The news is by your side.

Hubungan Hari Santri, NU dan Momentum Resolusi Jihad 22 Oktober 1945

Soleh Hidayat  – Santri adalah bagian masyarakat yang memiliki konsentrasi dalam bidang pendidikan agama. Proses belajar yang dilakukan yaitu di pondok pesantren dan diajarkan khusus oleh para Kiai dan Ulama. Namun selain ilmu agama, santri juga diajarkan tentang hablum minannas, yaitu hubungan baik dengan sesama manusia dan hubbul wathon, kecintaan satri terhadap tanah air.

Istilah santri menurut KH Hasyim dalam nu.or.id terdiri dari 5 huruf. Yaitu huruf sin, salik fil ibadah yang artinya jalur beribadahnya harus lurus. Yang kedua na’ibun anis syuyukh, poin ini dimaknai harus mulai menata hati dan cita – cita untuk meneruskan perjuangan para sesepuh.

Ketiga, huruf ta’. Ta’ibun anid dzunub. Diartikan bahwa santri harus senantiasa bertobat dari kesalahan – kesalahan yang telah dilakukan. Dilanjut raghibun fil khairat yaitu senang dengan hal – hal yang positif.

Dan terahir yakin ala man an’amallahu ma’ah. menjadi santi harus yakin jika Allah sudah memberikan jatah rizki tetapi wajib dibarengi dengan usaha.

Proses pembelajaran seperti ini yang menjadikan salah satu bukti bahwa santri berperan penting mempertahankan dan melanjutkan perjuangan para sesepuh dalam menjaga stabilitas negara dari sebelum hingga setelah merdeka sampai saaat ini.

Jauh sebelum kemerdekaan hingga paska kemerdekaan, para sesepuh atau santri dahulu berjuang selain belajar menimba ilmu, namun juga ikut berperang demi bangsa dan negara.

Hal tersebut dibuktikan dengan terjadinya proses resolusi jihad yang dilakukan oleh para santri dan ulama yang di pimpin oleh KH Hasyim asy’ari (Pendiri Nahdlatul Ulama) pada tanggal 22 oktober 1945. Dalam resolusi jihat ini santri dan ulama diwajibkan untuk berjihad untuk mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia dengan melawan penjajah yang saat itu masih berada di wilajah Indonesia.

Dikutip dari detik.com bahwa terjadinya resolusi jihad dawali pada tanggal 17 September 1945, KH hasyim asy’ari mengeluarkan fatwa jihad di kalangan para Kiai dan santri, untuk melawan para penjajah demi mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.

Fatwa itu kemuadian melahirkan resolusi jihad yang diesepakati dalam rapat di Kantor Pengurus besar NU di Bubutan, Surabaya pada 21- 22 Pktober 1995.

Dalam naskah resolusi jihad yang dibacakan oleh KH hasyim Asy’ari ada empat poin, yaitu :

Mendengar bahwa umat Islam dan para ulama di seluruh Jawa-Madura sangat berhasrat untuk mempertahankan dan menegakkan agama dan kedaulatan negara Republik Indonesia

Menimbang bahwa mempertahankan dan menegakkan negara Republik Indonesia sesuai hukum agama Islam merupakan kewajiban bagi setiap muslim

Mengingat bahwa Belanda dan Jepang telah melakukan banyak kejahatan dan kedzaliman yang mengganggu ketentraman umum

Memohon kepada pemerintah Republik Indonesia untuk menentukan sikap dan tindakan yang nyata dan sepadan terhadap upaya yang membahayakan kedaulatan, agama, dan negara Indonesia

Ini tentu menjadi bukti besar bahwa santri memiliki peran penting dalam proses kemerdekaan Republik Indonesia. Bukan hanya memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, namun juga mengisi kemerdekaan hingga saat ini.

Buah hasil perjuangan para santri dan ulama, maka pemerintah Republik Indonesia menetapkan melalui Keppres Republik Indonesia No. 22 tahun 2015 tentang hari santri. Dalam keputusan tersebut tertera bahwa pemerintah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri.

Sehingga momentum ini menjadi agenda bersejarah bagi kalangan santri, serta sebagai bukti bahwa santri memiliki kewajiban yang sama dalam meneruskan bangsa ini.

Penulis adalah Soleh Hidayat Alumni STITNU Al – Farabi Pangandaran

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.