Geliat Nafas Demokrasi di Kabupaten Indramayu

47
Geliat Nafas Demokrasi di Kabupaten Indramayu

Lora’ Wayanillah – Angin segar demokrasi seolah berhembus di wilayah Kabupaten Indramayu. Pasca quick count Pilkada Indramayu yang memenangkan pasangan Nicky (Nina-Lucky) yang diusung PDI Perjuangan, Gerindra dan Nasdem. Mengalahkan genetik petahana dinasti Yance. Ya, memang meninggalnya pemimpin Indramayu yang pernah menjabat Bupati Indramayu dua priode yang begitu ‘kokoh’ Bapak Yance, seolah peta politik Indramayu mulai mencair tidak lagi ‘beku’.

Beberapa pilkada sebelumnya berbagai cara dimanfaatkan penguasa mirip cara-cara pelanggengan kekuasaan orde baru, penekanan terhadap birokrasi dari tingkat Kabupaten, Kecamatan, Desa sampai Rukun Tetangga (RT), kekuatan uang, ancaman mutasi dan intimidasi. Dan arah angin berubah tak lagi berhembus kencang, akhir pertarungan pilkada 9 Desember 2020 mengingatkan saya pada pendapat seorang sahabat di Kemenag RI, jika tanpa “power of pemaksaan” sesungguhnya hampir warga Indramayu itu merah, analisis ini bisa di kroscheck melalui catatan sejarah merujuk pada pemilu 1955 maka dominasi Masyumi, PNI, PNU dan PKI.

Calon Bupati Indramayu terdapat empat pasangan 1. Sholihin-Ratnawati 2. Toto-Deis 3. Danil-Taufik 4. Nina-Lucky.

Iklan Layanan Masyarakat

Pasca politik pasca Orla yang digantikan Orba seolah juga berpengaruh pada peta politik di daerah-daerah termasuk di Indramayu. Sosok Ope Mustofa yang sangat militeristik dan birokratik tentu tidak sama dental Yance yang menguatkan basis ormas yang berlatar Wartawan dan Pemuda Pancasila sebagai modal kekuatan politik untuk menguatkan diri ketika terpilih menjadi Bupati.

Namun seiring berjalannya waktu pola gerakan politik Yance seolah hampir mirip gaya politik Masyumi, dengan parameter suka memanfaatkan agama dalam wajah simbolis (bahkan sempat dikasuskan karena foto Yance masuk ke dalam cover Al Quran), jargon religiusitasnya dimaknai dengan berbagai half misalnya membaca Al-Quran disetiap institusi dan lembaga sebelum memulai kegiatan/aktifitas, busana muslim, pemanfaatan isu agama sebagai penguatan basis elektoral lewat FKDT, FORKIM dan sebagainya. Dengan Jargon Remaja (Religius, Maju, Sejahtra) Yance semakin kokoh di puncak Indramayu satu sebelum akhir nya digantikan Istrinya Anna Sopanah.

Jadi jika berkaca pada pemilu 1955 maka PNI dan PKI punya jago sendiri, Masyumi diwakili Golkar dan NU direpresentasi oleh Calon PKB, kira-kira representasinya seperti itu. Kenapa mirip 1955 karena sepertinya ada ‘kekuatan tak terlihat’ bahwa pola gaya lama tak bisa efektif dikerjakan karena tidak adanya Yance, seperti mobilisasi birokrasi dan money politic. Pemilu 1955 adalah pemilu riang gembira di alam kemerdekaannya, pun pilkada 2020 sepertinya pilkada dengan nuansa kebebasan mirip kemerdekaan.

