Jejak Pesantren Tatar Sunda Pra Kemerdekaan : Kabupaten dan Kota Bandung
Di Kabupaten dan Kota Bandung, ada beberapa pesantren yang tergolong tua, yaitu Pesantren Mahmud, Sukamiskin, Baitul Arqam, Al-Jawami, Al-Ittifaq, dan Pesantren Persis di Kota Bandung. Pesantren Mahmud, menurut sumber lisan, telah ada pada masa terjadinya Perang Diponegoro (1825-1830). Keberadaan Pesantren Mahmud sangat sulit dilacak karena sampai saat ini sudah tidak ada.

Adapun Pesantren Sukamiskin, didirikan oleh K. H. Muhammad Al-Khot pada tahun 1881. Sampai sekarang Pesantren Sukamiskin masih ada sekalipun gaungnya seperti terlibas oleh dahsyatnya arus perputaran roda zaman. Masa kepemimpinan K. H. Dimyati merupakan masa-masa keemasan dari Pesantren Sukamiskin, karena pada periode itu banyak ribuan santri yang belajar di pesantren ini. Pesantren Sukamiskin banyak melahirkan ulama, tercatat diantaranya K. H. Zaenal Mustafa, K. H. Muhammad Burhan, dan K. H. Sohibul Wafa Tajul Arifin.

Pesantren Baitul Arqom didirikan tahun 1922 oleh K. H. Muhammad Faqih. Ketika Pesantren Baitul Arqom didirikan, Lemburawi masih merupakan daerah hutan belantara dan masyarakatnya masih belum mengetahui agama Islam secara baik dan benar. Dengan kondisi sosial budaya seperti itu, K. H. Muhammad Faqih pindah dari Marujung ke Lemburawi (sekitar 1-2 km) untuk mendirikan sebuah pesantren. Dengan bahan dari kayu dan bambu, berdirilah Pesantren Baitul Arqom. Sejak tahun 1946, K. H. Muhammad Faqih kedatangan menantunya dari Pesantren Sukamiskin, perkembangan Pesantren Baitul Arqom cukup siginifikan baik secara fisik maupun secara pengajarannya. Setelah Pesantren Baitul Arqom dipegang oleh K. H. Ali Imron, pada tahun 1962 pendidikan formal mulai dibuka untuk tingkat dasar yang bernama Madrasah Wajib Belajar (MWB; setingkat dengan madrasah ibtidaiyah). Pada tahun 1967, mulai dibuka untuk jenjang lanjutan tingkat pertama yang waktu itu bernama Pendidikan Guru Agama (PGA).

Adapun Pesantren Sindang Sari Al-Jawami didirikan pada tanggal 3 Mei 1931 oleh K. H. Muhammad Sudjai. Pesantren ini terdapat di Cileunyi Wetan Kec. Cileunyi Kabupaten Bandung. Inisiatif K. H. Muhammad Sudjai ini mendapat dukungan dari ayah beliau yaitu K. H. Muhammad Ghazali dan dukungan paman beliau yaitu H. Tamim serta saudara-saudara beliau, yaitu K. H. Saeroji dan K. H. Dimyati. Pesantren “Sindangsari” merupakan pesantren tradisional yang cukup terkemuka di Jawa Barat, sehingga sampai saat ini sudah melahirkan ribuan alumni dari tahun 1931. Mereka pada umumnya menjadi ulama-ulama di berbagai pelosok di Jawa Barat, dan diantaranya tidak sedikit yang menjadi pejabat pemerintah dan menjadi pengusaha terkemuka. Nama Al-Jawami diambil dari Kitab Ushul Fiqih Jamul Jawami yang berarti lengkap dan universal.

