AYO NGAJI 3: Sebab Para Kekasih Allah Mendapat Rahmat Allah

263

AYO NGAJI 3: Sebab Para Kekasih Allah Mendapat Rahmat AllahOleh: Kyai Nur Kholik Ridwan.

Rasululullah SAW bersabda:

Inna auliyā’allāh lam yanālū sa`ata rahmatillāh wa ridhwānihi bi katsrati al-`ibādah walakin yanālūha bi sakhāwati al-nafsi  wa al-istihānati bi al-dunnyā” (Shaikh Abdul Wahab al-Sha’rani, Waşiyatul Musţafā, No. 24.)

Iklan Layanan Masyarakat

Terjemah Jawa: “Setuhune piro-piro kekasihe Allah iku ora oleh jembare kawelasan lan ridane Allah lantaran ngakeh-ngakehi ing ibadah, tapi poro kekasihe Allah mau oleh rahmate Allah kerono sebab ngakeh-ngakehi luman marang sopo wae makhluk lan ora kumantil marang dunyo”.

Terjemah Indonesia: “Para kekasih Allah tidak memperoleh luasnya rahmat dan ridha Allah dengan sebab banyaknya melakukan ibadah mereka, tetapi mereka memperoleh rahmat dan ridha Allah itu lantaran kedermawanan hati mereka dan sikap mereka yang tidak bergantung pada dunia”.

Penyebutan banyak melakukan ibadah, adalah ibadah-ibadah yang dimensinya diri sendiri dengan Allah, seperti berdzikir, puasa, dan lain-lain, meskipun buahnya ibadah itu sejatinya juga harus berbuat baik pada sesamanya.

Makna sakhāwah, berasal dari kata sakhā, yang artinya dermawan atau murah hati. Lawan katanya adalah bakhil, pelit. Dalam sebuah hadis riwayat Sayyidah Aisyah disebutkan:  “wong sing murah ati kui cedak karo Gusti Allah, cedak marang menungso, cedak surgo, adoh songko neroko….wong bodo sing murah ati luwih disenengi Allah tinimbang wong ahli ibadah sing medit [orang yang murah hati/dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat surga, jauh dari neraka…orang bodoh yang murah hati/dermawan lebih disenangi Allah dari pada orang yang ahli ibadah yang pelit]”. (HR Imam Turmudzi).

Kanjeng Nabi memberi kabar bahwa para wali Allah, memperoleh kedudukan kedekatan dengan Allah itu atas rahmat-Nya, bukan karena sebab  ibadah semata dan amal mereka, dan mereka diberi rahmat Allah itu, karena kemurahan hatinya. Ini termasuk rahasia yang diberitakan Kanjeng Nabi, ketika orang-orang yang dikasihi itu memperoleh kedudukannya di sisi Allah lewat rahmat-Nya, lalu  ditetapkan bahwa Gusti Allah, akan menjadikan orang memperoleh kedudukan seperti itu; pada orang-orang yang memperbanyak bermurah hati dan dermawan.

Kanjeng Nabi menyebut al-sakhā, sebagai kemurahan hati, itu ada rahasianya, karena orang yang murah hati, yaitu orang memberikan sesuatu dan menyisakan yang sebagiannya untuk dirinya dan keluarganya. Tidak seluruhnya diberikan, sehingga terjadi keseimbangan. Tetapi banyak guru juga melakukan yang lebih dari itu, dengan melakukan pengutamaan. Ada sebuah cerita, seorang guru yang rumahnya agak jauh dari masjid mau pergi shalat subuh berjamaah di masjid, dan biasanya berjalan agak cepat. Suatu ketika dia melihat di depannya ada orang tua yang berjalannya pelan dan lambat. Maka sang guru berjalan di belakang orang tua tadi, meskipun ketika sampai di masjid dia tinggal mendapatkan satu rakaat shalat. Maka, dalam hal ini, sang guru melakukan pengutamaan kepada orang tua itu. Ini termasuk akhlak seorang yang berdisiplin mendekatkan diri kepada Allah. Pengutamaan di samping memperoleh bagian dari kemurahan hati, juga memperoleh hakikat kesabaran.

