Kiprah Pertanian : Refleksi Sejarah Eropa

26

Salah satu poin penting refleksi akhir tahun 2016 yang disampaikan PBNU pada akhir Desember 2016 di gedung PBNU dibidang ekonomi dan kesejahteraan adalah mengenai sektor pertanian. Direkomendasikan agar, “Pemerintah dapat mencetak lahan-lahan pertanian baru dari sekitar 23 juta hektar lahan kering yang ‘nganggur’ dan membagikannya kepada petani sebagai kebijakan afirmasi.” PBNU menyadari bahwa tanpa pertanian yang mapan dan kuat, Indonesia tidak akan mampu berswasembada pangan dalam jangka pendek dan untuk kepentingan jangka panjang Indonesia tidak akan mampu bertahan dengan baik dalam bersaing dengan bangsa lain. Tanpa-nya Indonesia akan tetap bergantung kepada bangsa lain untuk memenuhi kebutuhan hidup mendasar rakyatnya, dan itu adalah harga yang sangat mahal dan merugikan bagi sebuah negara yang memiliki tanah luas lagi subur ini.

Saya tertarik untuk “menyambungkan” rekomendasi PBNU itu dengan sejarah perkembangan Eropa yang ditulis dalam buku “Dari Puncak Baghdad” karya Mir Tamim Anshary. Dalam perjalanan sejarahnya Eropa terbilang maju untuk urusan pertanian, bahkan bisa dibilang ; tanpa pertanian yang mapan dan kuat, Eropa tidak akan mampu melakukan perang salib yang berlarut-larut selama kurang lebih 2 abad.

Tanpa pertanian yang mapan dan kuat, Eropa tidak akan mampu melakukan perang salib yang berlarut-larut selama kurang lebih 2 abad.

Keadaan Eropa sebelum abad ke-11 memang amat mengerikan untuk waktu yang lama. Mendapat serangan selama berabad-abad dari suku-suku Jermanik,  Hun, Avar,  Magyar, Muslim, Viking dan lainya, Eropa nyaris tenggelam dan hanya mampu sekedar bertahan. Pada saat itu, hampir semua orang Eropa adalah petani. Hampir setiap petani melakukan pekerjaan melelahkan dari fajar hingga petang hanya demi mendapatkan makanan yang cukup untuk mencegah mereka dari kelaparan dan mendukung lapisan tipis kelas atas yang terdiri dari aristokrat militer dan rahib. Kecuali sedikit diantara mereka yang pergi ke gereja, anak laki-laki kelas atas hampir tidak memplajari apa-apa kecuali cara berkelahi.

Akan tetapi, suatu waktu pada abad ke-11, konsekuensi dari berbagai inovasi kecil berakumulasi menuju sebuah titik jungkit. Inovasi-inovasi ini begitu halus sehingga mungkin tidak diperhatikan pada saat itu. Salah satunya adalah ‘bajak berat’ bermata baja yang dimodifikasi sehingga bisa memotong akar dan, dibandingkan dengan model lama, menggali alur yang lebih dalam di tanah basah Eropa utara. Bajak berat memungkinkan petani untuk membersihkan hutan dan memperluas lahan ke daerah yang sebelumnya dianggap tidak cocok untuk pertanian. Akibatnya, tersedia lebih banyak tanah bagi petani.

Penemuan kedua adalah tali leher kuda, yang merupakan sedikit perbaikkan dari tali kekang yang digunakan untuk mengendalikan hewan pembajak tanah. Versi sebelumnya hanya bisa digunakan pada sapi, disebabkan karena bentuknya. Versi lama tidak bisa digunakan pada kuda dan bisa mencekiknya sampai mati. Versi terbaru bisa digunakan untuk kuda, dan karena kuda ternyata bisa membajak sekitar lima puluh persen lebih cepat dari sapi. Akibatnya para petani bisa membajak tanah lebih banyak dalam waktu yang sama jika menggunakan sapi.

