Arab Spring: Demokratisasi Vs Khilafatisasi

31
Arab Spring: Demokratisasi Vs Khilafatisasi

Tangsel, NU Online
Konflik yang terjadi di Suriah berkaitan erat dengan suatu peristiwa yang disebut Arab Spring (musim semi Arab). Tidak hanya Suriah, negara-negara lain seperti Libya, Irak, Yaman, dan Tunisia juga menjadi target gerakan tersebut. Lantas apakah Arab Spring benar-benar menuai musim semi atau justru malah musim gugur?

Diskusi tersebut mengemuka saat mahasiswa Indonesia alumnus Suriah M Najih Ar Romadloni menyampaikan paparannya di hadapan para peserta kajian bertema Radikalisme: Antara Suriah dan Indonesia. Kajian rutin tersebut digelar di markas Islam Nusantara Center (INC) Ciputat, Tangerang Selatan, Sabtu (6/4).

“2009 adalah tahun pertama saya menginjakkan kaki di Suriah dengan niat kuliah. Akhirnya, Maret 2011 muncul sejumlah gerakan massa yang menuntut keadilan dan kesejahteraan dengan slogannya berupa demokratisasi. Misi damai itu berujung pengangkatan senjata. Banyak permukiman di bom. Perang di mana-mana. Bahkan, kericuhan ketika sholat Jumat menjadi suatu hal biasa,” tutur Najih.

Iklan Layanan Masyarakat

Najih kemudian memutuskan pulang pada 2012. Sebelumnya, ia sempat mengungsi ke sejumlah negara, mulai Yordania, Arab Saudi, hingga Libanon. Ia menantikan Suriah benar-benar aman. Namun, tak ada tanda-tanda kemerdekaan di sana. Konflik semakin menjadi-jadi. “Akhirnya saya putuskan pulang ke Indonesia. Sampai sekarang konflik tersebut tak kunjung selasai,” ungkapnya.

Kisah pilu tersebut dialami Najih saat di Suriah, sebuah negara dengan peradaban tuanya. Di negara itu kisah Qabil dan Habil terjadi. Selain itu,terdapat masjid berusia 1300 tahun yang didirikan Bani Umayyah masih berdiri kokoh di sana. Bahkan, Romawi Timur juga pernah berkuasa, tepatnya di Zanuba.

Najih menjelaskan, peristiwa Arab Spring ini berawal dari Tunisia akhir 2010. Pemicunya, seorang penjual sayur yang membakar diri di depan kantor pemerintahan lantaran menerima perlakuan tidak adil dari penguasa. Sontak, peristiwa tersebut memancing berbagai gerakan menuntut keadilan. Kasus tersebut kemudian meluber ke berbagai negara Arab.

“Inilah yang kemudian ditunggangi kelompok oposisi yang menganut ideologi takfiri dengan misinya menumpas sistem pemerintahan,” kata alumni Universitas Kuftaro Damaskus ini.


Khilafatisasi

Menurut Najih, alih-alih menuntut demokratisasi, justru gerakan ini berujung pada khilafatisasi, islamisasi versi khilafah. Seperti yang terjadi di Mesir, ketika Hosni Mubarok jatuh justru yang menggantikan adalah kelompok Ikhwanul Muslimin (IM). Begitupun di Tunisia dan Irak. “Berkembanglah kelompok-kelompok radikal di sini,” terang Sekjen Ikatan Alumni Syam Indonesia itu.

Adapun narasi yang dimainkan, lanjut dia, selalu menggunakan isu agama sebagai alat untuk melancarkan aksinya. Hal itu nampak jelas ketika mereka melakukan demo usai sholat Jumat. Dapat dibayangkan besarnya potensi kericuhan tiap Jumat. “Hari Jumat yang kita kenal dengan Jumat mubarak, di sana justru menjadi hari yang paling mengerikan bagi warga Suriah,” tuturnya.

Peristiwa yang terjadi di Suriah merupakan kasus berbeda dengan negara-negara lain. Secara politik, pemerintah Suriah masih kuat hingga sekarang. Berbeda dengan negara lain yang tidak butuh waktu lama dapat digulingkan. Itulah yang membuat golongan oposisi terus melancarkan serangan untuk meruntuhkan pemerintahan yang sah.

Dampak kerugian dari konflik ini, kata dia, cukup besar. Banyak korban berjatuhan. Bangunan-bangunan runtuh. Bahkan, wilayah-wilayah pinggiran yang bukan titik pertempuran pun turut hancur lebur.

Untuk melakukan rekonsiliasi total tentu butuh waktu panjang. “Kalau merekonstruksi bangunan runtuh mungkin bisa dilakukan 20-30 tahun. Akan tetapi, rekonsiliasi sosial pasti butuh waktu yang lebih bahkan sangat panjang. Sebab, mental mereka telah hancur oleh perang yang terus berlangsung” tukasnya.

Menurut dia,  demokrasi di Timur Tengah telah gagal. Radikalisasi semakin berkembang. Tak sampai situ saja, radikalisme yang ada menjadi inspirasi bagi kelompok-kelompok radikal di berbagai negara. Ancaman radikalisme pun semakin kentara. “Lihat saja teror di Amerika, Berlin bahkan hingga negara kita, Indonesia,” pungkas Najih. (Nuri Farikhatin/Musthofa Asrori)

Sumber : NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here