The news is by your side.

Di Rakernas PBNU, Kiai Miftach Wanti-wanti Pengurus Tidak Terlena dengan Kebesaran NU

Tasikmalaya, NU Online Jabar – Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar membuka secara resmi Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PBNU di Aula Institut Agama Islam Cipasung (IAIC), Cipakat, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (24/3/2022) malam.

Dalam arahannya, Kiai Miftach mengharapkan para pengurus lembaga dan badan khusus PBNU yang telah dilantik secara resmi agar dapat menghasilkan karya nyata yang dapat dirasakan khalayak luas.

“(pengurus melaksanakan) Tugas yang menghasilkan karya nyata dan diharapkan bisa dirasakan umat secara keseluruhan, khsuusnya Nahdliyin Nahdliyat,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Miftachussunnah, Surabaya, Jawa Timur itu.

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Miftach mengingatkan kepada segenap pengurus lembaga dan badan khusus, serta warga Nahdliyin pada umumnya, agar tidak terbuai dengan kebesaran NU. “Kita jangan tertipu dengan kebesaran Nahdlatul Ulama sebagai organisasi terbesar di dunia sampai akhirat,” katanya.

Kebesaran NU jangan sampai memperlemah semangat berjuang dan bekerja untuk NU ke depannya. Sebab, menurutnya, jika seseorang merasa sudah mapan, maka hati akan mengalami erosi.

Sebaliknya, Kiai Miftach menegaskan bahwa kebesaran warga NU merupakan nikmat yang amat besar. “Betapa kalau ini kita gunakan dengan produk yang besar pula seimbang dengan kebesarannya, kaum lain organisasi lain akan hormat dan menghormati,” katanya.

Hal ini sebagaimana dengan karya nyata para pendahulu dengan melahirkan banyaknya piagam yang dilahirkan sebagai wujud sumbangsih NU bagi umat di dunia sejak sebelum berdirinya, sampai hari ini.

Rais Aam juga mengingatkan agar tidak tertipu dengan karunia Allah swt sehingga tanpa kerja keras bisa dan berhak bahagia. Kiai Miftach dengan tegas menyatakan, bahwa bahagia tidak demikian caranya. “Sehingga mereka meninggalkan dunia ini bangkrut dari upaya amal dan pengampunan,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Kiai Miftach mengutip sebuah ayat Al-Qur’an Surat Al-Infithar ayat 6, maa gharraka bi rabbikal karim, Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Mahamulia. Ayat tersebut, jelasnya, mengingatkan umat Islam agar tidak terpedaya dan tertipu dengan hal-hal di atas. “Ini harus mulai kita ingatkan karena sudah banyak terjadi,” pungkasnya.


Sumber: NU Online

Baca juga resensi buku lainnya :

  • Terbelit Dalam Kubus Tanpa Batas. Kontak pembelian : 0895-2851-2664. Link resensi, klik.
  • Jejak Perjuangan K.H. Ahmad Hanafiah. Kontak pembelian : 0821 1682 5185 (Sandi). Link resensi, klik.
  • Gerakan Syiah di Nusantara: Anasir Berimbang Sejarawan Muda. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Sejarah Pergerakan Nasional. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Historiografi Islam dan Momi Kyoosyutu. Kontak pembelian : 0852 9477 2060 (Jabar). Link resensi, klik.
  • Jalan Sunyi dan Rambut Gimbal : Sebuah Interpretasi atas Kehidupan Gus Qomari. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Antara Mbah Cholil Baureno dan Bojonegoro. Kontak pembelian : 0895 2851 2664 . Link resensi, klik.
  • Konspirasi Yahudi dan Rungkadnya Dinasti Ba’alwi. Kontak pembelian dan bedah buku : 0812 6143 8585. Link resensi, klik.
Leave A Reply

Your email address will not be published.