Tapi Kanjeng Nabi memberi kabar, bahwa cukup kemurahan hati saja, tidak dengan kata pengutamaan, dapat menjadi waşilah rahmat-Nya Allah diberikan kepada para wali-Nya.

Kemurahan hati yang menjadikan seseorang menjadi dermawan itu, yaitu orang yang suka memberi pada orang lain, pada makhluk, memberi kebaikan. Intinya, orang yang murah hati itu adalah orang yang senang shadaqah. Bi al-māl ataupun bi al-qaul, bi al-akhlāk, dan bi al-kalimah al-ţayyibah. Sebab kata shadaqah itu mencakup shadaqah materi dan shodaqah non materi. Shadaqah materi itulah yang kemudian dikategorikan sebagai infāq.

Yang non materi, seperti disebutkan dalam Alquran dengan “qaulun ma’rūfun wa maghfiratun khairun min shodaqatin yatba`uha adhâ” (QS. Al-Baqarah ayat 263), perkataan yang baik dan memaafkan lebih baik dari shadaqah yang diiringi dengan menyakiti kepada yang diberi; dan disebutkan dalam hadis-hadis Kanjeng Nabi, wa kullu tasbihatin adalah shadaqah (setiap kalimah tasbih pun shadaqah), “afȡalu al-şadaqah an yata`allama al-mar’u al-muslim `ilmān, thumma yu`allimahu akhāhu muslim” (HR. Ibnu Majah), sebaik-baik shadaqah itu seseorang mengajarkan ilmu yang bermanfaat kemudian mengajarkannya kepada saudaranya yang lain; dan masih banyak lagi.

Perbuatan kemurahan hati dan kedermawanan itu akan sia-sia manakala tidak dilakukan dengan setulus hati, yaitu diiringi dengan bilmanni wal adhā sebagaimana disebutkan di dalam surat al-Baqarah ayat 264, “yā ayyuha al-ladhīna āmanū la tubţilū şadaqatikum bi al-manni wa al-adhā” (QS. Al-Baqarah ayat 264 ). Al-mannu wa al-adhā itu ngomel dan menyakiti, kepada orang yang diberi shadaqah. Alquran mengibaratkan orang seperti ini, sebagai menanam pohon di tengah batu karang licin dengan sedikit tanah, lalu turun hujan, maka tinggallah ia gundul. Allah menyebut, mereka tidak mendapatkan keuntungan sedikitpun terhadap apa yang mereka usahakan. Sedangkan mereka yang gemar berinfaq yang tidak disertai al-mannu wa al-adhā disebut seperti menanam pohon dan setiap pohon tumbuh 7 bulir dan setiap bulir berlipat menjadi seratus, dan Allah melipatgandakan, terhadap mereka yang dikehendaki karena Wallāhu yuȡā`ifu li man yashā, Wallahu Wāsi`un ‘Ālim, Allah itu Maha Luas dan Maha Tahu. Ini salah satu rahasia haqiqat dari shadaqah.

Semakin banyak murah hati, semakin banyak pula yang akan dimiliki, karena memperoleh perlipatannya. Hal ini juga disebutkan Kanjeng Nabi, bahwa shadaqah itu, tuţfi’u ghaȡaba al-rabbi, tajlibu al-barākah wa al-rizkī al-kathīr, dapat meredam kemarahan Tuhan dan menarik barakah dan rizki semakin bertambah. Sedekah yang baik adalah dengan sesuatu yang halal, dan dilakukan ketika seseorang masih hidup.

