Keseimbangan Intelektualitas Seorang Muslim

69

IMG-20170728-WA0020.jpg

Andri Nurjaman – Intelektualitas atau ilmu merupakan hal yang paling utama dalam hidup, bahkan dalam ibadah. Beribadah jika tidak didasarkan dengan ilmu maka ibadah sehebat apapun tidak akan diterima oleh Allah SWT. Ilmu merupakan fadilah yang telah Allah karuniakan kepada umat manusia, namun dalam hal ilmu tersebut selalu bersandingan dengan amal, dalam artian ilmu yang telah didapat harus bisa diamalkan oleh diri sendiri dan bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar, selanjutnya dalam beramal pun harus dengan hati yang ikhlas, bagaimana beramal dengan ikhlas? Salah satu caranya dengan melupakan amal baik tersebut, hal ini sesuai dengan nasihat KH Mustafa Bisri atau sering disebut Gus Mus :”Abadikan kebaikanmu dengan melupakannya”.

Kembali kepada ilmu, mencari ilmu hukumnya wajib bagi semua kaum muslimin wal muslimah, waktu atau tempo untuk mencari ilmu adalah sepanjang hayat, artinya selagi nafas masih berhembus kewajiban mencari ilmu itu masih ada dalam setiap jiwa seorang muslim.

Iklan Layanan Masyarakat

Pertanyaan selanjutnya adalah, ilmu apa yang diwajibkan ? yaitu ilmu agama, ilmu mengenai ibadah, baik ibadah lahir seperti perkara Shalat yang didalamnya mencakup rukun, sunat, syarat dan lainnya. Ibadah batin seperti sabar, tawakal, qonaah. Ilmu batin ini harus dilalui atau didapatkan dengan riyadhoh atau latihan yang harus didampingi atau dibimbing oleh guru khusus.

Apakah ilmu pengetahuan umum tidak wajib dicari ? jawabnya bukan wajib, tapi perlu. Menukil dari Kitab Ta’lim Muta’alim karya Syekh Azjarnuji menyebutkan bahwa jika ingin mendapatkan dunia harus dengan ilmu, jika ingin mendapatkan akherat harus dengan ilmu dan jika ingin mendapatkan dunia dan akherat harus dengan ilmu. Ilmu agama atau ilmu akherat harus dijadikan pondasi yang kuat dalam kehidupan, harus dijadikan orientasi utama dalam beramal sedangkan ilmu dunia/ ilmu pengetahuan umum seperti ilmu astronomi, ilmu sejarah humaniora, ilmu kedokteran dan lain-lain dijadikan wawasan penambah.

Pepatah sunda mengatakan “teu boga elmu akherat seperti jalma lolong, te boga elmu dunya seperti jalma lumpuh”, artinya jika kita tidak mengetahui ilmu agama kita seperti orang buta yang bisa menabrak apapun didepannya, seperti meminum minuman yang dilarang oleh agama, berjudi, zina dan lain-lain. Jika kita tidak mengetahui ilmu umum kita seperti orang yang lumpuh, tidak bisa kemana-mana karena wawasan keilmuannya kurang.

Jika kedua ilmu ini (agama dan umum) dimiliki oleh seorang muslim maka bisa disebut ideal atau seimbang iktelektualistasnya. Ilmu akherat/ ilmu agama kita bisa dapatkan di lembaga pendidikan Pesantren yang mengkaji sumbernya pada kitab-kitab klasik karangan Ulama, sedangkan ilmu dunia/umum kita bisa dapatkan di pendidikan formal seperti sekolah dan madrasah dari tingkat dasar, menengah dan tinggi.

Salah satu amanat dari Alm. KH Saefudin Zuhri (Pendiri Pondok Pesantren Haur Kuning Salopa Tasikmalaya) berwasiat kurang lebih seperti ini “haram sakola, kudu dua kola” artinya diharamkan atau dilalarang hanya bersekolah saja, wajib/ diharuskan Mesantren sambil sekolah. Artinya orientasi utama adalah belajar agama di pondok pesantren sambil belajar ilmu umum dibangku sekolah. Hal tersebut diharapkan untuk mencetak generasi penerus yang ilmunya seimbang, yang intelektualitasnya mapan, mengerti ilmu agama dan berwawasan luas, sehingga tidak ada kecacatan iktelektual pada seorang santri khususnya umumnya bagi semua muslim.

Hal ini jika diterapkan pada pola pendidikan kita, saya yakin bisa menghasilkan sumber daya manusia yang alim dan unggul serta bisa membawa Indonesia pada arah kemajuan. Menurut saya ini yang disebut dengan keseimbangan intelektualitas seorang muslim, akherat ada dihatinya dan dunia berada ditangannya. Hasanah Fi Dunya, Hasanah fil Akherat.

Wallahualam.

Penulis
Andri Nurjaman

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here