Islam yang Bagaimanakah yang Paling Baik?

184
Islam yang Bagaimanakah yang Paling Baik?

اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ – أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم – بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Agama yg diterima di sisi Allah adalah lslam (3:19)
إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّه ٱلْإِسْلَـٰمُ ۗ …

Sebelum Allah menciptakan manusia, semua fasilitas untuk manusia dapat survive telah Allah sediakan di dunia, termasuk jalan menuju akhirat.
دخل الجنه

Jalan menuju sorga adalah taat kepada Allah dan Rosul-Nya. Tidak sedikit seorang Muslim taat kepada Allah dan Rosul-Nya yang separo2, bahkan banyak melakukan maksiat atau tidak memperhatikan rambu-rambu syariah, sehingga saudara sesama Muslim terganggu karenanya.

Islam mengajarkan untuk meninggalkan hal-hal yang tampak ringan, namun (ternyata) sulit ditinggalkan, seperti: ghibah, naminah, dan fitnah. Rosulullah mengingatkan pada umatnya, agar meninggalkan tiga perbuatan jahat tersebut, karena bukan hanya merusak tatanan harmoni kehidupan berbangsa, tapi juga pelakunya diganjar di neraka. na’udzubillahi.

Salah satu sabdanya adalah

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ – وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Seorang Muslim (yang baik) adalah orang yang menjadikan saudara sesama Muslim selamat dari bahaya lidah dan amukan tangannya. Seorang Muhajir (pecinta hijroh sesungguhnya) adalah orang yang meninggalkan perbuatan yang dilarang oleh Allah (lmam Muslim, hadits no.9 Bab lman)

أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

Kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal (al-Bukhori 11)

Memberi makan adalah salah satu bentuk kepedulian sosial. Menggunakan bahasa yang lebih umum, Nabi menekankan kepada saling menolong untuk kesejahteraan masyarakat. Mereka yang lapar akan mudah tergoda berbuat kejahatan. Oleh karena itu, tugas umat lslam adalah bagaimana membuat kesejahteraan sosial.

Pesan kedua dari Nabi adalah memberi salam. Salam adalah simbol penghormatan, kasih sayang dan perdamaian. Selain meningkatkan kesejahteraan, Nabi menekankan untuk menjaga kehormatan dan perdamaian masyarakat. Keduanya saling berkaitan erat.

Frase terakhir dari pesan Nabi juga amat dahsyat, kesejahteraan dan perdamaian itu dilakukan baik kepada orang yang dikenal atau tidak. Humanisme pesan Nabi begitu terasa. Tidak lagi membedakan agama, etnik, dan bangsa. Orang Mukmin diminta memberi makan dan menebar salam kepada semua.

Jangan lupa, pesan Nabi ini menjawab pertanyaan: Islam yang bagaimana yang lebih baik? Artinya Nabi menekankan pada amalan yang lebih baik dalam menjalankan agama, di luar ibadah mahdhah.

Hadits yg mirip juga terdapat sebelumnya di Shahih al-Bukhori-Muslim:

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْإِسْلَامِ
أَفْضَلُ قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Rasul ditanya “lslam manakah yg paling utama?” Rosul menjawab: siapa yang kaum Muslim selamat dari lisan dan tangannya. Kalau Hadits sebelumnya menggunakan redaksi khayr, hadits ini menggunakan istilah afdhal. Apa perbedaannya?

Ibn Hajar dalam kitab Fathul Bari mengutip al-Karmani bahwa kata afdhal bermakna yang lebih banyak pahalanya, sedang kata khayr yang lebih banyak manfaatnya, tapi bisa juga beda redaksi pertanyaan dan jawaban karena disesuaikan dengan penanya dan audiensnya.

Inti jawabannya sama, karena memberi makan artinya mereka selamat dari bencana yang diakibatkan tangannya. Mengucap salam berarti selamat dari kejahatan lisan. Demikian penjelasan dalam kitab Fathul Bari.

Hadits ini sangat dalam maknanya. Amalan Islam yang paling afdhal. Redaksi Shahih Muslim, kata Islam menjadi Muslim, sehingga pertanyaanya menjadi Muslim manakah yang paling utama. Keduanya dianggap sama oleh Ibn Hajar.

Jawaban Nabi luar biasa, yg paling utama adalah mereka yang menjadikan Muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya. Ini introspeksi ke dalam internal kita semua.

