Ibnu Katsir, Ahlul Qur’an yang sempat dijadikan guru oleh imam Syafi’i, yang jika sedang bertadarrus, nyaris tidak pernah berhenti di tengah ayat kecuali pada 3 ayat saja.

Ada imam Abu ‘Amr, yang dalam dirinya terkumpul 100 jiwa ahli zuhud.

Ada imam Ibnu Amir, Ahlul Qur’an pemilik sanad tertinggi yang pernah menjadi pengganti Abu Darda untuk menjadi imam masjid Umawi.

Ada imam Ashim, sang Qari yang paling merdu suaranya dan amat fasih bacaannya.
Ada imam Hamzah, Ahlul Qur’an yang pula pandai dengan ilmu Faraid nya, yang oleh gurunya dijuluki sebagai Tinta AlQur’an.
Ada imam Al Kisa’i, Guru dari kedua putra Harun Ar Rasyid, yakni Amin dan Ma’mun.

Al Qur’an ialah kitab suci samawi yg terakhir kali diturunkan pasca penurunan kitab-kitab samawi lainnya yang menjadi pedoman umat terdahulu. Sebagai Kitab suci yang periwayatannya menggunakan metode kolektif alias ar Riwayah at Tawatur, menjadi satu dari sekian bukti yang aktual bahwa AlQur’an itu bukan dongeng fiktif sebagaimana yang di- judge oleh sebagian golongan.

Penulis
Zahro Diniyah
2 Comments
  1. universitas muhammadiyah surabaya says

    artikel yang bagus,semoga sukskes selalu..!

    1. LTN NU Jabar says

      Terimakasih banyak Ka…

Leave A Reply

Your email address will not be published.