Inovasi lainnya adalah dalam hal pola tanam. Menanam lahan yang sama tahun demi tahun melelahkan tanah sehingga petani harus membiarkan ladang mereka “istirahat” dari waktu ke waktu. Tapi perut tidak pernah beristirahat, sehingga petani Eropa biasanya membagi tanah mereka menjadi dua bidang. Setiap tahun mereka menanam tanaman di satu bidang dan membiarkan bidang lainnya kosong. Tahun berikutnya, mereka menanam di bidang kedua dan membiarkan yang pertama kosong. Namun, setalah berabad-abad, orang Eropa mulai menyadari bahwa sebuah lahan tidak harus istirahat setiap tahun kedua. Lahan itu tetap sama suburnya jika dibiarkan kosong hanya satu tahun dalam setiap tiga tahun. Secara bertahap, petani mulai membagi lahan mereka menjadi tiga bidang dan menanam dua bidang setiap tahunnya sementara membiarkan satu bidang kosong. Akibatnya, ini memberi petani seperenam bagian tanah yang lebih subur setiap tahun.

Apa akibat dari perubahan-perubahan kecil itu ? Tidak banyak. Perubahan itu hanya menghasilkan surplus yg tidak banyak dari waktu ke waktu untuk bisa membeli barang-barang yang sedikit beragam dan memberi sedikit waktu luang yang mereka manfaatkan untuk membuat barang-barang kerajinan yang bisa diperdagangkan. Saat itu, persimpangan jalan tertentu menjadi tempat bertemu antara pembeli dan penjual yang terus berkembang menjadi pasar yang lebih permanen dan akhirnya berkembang menjadi sebuah kota.  Kita akan lihat efek perkembangan pertanian lainnya.

Perkembangan tersebut membuat uang kembali digunakan di Eropa, dan dengan berkembangbiaknya uang, para petani dan pedagan kaya di Eropa mulai memikirkan satu hal, perjalanan. Dan ke mana mereka bepergian ?  Yah, sebagai dunia yang terbenam oleh agama dan takhayul agama, mereka pergi ke tempat-tempat keramat untuk memperoleh keajaiban. Jika uang mereka terbatas, mereka mengunjungi kuil-kuil lokal, tetapi jika dana mencukupi mereka bepergian ke kuil besar di tanah suci, Palestina. Di Palestina mereka menapak tilas perjalanan dan kehidupan Kristus, berdoa, memohon ampun, membeli jimat untuk mengobati penyakit fisik mereka, membeli barang-barang aneh yang hanya ada di pasar-pasar dunia Timur, membeli oleh-oleh dan pulang ke rumah unruk merenungkan petualangan hidup terbesar mereka.

Kemudian, dengan semakin membaiknya perekonomian Eropa, kekuatan militer mereka pun pulih dan siap untuk membalas perlakuan Dinasti Seljuk terhadap peziarah Kristen dan kekalahan Bizantium.

Apa pasal penyebabnya ? Dinasti Seljuk merebut kendali atas Palestina dari Dinasti Fathimiyyah yang toleran (terkenal sebagai pendiri Al-Azhar) dan Abbasiyyah yang lamban. Sebagai mualaf, Seljuk Turki ini cenderung ke arah fanatisme. Mereka tidak bersemangat dalam menjauhi minuman keras, bersikap rendah hati, dermawan dan sejenisnya, tetapi mereka tidak tersaingi dalam soal mengungkapkan penghinaan sovinistik terhadap pengikut agama lain dari negeri-negeri yang jauh dan lebih primitif.

Peziarah Kristen memang tidak pernah dipukuli, disiksa apalagi dibunuhi. Tapi mereka diperlakukan serampangan di tanah suci mereka dengan diperlakukan sebagai manusia kelas dua yang diperlakukan secara kasar dan sedikit dilecehkan. Ketika petualang ini kembali ke Eropa, banyak hal yang mereka sumpahi dan keluhkan, tapi mereka juga membawa cerita tentang kemegahan negeri Timur; rumah-rumah indah, sutra dan satin yang digunakan oleh rakyat jelata, makanan lezat, rempah-rempah, parfum dan emas. Pokoknya cerita-cerita yang membangkitkan amarah sekaligus iri hati.