Sementara itu, Pesantren Al-Ittifaq didirikan oleh K. H. Mansyur pada tanggal 1 Pebruari 1934 M. /16 Syawal 1302 H. Pesantren ini berlokasi di Kampung Ciburial, Desa Alam Indah, Kecamatan Ciwidey. Pesantren Al-Ittifaq berdiri atas restu Kanjeng Dalem R.A.A.Wiranata Kusumah V, Bupati Bandung waktu itu. Pada saat berdiri, pesantren ini semula bernama Pesantren Ciburial, sebuah nama yang dihubungkan kepada tempat di mana pesantren itu berada. Pesantren ini setelah K. H. Mansyur dilanjutkan oleh K. H. Fuad Affandi, K. H. Rifai, dan K. H. Fuad Affandi.
Pesantren Persis (Persatuan Islam), jauh lebih muda bila dibandingkan dengan pesantren yang telah disebutkan sebelumnya. Pesantren Persis (1) di Bandung didirikan pada bulan Maret 1936. Pesantren ini bisa disebut kontroversial sejak awal mula berdirinya. Salah satu contoh gebrakkan kontroversial adalah adanya fatwa Pesantren Persis melalui fatwa A. Hassan yang menetapkan bahwa kaum Muslim harus mau ijtihad dan tidak boleh bertaklid, termasuk kepada imam yang empat (Anonim, t.t., 12-13; Alhamidy, 1940:15-19; Iskandar, 1999: 166).
Perbedaan orientasi ideologi antara pesantren ini yang cenderung modernis dengan pesantren lain di Jawa Barat yang merupakan pesantren salaf membuat jaringan keilmuan / sanad pesantren ini sulit dilacak.
Pesantren ini didirikan dibawah organisasi Persatuan Islam (Persis), organisasi yang didirikan oleh sekelompok masyarakat yang berasal dari Sumatera yang lama menetap di Bandung. Di antara mereka adalah Haji Zamzam dan H.M. Junus yang berasal dari Palembang pindah ke Bandung abad ke-18. Keduanya adalah pedagang yang memiliki minat besar akan ilmu agama Islam, namun hingga saat ini tidak ditemukan catatan sejarah yang akurat jika mereka pernah nyantri di sebuah pesantren di Jawa Barat. Dalam catatan Deliar Noer hanya ditemukan catatan bahwa H. Zamzam (Noer, 1991:96) pernah belajar di Darul Ulum Mekkah dan rekannya H.M. Junus memliki pengetahuan agama yang baik.
Dua tokoh sentral lainnya adalah A. Hassan, berasal dari keluarga India – Indonesia. Ayahnya bernama Sinna Vappu Maricar yang dikenal juga dengan nama Ahmad serta ibunya asal Surabaya (Noer, 1991:96). Belajar agama dari ayahnya dan beberapa guru ngaji (Lathifulhayat, 2008:110), pernah bersekolah di sekolah melayu dan sekolah Inggris. Selama rentang 1910 – 1921 A. Hassan bekerja di Singapura sebagai pedagang tekstil, guru dan juru tulis di kantor jemaah haji (Noer, 1991:96). Sedangkan tokoh lainnya adalah Mohammad Natsir kelahiran Alahan Panjang Sumatera Barat tahun 1908, anak seorang pegawai pemerintah. Dari pendidikan agama guru-guru nya di Solok, M. Natsir mengenal ajaran-ajaran pembaharuan (Noer, 1991:96). Pada 1927 melanjutkan sekolah ke AMS di Bandung, pernah menjadi anggota Jong Islamieten Bond (JII) Bandung, mengajar tentang agama Islam di Holland Inlandse Kweekschool (HIK, sekolah guru) dan MULO.
Merujuk pada pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Pesantren Persis yang muncul pada dekade 1930-an berada langsung di bawah binaan organisasi Persis yang berdiri tahun 1920-an. Pesantren Persis didirikan bukan oleh “ seorang ulama” dalam pengertian khusus, yaitu kyai yang memeiliki pesantren dan pesantren tetapioleh para pengurus organisasi Persis. Sistem pendidikannya pun berbeda, menggunakan sistem madrasi saat ini dan menggunakan kurikulum tahunan untuk naik jenjang, mirip sekolah formal. Karena hal tersebut, hubungan intelektual dengan pesantren lain di tatar Sunda, secara kelembagaan, tidak ada sama sekali.
Catatan Kaki :
- Pesantren ini pernah pindah ke Bangil pada 1940 dan Gunung Cupu, Ciamis pada 1945 untuk mengungsi menghindari agresi militer Belanda. Berdasarkan informasi, di daerah Gunung Cupu terjadi pertempuran Gunung Cupu yang dimotori Tentara Islam Indonesia (TII) melawan Belanda pada 17 Februari 1948 yang dijadikan dasar legitimasi berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) karena mereka (TII) memandang NKRI sudah tidak ada dan divisi Siliwangi sendiri telah hijrah ke Yogyakarta setelah perjanjian Renville (Hesriu S. dan Joebar A, Prisma No. 5,Mei 1982:94)
Sumber :
- Disarikan dari hasil Penelitian yang berjudul “SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM
DI JAWA BARAT” Pimpinan Tim Peneliti Prof. Dr. Hj. Nina H. Lubis, M. S. - Buku “Sejarah Pesantren : Jejak penyebaran dan jaringannya di wilayah Priangan (1800-1945)” Penulis : Dr. Ading Kusdiana M.Ag.
Baca juga resensi buku lainnya :
- Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
- Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
- Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
- Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
- Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.




Comments are closed.