Oleh karena itu, Kanjeng Nabi memberi alternatif kepada mereka yang tidak diberi amanah mengelola harta yang banyak agar tidak kalah dengan mereka yang memiliki harta, adalah dengan memperbanyak sedekah kalimat thayyibah. Salah satu resep yang diberikan Kanjeng Nabi, lewat riwayat Abu Hurairah, orang tersebut diminta memperbanyak shalawat shadaqah, dengan redaksi, “Allahumma şalli `alā Muhammad `abdika wa rasūlika wa şalli `alā al-mu’minīna wa al-mu’mināt wa al-muslimīna wa al-muslimāt”; dan juga meniatkan bacaan-bacaan kalimat thayyibah lain agar pahalanya diberikan kepada orang yang diinginkan dengan shadaqah itu.

Maka dari itu, orang Indonesia senang tahlilan, karena orang Islam di Indonesia ingin mengikuti sunnah Kanjeng Nabi, ingin dicintai dan dikasihi oleh Allah, memperbanyak shadaqah, meskipun dengan kalimah thayyibah. Demikian juga, perbuatan baik, menyingkirkan rintangan di jalan, memaafkan, dan sejenisnya juga bagian dari yang dihitung shadaqah, karena kullu ma’rūfin şadaqah, sebagaimana disebutklan oleh kanjeng Nabi di hadis lain.

Ahli kedermawanan dan murah hati tidak membatasi kemurahan hatinya itu untuk manusia saja, baik yang hidup atau yang mati, tetapi juga kepada makhluk Allah yang bernyawa, karena Kanjeng Nabi mengatakan, “afȡalu al-şadaqati an tushbi`a kābidan jāi`ān” (HR Baihaqi melalui sahabat Anas), sebaik-baik shodaqah adalah kamu mengenyangkan (memberi kananan) hati yang lapar, dan hadis lain, menyebutkan, pada setiap makhluk yang mempunyai hati basah terdapat sedekah. Jadi, luas sekali lapangannya bagi kemurahan hati itu; dan tidak hanya bisa dilakukan oleh mereka yang diamanahi mengelola harta oleh Allah. Orang miskin pun bisa bersedekah.

Yang kedua, Allah memberi kuncinya, yaitu tidak bergantung pada dunia. Kata al-istihānah bi al-dunya, memiliki arti tidak minta kesenangan pada dunia [ora jaluk seneng marang dunyo]. Kata dunya tidak menggunakan kata al-maāl, harta benda. Jadi maksudnya lebih umum, ya pangkat, duit, tanah, dan sebagainya. Para guru ahli ma’rifat, ada yang diberi amanah mengelola harta yang banyak, dan ada yang tidak. Menekuni dunia suluk tidak harus takut miskin, karena orang yang tidak ikut suluk dan menekuni dunia tasawuf pun juga ada yang miskin.

Hanya saja, kesamaan mereka, para guru yang diberi amaanah harta dan tidak, terpatri di dalam dirinya “tidak minta kesenangan pada dunia”. Dunia hanya menjadi wasilah, dihubungkan dengan kedermawanan itu, ada hak-haknya, yaitu shadaqah, infaq, zakat, dan wakaf, yang harus dilakukan, yang menjadikan sebab rahmat Allah dicurahkan kepada mereka. Dan para guru ahli ma’rifat ada yang tidak diberi amanah oleh Allah untuk mengelola harta yang banyak, sehingga kemurahan hatinya bersifat non materi, dengan akhlak yang baik, perkataan baik, mengajar, menyingkirkan duri dari jalan, tawadud [menebar kasih sayang] kepada manusia, dan sejenisnya.

Semoga kita dan keturunan kita termasuk orang yang diberi rahmat Allah dengan ditetapkan sebagai orang yang memiliki sakhāwatu al-nafsi dan al-istihānah bi al-dunya.

Kyai Nur Kholik Ridwan

Murid Qadiriyah Naqshabandiyah Shaţariyah, Dzikrul Ghafilin dan Ratib Al-Haddad.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here