Andaikan Khalifah itu Pecinta

101

Arti Khalifah secara bahasa adalah pengganti, wakil dan terakhir dapat diartikan sebagai penguasa (First Encyclopedia of Islam). Arti bahasa tersebut mengalami perubahan dan perkembangan.  Ketika arti khalifah dinisbahkan kepada Nabi Adam AS (QS; 2 ayat 30) mungkin dapat berbeda ketika dinisbahkan kepada Nabi Daud AS (QS; 38 ayat 26) atau mungkin ketika dinisbahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dan terakhir ketika dinisbahkan kepada sahabat Rosulullah SAW. Dan ketika dinisbahkan kepada pasca Rosulullah.

Perbedaan pemahaman tentang makna khalifah dapat menyebabkan kita berselisih. Padahal perbedaan makna dalam sebuah ayat dan riwayat biasa terjadi dalam keilmuan Islam, yang menjadi permasalahan adalah ketika kita meyakini pendapat Ulama tertentu kemudian menyalahkan pendapat Ulama yang lain. Bahkan kemudian mengkafirkan atau menyesatkan pendapat yang berbeda. Oleh karena itu kita perlu mendudukan makna khalifah dalam perspektif saling menghargai. Kita wajib meneliti tentang sejarah makna bahasa khalifah sesuai dengan kajian ahli bahasa dan sejarah agar tidak mudah menuduh orang yang berbeda kafir atau sesat. Penguasaan keilmuan dan bahasa arab (arti dulu dan kini) serta sejarah Islam secara komprehensif mutlak diperlukan agar makna teks tidak dapat dipermainkan secara bebas.

Makna Khalifah dalam Perspektif Cinta

Iklan Layanan Masyarakat

Sebagaimana penulis nukil dari arti khalifah adalah wakil, pengganti atau penguasa. Makna inipun secara bahasa bisa multitafsir bisa saja kata wakil mewakili Allah SWT di muka bumi sebagai penguasa atau bisa juga pengganti Rosulullah. Tapi dalam kajian kali ini penulis akan membahas makna khalifah sebagai pengganti atau wakil Allah SWT di muka bumi. 

Mewakili Allah SWT atau pengganti Allah SWT di muka bumi dapat diartikan menggantikan peran Allah SWT di muka bumi. Setiap peran tergantung pada status. Status manusia hanya wakil dan pengganti. Status manusia di muka bumi terbatas, selalu memiliki kelemahan, status manusia di muka bumi dibatasi oleh aturan Allah SWT, terlebih status manusia kini berbeda dengan manusia suci seperti para Nabi. Para Nabi Allah SWT adalah manusia suci dan memiliki hubungan langsung dengan Allah SWT. Kebenaran yang disampaikan para Nabi bersifat mutlak. Sementara kebenaran yang disampaikan oleh selain Nabi adalah tidak dijamin kebenarannya.  Oleh karena itu kini, mengklaim dirinya mewakili Islam perlu dipertanyakan dan dikritisi apalagi jika jelas-jelas klaim dari orang yang kedlolimannya tampak secara dhohir.

Manusia sebagai Khalifah di muka bumi berarti harus menggantikan peran Allah SWT di muka bumi. Tentu dengan segala keterbatasan dan kekurangannya yang tidak akan persis sama dengan yang diwakilinya. Berperan sebagai Allah SWT di muka bumi berarti kita harus memiliki sifat-sifat Allah SWT. (Takholaku bikhuluqillah/berakhlaq dengan akhlaq Allah). Akhlaq Allah SWT yang utama yaitu Rahman dan Rahim (Bismillahi rahmaani rahiim).

Cinta kasih merupakan akhlaq Allah SWT yang wajib kita tiru. Cinta dan kasih kepada sesama manusia, dan cinta kasih kepada alam semesta merupakan wujud dari peran khalifah di muka bumi. Dengan cinta kasih kita dapat mewujudkan kedamaian dan kebahagiaan di dunia dan akherat. Cinta kasih adalah sifat Tuhan yang harus kita raih sedapat mungkin. 

Kita sering saksikan para pendakwah menghujat kepada orang yang berbeda paham dengan dirinya, bahkan kata-katanya kasar dan penuh kebencian. Tapi juga kadang yang mengkritik pendakwah yang menghujat dibalas lagi dengan hujatan cibiran dan kebencian. Kita lupa bahwa yang kita benci bukan orangnya tapi hujatannya. Jadi ketika kita mengkritik cara menyampaikan dakwahnya kitapun harus menjauhi cara menghujatnya. Anehnya para pendakwah yang bicaranya kasar dan kadang penuh kebencian justeru banyak pengikutnya atau mungkin pendakwah tersebut tahu kalau ceramahnya biasa-biasa saja tidak akan ada yang mengikutinya, atau mungkin juga jangan-jangan rasa benci di antara kita sebagai anak bangsa sudah menjadi budaya? Atau kita tidak tahu cara mengkritik yang berbudaya?

Standar keberhasilan pendidikan sekarang mulai mengalami perubahan dari yang bersifat kognitif menuju pendidikan berbasis karakter dan salah satu karakter yang harus dikuasai peserta didik adalah tidak membully (perundungan).  Senang lihat orang susah dan susah lihat orang senang kerap kita temui. Di Medsos sering kita temukan saling hujat, saling hina, dan saling merendahkan bahkan kadang mengatasnamakan agama. Budaya kitakah? Mengapa membully? Mungkin hilangnya rasa kemanusiaan dan keTuhanan dalam diri kita. Sifat Tuhan yang sering kita lupakan yaitu menjadi Penyayang dan Pengasih. Ayo jadilah Khalifah di muka bumi dengan menjadi Pengasih dan Penyayang! 

Penulis : Dr.H. Srie Muldrianto, MPd (Aktivis Pendidikan, Ketua PC MATAN Purwakarta, dan Pengurus HIPAKAD Purwakarta )

Previous articleRd. Aas: Kader NU Harus Berfikir Kreatif dan Inovatif dalam Bekerja
Next articlePCNU Kabupaten Pangandaran Tasorufkan Hasil Koin NU Care Lazisnu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here