Sejatinya pasca Yance orang hebat yang bisa mengambil hati rakyat adalah Dedi Wahidi, Abas Abdul Djalil, H. Juhadi kenapa? Karena gerbong tokoh NU terbukti punya basis masa yang konkrit dan elektabilitas ketokohan yang kharismatik khususnya bagi warga nahdiyin. Pertanyaannya dengan modal begitu besar kenapa PKB tidak berhasil menjungkalkan petahana pada Pilkada-Pilkada sebelumnya?
Karena pada waktu kekuatan warga NU menyatu melalui kepartaian PKB tentu saja ada pihak pihak yang tidak suka termasuk juga kekuatan nasionalis selain Golkar yakti PDI Perjuangan sebagai partai penguasa ditingkat Nasional tentu saja berdampak pada masifnya gerakan di daerah termasuk di Kabupaten Indramayu.

Di sisi lain harus diakui bahwa Nahdlatul Ulama kabupaten Indramayu sudah mulai meng-upgrade-kan diri. Dengan sudah banyak diadakan kaderisasi, strukturalisasi di semua lembaga dan banom NU, yang sudah mulai menjadi membaik. Banom kita sudah mulai rapi seperti Ansor, Fatayat, Muslimat dan Pergunu, juga lembaganya seperti Lazisnu, LP Maarif dan lain lain. Sebagai partai besar kedua pemenang pemilu tampaknya PKB tak begitu menjaga perasaan terhadap orang tuanya yaitu NU. Di tengah euforia pilkada 2020 ini PKB sejatinya bertarung tanpa gerbong NU walaupun tentu saja upaya pendekatan sudah dilakukan namun karena coreng luka lama yang masih membekas calon yang di usung PKB seolah tidak didukung orang tuanya NU.

Dalam suatu video pendek berdurasi 10 menit kurang lebih pengurus PC NU yang diketuai H. Juhadi menyatakan kenetralannya dalam pilkada 2020, Nahdlatul Ulama seolah membebaskan semua kadernya untuk bebas memilih calon Bupati Indramayu, mendukung siapapun dalam kontestasi pilkada, hanya saja ‘perasaan’ tentu bisa dibaca dengan mudah oleh kader-kader yang lama malang melintang di Nahdlatul Ulama.

Adalah penting diingat bahwa kader-kader NU yang terhimpun dalam Nahdlatul Ulama kabupaten Indramayu adalah dibimbing dan ditempa dalam wadah yang sama, dengan tentu saja bisa mengukur ‘rasa’ dan ‘karsanya’. Manuver politik yang tidak dalam batas kewajaran yang menginjak kader sendiri itu memunculkan sentimen untuk sesekali ‘memberikan pelajaran’. Bagaimana ‘memberikan pelajaran’ bagi kader yang tidak memperhatikan perasaan orang tuanya tersebut, ya tentu dengan tidak memberikan suara kepadanya. Ini faktanya, dan itupun sebagai ibroh untuk semua bahwa selogan kacang lupa kulitnya seolah berlaku.

PKB dan koalisi sudah membuat kerja-kerja pemenangan yang luar biasa, terprogram, terpimpin, dan modern. Figur calon bupati yang tidak begitu diperhitungkan telah membuktikan diri dengan kekuatan politik yang solid dan modern bisa mengambil hati rakyat sangat sangat signifikan. Cara-cara yang dilakukan oleh PKB adalah rule yang ke depan bisa dipakai bagi siapapun kader yang akan maju dalam kontestasi pilkada atau pemilu legislatif. Begitulah seharusnya bertarung, memanfaatkan semua resources yang ada untuk mengumpulkan suara demi suara. Kita tentu saja harus angkat topi atas kerja kerja organisasi politik PKB Kepempinan Solihin, namun apa mau dikata kenyataan dilapangan tidak berpihak pada calon yang diusung PKB.

Pelajaran dari Pilkada Indramayu 2020 kali ini adalah, kekalahan PKB dan Golkar yang notabenya adalah Anak dari mantan bupati Indramayu petahana Yance dan Anna Sopanah saudara Daniel Mutaqin seolah menjadi Oase baru pemimpin daerah di Indramayu dengan kemunculan PDI Perjuangan.Wallualam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here