Pasal lainnya, kisah tentang pertempuran Manzikert (1071 M) dimana Turki Seljuk menghancurkan Bizantium dan menawan kaisarnya terdengar sebagai berita yang sangat mencengangkan. Ini menjadi faktor lain pemicu aliran pesan lain dari Bizantium tentang dunia Timur. Kaisar Bizantium menyeru para ksatria Kristen yang mulai kekurangan peperangan untuk diterjuni, (sebuah tugas pokok, kalau bukan pekerjaan satu-satunya para ksatria Eropa waktu itu) seiring berkurangnya serangan bangsa Viking, untuk berjuang membela Eropa. Seruan Bizantium ini juga disampaikan pada saingan terberat mereka di Barat, sang Paus Urbanus II, bahwa jika Konstatinopel jatuh maka “Mohammedans” yang kafir itu akan langsung datang meratakan Roma.

Kedua faktor itulah yang paling kuat untuk memancing Paus Urbanus II menyampaikan pidato berapi-api di sebuah biara di Prancis, Claremont. Menyatakan bahwa dunia Kristen sedang terancam kepada majelis bangsawan Prancis, Jerman, dan Italia, mencanangkan ekspedisi croisade (croix dari bahasa Prancis untuk kata salib). Dengan berfokus membebaskan Yerusalem dari Dinasti Turki Seljuk, Paus mengaitkan invasi ke Timur dengan ziarah sehingga membingkainya dengan tindakan religius. Oleh karena itu, dengan wewenang sebagai Paus, Urbanus II memutuskan bahwa siapapun yang pergi ke Yerusalem untuk membunuh kaum Muslim akan menerima pengampunan sebagian atas dosa-dosanya.

Sebagaimana terjadi dalam sejarah, tak perlu waktu lama (1096) tentara salib pertama mulai memasuki Anatolia Timur dan menyebut dirinya kaum Frank, sehingga pada masa berlangsungnya peperangan itu, orang Turki dan Arab tidak mengenalnya sebagai perang salib, namun menyebutnya sebagai peperangan melawan bangsa Frank (Al-Ifranj) dari Eropa. Eropa sanggup membiayai peperangan yang memakan waktu kurang lebih dua abad tersebut bermodalkan hasil pertanian yang melimpah.

Pertanian yang mapan dan kuat ternyata mampu merubah sejarah perjalanan hidup sebuah benua. Indonesia, dalam perjalanan sejarah masa lalu pun tercatat sebagai negara yang mapan dalam bidang pertanian. Kerajaan-kerajaan besar dikenal sebagai kerajaan kuat dalam sektor agraris, bukan kah itu pula yang mengundang bangsa-bangsa Eropa memburu kepulauan Indonesia untuk dikuasai ?

Ansor pun bercocok tanamNamun kini fakta yang terjadi justru sebaliknya. Lahan-lahan pertanian surut dengan cepat, kalaupun ada pembukaan lahan namun dikuasai pemodal asing seperti yang terjadi pada komoditas sawit. Pertambahan penduduk sepertinya tidak terkejar oleh tersedianya lahan-lahan baru untuk menunjang kebutuhan hidup. Para petani perlahan meninggalkan ladang yang irigasinya semakin rusak tak terawat dan membiarkan lahan pertanian berganti menjadi lahan perumahan.

Sungguh bukan sesuatu yang mudah untuk memulihkan sektor pertanian Indonesia, seruan PBNU kepada pemerintah untuk lebih bergiat memulihkan sektor pertanian mencerminkan kekhawatiran itu semua, namun disisi lain juga menyiratkan optimisme adanya solusi yang bisa diambil pemerintah, menyediakan kembali ladang-ladang untuk petani Indonesia.

Tanpa pertanian yang mapan dan kuat, Indonesia tidak akan mampu berswasembada pangan dalam jangka pendek dan untuk kepentingan jangka panjang Indonesia tidak akan mampu bertahan dengan baik dalam bersaing dengan bangsa lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here