Yaitu orang lain yang selamat dari gangguan lidah (kata-kata makian dan menyakitkan) tangan (mengesher kalimat hoaks dan berprilaku kasar), memberi makan, dan menebar salam. Juga cepat menolong orang lain, tanpa pamrih. Sederhana, bukan?

Bagaimana orang hendak bekerja, bila selalu dibully, difitnah, dan dihadang dengan berbagai isu? Bagaimana orang bisa merasa aman dan nyaman, bila kondisi rumah tangga, lingkungan dan tempat kerja membuat dia merasa tertekan dan keamanannya terganggu?

Ada orang yang rajin ibadah, tapi mengapa gemar mencaci ? Rajin baca Quran, tapi mengapa enteng memfitnah & menebar hoaks?

Rajin tahajud, tapi mengapa mulut selalu ember dan nyinyir? Ada yg rajin sedekah, tapi mengapa merampas hak orang lain? Pakai sorban dan gamis, tapi mengapa mencaci-maki pemimpinnya?

Orang semacam itu, sekali lagi! Jenis manusia seperti itu, meski haji berkali-kali dan puasa Senin-Kamis tak pernah putus serta menyandang predikat “lslam” di KTP-nya, akan dimasukkan ke neraka! Bayangkan, amal sholihnya sia-sia saat di dunia, meski semua harta yang dimilikinya sebagai tebusannya, tidak akan mencukupi!

Suatu ketika ada orang yg dianggap sholihah, rajin sekali amalan baik, sholat malam, puasa, dan berbagai kebaikan menurut mata manusia, tapi dalam pandangan Allah, perempuan itu masuk neraka. Apa pasal? Ternyata di balik rajin ibadah, di rumahnya “menyiksa” kucing dengan tidak memberi makan dsb.

Menyiksa binatang, membulinya atau tidak peduli terhadap binatang, bisa masuk neraka! Bagaimana kalau yg dibuli, difitnah, dan diserbu dgn berita hoax itu manusia, tidak pantaskah mereka masuk neraka?

Mari kita jawab: “mereka pantas dapat balasan neraka!”

Pendosa, ia perempuan yg sering dipandang rendah, karena kelakuan buruknya. Akan tetapi, Allah mengangkatnya ke sorga. Menurut kalkulasi manusia, tidaklah demikian. Perempuan itu dipandang banyak dosa, tetapi setelah melihat seekor dogi alias anjing yg tampak sangat kehausan, ia memberinya minum. “Terselamatkanlah binatang yang dianggap najis tersebut,” sehingga Baginda Rosul menyebutkan, bahwa perempuan itu masuk sorga.

Sampai2 Bung Karno (Presiden RI l) menanyakan secara ilmiah kepada Prof.Dr.Kadirun Yahya perihal itu.
Jawaban profesor: “10:10=1; 10:100=1/10;
10:1000=1/100.
10:0=0 dan seterusnya.

Nol (0) disebut angka tak terhingga. Rohmat Allah tak terhingga, dibandingkan dengan adzab-Nya. Getaran rohmat Allah itu akan terkoneksi dengan frekuensi yang sama. Siapa yg dapat terkoneksi dengan signal Allah? Yaitu mereka yg mencari signal-Nya. Seperti a.l.: di samping sebagai prerogratif Allah, juga janji Allah dalam al-Qur’an.

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًۭا يَرَهُۥ
Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarroh pun, dia akan melihat (balasan)nya. (Zalzalah 99:7)

Dua kisah di atas terhadap binatang, yaitu yang satu ” menyiksa” dan lainnya “menolong.”

Ajaran lslam memberi gambaran dari hal yang dianggap remeh temeh dengan binatang yg dapat dilihat kesehariannya. Apalagi bila diangkat kepada yang lebih besar dan mulia, yaitu sosok mahluk yang bernama manusia. Memfitnah, membuli, dan menyakitinya, tentu disebut perbuatan terburuk bagi kemanusiaan. Demikian pula memuliakan manusia dan “menyelamatkan”nya termasuk sebaik-baik perbuatan.

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab; ‘Menurut kami, orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka.’

(Imam Muslim, hadits no.4678, bab Keharoman Berbuat Dholim)

بارك الله لي ولكم فى القرآن العظيم ونفعنى وإياكم بم فه إنه هو الغفو ر الرحيم

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here